Dalam bab ini, penulis akan menguraikan depresi yang dialami oleh keluarga
salmon diantaranya, Jack Salmon yang merupakan ayah dari Susie, Abigail Salmon
yang merupakan ibu dari Susie, dan Lindsey Salmon yang merupakan adik dari Susie.
Penulis menggunakan teori Depresi dari Bhowmik et.al. (2012:37) untuk menguraikan
gejala depresi yang dialami oleh keluarga Salmon.
2.1. Jack Salmon
2.1.1. Perasaan yang amat sedih
Setelah jack menghancurkan semua kapal-kapal dalam botol yang berada di ruang
kerjanya, ia berjalan keluar. ia menuju ke kamar Susie. Dia kesana hendak
menhancurkan kaca di meja rias milik Susie. Dia juga jendak merusak wallpaper di
kamar Susie. Tapi, setibanya disana, Jack malah terduduk sambil bersandar di kasur
milik Susie sambil ia menangis. (Chapter Three, Page 47)
2.1.2. Hilangnya minat atau potensi dalam hal-hal normal
Di hari kesepuluh hilangnya Susie, Jack menunjukan bahwa dia kehilangan
minatnya. Dapat dilihat ketika ia mulai membuang scotch miliknya. Scotch merupakan
minuman beralkohol asal skotlandia. Karena hilangnya Susie anaknya, Jack kemudian
kehilangan minat untuk minumannya. Dia bahkan tidak mau meminumnya. Depresi ini
muncul karena hanya memikirkan orang yang ia sangat sayangi dan berusaha mencari
cara agar Susie bisa kembali lagi. (Chapter Two, Page 22)
2.1.3. Merasa sangat bersalah
Tanggal 9 desember merupakan hari dimana Len Fenerman mengabarkan
kepada keluarga Salmon bahwa mereka
menemukan salah satu bagian tubuh Susie. Jack
salmon merupakan orang yang menerima telepon dari Len saat itu. Mendengar
informasi itu, Jack merasa kalau dialah yang bersalah dalam hal ini. Dia merasa
bersalah karena tidak tahu dimana Susie dan merasa bersalah karena ia tidak bisa
menjaga Susie. Bahkan pada malam itu ia dibagunkan oleh rasa bersalahnya. (Chapter
Two,
2.1.4. Merasa sangat lelah atau letih
Menerima kabar bahwa Len bersama pihak penyidik lainnya telah menemukan
satu bagian tubuh milik Susie, membuat Jack merasakan depresi. Gejala depresi yang ditunjukan Jack Salmon saat itu keadaanya yang sangat lelah dan tidak bertenaga atau
letih. Letih di kaitkan dengan gejala depresi karena depresi mengambil banyak tenaga
dalam memikirkan sesuatu sehingga dalam menjalankan hari-harinya, orang yang
merasakan depresi lebih mudah untuk merasakan keletihan, dalam hal ini Jack Salmon
yang kehilangan anaknya. Jack mulai memikirkan anaknya dengan keras sehingga
membuatnya letih. (Chapter Two, Page 21)
2.1.5. Tidak bisa berkonsentrasi dengan baik
Jack Salmon mengalami penururan konsentrasi ketika ia mengalami depresi.
Penurunan konsentrasi Jack Salmon dapat dilihat saat ia berbicara dengan Len
Fenerman. Saat itu ketika Len Sedang berbicara, Jack tidak memperhatikan apa yang
disampaikan oleh Len. Saat Len menjelaskan apa yang ia peroleh dari penyelidikannya,
Jack hanya mengingat kata-kata yang disampaikan oleh Ruana Singh, ibu dari Ray
Singh. (Chapter Eleven, Page 134)
2.1.6. Kesulitan berpikir
Saat Len membawa barang bukti berupa topi rajutan yang digunakan Susie. Dan
mengatakan bahwa topi tersebut digunakan pelaku sebagai alat untuk mejalankan
kejahatannya. Jack kemudian menanyakan apa maksudnya itu. Ia bertanya dalam
keaadan yang tidak berdaya. Dari surga, Susie mengatakan bahwa Jack, ayahnya
mendengarkan sesuatu yang tidak dipahaminya. Bahkan setelah Len mengatakan bahwa b
topi itu digunakan pelaku untuk membungkam Susie, Jack tetap mengatakan “apa?”.
Seakan harapannya dan realita yang ditunjukan oleh Len sebagai bukti, membuat dia
kesulitan mencerna kata-kata itu sehingga dia bingung apa yang dikatakan oleh Len.
