Ruang waktu dimana hanya ada aku dan kamu. Wajah lugu dan senyum polos itu menipuku akan keberadaan nafsu yang perlahan menarikku. Semakin kuat hingga aku terjerat tak ingin lepas.
🍁🍁🍁
Vincent cowok dengan penampilan kumal memasuki minimarket yang berlokasi didekat kosannya.Vincent Prasetya mahasiswa tingkat tiga diuniversitas ternama dikota itu. Penampilannya yang selalu berantakan membuat orang-orang dilingkungan kosannya hingga dikampusnya selalu mencemooh dirinya dengan berbagai makian dan ejekan. Berkat keberadaan dia kosan yang ada disebelahnya itu selalu kosong. Tidak ada satupun yang mau tinggal dikosan yang bersebalahan dengannya.
Hingga suatu hari Laura yang bekerja sebagai Waitress disalah satu Bar di sekitar itu pindah kesana.
"Jorok banget sih!" Cemoh Laura cewek yang super-super seksi. Laura Adelia Waitress baru saja didepak dari Bar tempat pekerjaan sebelumnya karna membuat kepala pelanggan cedera. Ia mendapat pekerjaan baru Bar yang baru saja buka dilingkungan tempat Vincen tinggal.
"Kakak ngekos disini?" Tanya Sania cewek yang sering menghujat Vincen.
"Iya! Lo gak lihat barang gue pada numpuk." Jawab Laura ngegas.
"Biasa aja dong kak." Balas Sania. "Tapi Kakak Yang sabar ya hidup berdampingan sama sibusuk." Ucap Sania pergi dengan temannya yang siap untuk dugem.
"Busuk siapa?" Tanya Laura pada Alex yang sejak tadi memandangi tubuh Laura yang menggoda. "Mata minta dicolok ya?!" Bentak Laura melempar kemocen pada Alex.
"Galak amat sih cantik." Balasnya.
"Sibusuk siapa?" Tanya Laura mengulangi.
"Noh!" Tunjuk Alex pada Vincen yang datang dengan kaos lengan panjang dipakai di dalam lalu dipadukan dengan kemeja kotak-kotak ditambah celana panjang. Rambut yang berantakan. Ia menyelipkan lolipop dimulutnya dengan kantongan berisi segala jenis camilan,minuman berjalan kearahnya.
"Brakk!" Suara tong sampah terbalik oleh kaki Vincen.
"Woi!" Teriak Laura pada Vincen yang acuh tak acuh masuk kekosannya tanpa mempedulikan sampah yang mengenai barang-barang Laura.
"Busetdah!" Umpat Laura bertolak pinggang.
🍁🕊️🍁🕊️
Satu Minggu sudah Laura hidup berdampingan dengan Vincen yang memiliki teras belakang bersama. Namun Vincet tak pernah menggunakannya. Meskipun sudah seminggu Laura belum pernah bertegur sapa ataupun ngobrol dengan Vincent.
"Di dalam seharian ngapain sih?" Tanya Laura dimalam hari menempelkan kupingnya dipintu belakang Vincent.
Krekk! Suara pintu dibuka.
Bukk! Suara Laura terjatuh kelantai.
"AW! Desis Laura merasakan sakit dilututnya.
"Itu akibatnya kalau nguping." Cibir Vincen yang diam-diam memperhatikan Laura dari dalam.
"Lo sengaja ya?!" Bentak Laura mendongak mendapati Vincent tidak seperti yang ia lihat ketika keluar dari kosan. "Lo bisa bersih juga ternya---"Ucapan Laura terputus oleh tagan Vincent yang membekam mulutnya. Vincent menarik wanita seksi itu kedalam dan cepat menutup pintunya.
