Luna, gadis lugu yang begitu suka membaca datang ke taman Surga. Taman yang terletak di sebuah perumahan elit khas orang berdompet tebal.
"Luna, apa kau datang ke sini hanya untuk membaca? lihatlah tantemu yang kesepian ini."
Luna menatapnya sambil cengengesan. Kemudian berkata, " Maaf, tan."
"Yaudah, kamu jangan membaca terus coba nikmati angin yang sepoi-sepoi, matahari yang baru saja terbit dan juga bunga-bunga yang cantik."
"Hum, iya tan."
Luna menutup bukunya dan menatap sekitar. Di pojok kanan terlihat sebuah lubang di semak-semak yang tinggi. Membuatnya sedikit penasaran.
"Tan, itu lubang apa?" tanya Luna sambil menunjuk ke arah lubang itu.
"Mana tante tahu, 'kan bukan tukang kebunnya. Kamu tuh aneh."
"Hehe... kirain tante tahu 'kan tante udah lama tinggal di sini."
"Enggak, ini juga pertama ke sini. Bentar lagi om kamu pulang, tante mau ke rumah. kamu ikut?"
"Duluan aja tan."
Luna penasaran, sangat penasaran. Dengan mengumpulkan keberaniannya dia mendekati lubang itu. Lubang yang terlihat gelap tapi mengundang rasa penasaran yang tinggi. Perlahan Luna memasuki lubang itu dan betapa terkejutnya dia melihat pemandangan jaman kerajaan.
Beberapa perempuan memakai kebaya cantik dan sebagian lagi memakai kemben. Sangat menawan dengan wajah polos tanpa riasan berlebih.
Luna berjalan perlahan tapi tidak ada seorang pun yang menatap ke arahnya. Seakan tak ada, dia diabaikan begitu saja.
"Nyi, abdi ngagaleuh sekar kawungna." (ni, saya beli sekar kawungnya).
"Mangga."(silakan) Nenek penjual itu membungkus sesuatu seperti bedak dengan daun pisang.
Perempuan itu kemudian memberikan beberapa lempeng perak tipis dari kantung kecil.
Dari kedai-kedai kecil dia melihat banyak sekali interaksi masyarakat yang hangat,beberapa bertukar sayuran, ubi dan ternak. Dia merasakan suatu kebahagiaan yang meluap-luap dalam hatinya. Sesuatu yang tidak akan ditemui lagi, keajaiban sejati, pikirnya.
Rasa bangga seakan memecahkan celengan hampa dari jiwanya. Burung-burung seakan bernyanyi untuknya.
Setelah menenagkan hatinya Luna berjalan kembali menuju selatan pasar. Terlihat seorang pemuda tampan yang menunggang kuda. Bajunya seperti seorang prajurit kerajaan di tv.
Pemuda itu mendekat. Menatapnya dengan tajam seperti seorang musuh yang mengunci target.
Apa dia melihatku, pikirnya. Dia melihat ke kanan dan kirinya. Rasa takut mulai menjalar di dalam dada. Entah bagaimana nasibnya jika dia ditangkap. Sedangkan bahasanya saja dia tidak tahu.
"Dupi Kakasih-" suara lelaki itu menjadi pelan dan samar-samar, kemudian lenyap.
Sayup-sayup suara ala satpam komplek terdengar di telinga Luna.
"De, udah siang.
"Eh, pak Darmo!"
"Kasian itu dahinya udah keringetan. Jadi-"
"Sepertinya saya ketiduran pa. Terima kasih, saya pulang dulu pa."
"iya, de."
Luna berjalan menuju rumah tantenya, sedangkan di belakang pak Darmo menatapnya dengan raut kesal. Tangannya mengepal. kemudian berbalik menuju arah selatan.