Sungguh, Nadine tidak pernah menyangka 17 tahun hidupnya akan pernah merasakan berada di dalam ruangan ini. Persegi dengan luas 20 meter itu kini jelas hanya diisi oleh dirinya.
Satu-satunya hal yang membuatnya berakhir di sini adalah menjadi kambing hitam sang sahabat, Beatrice. Gadis berwajah kaukasia tulen itu memintanya memberikan surat izin kepada wali kelas. Tapi nyatanya, itu adalah surat cinta Beatrice yang mungkin saja tertukar saat dia ingin menitipkannya pada Nadine.
Apesnya, wali kelas Nadine adalah pak Heru, bapak-bapak killer, sudah berumur dan sukanya serius.
Maka disinilah Nadine. Terukurung di ruang detensi selama 2 jam pelajaran. Entah Nadine harus beryukur atau tidak, hanya dirinya yang kini menempati ruangan ini.
Saat memilih pasrah dengan nasibnya dan mendudukan diri di salah satu bangku, mata jeli Nadine menemukan tumpukan novel bergenre fantasi di dalam salah satu loker meja.
Nadine lantas mengambil satu buku bersampul menarik dan mulai membacanya. Tidak disangka, buku itu sangat bagus dan cocok dengan selera Nadine.
Nadine Latnaratu, gadis rajin yang baru kali pertama masuk ruang detensi—itupun tidak didasari kesalahannya—memang cepat membaca. Apalagi novel. Maka 2 jam tergerus habis dengan Nadine yang menyelesaikan hampir 3 buah buku.
Yang membuat Nadine kagum, semua buku yang ia baca punya kualitas cerita yang bagus dan menarik. Agaknya selera pemilik buku-buku ini sangat tinggi.
"Bukunya punya siapa, ya? Gue pengen pinjem 1 ini karena belum selesai bacanya."
Saat bel istirahat pertama berbunyi, Nadine dikejutkan oleh pintu yang tiba-tiba berderit cepat kala terbuka. Menampakkan sosok di balik si pelaku yang membuka pintu dengan bar-bar.
Adalah Justin Bagaskara, pemuda dengan titel nakal dibelakang namanya itu kini menatap tajam Nadine. Lantas tatapannya turun ke arah buku yang gadis itu pegang.
"Balikin punya gue!"
Nadine tentu tahu benar pamor Justin. Dan jelas saja dirinya tidak ingin mencari gara-gara. Lantas gadis itu refleks meletakkan buku ditangannya ke atas meja. "M-Maaf."
"Lo baca?!"
'Aduh. Ngaku gak ya? Nadine, kok lo apes banget sih hari ini?' batin Nadine sedari tadi berputar pada hal itu-itu saja.
"JAWAB!"
"I-Iya." cicit Nadine.
"Udah berapa banyak yang lo baca?!"
"T-tiga." Nadine menundukkan pandangan. "G-Gue minta maaf, Justin. G-Gue ga tau itu punya lo."
Justin, pemuda dengan 5 bekas tindikan di telinganya itu kini menatap dingin Nadine. "Udah ga ada urusan lagi, kan? Keluar, lo."
"Buset dingin banget." gumam Nadine tanpa sadar. Namun dikarenakan ruang detensi ini hanya diisi eksistensi mereka berdua, jelas gumaman Nadine dapat terdengar sampai ke telinga Justin. Kemudian dengan panik dirinya refleks menepuk pelan bibirnya. "Salah bibir gue, Justin. Udah gue hukum."
Mimik Justin tidak menunjukkan perubahan yang berarti. Hanya alis kanan pemuda itu yang naik. Nada bicaranya tidak tinggi, namun masih sarat akan dingin. "Masih ga mau pergi?"
.....
Kejadian hari itu tentu saja tidak akan pernah bisa dilupakan Nadine. Apalagi yang menyebalkan adalah, saat Nadine pulang dan menceritakan kejadian memalukan dengan wali kelas pada Beatrice, cewek titisan lambe turah itu hanya menghadiahinya tawa puas. Membuat Nadine urung menceritakan kejadian di ruang detensi pada si sahabat laknat.
"Ga mau tau. Pokoknya lo harus mau beliin gue novel."
📞"Iya deh, maaf. Ya udah gue beliin. 1 aja tapi."
"Anterin juga."
📞"Iya, bawel."
Setelah memutuskan sambungan Nadine bersiap-siap mengganti baju dan memakai riasan tipis. Sekalian menunggu Beatrice sampai ke rumahnya.
