Kamu datang dari duniamu yang sepi mengejutkan duniaku yang kelam. Menyihirku dengan kesendirianmuu. Hinggaku terperangkap dalam kepolosanmu. Aku pun jatuh dan menyerahkan semua duniaku padamu.
Yohanna Kristina mahasiswi jurusan akuntansi di salah satu universitas swasta. Ia memiliki paras cantik yang membuat dirinya dikerjai senior-seniornya saat PMB (Penerimaan Mahasiswa Baru) sejenis MOS atau Ospek.
Kehadirannya menarik perhatian kaum Adam yang berasal dari 10 fakultas dan juga membuat primadona setiap fakultas terusik. Tempat mereka diambil oleh Yohanna dalam sekejab mata. Potret dirinya beredar di grup chatt panitia PMB setiap fakultas.
Hal itu membuatnya tidak memiliki teman ditahun pertamanya. Ia tidak disukai kaum hawa terlebih mereka yang merasa Yohanna telah mengalihkan perhatian para gebetannya. Untungnya Yohanna cukup mampu mengikiti perkuliahan meski tak memiliki satupun teman. Ia bahkan memperoleh IPK 3.89 disemester kedua yang semakin membuatnya dijauhi.
Memasuki semester tiga Yohanna disambut dengan berbagai tugas kelompok. Suatu hari Yohanna yang disapa Hanna itu mendapat tugas kelompok. Anggota kelompok ditentukan oleh dosen langsung.
"Hanna!" Panggil Lusi ketua kelompok sepulang kuliah.
"Iya." Sahut Hanna.
"Hari ini kamu ada waktu gak?" Tanya Lusi meminta anggota yang lain juga berkumpul.
"Ada." Jawab Hanna.
"Kalau gitu habis makan siang kita kerjain tugansnya ya." Ucap Lusi tegas. "Aku minta nomor wamu na." Ucapnya lagi menyodorkan hapenya pada Hanna.
"Oke. Nanti aku kabarin ya kita kumpul dimana." Ucap Lusi berpamitan dengan yang lain.
Satu jam berlalu Hanna mendapat pesan dari Meta salah satu teman kelompoknya. Meta mengirimkan tempat mereka mengerjakan tugas.
"Kamu yakin dia bakal kesana?" Tanya Vita yang mengisengi Hanna dengan menyuruhnya pergi ke studio milik anak jurusan Arsitektur.
"Yakinlah." Jawab Meta tertawa.
Hanna berdiri didepan ruangan yang begitu besar dilantai tiga gedung. Ia mendorong pintu dan masuk kedalam.
"Lusi!" Panggil Hanna membuat Moses terbangun dari tidurnya. Sudah tiga malam ia tidak tidur karna lembur mengejar deadline yang itupun ditolak dosen. "Lusi!" Teriak Hanna yang membuat Moses berdecak bangun.
"Bisa diam gak!" Teriak Moses melempar gulungan gambarnya hampir mengenai Hanna.
"Maaf." Ucap Hanna melihat Moses.
"Disini tuh gak ada yang namanya Lusi." Ucap Moses mendekat. "Dan kamu tahu gak?!" Tanya Moses. "Teriakanmu itu ganggu tidur aku!"
"Maaf Kak." Ucapnya lagi.
"Kamu anak semester berapa?" Tanya Moses yang belum pernah melihat Hanna digedung teknik.
"Aku semester tiga kak." Jawab Hanna yang perlahan menjauh. Ia mencium aroma tak sedap dari Moses.
Cakep sih tapi bau. batin Hanna.
"Kamu anak sipil ya?" Tanya Moses mendekat.
"Aku anak akuntansi kak."
"Hah!Anak Akuntansi?!" Cibir Moses. "Ini Tuh gedung teknik." Ucapnya lagi.
"Aku tahu kok kak." Sahut Hanna menjauh.
"Kalau dah tahu terus ngapain nyari temanmu si Lusi itu disini." Ucap Moses mendekat.
"Stop!" Pinta Hanna spontan. "Kakak gak mandi berapa hari sih?" Tanya Hanna membuat wajah Moses memerah malu. Pertama kali dalam hidupnya dikatain bau sama cewek. Biasanya dia gak mandi berapa hari juga cewek dari segala penjuru nempel kedia. "Kakak bau." Ucap Hanna yang semakin membuat Moses tidak bisa berkutik.
