⚠️Rate: Mature secara implisit demi kepentingan cerita. Harap pembaca dapat bijak🙏🏻
Rintikan hujan di langit yang temaram itu mempertemukanku denganmu. Kamu yang membawa senyumku terbit sekaligus yang merampas duniaku.
.....
Sejak orangtuaku meninggal, kakakku yang selisih umurnya 3 tahun di atasku memilih meninggalkan rumah untuk mengadu nasib. Tidak banyak yang ia sisakan untuk kukenang. Sebab selama ini kami hanya sering bertengkar seperti saudara kebanyakan. Aroma muffin yang selalu kuingat tatkala dirinya berusaha menghabiskan jatahku untuk membuatku menangis adalah salah satu yang masih tertinggal.
Oh, ada satu lagi. Uang yang selalu dikirim melalui rekening sehingga aku juga tidak tahu darimana dirinya kirimkan. Sejak aku menyadari uang yang berusaha kuhemat dari tabungan peninggalan Ayah terus mendapat tambahan nominal di tiap bulannya, aku jadi tidak terlalu mengkhawatirkan biaya hidup.
Seharian dalam 24 jam, jika 6 jam tergerus habis dengan tidur, maka sisanya kulakukan untuk usaha toko kue.
Tentu, kue muffin yang sedari dulu kakakku rebut jadi salah satu menu.
Bisnis kecil ini tidak mendatangkan kekayaan, namun aku cukup puas tatkala ada 6-7 pelanggan yang setidaknya 2 hari sekali mampir membeli roti untuk sarapan. Mungkin saja ada toko kue yang lebih besar dan variatif menunya daripada disini.
Hari itu, tepatnya di kala gerimis menyelemuti kota, seorang pemuda nampak menumpang berteduh di depan kanopi toko. Karena sebagian besar dinding depan dipasang kaca pintu dan jendela, siluetnya yang basah kuyup samar terlihat dari tempatku berdiri di balik meja kasir.
Melihat pemuda itu acap kali melirik resah arloji basah di tangannya, aku lantas berinisiatif keluar dan menawarkan handuk kering. Tidak lupa payung yang letaknya dalam wadah dekat tiang jas hujan/topi dekat pintu juga kuraih untuk kuberikan padanya.
Pemuda itu menoleh saat menerima uluran handuk, lantas sedikit terkesiap melihatku. Wajahnya nampak bersih, tampan, dan menarik. Aku juga baru sadar otot tubuhnya lumayan kekar untuk ukuran pemuda kurus dan jangkung. Aroma musk samar mengecai penghidu.
"Terima kasih."
Suaranya yang dalam terdengar menenangkan. Aku membalas senyumnya yang kikuk saat menyeka kering wajah dengan rahang kokoh itu. Barulah saat wajahnya tidak lagi basah, pemuda itu lanjut mengeringkan rambutnya.
"Namaku Vincent."
"Kau buru-buru?"
Kami mengucapkannya disaat bersamaan. Pemuda itu, Vincent, nampak salah tingkah karena kalimatku barusan. Tapi, aku juga demikian.
"Namaku Mauryn."
"Mauryn."
Aku sedikit merinding mendengarnya. Suaranya dan caranya memanggil namaku entah kenapa terasa istimewa.
Pemuda itu menampilkan seutas senyum menawan. "Kau benar."
Aku mengernyit. Menyadari kebingunganku, lantas Vincent tertawa rendah.
"Aku memang tengah terburu-buru."
Aku seketika paham. Lantas mangut-mangut dan dihadiahi Vincent sebuah sapuan halus di atas kepalaku.
"Terima kasih, ya, Mauryn. Aku pasti akan mengembalikan ini." Vincent memegang payung dan menyibakkannya.
Pasti.
Kata itu seolah adalah sebuah janji yang ia ucapkan. Janji bahwa dia akan menemuiku lagi.
.....
Tanpa sadar sudah sepuluh hari aku menunggu siluetnya menyapa pintu. Harapanku mulai kosong. Mungkin saja dirinya tidak sepertiku yang selalu menanti dengan penuh harap. Mungkin saja dirinya sudah lupa.
Namun semua pikiran buruk itu sirna, tatkala kulihat senyuman itu kembali menyapa di balik pintu. Hampir tersandung aku bergegas membukakan pintu. "Hai, Vincent."
"Hai, Mauryn. Lama menunggu, ya?"
Pipiku memerah. Sebisa mungkin aku bersikap tenang. "M-mana mungkin?"
Vincent kembali melontarkan tawa rendahnya yang khas. Aku suka caranya menatapku.
"Tapi Mauryn, aku lupa membawa payung."