Saat Beatrice datang dan bersiap turun dari mobil, Nadine malah segera keluar dari rumah, pamit dengan suara lantang dan buru-buru memasuki pintu penumpang. Sukses membuat sang sahabat menggeleng tak habis pikir.
"Emang temen gue, lo. Sengkleknya seserver."
"Udah buru! Gue udah kepalang penasaran sama lanjutan ceritanya."
"Lo baca apaan udah kayak ngidam gitu?"
"Ada, lah. Pokoknya ceritanya tuh yah, bagus banget. B.A.G.U.S.B.A.N.G.E.T. ga paham lagi."
"Sampe segitunya ditegasin."
"Iya, Tris. Di novelnya itu, pemeran utama cowoknya punya karakter manipulatif. Pokoknya pemaparannya udah jelas banget kek lagi beritain orang. Sumpah, keren banget demi apa ..."
Nadine menejlaskan dengan semangat dan tempo yang cepat. Memang kebiasaannya akan berbicara tanpa henti jika itu menyangkut hal yang dirinya sukai.
Sesampainya di toko buku, Nadine segera ngacir ke rak fantasi. Matanya menatap lapar deretan buku yang terpajang rapi. Namun, 15 menit mencari juga tidak membuahkan hasil berarti.
"Gimana, Nad?" Beatrice yang sudah menentukan pilihannya pada buku masakan menghampiri Nadine yang tampak lesu menatapi buku yang berjejer rapi. Melihat tampang Nadine, Beatrice setidaknya bisa menebak, "Gak ketemu, ya?"
Nadine mengangguk lesu. Membuat Beatrice berusaha memikirkan cara lain mendapatkan buku itu.
"Coba cari di online shop, siapa tahu ada."
Nadine menuruti saran Beatrice. Hasilnya? Nihil.
Nadine menghela napas. "Ya udah lah. Bukan rejeki gue keknya."
.....
Tapi Nadine serius penasaran. Tadi malam, bukannya tidur pada jam normal Nadine malah memikirkan kemungkinan-kemungkinan tentang buku itu. Bisa saja buku itu edisi terbatas. Atau bisa saja itu buku self publish¹.
(1: buku terbitan pengarangnya langsung, tanpa perantara penerbit)
"Tapi hebat juga, ya, Justin bisa dapat buku self publish sebagus itu." gumam Nadine.
Sibuk berpikir, tahu-tahu Nadine sudah berdiri lagi di depan pintu ruang detensi. Jika kemarin dirinya enggan masuk, sekarang malah sebaliknya, Nadine harap dirinya bisa masuk.
Saat ragu hendak menyentuh daun pintu, Nadine terkesiap dengan suara seseorang di belakang punggungnya.
"Lo yang kemaren, kan?"
Nadine kenal suara itu. Siapa lagi yang punya efek tambahan mencekam di balik suaranya jika bukan Justin? Nadine berbalik pelan dan tersenyum canggung, "Eh, Justin."
"Mau masuk, lo?"
"N-Nggak, kok, nggak! Siapa bilang?!"
"Terus ngapain?" tanya Justin kesal.
Tentu saja. Saat ini Justin tidak dalam mood yang baik untuk meladeni gadis didepannya. Sebab tadi pagi sang ayah meminta hal yang terasa tidak masuk akal.
Flashback.
Justin melengos santai di depan meja makan. Seolah terburu-buru, tanpa repot menatap ayahnya Justin mengambil sandwich lantas menggigitnya dalam kunyahan pertama. Dengan mulut penuh, "Justin berangkat."
"Justin."
Dengan enggan Justin menoleh ke arah sang ayah.
Daniel Bagaskara hanya menggeleng tak habis pikir dengan kelakuan sang anak. "Kamu udah punya pacar?"
Justin menggendikkan bahu. "Pacar? Buat apa?"
"Bagus kalo gitu. Minggu depan ikut Papa ke Paris, ya. Papa mau ngenalin kamu sama anaknya temen Papa. Cewek."
Justin sekonyong-konyongnya mendelik tak terima. Bahkan dirinya hampir tersedak, "Loh, Pa?!"
Daniel hanya mengendikkan bahu. "Ayolah.. Toh kamu ga punya pacar."
"Astaga, Pa." Justin merotasikan bola mata malas. "Harus banget ya, Justin kesana?"
Hubungan Justin dan ayahnya memang tidak terlalu akur. Tapi tidak juga renggang. Semenjak kepergian sang ibu, perlahan mereka melanjutkan hidup dalam interaksi canggung satu sama lain.