"Untung cantik loh kalau kagak gue---"
"---Kakak juga ganteng cuma bau." Potong Hanna dipertemuan pertama mereka.
🍁🍾🍁🍾
Moses anak semester tujuh jurusan teknik Arsitektur. Ia tampan dan juga kaya. Satu angkatannya sudah sibuk kerja praktek dan seminar. Sementara Moses masih mengejar ketinggalannya di mata kuliah studio. Kenapa?karna Moses lebih banyak menghabiskan waktunya di kantin main kartu,meja biliar,PS,dan game online.
"Ses!" Panggil Leo komisaris kelasnya. "Gimana kemarin jadi asistensi gak?" Tanya Leo duduk dikantin bareng Moses.
"Jadi." Jawab Moses. "Tapi gambar dilempar man!" Ucap Moses. "Bangsat gak tuh!" Umpat Moses ketawa.
"Kok bisa." Ucap Leo yang tahu kemampuan temannya itu. Bicara skil Moses jauh dibandingkan temannya yang bentar lagi pada Meja hijau.
"Ya kamu kan tahu gimana bencinya dosen-dosen itu ke Moses Evanka ini." Balasnya meraih gitar dan menyelipkan rokok dibibirnya yang membuat ciwi-ciwi yang lewat pada antri pesan makan hanya untuk mencuri pandang padanya.
Moses memetik gitar sambil memikirkan Hanna yang ia peluk spontan karna mengatainya bau. Hanna yang berusaha melawan membuat keduanya malah terjatuh kelantai dengan posisi Moses menimpa tubuh Hanna dari atas. Membuat Moses mengernyit melihat wajah Hanna dari dekat.
"Kamu dah punya cowok?" Tanya Moses yang Akhirnya menyadari Hanna adalah mahasiswi fakultas ekonomi yang tahun lalu digilai banyak cowok dikampusnya.
"Udah." Jawab Hanna yang selalu menjawab demikian setiap kali cowok dikampusnya menanyainya. Padahal Hanna sama sekali belum punya cowok.
"Bohong." Ucap Moses masih dengan posisi diatas tubuh Hanna.
"Siapa yang bohong." Jawab Hanna menutup hidungnya.
"Kamulah." Ucap Moses yang menikmati posisinya.
"Sok tahu kamu." Balas Hanna yang kini medorong tubuh Moses dengan satu tangan namun Moses berusaha menahan.
"Taulah." Ucap Moses lagi.
"Tau darimana?" Tanya Hanna masih terus mendorong.
"Dari bibir kamu yang belum pernah dicium." Jawab Moses menahan tawa.
"Ih kamu ya!Udah bau genit lagi." Cibir Hanna yang kini mendorong tubuh Moses dengan kedua tangannya dan berlari pergi meninggalkan Moses.
Sorenya Moses melihat Hanna berjalan sendiri keluar dari kampus. Seperti biasa ia selalu terlihat sederhana tapi mampu memikat siapapun yang melihat termasuk Moses yang dengan kartu ditangannya.
"Jos!" Panggi Moses. "Gantiin ya." Menyerahkan kartunya pada Josua temannya. "Kabarin besok kurang berapa." Ucapnya mengambil kunci motor dan menyusul Hanna.
"Woi!" Teriak Moses yang membuat Hanna terkejut. "Naik!" Perintah Moses yang menggunakan helm.
"Gila!" Umpat Hanna yang tidak mengenali Moses.
"Ini aku." Menarik tangan Hanna membuat wanita itu terlempar memeluk Moses yang berada diatas motor.
"Penculik!" Teriak Hanna.
"Ini aku cowok bau kemaren." Ucap Moses membekap mulut Hanna.
"Kok gak bau." Ucap Hanna setelah Moses melepas tangannya.
"Gak penting." Ucap Moses. "Kosan dimana?" Tanya Moses.
"Ngapain?" Tanya Hanna balik.
"Aku antarin pulang ibu." Jawab Moses memaksa Hanna naik ke motornya yang membuatnya harus memeluk pria itu dari belakang.
🍁🍾🍁🍾
Kedekatan diantara keduanya pun berlanjut. Kini Hanna memiliki teman yang ia kenal dikampusnya. Namun Hanna menyadari bahwa ternyata Moses memiliki banyak penggemar.