Seolah itu sebuah kode agar dirinya bisa mampir kesini lagi, aku hanya mengangguk dengan senyuman. "Kau bisa datang lagi."
.....
Singkat cerita, sudah 8 bulan lamanya hubungan ambigu seperti ini terjalin antara aku dan Vincent. Pemuda itu selalu datang tanpa payung dan handuk yang dulu kupinjamkan. Dan aku selalu menganggap hal itu adalah siasat kecilnya agar selalu diizinkan mampir.
Hubungan kami juga tidak terhenti sampai batasan penolong dan yang ditolong, atau pemilik toko dan pengunjung. Entah siapa yang memulai, kontak fisik di antara kami sudah mencapai batas akhir.
Seperti sekarang ini. Kala hujan di luar sana diiringi petir yang berkilat, aku dan Vincent memadu kasih, bergumul dan saling menyalurkan kehangatan dan hasrat di atas ranjang. Erangan yang bersahutan diiringi bunyi decit dari kaki ranjang.
Tidak seperti yang sudah-sudah, Vincent kini melakukannya tanpa pengaman. Mungkin karena dirinya tahu periodku sudah selesai 2 minggu yang lalu. Kemungkinan besar ini bukan masa subur.
Saat kami mencapai puncak, Vincent memanggil namaku, dan aku memanggil namanya.
Setelahnya, Vincent ambruk dan perlahan mengubah posisinya rebahan di sampingku. Matanya menatapku sayu. Aku memberikannya senyuman penuh kebahagiaan. Namun pandangannya masih sama.
Vincent mengusap rahangku dan menyelipkan rambut yang menghalangi pandanganku ke belakang telinga. Kemudian mendekat dan mencium dahiku dengan penuh kasih sayang.
Kemudian aku berinisiatif memagut bibirnya. Vincent membiarkanku memimpin ciuman.
Setelah pagutan terlepas, Vincent membawaku dalam pelukan hangatnya. Menenggelamkan kepalaku dalam dada bidangnya yang selalu berdetak kencang.
Saat kantuk mulai mendera, aku masih sempat menggumam, "Aku mencintaimu."
Namun samar kudengar lirihan Vincent,
"Maafkan aku."
.....
Saat aku membuka mata, pemandangan yang pertama kali kulihat adalah sisi sebelah ranjangku yang kosong.
Hal ini juga tidak seperti biasanya. Tiap aku melakukannya dengan Vincent, pagiku akan disapa punggung kokohnya ataupun dadanya yang bidang. Namun, yang kudapati hanyalah kekosongan yang terasa asing.
Aku memungut pakaianku di lantai dan memilih untuk membersihkan diri terlebih dahulu sebelum serius berpikir.
Saat sampai di pantry, tiba-tiba aku terpikir untuk membuat muffin kesukaan Vincent. Sambil memasukkan bahan dalam mixer, aku kembali menyusun potongan puzzle janggal yang Vincent tinggalkan.
Pertama, tidak seperti biasanya, Vincent akan sebisa mungkin membangun suasana agar aku nyaman dan meminta izin untuk melakukannya. Tapi tadi malam, dia tidak melakukan semua itu.
Lalu, Vincent yang biasanya selalu memakai pengaman bahkan saat aku tidak di masa subur pun tiba-tiba tidak memakainya. Seolah pikirannya terlalu kalut hingga tidak sempat teringat akan kebiasaannya.
Terakhir, tanpa pamit Vincent meninggalkanku tidur sendirian sampai di pagi hari.
Oh, tidak. Tidak. Masih ada 1 poin terkahir. 2 kata yang benar-benar membawaku pada prasangka terburuk.
Mengapa Vincent meminta maaf?
.....
Sudah 2 bulan semenjak kejadian hari itu. Yang membuatku terkejut adalah hasil positif pada testpack yang iseng kubeli. Belakangan aku memang curiga tengah hamil. Semua memang karena sudah 2 kali aku melewatkan masa period.
Namun anehnya, aku tidak mengalami hal semacam mengidam ataupun muntah-muntah di pagi hari seperti wanita hamil kebanyakan.
Aku masih menunggu Vincent, yang jelas merupakan ayah biologis dari bayi di dalam kandunganku. Tiap hari kuhabiskan dengan menunggu, dan tetap berpikir positif agar kandunganku baik-baik saja.
Saat tengah melamunkan Vincent dan kandunganku, terdengar denting lonceng tanda pintu yang terbuka. Aku lekas menoleh dengan harapan mendapati wajah menawan Vincent yang menyapa. Namun malah yang kutemui pribadi berkulit putih yang memakai hoodie hitam dan topi kasti.
