Apa kau tahu mengapa seseorang mengakhiri hidup mereka? Putus asa atau muak adalah kata pertama dalam benak sebagian orang. Atau... bisa jadi ada alasan lain di balik itu semua. Mengapa aku bertanya?
Pada pagi hari menjelang siang? Waktu itu dia yang tengah dilanda kebingungan. Teman sekaligus musuh dalam bisnis miliknya mati. Bagaimana cara dia mati? Ya, bunuh diri. Tapi, motif dari bunuh dirinya juga masih dipertanyakan. Aku juga tengah membantunya, tapi aku tak bisa apa-apa.
Katanya, dia cuma ingin menjenguk temannya. Mereka tentu selalu sering bertemu. Tapi, semakin lama mereka terobsesi dengan pekerjaan mereka, mereka semakin menjauh. Walau begitu hubungannya tak pernah terputus.
Aku kenal dengan baik sifat mereka. Bahkan kopi mereka yang menyisakan setengah dingin saja di setiap pagi, aku tahu mereka akan begitu. Yang satu, selalu meributkan bisnis dengan cara bicaranya yang blak-blakan. Yang satu, tenang sedingin es. Tak hanya bisnis. Mereka membicarakan banyak hal bersama pada satu waktu yang kian berkurang.
Lalu, bagaimana aku mengenal mereka? Banyak hal yang sulit dijelaskan, namun pada akhirnya kami berteman secara tak sengaja. Bisa dibilang, tiga orang memiliki 1 hobi yang sama. Menarik? Tentu tidak. Pertemuan pertama dan kedua tak seindah yang dibayangkan.
Cukup sampai disana.
Aku kenal orang yang ceria dan blak-blakan sepertinya tidak mungkin mati karena hanya ingin. Hatinya mungkin tidak seperti itu. Pasti. Selumbari atau kemarin lusa, dia malah tertawa bersama kami. Dan si es tersenyum. Senyuman yang langka aku lihat.
"Pertama kali aku lihat kau terlihat tersenyum." Kataku sembari menyenggol bahunya.
"Diamlah." Walau dia menyanggah, wajahnya tak dapat dia kendalikan sesuai dengan pikiran.
Dia atau kita sebut si es menemukan temanya itu sudah dalam keadaan dingin dengan darah yang hampir mengering di kepala. Dan aku di telepon olehnya setelah polisi terlihat.
Sebelumnya, kita berbincang di kafe perihal bisnis yang sedang dia kembangkan. Aku hanya memberikan komentar saja. Tanpa ada saran yang membangun. Lalu si es bilang, aku memiliki pelit suara atau tak mau berbagi informasi. Jujur, aku kesal. Memang apalagi yang harus aku katakan? Sementara aku agak awam dengan bisnis miliknya sendiri.
Waktu itu jam 10 atau 11 dia pergi dengan keadaan seperti biasa. Tak berbeda di hari lainnya. Lalu dia meneleponku lagi pada waktu yang pas untuk sampai ke kediaman milik si ceria itu. Artinya, dia benar-benar bukan pelakunya. Katanya di telepon.
"Cepat kemari. Sesuatu tak beres. Aku menelepon polisi sebelum kau. Nanti aku jelaskan." Aku kesana secepat mungkin dan melihat mobil polisi.
Begitulah.
Sekarang, apa ada yang tahu mengapa itu bisa terjadi? Di dekat mayat ada senapan. Bukan senapan angin yang pernah dia tunjukkan pada kami. Senapan angin itu masih dipajang dengan rapih. Tak pernah ada senapan berpeluru. Sempat aku curiga pada si es. Tapi, wajahnya pucat lebih dari biasanya setelah mendengar temannya benar-benar mati.
Aku harus bagaimana? Ya, tolong saja cari pelakunya agar arwah milik si ceria bisa tenang. Cukup sederhana diucapkan tapi, sulit dilakukan. Dan hari demi hari, aku tak menyangka akan kejutan yang mendebarkan dari menonton film horor sendirian. Walau memang cukup menyenangkan.
Si es, ditetapkan sebagai pelaku. Tapi... dia sendiri adalah orang kedua yang paling bersedih setelah istri temannya yang kini telah terkubur tanah dan rumput hijau. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Dia seakan pasrah walau sebenarnya ingin membantah.
Apa... mungkin ini terjadi? Wajah yang risau dan sedih terukir padaku. Memang bukan dia pelakunya. Tapi, mungkin dia merasa bertanggung jawab karena datang terlambat. Dia tersenyum saat melihatku di kejauhan. Senyum yang menyedihkan. Aku... aku tidak tahu harus berkata apa.
Setelah semua orang membubarkan diri, aku yang tersisa melihat kepergian si es. Setelah mobil polisi itu pergi menjauh berpuluh kilometer, aku memesan taxi yang ada di sekitar sana dan pulang kerumah.
Kesan pertama setelah aku mengunci rumah dengan rapat adalah... mengagumkan.
"Luar biasa! Tak kupercaya aku berhasil! Hahaha!"
Apa? Si ceria bunuh diri. Itu tentu. Darah yang hampir mengering. Jelas-jelas mayatnya telah lama terbujur kaku. Aku tidak bisa apa-apa? Jelas aku akan ketahuan kalau terlibat dengan si es. Ketahuan mengorek celah terlalu dalam. Mengapa begitu? Dia agak pintar sekaligus bodoh.
Ah, pertemuan. Bagaimana dengan hobi? Berburu adalah pertemuan yang kurang enak diingat. Oh, mereka berteman dengan sangat baik. Tidak akan ada yang begitu tega memutus hubungan mereka. Mungkin, kecuali aku.
Aku memang sempat curiga pada si es. Curiga perihal dia tahu segalanya. Dan tentu sangat sulit untuk menutupi hal itu. Ya, dan ini terjadi. Topeng telah menebal. Menunggu balasan yang pas untuk mereka. Selama bertahun-tahun. Asal kalian tahu saja, bisnis pada bidang yang kita pilih jelas berbeda. Tapi, bisnis tetaplah bisnis.
Yang pasti. Si es telah bertemu dengannya sebelum aku. Apa yang terjadi? Si ceria merelakan nyawanya untuk temannya. Aku sedikit mencari celah mereka. Mudah ditemukan. Bisnis adalah celah yang sangat jelas. Aku terus mengorek celah itu dengan segala cara. Jadi aku pelakunya? Bukankah itu mereka?
"Dia bunuh diri," Kata si es dengan mata tak karuan. "Tepat didepan mataku sendiri!" Sambungnya.
Tapi kau tahu. Setelah tawa itu aku hanya duduk di depan pintu rumah dan bersandar padanya. Sesuatu yang hangat menempel di wajahku. Bulir yang basah turun dari mataku. Walau senyum masih terukir sempurna.
Sebenarnya teman atau musuh? Dadaku sakit memikirkannya.
end...
🤔jadi pelakunya siapa sih?!