"Kamu jangan kesini-sini lagi ya." Pinta Hanna. "Dikampus juga gak usah samperin aku." Pintanya lagi yang membuat Moses mengiyakan. Namun keesokannya ia malah semakin menjadi-jadi. Semakin Hanna melarang ini itu ia malah semakin melanggarnya.
"Jangan datang." Ucap Hanna menutup telpon Moses.
"Han bukain." Teriak Moses dari luar kosannya padahal sebelumnya Moses mengatakan ia baru dijalan menuju kosannya.
Bodoh! umpat Hanna tak membuka pintu.
Sudah tiga jam berlalu sejak Moses meminntanya membuka pintu. Hanna melihat jam menunjukkan pukul 23.00 WIB. Ia membuka pintu hendak mengunci gerbang kontrakannya.
"Hanna." Suara Moses mengejutkannya. Ia mendapat pria itu berjongkok didepan motornya.
"Kamu Gila ya! Umpat Hanna meraih tangan pria itu yang telah dingin menunggunya diluar.
"Hangetin Aku Han." Ucap Moses yang masih sempat menggodanya.
"Disini aja kamu biar beku sekalian." Balas Hanna melepas tangannya dan spontan Moses malah meraup bibir Hanna yang hilangan kewaspadaan terhadapnya.
Uhmmm! Suara Hanna yang mendorong Moses hingga membuat bibir mereka terpisah.
"Kamu gila ya!" Bangkit berdiri. "Kalau orang lain sampe lihat gimana?" Tanya Hanna masuk kedalam rumah disusul Moses yang menutup pintu dengan keras.
"Moses!" Bentak Hanna.
"Aku cuma nutup pintu biar orang lain gak lihat." Ucap Moses santai.
"Siapa juga yang mau lanjutin?" Tanya Hanna melap bibirnya.
"Kita." Jawab Moses.
"Moses! Kamu mesum!" Ucap Hanna.
"Kagak!" Balas Moses.
"Itu buktinya kamu masih mau lanjutin!" Ucap Hanna. "Kamu juga pake ngunci pintu." Tambahnya.
"Hanna." Desis Moses.
"Aku gak mau begituan." Ucap Hanna membuat Moses terdiam sesaat mencerna maksud cewek yang disukainya itu.
"Hahahha." Tawa Moses menahan perutnya.
"Emang ada yang lucu?" Bentak manja Hanna yang merasa dirinya dipermainkan cowok didepannya.
"Lagian kamu sih." Jawab Moses bangkit berdiri menghentikan tawanya. "Emang aku ada bilang mau begituan sama kamu." Menyentil lembut jidat Hanna. "Dasar otak mesum." Ledek Moses.
"Kamu kali yang mesum." Balas Hanna menarik hidung Moses yang mancung.
"Aku suka sama kamu." Ucap Moses membuat Hanna terdiam dan melepas tangannya dari hidung Moses. "Mau ya jadi pacarku!" Pinta Moses melingkarkan tangannya dipinggang Hanna.
"Tapi kamu kan punya banyak cewek."
"Mana ada!sembarangan kamu!" Ucap Moses yang memang belum memiliki pacar karna dia lebih menyukai arena biliar dan meja judaynya.
"Aku pikir-pikir dulu ya."
"Gak ada pikir-pikir." Tolak Moses. "Aku gak mau keduluan sama cowok lain." Ucapnya mendekatkan wajahnya lalu memberi kecupan dibibir Hanna. "Aku mau jawaban iya." Pinta Moses setelah melepas bibirnya.
🍁🍾🍁🍾
Enam bulan jadian banyak hal sederhana yang berefek manis dirasakan Hanna selama berpacaran dengan Moses. Namun perlahan Hanna mengetahui kegiatan yang dilakukan Moses diluar kebersamaan mereka yang membuat pria itu ketinggalan diantara teman-temannya.
"Aku mau putus." Ucap Hanna didepan teman-teman Moses di meja biliar. Hanna sudah lelah meminta Moses untuk fokus kestudynya dan berhenti sejenak di hobinya yang meresahkan itu.
Semua orang yang ada disana serentak terdiam dan menoleh kearah suara itu berasal dari Hanna yang berdiri di belakang mereka.