Justin menghela napas, "Kenapa Papa mau Justin punya cewek?"
Daniel menghela napas, "Kamu kan anak Papa. Jelas ada miripnya sama Papa pas seumuran kamu. Umur kayak kamu, kalo ga punya cewek bakalan jadi pria dingin nantinya. Seenggaknya cobalah pacaran."
Justin terdiam berpikir. Kendati IQ nya tinggi, EQ Justin saat ini tergolong anjlok. Sebab sedari dulu sang ibu lah yang mengajarinya etitude. Justin sadar segala sikapnya di sekolah membuatnya dikenal menjadi anak berandal. Tapi dia tidak pernah ambil pusing.
"Kalo Justin punya pacar, kita ga usah ke Paris, kan?"
Daniel mengangguk. Kemudian menyeringai, menggoda sang anak, "Tapi kan ga mungkin kamu bakalan punya."
"Kenapa?"
"Papa udah denger julukan kamu di sekolah. Bad boy katanya? Orangnya kikuk gini dikatain bad boy. Ada-ada aja sama anak-anak di sekolah kamu."
"Jangankan papa, aku sendiri aja ga tau dimana kolerasinya. Lagian Justin juga masa bodo karena ga penting."
"Makanya, mending cari pacar di Paris aja udah."
"Jangan harap."
End flashback.
"G-Gue.." Nadine menatap acak sekelilingnya gelisah.
"Kalo ga ada urusan, minggir lu."
"Gak—Justin!"
Justin terkesiap saat tangan Nadine refleks menyentuh lengannya yang hendak meraih gagang pintu.
Justin menatap tangannya dan Nadine dengan tatapan yang sulit diartikan.
Nadine menelan ludah frustrasi. 'Sial. Gara-gara buku doang lo nyerahin nyawa ke malaikat pencabut nyawa, Nadine.'
"G-Gini, gue—"
"Mau lo apa, sih?!" Justin mulai merasa risih. "Lepas ga? Masih berani lo pegang?"
"Sorry! Justin, please, gue bisa jelasin.." Nadine kelabakan. Saat sadar akan situasi, mereka sduah menjadi bahan tontonan murid-murid yang berlalu lalang.
Justin juga baru menyadarinya. Dan dirinya benci jadi pusat perhatian. "BUBAR KALIAN!"
Setelahnya segera Justin balik meraih tangan Nadine dan membawanya masuk ke dalam ruang detensi.
Saat berada di dalam ruang detensi yang hanya ada eksistensi mereka berdua, Justin membawa punggung Nadine menabrak pintu. Dengan tatapan mengintimidasinya, pemuda dengan netra kelam itu mengungkungnya diantara kedua lengan kekarnya.
"Buru! Jangan becanda! Mau lo apa?!" bariton rendah namun sarat intimidasi itu mengecai rungu Nadine.
Karena gugup, Nadine yang kelabakan malah berujar fatal,
"Gue suka sama lo!"
'Bodo, Nadine, bodo! Bisa-bisanya lo ketinggalan kata terpentingnya! Lo kan kesini tujuannya buat novel Justin! Bukan orangnya!' rutuk Nadine dalam hati. Matanya tak sanggup melihat ekspresi Justin sekarang.
"Lo masih waras?"
Jujur Justin terkejut mendapat pengakuan cinta yang tiba-tiba ini, bahkan terkesan tidak niat sama sekali.
"M-maksud gue.. N-novel lo yang kemarin." Nadine menunduk. Dalam hati ketar-ketir menunggu respon sang lawan bicara. Apa Justin akan percaya?
Beruntungnya iya. Justin tentu lebih memilih percaya pada kalimat kedua dibandingkan kalimat pertama yang tidak masuk akal. Tiba-tiba sebuah ide gila melintas dalam benaknya.
"Lo suka kan sama novelnya? Dan lo ga bisa nemu dimana orang jual, kan?"
Nadine menatap Justin dan refleks mengangguk semangat. Membuat Justin sedikit terkesiap karena tiba-tiba saja dirinya merasa hal itu terlihat menggemaskan. Aneh, memang.
Lagipula, tentu saja Nadine tidak akan pernah bisa menemukannya. "Tau kenapa?"
Nadine kali ini menggeleng lesu.
Justine memiringkan kepala bingung. Apa gadis ini memang selalu punya ekspresi bak anak kecil? Kenapa bukannya jijik, Justin malah menganggap hal itu menggemaskan?