"Hahhh." Suara nafas Laura setelah Vincet melepas tangan dari mulutnya. "Lo mau sekap dan bunuh gue ya?!" Tanya Laura berdiri meraih mencari alat yang dapat melawan Vincent didalam kosan. "Lo gamers?" Tanya Laura melihat luasan kosan yang sama dengan milikinya dimodif menjadi kamar gaming dengan tekstur gelap dipadukan dengan akses lampu downlight. Lalu terdapat setup permainan maupun komputer-komputer dengan kualitas yang tinggi. "Pantesan aja seharian betah didalam." Ucap Laura yang duduk dikursi dan memutarnya kearah Vincent berdiri masih dengan traning dan telanjang dada.
"Jangan cerita ketetangga lain ya." Ucap Vincent duduk dikursi lain yang menghadap pada monitor lain.
"Hmmmm." Suara endusan Laura pada Vincet. "Lo harum banget." Puji Laura pada Vincet yang dicap busuk,Kumal,bau. Bahkan Sania membandingkannya dengan keset.
"Bukan keset tapi Serigala." Celetuk Laura.
"Makasih ya udah bersihin teras depan belakang." Ucap Vincent.
"Ah itu!" Ucap Laura. "Gue lakuin itu biar Lo segan ngotorinya." Tambahnya bangkit dari kursi melihat kosan Vincent jauh lebih bersih dari kosannya. "Dan ternyata Lo jauh lebih bersih dari gue." Pujinya pada Vincent yang menggigit bibirnya menahan gejolak melihat tubuh Laura.
"Lo dah makan malam?" Tanya Vincent menelan ludah.
"Untung Lo ingatin." Ucap Laura berlari kepintu belakang. "Sup ayam gue kering dah tuh." Teriaknya pergi keluar meninggalkan Vincent siserigala yang sedikit lagi akan memakannya.
🍁🕊️🍁🕊️
Sebulan berlalu Laura dan Vincent semakin dekat. Laura yang dua tahun lebih tua dari Vincent memperlakukannya seperti adik sendiri yang membuat pria 23 tahun itu kesal.
"Hei busuk! Minggir Lo!" Bentak Sania yang berjalan dimalam hari hendak pergi clubbing. Sementara Vincent dengan berpenampilan kucel pergi menyusul Laura. Ia penasaran seperti apa Laura ditempat kerjanya.
"Pengemis dari mana tuh!" Bisik orang-orang di bar pada Vincet yang berdiri memesan minuman pada barista sambil melirik keberadaan Laura.
Itu dia. Batin Vincent memperhatikan Laura membawa nampan berisi botol minuman dan gelas. Laura mengenakan atasan putih tanpa lengan dan rok pendek ketat.
"Rara!" Panggil pria meminta Laura mengambil minuman dari barista tempat Vincet berada.
"Elo ngapain disini?" Bisik Laura pada Vincent yang sesekali melirik setengah dada Laura yang terlihat keluar membuat belahan itu terlihat jelas.
"Mau nyoba minum." Bisik Vincent. "Selagi muda." Melempar senyum tipis yang membuat Laura menggigit bibirnya.
"Jangan kebanyakan." Bisik Laura pergi membawa pesanan kemeja tamunya. Begitu seterusnya hingga jam menunjukkan pukul 2 dinihari.
Malam-malam seterusnya Vincent selalu datang meskipun ia selalu dapat makian dan bullying dari para pelanggan lainnya dibar. Laura terkadang tidak melihatnya karna saking sibuknya melayani dan melindungi dirinya dari tangan-tangan nakal.
Suatu malam Vincent melihat tangan pria tiba-tiba saja datang langsung meremas dada Laura dari belakang.
"Sialan!" Teriak Vincet meloncat dari kursinya menendang pipi pria itu.
"Buk!"
Suara pecahan gelas dan makian pada Vincent meramaikan tempat. Kekacauan pun terjadi. Tidak ada yang bisa dilakukan Laura saat orang-orang memukul dan menghina Vincent.
"AW!" Desis Vincet ditepi ranjangnya saat Laura mengobati luka disudut bibirnya.
"Sakit ya?" Tanya Laura.
"Iya."
"Siapa suruh bertingkah sok jagoan." Ucap Laura.
"Lo suka ya dipegang begini." Ucap Vincet meremas dada Laura.