"Kamu jangan susul aku." Ucap Hanna yang kemudian berbalik badan. "Nanti kamu rugi banyak." Ucap Hanna pergi meninggalkan tempat.
Hanna tahu uang yang dihamburkan Moses bukanlah uangnya. Ia seperti itu juga adalah haknya. Namun sebagai kekasih ia hanya ingin yang terbaik buatnya.
"Han!" Panggil Lusi yang kini menjadi satu-satunya teman perempuan yang ia miliki dikampus. Semenjak ia berpacaran dengan Moses banyak hal baik yang terjadi padanya. Bukan hanya Lusi namun yang lain mulai menerimanya.
Moses yang dikenal calon mahasiswa abadi itu sangat disegani oleh mahasiswa lainnya. Namun tidak dengan dosen. Dan Hanna adalah satu-satunya wanita yang Moses miliki.
"Katanya kamu putus ya sama Kak Moses." Ucap Lusi yang saat itu juga berpacaran dengan salah satu junior Moses diArsitektur.
"Iya." Jawab Hanna.
"Apa karna hobinya itu ya." Ucap Lusi.
"Mana ada hobi yang begitu Lus." Ucap Hanna.
"Tapi Han tau gak Kak Moses itu jagoloh." Puji Lusi.
"Jago main kartu iya." Cibir Hanna.
"Desain." Ucap Lusi. "Kamu tahu gak kenapa dia lama lulus?" Tanya Lusi.
"Karna dia suka mojok dikantin dengan kartunya itu." Jawab Hanna.
"Kak Moses itu kerja Hanna." Ucap Lusi. "Kebetulan cowokku sekarang baru mulai kerja juga karna bantuan Kak Moses." Tambah Lusi membuat Hanna terdian.
Seminggu berlalu Hanna putus dari Moses. Moses tak pernah menghubungi atau menemuinya sejak itu. Hanna memeluk gulingnya dikamar ia mengingat Moses yang memiliki mata panda padahal ia gak pernah lembur mengerjakan tugas kuliahnya. Namun selama pacaran Moses sering menelponnya di jam 2 dinihari hanya ingin mendengar suara Hanna lalu menyuruhnya tidur. Moses bahkan pernah mengantarkan makanan jam 3 dinihari karna Hanna mengatakan dirinya lapar.
"Aku kangen tapi aku benci dia yang---" ucap Hanna terputus dan dilanjutkan dengan isakan. Ia tahu sangat sulit mengubah pria yang sudah lama kecanduan hal seperti itu. Apalagi Moses sudah seprti itu jauh sebelum mereka mengenal.
Sebulan berlalu Hanna memesan makanan dikantin teknik tempat Moses biasanya asik dengan kartunya. Namun ia tidak melihat Moses diantara orang yang bermain. Hari berikutnya juga demikian.
"Pasti dimeja biliar." Ejek Hanna melirik kedalam dengan jaket yang menutupi dirinya. Namun Hanna tidak menemukannya disana begitu juga seterusnya. Ia mengunjungi semua tempat.
"Dia kemana?" Tanya Hanna kembali kekontrakannya larut malam.
"Hanna!" Panggil suara yang ia rindukan berdiri didepan pintu kontrakannya.
"Kamu!" Bentak Hanna berlari ke Moses.
"Hanna Aku---"
"---Kamu kemana aja?" Potong Hanna memeluk Moses. "Aku cari kamu kekantin,ketempat biliar,ketempat PS tapi aku gak lihat kamu disana." Gerutu Hanna disertai tangisan.
"Aku udah berhenti." Jawab Moses mendorong tubuh Hanna agar ia bisa melihat wajah Hanna.
"Kenapa?" Tanya Hanna.
"Aku gak mau kehilangan kamu." Jawab Moses membuat air mata Hanna berhamburan. "Aku pensiun demi kamu." Ucapnya lagi membuat Hanna terharu.
"Sungguhan?" Tanya Hanna.
"Iya." Jawab Moses. "Aku masih ada kesempatan kan kembali sama kamu?" Tanya Moses yang dibalas anggukan kecil dari Hanna.
"Makasih Sayang." Mengecup bibir Hanna. "Aku janji gak bakal ngecewain kamu." Memeluk Hanna. "Aku berhenti di Kamu Hanna."
🍁🍁🍁 Tamat