"Eh, ada murid baru lho. Katanya sih masuk ke kelas kita" Ucap siswa yang menjabat sebagai sekretaris di kelasku.
"Siapa?" Tanyaku dengan penasaran.
"Katanya satu SMA sama kamu dulu, Fan" ujar teman sebangku ku, Desty.
"Kenapa pindah?"
"Katanya sih, gara-gara tawuran."
"Maksud kamu dia yang mimpin?" Tanyaku lagi.
"Iya. Ada juga gosip, katanya karna mantan pacarnya pindah ke sekolah ini" sambung Desty.
"Jangan-jangan ..."
"Jangan-jangan kamu mantan pacarnya? Iya?" Tanya Desty dengan tatapan mencurigai ku.
"Dia itu terkenal Bad Boy yang disegani. Dikelas aja dia berani ngerokok. Dia juga bolos sesuka hatinya" timpal Bang Andre yang duduk di dibelakang ku.
"Owh" jawabku.
Dia satu sekolah denganku. Dia juga pemimpin tawuran. Dia juga suka merokok didalam kelas. Mantanku hanya ada satu disekolah itu dan ia adalah anak baik-baik. Berarti ia orang lain. Pikirku.
"Selamat pagi anak-anak, kenalkan, dia murid baru dikelas ini"
"Buset ganteng bener!"
Semua mata tertuju pada laki-laki yang masuk bersama wali kelas kami itu. Terutama para siswi.
"Mulai nih kalo ada yang good looking, dasar betina!" Gerutu Bang Andre dengan nada sinis nya.
"Perkenalkan nama saya, Arya Wiguna"
"Hai Arya" sapa semua siswi di kelasku dengan centilnya.
"Hai" balasnya.
"Ya ampun lesung pipinya dalem banget! Kaya cinta aku sama dia" ucap temanku Desty, didepan murid baru itu.
"Kamu kenal ga sama Fani? Soalnya dia juga berasal dari sekolah kamu?" Tanya Pak Guru padanya.
"Maaf Pak. Saya tidak kenal" jawabnya dengan lantang.
"Baiklah kalau begitu, kamu bisa duduk" ujar Pak guru padanya.
Karena bangku yang kosong hanya ada dibelakang, ia menolak untuk duduk di sana dengan alasan tidak bisa fokus belajar. Ia menatap kearah mejaku. Jangan-jangan ia ingin duduk ditempat ku. Batinku.
"Jika tidak keberatan, saya mau duduk di didepan Pak" ucapnya dengan benar-benar menunjuk mejaku.
"Ya ampun dia mau duduk sama gue" ucap Desty histeris.
"Fan, gue mohon kamu pindah, ya. Please" pintanya padaku.
Awalnya, aku tidak mau. Tapi, saat aku menolak untuk pindah, ekspresi Desty berubah. Karena tidak enak dengan Desty yang telah menjadi teman baikku selama ini, aku pun mengalah dan pindah kebelakang. Aku tidak sedih pindah kebelakang, tapi aku hanya khawatir jika tidak bisa melihat tulisan guru dengan benar karena aku mengalami masalah penglihatan. Miopia atau rabun jauh.
Bel berdering, pertanda jam istirahat dimulai. Semua siswa dan siswi berhamburan menuju kantin untuk mengisi stamina mereka. Aku membawa bekal, jadi tidak perlu repot-repot pergi ke kantin. Tidak banyak yang membawa bekal dari rumah sepertiku, mungkin sekitar 2 persen dari kelasku yang membawa makanan dari rumah.
Biasanya, ia selalu menghampiriku untuk makan siang bersama, namun, kali ini ia mengabaikan ku. Ia benar-benar berubah. Aku ingin mengajaknya, tapi aku takut jika ia menolak.
"Fan! Kamu makan apa?" Seru Bang Andre seraya mendekati ku.
"Bang Andre mau? Fani bawa nugget"
"Wih minta dong"
"Nih abisin"
"Beberapa hari lagi, kamu ultah, kan?" tanya Bang Andre.
"Mungkin" jawabku dengan ekspresi datar.
"Nanti ada kejutan lho buat kamu" ucap bang Andre cengengesan.
"Kita pulang bareng, ya" ajak Bang Andre sambil mengunyah makanan di mulutnya.
Pulang nanti, aku berniat menemui seseorang, aku ingin bertanya banyak hal padanya. Jadi aku memutuskan untuk pulang sendirian saja.
Setelah jam pelajaran berakhir, Aku memperhatikan murid baru itu. Ia terlihat sangat Akrab dengan teman sebangku ku dulu. Jika diibaratkan seperti pasangan kekasih. Mereka bergandengan tangan satu sama lain saat keluar kelas. Aku yang jomblo pun hanya bisa menggigit jari.
"Fan, kita pulang dulu ya. Kamu mau bareng, ga?" Seru Desty padaku.
"Kita berdua aja, ga usah ajak yang lain" cetus murid baru itu yang langsung merangkul Desty.
"Padahal gue mau ngomong sesuatu sama dia. Ga jadilah. Mending gue pulang aja" ucapku lalu pergi meninggalkan kelas.
Keesokan paginya, karena aku memiliki tanggung jawab untuk piket hari ini, aku pun datang lebih awal. Aku dan teman-teman ku membersihkan kelas sebagaimana mestinya. Saat aku menyapu di bagian depan, tepat di mejaku dulu, kutemukan banyak sekali puntung rokok dan sampah berserakan di laci.
"Kenapa dia ngelakuin ini?" Tanyaku pada diri sendiri.