Plak!!! Tamparan Laura melayang kewajah Vincent.
🍁🕊️🍁🕊️
Seminggu sudah setelah kejadian Laura tetap bekerja dibar dengan catatan gaji pertama akan dipotong setengahnya untuk ganti rugi.
"Tumben gak bareng sibusuk!" Cibir Sania yang baru saja pulang dugem sementara Laura baru saja pulang dari kerja.
"Lo juga tumben gak begituan sama Alex disana." Balas Laura yang selalu memergoki Sania yang bermain di pojokan sepi arah gang kosan mereka.
"Kayak Lo gak gitu aja." Cibir Sania pada Laura. "Gue masih mending kali digelap." Ucap Sania. "Dari pada Lo didepan itunya--"
"----Buk!" Kepala Sania tertumpuk kantongan sampah yang tumpah kesekujur tubuhnya oleh Vincent.
"Busuk sialan!" Teriak Sania pergi meninggalkan Vincent yang berdiri dipintunya sementara Laura berjalan kearah pintunya.
"Gue belum makan malam." Ucap Vincet yang sudah seminggu tidak dimasakin Laura seperti biasa.
"Gue mau ti----"
"---Gue yang masakin." Potong Vincent berlari menerobos masuk kekosan Laura.
Vincent menghidupkan kompor dan mulai memasak mi instan sementara Laura masuk kekamar mandi dengan handuknya.
"Ra mau gak?" Tawar Vincent pada Laura yang sudah berbaring diranjang dengan piyamanya. "Ra gue minta maaf." Ucap Vincent namun Laura tetap diam.
Vincent menghela nafas dan mengembalikan keadaan dapur kesemula. Ia kemudian memberanikan diri naik keranjang.
"Gue bukan seperti wanita yang ada di kepalamu." Ucap Laura menegasakan. Ia tahu semua pria yang baik-baik padanya hanya ingin mengambil kesempatan berhubungan badan.
"Kalau bukan begitu kenapa Lo mau aja dira--" ucap Vincet terputus melihat Laura bangkit duduk melihatnya.
"---Karna gue gak mau kelilangan pekerjaan lagi." Ucap Vincent. "Lo mana tahu susahnya cari kerja dengan keterbatasan yang gue punya." Ucapnya. "Emang elo yang bahkan bisa buang-buang uang hanya untuk sekedar hobi." Ucapnya sambil terisak. "Lo pikir gue mau dipegang-pegang begitu." Keluhnya pada Vincent yang hanya bisa terdiam.
Malam itu Laura menceritakan dirinya yang selalu dikeluarkan karna membuat pelanggan cedera. Ia selalu memecahkan botol atau apapun yang dapat ketika tangan-tangan itu menyentuhnya. Itu mengapa ditempat baru ia berusaha untuk menahannya.
"Maafin gue." Ucap Vincent.
"Gak pa-pa." Balas Laura. "Lagian Lo juga gak tau apa-apa."
"Jadi Lo belum pernah be---." Ucapan Vincent terputus melihat Laura yang memelototinya. "--bermain game." Sambung Vincent menggaruk lehernya melihat kelangit-langit plafon.
"Gue belum pernah." Jawab Laura menangkap maksud serigala didepannya.
"Ohh." Sahut Vincent kembali melihatnya. "Mau gue ajarin gak?" Tawar Vincent.
"Emang Lo udah pernah sama berapa wanita begituan?" Tanya Laura melipat tangannya didada dan memajukan wajahnya pada Vincent.
"Gue cuma pernah nonton aja." Jawab Vincent membuat Laura cekikikan.
Ah!ternyata serigala kecil. Batin Laura.
"Besok gue ajarin ya." Goda Laura.
"Ajarin apa?"
"Ajarin dandan." Jawabnya. "Biar Serigala kecil gue gak dianggap remeh lagi." Mengacak rambut Vincent dengan gemas membuat Serigala kecil itu mengecup bibir majikannya.