(Chapter Two, Page 28)
2.1.7. Lambat berespon
Walaupun sudah beberapa tahun Jack bersama keluarganya tidak bersama-sama
Susie, bukan berarti Jack telah sembuh dari depresinya. Saat upacara wisuda Lindsey,
Jack pun masih menunjukkan bahwa ia mengalami depresi atas meninggalnya anaknya
itu. Jack lambat dalam segala hal. Jack lambat merespon orang di sekitarnya khususnya
ketika ia menunjukkan ekspresinya. Terlihat bahwa Jack bergerak lebih lamban dari
orang biasa. Ia bergerak lamban seolah-olah menunjukkan bahwa dunia telah merenggut
harapannya.
2.1.8. Insomnia
Jack Salmon mengalami insomnia pada saat ia menunggu hasil dari pihak
kepolisian untuk menemukan anaknya Susie. Saat itu Len selaku detektif yang
menyelidiki kasus Susie membawa beberapa bukti yang diduga milik Susie. Setelah
mereka Jack melihat bukti-bukti yang dibawa oleh polisi, ia mulai memikirkannya.
Mulai berpikiran bahwa anaknya Susie belum meninggal dan berusaha mempercayai hal
itu. Karena pikiran yang seperti itu membuatnya kesulitan untuk tidur. Bukan hanya
tidak bisa tertidur pada hari itu, tapi pada hari-hari setelahnya. (Chapter Two, Page25)
2.1.9. Masalah fisik
Saat bersama Lindsey di kamar mandi yang sementara mencukur kakinya, ia
langsung menghampirinya kemudian berbincang dengan Lindsey. Jack saat itu
menawarkan Lindsey untuk mengganti pisau cukur yang dipakainya. Lindsey meminta
ayahnya agar mengganti pisau itu dengan yang baru. Jack pergi ke kamar mandi dan
mengambil pisau cukur yang baru. Saat mengambil pisau cukur tersebut, tiba-tiba
dadanya terasa nyeri karena mengingat kenyataan bahwa Susie sudah tidak bisa tumbuh
karena sudah meninggal. Biasanya orang yang mengalami depresi akan merasakan
gejala-gejala fisik. (Chapter Thirteen, Page 162)
2.2. Abigail Salmon
2.2.1. Perasaan yang amat sedih
Lindsey berkata kepada Abigail kalau itu topi yang digunakan Susie. Abigail
tahu bahwa itu merupakan topi Susie, sebab dia sendiri yang membuat topi tersebut
untuk Susie. Beberapa saat kemudian ketika Abigail melihat barang bukti tersebut, tiba-
tiba ia mulai menjerit. Saat itu dia terlihat sangat syok sekaligus sangat sedih. Susie pun
berkata bahwa ia melihat ibunya mengeluarkan suara bagai robot rusak yang sudah
dekat waktunya untuk berhenti. (Chapter Two, Page 28)
2.2.2. Marah tanpa alasan yang jelas
Lindsey memakai gaun itu di upacara peringatan kematian Susie yang
dilangsungkan di gereja. Saat di gereja Abigail menatap Clarissa dengan tatapan yang
tajam seperti orang kerasukan. Ia memikirkan Susie saat itu. Ia memikirkan Susie sudah
meninggal dan temannya Clarissa masih hidup. Saat melihat tatapan itu Clarissa
berusaha untuk menghindari Abigail. Clarissa melihat gaun miliknya dipakai oleh Lindsey kemudian menyapanya dan menyentuh Lindsey. Abigail membentak clarissa
dengan menanyakan ada apa. Kemarahan Abigail kepada Clarissa didasari karena ia
merasa iri kalau Clarissa masih hidup dan anaknya Susie sudah meninggal. (Chapter
Ten, Page 111)
2.2.3. Merasa sangat bersalah
Abigail sangat sedih ketika mendengar tentang penemuan tubuh Susie. Jack
menguatkan dan memberikan harapan kepada Abigail dengan mengatakan bahwa tidak
pernah ada yang pasti, kata-kata yang dikatakan Len kepada Jack. Dengan harapan
dalam kata-kata itu, Abigail berusaha untuk kuat dan berharap bahwa Susie ada di luar
sana dalam keadaan selamat. Setelah Len selesai berbicara dengan Jack, Abigail sangat
syok bahkan ketika ia mengingat kata-kata yang disampaikan suaminya itu. Abigail
didera rasa bersalah karena dia merasa bahwa dia tidak menjadi ibu yang becus.