Ah, rupanya hanya seorang pelanggan biasa. Pemuda itu nampak melirik penuh minat pada sajian kue di atas etalase yang berjajar. Hingga pilihanya tertuju pada muffin yang baru kukeluarkan dari pemanggang.
"Permisi, boleh tahu ini harganya berapa?"
Karena mood ku masih turun, aku hanya menggeleng pelan. Membuatnya kebingunggan. "Kau tidak menjualnya?"
"Iya. Kau boleh mengambilnya. Gratis."
"Benarkah? Terima kasih. Kau baik sekali." senyumnya membuat kedua matanya menghilang. "Kalau begitu aku tidak akan sungkan. Tolong bungkus 3, ya."
Aku mengangguk lesu. Lantas tanpa sepenuh hati membungkus muffin-muffin itu.
"Boleh aku bertanya satu hal?"
"Hm?" aku benar-benar sedang malas meladeni orang lain.
"Apa namamu..."
Gerakanku terhenti. Manakala kata Mauryn menguar dari wicaranya, aku segera menatapnya dengan pandangan penuh tanya dan bingung.
"Benar Mauryn?" pemuda itu menutup mulutnya. Seolah tak percaya. "Aku kakakmu, Jansen."
Aku mengernyit. Aku memang sedikit banyak melupakan kakakku. Tapi aku jelas merasa itu bukan nama kakakku. "S-Sungguh?"
"Tentu! Aku dulu sering merebut muffinmu sampai kau menangis. Kau tak ingat?"
Tentu saja aku ingat. Itulah satu-satunya hal yang membekas dari sosok kakakku.
Aku menatapnya ragu. "S-sungguh kakakku?"
Jensen mengangguk yakin.
Air mataku menetes. Entahlah. Mungkin karena bawaan hamil aku jadi mudah emosi. Tapi entah bagaimana, pemuda di depanku benar-benar terasa asing.
"Bagaimana kabarmu? Boleh aku memelukmu?"
"Kabarku baik," jawabku ragu. "T-tapi kau tidak bisa memelukku kencang."
Jensen memiringkan kepala bingung.
Aku melanjutkan, "Aku tengah hamil."
.....
Kini hanya detakan jarum jam yang mengisi kesunyian toko. Sejak aku mengatakan keadaanku pada Jensen, pemuda itu nampak kaget bukan main. Seolah tidak tahu harus berbuat apa, dirinya segera berkilah untuk pergi.
Entah aku harus bersyukur dengan sikapnya atau tidak, karena yang kutahu seharusnya dia masih akan bertanya penasaran dimana ayah dari bayi dalam kandunganku.
Namun lamunanku kembali terpecahkan oleh denting bel. Kini yang masuk di balik pintu adalah seorang gadis cantik.
Aku memperhatikan dengan seksama. Sepertinya gadis itu juga tengah hamil sama sepertiku. Terlihat dari gesturnya yang berjalan dengan berhati-hati dan tangannya yang sejak tadi mengelus perutnya penuh kasih.
Aku tersenyum. "Ingin beli apa?"
Gadis itu hanya menatapku datar. "Aku ingin roti tawar."
Meski sedikit bingung, aku hanya menuruti kemauannya dan memasukkan bungkusan roti tawar dalam paper bag. "Kau tengah hamil? Aku akan memberikannya secara gratis."
Gadis itu kini menatapku dengan alis bertaut. "Apa kau selalu seperti ini?"
"Ya?"
"Kuharap iya." gumamnya namun masih bisa kudengar.
"Maaf aku tidak mengerti apa maksud ucapanmu."
Gadis itu menghela napas kasar. "Sudahlah. Aku tidak jadi beli."
.....
Hari ini, akhirnya Vincent menampakkan batang hidungnya. Aku masih tidak percaya dengan apa yang kulihat. Namun akal sehatku lantas menuntun untuk segera menyambutnya dengan senyuman, seperti yang sudah-sudah.
Aku bergegas menghampirinya. Dari jauh, bisa kulihat tatapannya yang tertuju pada perutku yang membuncit. Aku semakin senang membayangkan ekspresi bahagianya saat tahu aku mengandung buah cinta kami.
Namun senyum ini meluntur bertepatan dengan aku yang menemukan eksistensi payung dan handuk bersih berada di dalam genggamannya.
Entah bagaimana, aku tahu makna dari dirinya yang membawa payung dan handuk itu. Dan itu jelas bukan sesuatu yang menyenangkan.
