Siang itu Nurdin merasa gelisah karena tak satupun mendapatkan pekerjaan ia seharian berkeliling ke Desa Lam Kubu. Rasa lelah dan letih menjalar ke tubuhnya demi mencari sesuap nasi untuk anak-anak dan istrinya.
Mengingat di rumah tak ada apa-apa ia nekat mencari lowongan pekerjaan walaupun jauh dan ditempuh dengan berjalan kaki.
Sehabis salat ashar Nurdin bertemu dengan Pak Yakub.
"Dari mana, Din?" tanya Pak Yakub yang berpapasan dengan Nurdin.
Nurdin menghentikan langkahnya dan menjawab, "Lagi nyari kerjaan, Pak,"
"Kebetulan, Din. Saya lagi nyari teman untuk mengerjakan proyek nyangkul di Pak Bari juragan tanah."
Nurdin pun merasa senang pucuk cinta ulam pun tiba.
"Saya mau, Pak. Kapan mulai kerjanya?"
Pak Yakub mengajak Nurdin ke pos ronda.
"Kita ngobrol di sana saja, Din. Biar enak!"
Pak Yakub dan Nurdin pun duduk di pos ronda.
"Saya dapat lowongan kerjaan nyangkul dua hektar. Saya nggak sanggup, jadinya nyari orang buat teman saya. Kalau kamu mau besok nyamper ke rumah saya," ulas Pak Yakub.
Nurdin bersemangat dan menyetujui ajakan Pak Yakub.
"Jangan lupa besok pagi nyamper ke rumah saya dan bawa pakaian untuk Kita menginap di gubuk Pak Bari."
"Beres Pak. Pagi-pagi datang tidak akan kesiangan!"
Setelah menyetujui kesepakatan Nurdin berpamitan untuk pulang dan bertemu besok pagi.
*
*
*
Keesokan harinya Nurdin menepati janji ia menemui Pak Yakub. Pagi-pagi sekali sudah sampai ke rumah Pak Yakub.
"Assalamualaikum, Pak Yakub!" Nurdin mengucapkan salam di teras rumah Pak Yakub. Iya telah mengenakan pakaian kerjanya celana hitam baju lengan panjang dan topi caping. Tak lupa pula cangkul andalannya ia bawa.
"Wa alaikumsalam, Din. Tunggu sebentar," sahut Pak Yakub. Kemudian Pak Yakub menuju ke luar ia membawa gembolan berisi pakaian.
"Sudah siap, Din. Tidak ada yang ketinggalan 'kan?"
"Siap dong Pak."
Mereka pun berjalan kaki menuju kebun
Pak Bari. Setelah 1 jam perjalanan akhirnya Nurdin dan Pak Yakub sampai di kebun Pak Bari.
Terlihat juragan tanah itu tengah asyik melinting tembakaunya.
"Wah, rupanya kalian sudah sampai juga," kata Pak Bari basi-basi.
"Iya nih, Pak."
"Sebelum nyangkul sarapan dulu istri saya sudah menyiapkan masakan."
"Baik, Pak."
Setelah selesai sarapan Pak Yakub dan Nurdin memulai pekerjaannya mereka menyangkul lahan seluas dua hektar.
Pak Bari dan sang istri pergi ke kota hendak menjual hasil tanaman kebun mereka.
Tak terasa waktu begitu singkat Nurdin dan Pak Yakub menyangkut lahan mendapat setengah hektar.
Hingga menjelang magrib Nurdin asik menyangkul.
"Kita istirahat dulu, Din sudah maghrib nih, pamali." Saran Pak Yakub. Pak Yakub membasuh kedua kakinya di air pancuran.
Cuaca agak terang karena rembulan menampakan sinarnya begitu terang.
Nurdin tak menggubris perkataan Pak Yakub.
Yakub mengedarkan pandangannya keseluruh lahan yang telah dicangkul. Ia sedikit terhenyak ketika melihat seseorang berdiri di belakang Nurdin.