"Ngapain Lo di meja gue!" Murid baru itu datang tiba-tiba dan langsung memergokiku seperti seorang pencuri. Selain terkejut karena kedatangannya, aku juga terkejut karena penampilannya yang seperti preman itu. Ia mengeluarkan baju seragamnya, dua kancing baju yang terbuka dan kalung perak berbandul tengkorak yang ia pakai.
"Saya cuma bersihin meja kamu, seharusnya kamu ga merokok dikelas" ucapku memberitahunya.
Sepertinya ia tidak terima, hal itu terlihat dari wajahnya yang memasang ekspresi sinis padaku.
"Maaf. Tapi kamu ga boleh kaya gini" ucapku dengan menatap matanya.
"Urusan Lo apa!"
"Lo bukan siapa-siapa gue! Dan Lo ga berhak buat ngelarang gue!" Tegasnya padaku.
"Kamu bener-bener berubah!" Ucapku dalam hati lalu pergi.
Setelah jam pelajaran berakhir, dengan memberanikan diri, aku mendekatinya.
"Hari ini gue harus bicara sama dia!" Tegas ku dalam hati.
"Saya mau bicara sama kamu" ucapku tanpa basa-basi.
"Kamu mau bicara apa, Fan?" Tanya Desty.
"Aku mau bicara berdua sama Arya, Des" jawabku.
"Gue sibuk! Yuk sayang, kita pulang!" Ajak nya pada Desty.
Desty memang wanita yang cantik, ia juga pintar. Pantas saja jika semua pria tergila-gila padanya. Selain itu, ia juga sahabatku yang paling baik.
"Mereka udah pacaran ternyata, trus kenapa hati ini sakit banget ya." Ucap ku dengan penuh ketidaksenangan.
Hari demi hari ku lalui, Desty dan Arya pun semakin dekat. Apalagi jika melihatku. Seolah-olah ingin memanas-manasi ku.
Ini adalah hari ulang tahunku, tapi tidak ada satu orang pun yang mengucapkan selamat ulang tahun untukku. Orang tua ku saja tidak ingat apalagi orang lain. Pikirku.
Jam pelajaran berakhir, semua siswa lambat laun keluar dari dalam kelas. Namun, ada sesuatu yang sedikit aneh. Murid baru itu tidak pulang dan malah asyik merokok di mejanya.
"Ini mungkin kesempatan ku," Aku memberanikan diri mendekatinya.
"Arya" panggil ku dari belakangnya.
Ia menoleh sesaat dan malah bersikap cuek padaku.
"Kamu masih marah sama aku?"
Ia tidak menjawab apa-apa dan malah beranjak dari tempat duduknya.
"Aku minta maaf,"
Mendengar permintaan maaf ku, langkah kaki Arya terhenti. Ia lalu membalikkan badannya ke arah ku.
"Buat apa! Semuanya udah terlambat!" Ketusnya.
"Maafin aku, aku benar-benar minta maaf." ucapku lagi.
Air mataku mengalir dengan sendirinya saat menatap kedua mata Arya.
"Aku ga tau aku salah apa! Aku pindah kesini karna Ayahku. Tapi, kamu tiba-tiba minta putus gitu aja. Mana lewat chat lagi!" jelas ku dengan kepala yang tertunduk.
"Jujur, aku masih cinta sama kamu! Tapi kamu udah pacaran sama temen aku sendiri" sambung ku.
"Arya yang dulu itu Good Boy! bukan Bad Boy! Aku ga suka sama sikap kamu yang sekarang, aku mohon balik lagi kaya Arya yang dulu" Tegas ku dengan mata berkaca-kaca.
"Kalo gue ga mau?" Arya maju mendekati ku dengan tatapan dingin yang membuatku perlahan-lahan mundur kebelakang.
Punggung ku sudah berbenturan dengan dinding. Aku hanya bisa menangis dan menangis.
"Aku kecewa sama kamu, kamu bahkan ga inget kalo ini ulang tahun aku" ucapku dengan pipi yang sudah basah dengan air mata.
"Aku juga kecewa sama kamu" jawabnya.
"Kenapa?" tanyaku.
"Kamu pindah ga bilang-bilang lagi sama aku"
"Maafin aku, hiks ... hiks ..."
"HAPPY BIRTHDAY FANI!" HAPPY BIRTHDAY FANI! HAPPY BIRTHDAY! HAPPY BIRTHDAY! HAPPY BIRTHDAY FANI!!!!"
Kelas yang awalnya sepi menjadi ramai seketika. Mereka menyanyikan lagu ulang tahun untuk ku.
Arya lalu memelukku.
"Maafin ya. Harus drama dulu. Butuh proses buat pindah kesini" Ucap Arya yang membuatku menjadi lebih tenang.
Desty datang membawakan kue ulang tahun, lalu memberikannya pada Arya.
"Selamat ulang tahun, Sayang" ucap Arya dengan tersenyum manis padaku.
Aku lalu meniup lilin pada kue tersebut yang membuat semua orang bersorak ria.
"Tapi ... Bukannya kamu sama Desty–"
"Dia sepupu gue. Arya yang merencanakan semuanya. Cape' juga tau ga pura-pura kaya gini. Mana ga dibayar lagi" keluh Desty.
"Nanti gue yang bayar" Balas Bang Andre sambil merangkul Desty.
"Pake apa?"
"Cinta" jawab Bang Andre lalu memeluk Desty.
Lagi-lagi aku tidak bisa menahan air mataku. Tanpa diminta ia mengalir dengan sendirinya.
"Terima kasih" ucapku lalu memeluk Arya.
"Sama-sama"
"Tapi ... kita udah putus" lirihku.
"Kalo putus tinggal sambung lagi, apa susahnya sih"
...................................................................................................................................
by💜