'Justin, lo harus cuci otak lo,' Justin mencoba mendoktrin otaknya.
Justin berdehem. "Karena buku itu emang ga pernah dijual."
Nadine mengerjap bingung. Tunggu. Tunggu dulu. Maksudnya apa?
Justin yang sudah tidak tahan dengan ekspresi Nadine refleks menggetok dahi gadis itu dengan tekukan jari telunjuknya. "Ngomong kek daritadi. Lo ga bisu, kan?"
Nadine mengelus dahinya pelan, "Mau ngomong apa?"
"Udah lah, lupain. Intinya, gue akan biarin lo pinjem buku itu dengan 2 syarat."
Mata Nadine langsung berbinar. Bisa tidak, Nadine meloncat dan memeluk Justin? Oh, iya. Nadine masih sayang nyawa. "Syarat apa?"
"Lo harus mau jadi pacar pura-pura gue."
"Kenapa pacar pura-pura? Kenapa harus gue? Emang lo ga laku?" cecar Nadine tanpa sadar.
"Lo tuh niat minjem, ga sih?"
"E-eh, iya gue mau."
"Oh? Ya udah. Mulai sekarang lo pacar gue."
"E-eh, bentar Justin!" Nadine kembali memegang lengan pemuda di depannya. "Maksud gue itu gue mau minjem novelnya."
"Berarti secara ga langsung lo setuju, kan, jadi pacar gue?"
"Hah? Eh, iya juga, ya? Tapi pura-pura, kan?" tanya Nadine memastikan. "Berarti ini rahasia."
"Iya. Jangan bilang-bilang kalo kita cuma pura-pura."
"Termasuk ke sahabat gue?"
"Iya."
"Berarti orang-orang bakal tau dong gue sama lo pacaran?"
"Oh, itu harus, malah. karena gue cari pacar biar semua yang disekolah pada tau. Itu juga ada hubungannya sama syarat yang kedua."
"Syarat yang kedua?"
"Lo cuma boleh baca novel-novel gue di ruang baca rumah gue."
"Hah? Lo pikir itu masuk akal?!"
"Masuk akal kok. Itu emang tujuan gue pacaran. Gue harus nunjukin pacar gue ke bokap."
"Gak, gak. Gue ga mau. Rugi banget cuma demi 6-7 novel gue korbanin status jomblo gue."
"Yakin lo?" Justin bersedekap angkuh. "Sekadar info, gue punya 67 judul novel dengan pengarang yang sama."
"Ga mungkin." Nadine menggeleng. "Kalo di bawah sepuluh gue masih percaya. Gimana bisa? Gue aja ga ketemu itu buku, satu pun! Satu pun, Justin. Satu pun!"
Justin menghela napas. Pandangannya berubah sendu kala mengingat sosok yang selalu ia rindukan. "Yang bikin novel-novel itu mendiang nyokap gue."
Nadine terpekur. Perasaannya berubah tidak enak saat tidak sengaja membuat Justin harus membongkar lukanya.
"J-Justin."
"Sekarang lo malah kasihan sama gue, kan?"
Nadine menggeleng. "Sekarang gue kaget, ternyata selama ini lo sekuat itu."
"Maksud lo?"
"Di saat orang lain lemah hatinya karena kejadian yang kurang mengenakkan, lo malah bangun benteng diri lo tinggi-tinggi. Biar ga ada satupun yang bisa masuk kecuali kalo lo sendiri yang robohin."
Justin tidak menampik bahwa dirinya sedikit banyak terhibur dengan perkataan Nadine. "Lo mau jadi penulis, ya? Jago banget bikin kata-kata."
"Ya enggak lah. Cita-cita gue mah food vlogger."
Justin tersenyum kecil. "Kok lo lucu banget sih?" gumamnya namun masih bisa didengar Nadine.
Tentu saja hal itu membuat pipinya memerah. "Curang lo, Justin."
"Maksud lo?"
"Bisa-bisanya lo muji gue dengan muka ganteng lo itu. Kalo gue baper lo mau tanggung jawab?"
Justin kini tidak bisa untuk tidak tertawa renyah.
"Kalo selama kita jadi pacar pura-pura lo nya baper, gue mau kok tanggung jawab."
End.
Maaf udah lama ga bikin genre fluff kek gini 🙏🏻 Semoga kalian juga ikut baper kayak aku pas bikinnya. *tiba-tiba pengen punya jodoh kek Justin🤔