"Ayo Din istirahat dulu, pamali ini magrib lho,"
"Nanti, Pak. Saya mau ngelembur biar cepet dapet duit buat beli beras."
"Ya sudah kalau enggak nurut nanti kalau ada apa-apa jangan nyesel loh, saya duluan istirahat, ya ke gubug."
"Beres!"
Pak Yakub pun meninggalkan Nurdin yang sedang asyik nyangkul. Pak Yakub bisa melihat sesuatu yang tak kasat mata. Agar Nurdin tak takut maka Pak Yakub tidak memberitahukan apa yang ia lihat di belakang Nurdin.
Tinggallah Nurdin seorang diri penuh semangat ia menyangkul harapan agar besok sisa sedikit dan segera mendapatkan gaji.
Angin menerpa tubuh Nurdin perlahan bulu kuduknya berdiri tercium aroma wangi bunga kantil. Nurdin tak berprasangka apa-apa hal wajar jika angin meniup dan membawa wewangian.
"Di sini kan tidak ada bunga kantil," ucap Nurdin lirih.
Kukuk!
Kukuk!
Bunyi burung hantu menambah seram dan mencekam suasana.
Wush!
Wush!
Nurdin berdiri dan menaruh cangkulnya ketika ia hendak melihat hasil cangkulanya.
"Astaghfirullahal adzim. Hantu, hantu!"
Nurdin lari terbirit-birit mencari Pak Yakub tubuhnya gemetar gigi bergemeletuk menggigil hebat.
"Pak Yakub tolong! Tolong ada hantu!" teriak Nurdin.
Hosh!
Hosh!
Nurdin ngos-ngosan.
Pak Yakub kaget mendapati Nurdin gemetaran.
"Ada apa, Din kok ketakutan gitu?!"
"A-ada hantu, Pak." Wajah Nurdin pucat pasi.
Pak Yakub menahan senyum.
"Oh, hantu." Pak Yakub menjawab enteng.
"Hantunya, nggak ada kepalanya, Pak!"
Nurdin diajak duduk oleh Pak Yakub kemudian diberi segelas air putih. Setelah Nurdin tenang Pak Yakub bercerita.
"Makanya tadi kau diajak istirahat, Din. Sebab saya melihat hantu tanpa kepala itu di belakangmu."
"Apa!" Nurdin kaget. "Kenapa Bapak tidak memberitahu saya?"
"Kalau saya beritahu kamu nanti kamu terkencing-kencing hehehe," Pak Nurdin terkekeh.
Pak Yakub menepuk pundak Nurdin, "Bagaimana masih mau lembur kamu?"
Nurdn bergidik ngeri ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Lanjutkan besok pagi saja Pak kita gas full biar cepat selesai saya enggak mau bermalam di sini lagi. Ngeri ih, serem!"
"Ya, sudah kamu bersih-bersih diri lalu istirahat."
Pak Yakub pun menutup pintu gubuk.
Setelah selesai membersihkan dirinya Nurdin penasaran dan bertanya pada Pak Yakub.
"Kira-kira itu hantu kenapa kepalanya, nggak ada ya, Pak?"
Pak Yakub menyeruput kopinya. Ia duduk di dapur seraya menyalakan api tungku agar tubuhnya hangat.
"Kelihatannya itu arwah gentayangan korban pembunuhan. Dulu kan terjadi peperangan antar tentara dan GAM. Mayatnya dibuang begitu saja."
Nurdin manggut-manggut.
"Dari mana bapak tahu?" tanya Nurdin penasaran.
Pak Yakub meletakkan gelasnya.
"Saya saksi bisu keganasan dan kebrutalan anggota tentara dan GAM."
"Oh, begitu ya."
"Makanya kalau maghrib kita istirahat dan jangan keluyuran. Pamali banyak makhluk-makhluk berkeliaran."
"Iya, Pak. Nggak lagi deh kayak gitu, ngeri."
Besok paginya Nurdin dan Pak Yakub menyelesaikan targetnya kemudian mereka dibayar oleh Pak Bari.
Selesai