(Chapter Two, Page 21)
2.2.4. Merasa sangat lelah atau letih
Abigail merasakan kelelahan karena depresi yang ia rasakan. Karena Abigail
memikirkan anaknya yang belum ditemuka membuatnya untuk berpikir keras, bahkan
berusaha menyusun kemungkinan yang terjadi pada anaknya itu sehingga menciptakan
harapan dalam pikirannya. Dengan pikiran yang seperti itu, membuatnya merasa
kelelahan. Abigail bersama dengan Jack merasakan keletihan bahkan sampai dirasakan
pada tulang-tulang mereka. (Chapter Two, Page 21)
2.2.5. Gelisah
Abigail merasakan kegelisahan yang merupakan salah satu dari gejala depresi
yang ada. Saat Abigail pertama kali mendengar bahwa Len bersama pihak penyidik lain
telah menemukan bukti yang kedua setelah mengabarkan bahwa mereka menemukan
bukti yang pertama yaitu bagian tubuh Susie, Abigail seakan gelisah menunggu apa itu
bukti kedua yang berhasil mereka dapatkan. Kegelisahan Abigail dapat dilihat saat ia
berpeluk tangan sambil menguatkan dirinya sendiri. Ia takut jika sesuatu terjadi pada
putrinya itu. Dia bahkan memikirkan bahwa putrinya akan tetap dalam keaadan selamat
ketika mereka menunjukkan bukti yang kedua. (Chapter Two, Page 27)
2.2.6. Nafsu makan tidak terkontrol
Abigail kehilangan salah satu putrinya, dan ia mengalami depresi. Dari beberapa
gejala depresi, Abigail juga mengalami gejala makan yang berlebih. Saat itu Susie melihat ibunya yang berada di kamar mandi lantai bawah rumah mereka. Susie
mangatakan bahwa Abigail mencuri makanan dalam hal ini kue macaroon yang selalu
dikirimkan oleh perusahaan milik Jack. Abigail memakan kue itu dengan sangat lahap.
Dalam hal ini Abigail mengalami peningkatan makan. Dapat dilihat ketika dirinya
mencuri-curi makananan bahkan ia makan di kamar mandi lantai bawah. Dia makan
disitu, seolah olah dia tidak ingin dilihat oleh siapapun karena ia memakan kue itu
sangat banyak. (Chapter Five, Page 62)
2.3. Lindsey Salmon
2.3.1. Perasaan yang amat sedih
Lindsey tahu makna dari setiap tatapan yang mereka buat dihadapannya. Dia
tidak mau kalau orang-orang melihatnya sebagai Susie. Bahkan diapun tidak mau
menatap cermin. Saat mandipun ia mematikan lampunya. Ia mandi dengan shower
dalam kegelapan, bahkan ia tidak menyalakan lampu saat ia mau mengambil handuk.
Lindsey akan menunjukan kesedihannya ketika ia merasa kalau rumah sedang sepi. Ia
tahu kalau tidak ada yang dapat mengganggunya. Pada saat itu ia akan memikirkan
Susie. Dia mulai menangis dengan memikirkan nama Susie. (Chapter Three, Page 44)
2.3.2. Marah tanpa alasan yang jelas
Lindsey juga menunjukan sikap marah pada saat ibunya mau mengajaknya
untuk pergi berenangnya. Ibunya membujuk Lindsey agar pergi berenang dengannya,
tapi Lindsey berteriak sambil berkata bahwa lebih baik dia mati. Dapat dilihat
bagaimana Lindsey marah kepada ibunya karena ajakan itu. Dia belum bisa bertemu
dengan orang yang lain saat mereka di tempat berenang. Dari bentakan Lindsey, dapat
dilihat bahwa karena berita kalau Susie telah dibunuh dan sudah meninggal, membuat
dia tidak bisa berfikir positif dan pada kutipan dibawah ini menunjukan bahwa ia marah.
(Chapter Six, Page 86)
2.3.3. Hilangnya minat atau potensi dalam hal-hal normal
Sesampainya di ruangan kantor utama, Mr. Caden langsung mengatakan kepada
Lindsey bahwa dia turut berdukacita dengan apa yang terjadi. Di kantornya, Mr. Caden
melontarkan beberapa pertanyaan kepada Lindsey. Diantaranya menanyakan apa yang
dia rasakan dan berusaha memberikan kata-kata yang harapannya dapat membantu
Lindsey. Lindsey menunjukan sikapnya yang tidak berminat dengan kata-kata dari Mr.Carden. Dia tidak bereaksi, menatap Mr. Carden dengan tatapan kosong, dan tetap
hening. Sikapnya tersebut menunjukkan bahwa dia sudah kehilangan minat dengan
perkataan-perkataan dari Mr. Caden. (Chapter Two, Page 32