Jeremy melangkahkan kaki dengan cepat menuju bar. Bayangan gelas yang sudah terisi alkohol sudah ada di pelupuk matanya. Rasanya akan jadi pelepas penat setelah seharian sibuk dengan kertas.
"Ambilkan gue satu gelas lagi!"
"Jer, lu udah banyak minum gak kasian ama bokap Ama nyokap lu yang sedang nunggu di rumah? Pasti mereka cemas."
"Gak usah lu sok ceramah, gue udah capek, biarkan gue nikmati surga dunia sesaat saja!"
"Ingat boy masih ada yang butuh lu, ayo gue anterin pulang!"
"Bentar Don, dikit lagi nanggung nih!"
Doni memapah Jeremy yang sudah sempoyongan masuk ke dalam mobilnya. Dia antarkan hingga bertemu dengan orang tua Jeremy.
Keduanya hanya.bisa menahan sesak saat mengetahui perilaku anak laki-laki satu-satunya.
Jeremy sudah berumur dan sudah waktunya berumah tangga.Tetapi tidak ada waktu untuk memikirkan menikah apalagi punya keluarga kecil. Hidupnya hanya dihabiskan untuk bekerja dan minum.
"Apakah akan seperti ini terus kelakuan anak kita?"
"Entahlah Bu, aku juga bingung bagaimana caranya agar dia sadar."
"Jika ada yang bisa mengatasi Jeremy pasti aku sangat berterima kasih sekali. Apa perlu kita jodohkan dengan Resti, anak sahabatku?"
"Apa dia mau pak?"
" Dicoba saja dulu Bu, mudah-mudahan Resti bisa menerima kekurangan anak kita."
Satu minggu berlalu sejak pembicaraan itu, orang tua Jeremy mengundang Resti dengan berpura-pura memesan makanan. Resti memang punya usaha catering kecil-kecilan.
"Selamat sore Om, Tante!"
"Selamat sore sayang, pasti mau antar makanan kesukaan anak kami."
"Oh ... pesanan ini buat Jemy ya Tante?"
Jeremy biasa di panggil Jemy saat di rumah.
"Iya dia sangat suka masakan kamu."
Orang yang sedang dibicarakan datang tidak menghiraukan Resti yang sedang menatap ke arahnya.
"Jemy, ini ada Resty antar makanan kesukaan kamu."
"Hmm ... "
"Setelah ganti kamu sini ya nak, makan dulu mumpung masih hangat."
"Nanti saja Bu, gue capek."
"Hai Jemy, lu udah lupa Ama gue?"
Suara yang familiar di telinga Jeremy, dulu saat dia masih duduk di bangku sekolah.
"Lu ... Resty?"
"Yup ... akhirnya lu ingat gue juga, apa kabar lu boy?"
"Baik ... baik kog, mm ... gue ganti dulu ya?"
"Oke jangan lama-lama kasihan om dan Tante nungguin."
Jeremy masuk ke dalam kamarnya, hatinya bergetar kembali. Sesuatu yang sudah lama terkubur muncul lagi di permukaan. Mengingat memori saat sekolah masih abu-abu. Mereka selalu bersama kemanapun. Hingga hatinya patah saat seseorang mengucapkan ikatan hati kepada Resty dan disambut dengan hangat.
Hati Jeremy saat itu langsung patah, hingga sampai memutuskan pindah ke sekolah lain. Dia sudah putus hubungan sama sekali dengan Resty mulai saat itu.
Sepuluh tahun lamanya mereka tidak pernah bertemu, hati Jeremy tidak bisa pindah. Bayangan kesenangan saat bersamanya selalu hadir mengisi hari-harinya. Dengan minum dan bekerja keras dia sedikit dapat melupakannya gadis itu.
"Hai ... melamun saja, entar ada yang masuk Lo."
"Lu bisa saja, tahu dari mana rumah gue?"
"Jangan GR gue cari lu Jemy, ini tadi gue antar pesanan makanan yang biasanya. Mumpung ada waktu sekalian jalan-jalan."
" Oh jadi lu yang punya catering itu?"
"Iya dan gue terkejut saat lu masuk rumah.Lu gak berubah Jemy dan lu pindah juga gak bilang gue. Apa salah gue Jemy?"
"Lu gak salah, gue aja yang ke pede an sama perasaan gue saat itu."
"Maksud lu apa?"
Jeremy menatap indah mata Resty,"gue suka lu Resty."
"Apa? Lantas Napa saat itu lu gak pernah nembak gue?"
"Gue takut aja di tolak mending berteman dari pada ditolak dan tidak bisa ketemu lu lagi."
"Pengecut lu, kelihatan saja sangat tapi hati ciut."
"Ya ... begitulah, ngomong- ngomong lu udah pasti meried kan? Punya berapa anak sekarang?"
"Meried sama tuyul? Gue masih singgel gak laku-laku."
Jeremy bangkit dari duduknya dan memegangi tangan Resty.
"Masa' lu gak bohongkan?"
"Tatap mata gue, ada yang namanya bohong di sana?"
"Kalau begitu boleh gue lamar lu sekarang?"
"Ada syaratnya."
"Apa lu katakan cepat!"
"Alasan lu mau nikahi gue."
Jeremy membawakan Resty ke taman di samping rumah. saat ini mereka duduk bersama berjasa.
"Resty, want you to marry me? but I need you."
"Ya ... sudah lama gue nantikan, I love you Jemy."
Alasan mengapa dulu Resty menerima uluran cinta temannya hanya semata-mata ingin memancing api cemburu di hati Jeremy. Namun ternyata Jeremy pergi meninggalkan dirinya tanpa tahu alasannya.
Kedua orangtuanya sangat bahagia akhirnya anak mereka dapat kembali ke jalan yang benar tidak mabuk-mabukan lagi.
****
💥💥 terimakasih banyak sudah berkunjung
like and coment 🌹❤️