🍁🕊️🍁🕊️
Siang hari Laura mengikuti Vincet ke kampusnya. Ia masih tak percaya bagaimana Vincent menjalani kesehariannya dengan penampilan norak dan kucel.
"Puk!" Suara botol minum menimpuk kepala Vincent yang membuat Laura menggertakkan giginya. Bukan satu dua orang yang melakukannya malah lebih. Mereka bahkan ada yang meludah dan memakinya.
"Dasar cewek-cewek sinting!" Teriak Laura tidak tahan melihat perlakuan mereka terhadap Vincent. Ia menghadang mahasiswa-mahasiswa itu dan melempar balik apa yang mereka lempar ke Vincent.
"Lo kali yang sinting!" Balas orang-orang itu pada Laura. "Cantik-cantik bego!" Cibir mereka pada Laura yang membantu Vincent yang kucel,Kumal dan sebagainya.
"Apa susahnya sih berpenampilan normal ke kampus?" Tanya Laura menangkup wajah Vincent yang menunjukkan mimik wajah polos dan lugu. "Kalau Lo berpenampilan biasa seperti saat didepan gue." Ucap Laura. "Gue gak akan dikatain sinting sama mereka." Tambahnya membuat Vincent tersenyum dan membawanya pergi berbelanja.
"Ra!" Panggil Vincent.
"Ya!"
"Gue boleh ikut ketempat Lo kerja gak?" Tanya Vincent.
"Dikosan aja nge-game." Jawab Laura menolak.
"Gue cuma mau nemanin Lo doang." Bujuknya dengan wajah lugu. "Biar Lo ada teman pulang malem." Bujuknya lagi.
"Gue gak mau mereka ngatain dan hina Lo disana." Balas Laura yang mengingat terakhir Vincent harus menerima pukulan dan hinaan.
Dengan kesal Vincent membiarkan Laura pergi sendiri untuk terakhir kalinya. Malam berikutnya Vincent datang dengan penampilan yang bersih, stylish,harum dan cool. Semua mata tertuju padanya sementara kedua matanya hanya ia gunakan untuk melihat Laura yang tak mengenalinya.
"Ra ini gue." Bisik Vincent pada telinga Laura tidak lupa ia melirik belahan dada tetangganya itu.
"Vincent!" Desisnya terkejut dan tiba sebuah tangan hendak menyentuh bokong Laura tapi dengan cepat ditepis Vincent.
Kekacauan kembali terjadi dan lagi-lagi kerugian dilimpahkan pada Laura. Vincent tak sengaja mendengarnya dan langsung melemparkan uang kewajah atasan Laura dan menyeret Laura pergi.
🍁🕊️🍁🕊️
Keesokan harinya Vincent muncul dengan penampilan dia yang sebenarnya yang membuat orang yang mencibirnya menyesal. Ternyata Vincent adalah juara free fire berturut-turut dalam lima tahun terakhir ini. Itu mengapa Vincent menyembunyikan dirinya dari real life dengan berpenampilan kucel.
"Dikosan Lo airnya mati ya?" Tanya Laura ketika keduanya selesai mengisi perut.
"Enggak."
"Terus Napa Lo mandi disini."
"Suka aja." Ucap Vincent. "Kenapa?" Tanya Vincent. "Lo takut ya gue apa-apain." Goda Vincent pada Laura yang sudah sebulan hanya berdiam diri dikosan.
"Mana ada." Balas Laura naik keranjang. "Ya kali gue takut sama dedek kayak elo." Ledek Laura merebahkan diri yang disusul Vincent menimpa tubuhnya dari atas.
"Siap yang Lo katain dedek?" Tanya Vincent menggesek miliknya yang selalu menegang setiap berada didekat Laura. Namun ia hanya bisa melampiaskannya selama ini di kamar mandi.
"Kamuuuu." Ucap Laura yang merasakan milik Vincent menggetarkan tubuhnya. Ia juga merasakan deru nafas Vincent begitu cepat.
"Aku kenapa?" Tanya Vincet dengan tangan yang kini meraba dua gundukan yang hanya tertutup gaun tipis. Ia tahu Laura tidak pernah mengenakan bra saat akan tidur.