Entah karena hormon ibu hamil, tanpa sadar air mataku luruh. Aku mendadak sulit bersuara. Hanya mampu bertanya di balik tatapan, ada apa gerangan maksud dari tindakannya sekarang. Aku juga sangat berharap sesuatu yang kuduga itu tidak akan terjadi.
"Hai, Mauryn."
Bariton rendahnya masih nyaman terdengar di telingaku. Bahkan bayi dalam kandunganku yang memasuki usia 6 bulan juga menendang perutku. Seakan isyarat bahwa dirinya senang dengan kehadiran sang ayah.
Aku refleks memegang perutku. Aku ingin mengatakan pada Vincent kalau anaknya sekarang ini tengah bersemangat karena setelah sekian lama menunggu kabar dari ayahnya. "Vincent, dia—"
"Mauryn." potong Vincent lembut. "Hari ini aku ingat membawa payung dan handuk."
Tidak.
Entah kenapa aku tidak bisa menerima kenyataan. Aku tidak bisa menerima keputusannya yang benar-benar sepihak. Apalagi bayi—
"Terima kasih, ya. Terima kasih sudah meminjamiku 2 benda penting ini."
"Vincent, kau—" alih-alih mengatakan isi hatiku yang ingin menahannya tinggal, aku hanya bisa berpura-pura. "bukan, sama-sama, Vincent."
"Mauryn, bisakah kau tutup matamu?"
Menurut. Hanya itu yang kini kulakukan. Seolah hanya cara ini yang bisa membuat Vincent disini lebih lama.
Dengan keheningan yang menjalari seisi ruangan, samar kudengar langkah kaki Vincent yang terasa mendekat. Manakala aku merasakan elusan lembut tangan lentiknya—tangannya lentik dan aku selalu iri—aku tidak kuasa menahan tangis.
Pun saat aku juga merasakan tangannya menyingkap sweater longgar yang kukenakan. Dan bibirnya yang mengecup lama perutku yang membuncit. Semua terasa nyaman sekaligus sesak bagiku.
"Jangan pernah membuat ibumu sedih."
Bisa kudengar suara Vincent yang bergetar. Mungkin kini dirinya juga sama sepertiku. Sama sakitnya. Sama sesaknya.
Lantas aku ingin sekali bertanya: Kita saling mencintai, namun mengapa seolah tidak akan bersama?
Namun yang kudengar keluar dari mulutku hanyalah isakan.
Cukup lama, hingga saat aku membuka mata, siluet pemuda itu telah hilang seolah ditelan senja.
.....
Di usia kandunganku yang genap 7 bulan, dengan tak diduga Jensen kembali bertamu.
Tapi kali ini, tanpa senyuman ramahnya seperti di kali terakhir datang, tatapan sendu itu seolah menjelaskan bahwa isi amplop cokelat yang ia bawa bukanlah pertanda baik.
"Aku hanya ingin mengantarkan itu."
Ragu, aku menerima suratnya. Saat Jensen sudah sepenuhnya keluar dari toko, barulah aku memberanikan diri membuka surat itu.
2 kata pertama yang menyapa adalah hal yang sanggup membuatku tak mampu membendung tangisan. Aku tahu. Aku tahu bahwa entah sejak kapan, Vincent sudah meningalkan tanda-tandanya. Aku saja yang memilih untuk pura-pura buta dengan kenyataan.
Setelahnya, setiap rentetan kalimat yang kubaca hampir terasa seperti dongeng yang tak bisa dipercaya. Tapi aku tahu benar bahwa satu-satunya kalimat yang paling sungguhan adalah kalimat terakhir.
✉️[Ini Vincent.
Mauryn, apa kabarmu? Semoga kau dan "dia" baik-baik saja. Aku selalu berharap begitu.
Sebelum aku menjelaskan mengapa kita tidak bisa bersatu, aku harus mengatakan hal ini terlebih dahulu.
Aku kakakmu.
Mungkin sulit dipercaya. Apa kau masih ingat kali pertama kita kembali bertemu? Itu bukan kebetulan.
Sebenarnya di hari itu, aku seharusnya memberikanmu undangan pertunanganku. Tapi karena aku merasa tak pantas bertemu denganmu setelah selama ini hanya bisa bersembunyi, kau yang bersikap hangat padaku telah membuatku mengurungkan niatku. Itu kesahalan pertamaku, aku jatuh cinta padamu, adikku.
Jika kau berpikir itu sebuah kesalahan, maka maaf, kakakmu ini sudah berkali-kali tidak ingin berpikir demikian. Sekalipun aku juga telah berkali-kali ingin berkata ini menjijikan, aku adalah kakak yang tidak waras, bahkan termasuk ba*ingan; hati kecilku selalu diam-diam menginginkanmu.