"Vincent." Desisnya Laura mendorong tubuh Vincent dari atasnya dan bangkit duduk begitu juga dengan Vincent.
"Boleh ya?" Pinta Vincent memasukka tangannya meraih gundukan yang sintal.
"Vincent." Desisnya lagi membuat pria itu menarik tubuhnya duduk dipangkuan dengan kedua kaki mengangkang.
"Laura." Desis Vincent menjatuhkan tali gaun tidurnya. "Kamu harus tanggung jawab." Menurunkan gaun itu hingga kepinggang memperlihatkan dua gundukan besar sintal meminta untuk dieksekusi.
"Kamu yakin ." Desis Laura yang sudah terangsang dengan merangkul tangannya dipundak Vincent dan menggeliatkan pinggulnya. "Setelah terjadi kamu yang harus bertanggung jawab." Ucap Laura dengan formal menekuk wajahnya bersandar dibahu Vincent.
"Malam ini tiduran aja." Ucap Vincent memakaikan kembali gaun malam yang melorot dan keduanya tidur bersama.
🍁🕊️🍁🕊️
Malam itu Laura merasa Vincent tak tertarik pada dirinya. Lambat laun ia menjauh dari Vincent yang kini digandrungi banyak wanita-wanita berkelas dari berbagai sudut kota.
"Laura!" Panggil Vincent pada Laura yang sekarang bekerja menjadi barista di salah satu coffee shop. Laura mengabaikan panggilan Vincent yang tak kemudian Vincent dikeliling wanita.
Dia kenapa sih? Tanya Vincent dalam hati yang terasa sesak melihat sikap Laura padanya.
Malamnya Vincent menunggu Laura pulang. Namun hingga pagi ia tidak melihat wanita itu pulang kekosannya.
"Laura!" Bisiknya sambil memesan minuman pada Laura. "Gue mau ngomong sama Lo!" Ucapnya yang dibalas Laura dengan menyerah kan pesananya dan kembalian uang.
Malam berikutnya Vincent bersembunyi agar tidak ketahuan sedang menunggunya. Laura membuka pintunya Vincent pun muncul dan nyelonong masuk kekosan Laura.
"Lo kenapa sih?" Tanya Vincent.
"Gak kenapa-napa." Jawab Laura.
"Bohong." Sangkal Vincent yang merasa hatinya semakin sakit dan sesak. "Hati gue sesak banget lihat Lo begini ke gue." Ucapnya. "Tiap malam gue mikirin salah gue apa." Jelas Vincent.
"Gak ada yang salah." Ucap Laura yang ditarik Vincent kedalam pelukannya.
"Hati gue sesak banget kak." Desisnya. "Kalau Kak Laura pikir gue yang telah diketahui banyak orang ini bakal ninggalin Lo." Ucap Vincent. "Lo salah!" Mendorong tubuh Laura untuk melihatnya.
"Gue cuma---"
"---Uhmm." Potong Vincent meraup bibir Laura dan mendorongnya perlahan jatuh keranjang dan melepasnya.
"Gak masalahkan gue lebih muda dari Lo?" Tanya Vincent dibalas anggukan kecil dan tarikan tangan Laura yang ingin melanjutkan ciuman serigala kecilnya.
Sejak malam itu Laura menikmati setiap sentuhan Vincent. Sentuhan yang kian menjeratnya lebih dalam. Pagi hingga siang Laura kerja di mini market. Sore hingga tengah malam ia kerja dicoffee shope. Tengah malah hingga waktu yang ditentukan ia dikerjain oleh serigala kecilnya digoanya.
Vincent bahkan memodif dinding menjadi pintu akses Vincent dan Laura leluasa bercumbu tanpa diketahui penghuni kos lain.
"Ahhhhhh!" Suara desah Laura setiap kali Serigala kecil menjeratnya dengan nafsu buasnya yang menggebu-gebu hingga terkulai lemas dalam kenikmatan.
🍁🍁🍁Tamat.