Maka setiap aku menemuimu, aku selalu membohongi diriku sendiri dan mengatakan kalau aku merindukan adikku. Tapi aku tahu benar itu semua hanyalah aku yang mencoba membohongi diriku sendiri. Sejatinya, perasaan ini aku rasakan seolah aku akan bertemu dengan kekasihku.
Sekarang aku akan menjelaskan satu-persatu semua hal yang aku coba tutupi darimu.
Saat aku meninggalkan rumah, aku hampir mati kelaparan. Beruntung aku ditemukan oleh salah seorang pengurus panti asuhan, dan 2 bulan setelahnya aku langsung diadopsi sebuah keluarga kaya.
Sejak saat itu aku diam-diam mencari tahu kabarmu. Rupanya kau masih tinggal di rumah, namun garasi kita kau ubah menjadi toko kue kecil. Aku terharu kau bisa bertahan hidup dengan baik.
Aku juga merasa punya andil untuk menafkahimu karena kau merupakan bagian dari tanggung jawabku. Jadi selama ini aku mengirim ke rekeningmu uang yang aku sisihkan baik itu dari orangtua angkatku ataupun hadiah lomba lukis.
Oh, aku belum bilang, ya, aku pandai melukis?
Ah, aku masih harus menjelaskan. Keluargaku membesarkanku dengan tujuan menjodohkanku dengan anak kolega bisnis mereka. Saat aku menyadari hal itu, semua sudah terlambat.
Karena itu aku ada di sana, berdiri menunggu di depan tokomu. Berharap kau mau membukakan pintu. Lalu semua itu terjadi antara kau dan aku, dan kita sama-sama tahu.
Setiap kali aku menginginkanmu lebih, akal sehatku terus mengingatkan bahwa kau adalah adikku. Tapi tiap hal itu terjadi, tatapanmu seolah kau mengijinkannya, bahkan juga menginginkannya. Lantas, aku hilang kendali.
Setiap aku terbangun di pagi harinya dan menemukanmu masih terlelap nyenyak di sampingku. Aku selalu memandangi matamu yang tertutup. Membayangkan kalau kelopak indah itu terbuka lantas aku akan berucap maaf berkali-kali karena dirundung rasa bersalah.
Selalu terpikir olehku, "Aku ini jahat. Menuntun adikku menuju lubang neraka terdalam."
Karena itulah aku juga selalu berhati-hati saat melakukannya.
Tapi, malam dimana aku melupakan semua hal itu dan benar-benar hilang kendali, kau harus tahu, itu adalah malam terakhir sebelum aku melepaskan statusku dan menjadi suami dari seorang perempuan. Ya, tentu itu gadis yang dijodohkan denganku.
Paginya, aku benar-benar hampir kehilangan akal sehat. Bahkan saat aku mengemudikan mobil menuju lokasi pernikahan, acap kali terbersit pikiran untuk menciptakan kecelakaan lalu lintas agar diriku bisa mengihindari pernikahan itu.
Jujur Mauryn, aku tidak mencintainya.
Sampai saat ini, aku belum pernah menyentuhnya. Kau tahu apa yang malah terjadi? Dia hamil anak mantannya. Tapi aku setuju untuk tutup mulut. Karena itulah aku berpikir mungkin masih bisa menemuimu.
Tapi, gejala ibu hamil malah juga aku rasakan. Sehingga orang-orang kebingungan. Mereka berpikir itu mungkin saja terjadi, kendati jarang. Tapi aku mulai teringat malam itu. Malam yang memang tidak pernah bisa aku lupakan. Tapi, aku masih belum yakin, sebab saat itu bukan tanggal suburmu.
Maka, untuk meyakinkan diriku sendiri, aku meminta sahabatku Jensen untuk berpura-pura mengaku sebagai kakakmu.
Dan dia kembali dengan berita yang membuat asumsiku benar adanya.
Lantas, pada akhirnya aku hanya bisa. menyakitimu.
Tapi kau harus tahu, selamanya aku akan terus mencintaimu, dan anak kita. Tolong jaga dia baik-baik. Beritahukan padanya bahwa ayahnya telah tiada, namun teramat sangat menyayanginya.
Aku juga sangat ingin menuliskan isi hatiku yang terdalam sebagai kalimat terakhir surat yang panjang ini:
Aku sangat mencintaimu Mauryn.]
End.
Maaf, baru pertama kali berani bikin sad ending 🙏🏻 maaf kalo kurang memusaskan. maaf juga kalo ternyata bacanya ga sedih-sedih amat. Namanya juga baru belajar bikin 😵😵