Malam telah berlalu, banyak rindu yang bersemu. Seorang gadis tengah menatap gelapnya malam melalui jendela kamar, menumpu wajahnya pada lipatan tangan.
Ada rindu yang tidak terbalaskan, tidak tahu sampai kapan rasa itu akan hilang. Merindukan sosok dia yang kini bagaikan air dalam genggaman, terlalu sulit untuk diraih.
Lucu? Entahlah, gadis itu pun tidak tahu kenapa sampai detik ini masih merindukan dia walau ia tahu, kisah cintanya telah berakhir sampai di sini.
Seorang gadis berjilbab biru muda tersebut menghembuskan napas berat, jemari tangannya meraih jendela hendak menutup kembali jendela kamar.
"Aku akan mendoakanmu. Mungkin benar, cara yang paling ampuh untuk menyalurkan rindu adalah doa. Karena mendoakan adalah cara mencintai yang paling rahasia."
Dan malam itu adalah malam terakhir untuk kisah cintanya, kisah cinta mencintai dalam diam, yang telah kandas dalam sebuah takdir. Takdir yang tidak bisa menyatukannya, takdir yang telah memisahkannya.
Ara, itulah namanya. Gadis itu mengangkat sedikit sudut bibirnya, hatinya meringis kala ingat sosok dia. Namun, untuk detik ini ia tidak bisa merindukannya lagi, merindukan pemuda itu yang telah mengambil sebagian hatinya.
"Kamu pernah mengajarkan aku jatuh cinta dan saat ini kamu juga mengajarkan aku sakit hati. Ternyata rasanya seperti ini ... tidak enak. Benar kata orang, berani untuk jatuh cinta maka harus siap dengan sakitnya patah hati." Gumam gadis itu masih menatap sejenak gelapnya malam.
Jemari tangannya terlepas dari genggaman besi pada jendela, tangannya menjuntai ke bawah dengan sorot matanya yang kini memburam.
"Kenapa aku harus mencintaimu jika pada akhirnya berakhir seperti ini?"
Ara menyeka air matanya, terlalu sulit bagi Ara untuk melupakan dia. Bibirnya kembali terangkat sambil mengusap air matanya kasar.
"Enggak apa-apa Ara. It's okay, semuanya sudah ditakdirkan. Ini cara Tuhan mencintaimu dengan cara menjauhkan dia." Gumam Ara mencoba untuk menguatkan hatinya.
Ara menatap sejenak gelapnya malam sebelum pada akhirnya jendela tertutup rapat.
Tanggal 12 Juli 2021, sebuah masjid telah dihias begitu sederhana dengan ornamen bunga serta beberapa orang-orang berdatangan dengan pakaian rapi.
Di depannya sudah ada janur kuning melengkung dengan dua nama terpampang jelas di pinggir jalanan.
Ara yang baru saja keluar dari taksi, menatap sejenak pada masjid Al-Hikmah, sudut bibirnya terangkat sembari membenarkan khimar miliknya sebelum kaki jenjangnya memasuki area masjid Al-Hikmah.
Ara menguatkan hati saat melihat punggung tegap seorang pemuda yang tengah membelakanginya dengan balutan jas putih serta rangakaian bunga ada di lehernya.
Ia berhenti berpijak sambil masih menatap sejenak sosok pemuda itu dari belakang. Namun, Ara langsung masuk ke dalam masjid Al-Hikmah khusus area perempuan. Gadis berjilbab navy tersebut langsung duduk sambil mengatur napasnya yang terengah-engah hanya untuk menghindar dari pemuda itu. Jessica yang baru sadar akan kehadiran Ara hanya memperhatikan gadis itu dengan saksama.
"Loh, Ara kok kamu datang?" tanya Jessica terkejut.
"Aku pasti datang, 'kan aku diundang." Jawab Ara sambil mengeluarkan undangan dari dalam tasnya.
"Aku tahu. Tapi, kamu yakin?" Jessica menatap Ara dengan menelisik.
Jessica tidak percaya jika sahabatnya benar-benar nekat datang di acara pernikahan seseorang yang sudah lama sahabatnya itu cintai. Entah apa jadinya, pemuda itu mengucapkan akad tanpa ada namanya.
"Aku enggak apa-apa kok." Ucap Ara menyakinkan bahwa ia benar-benar ikhlas melepaskan pemuda itu.
"Justru itu. Dari kata 'aku enggak apa-apa' pasti ada apa-apanya. Ayolah, sebaiknya kamu pulang, di sini enggak baik buat hati kamu, Ara!" tukas Jessica sambil menggenggam bahu Ara.
"Aku hanya ingin memberikan selamat buat dia untuk terakhir kalinya."
Penuturan Ara membuat Jessica pasrah, terlalu keras kepala jika berhadapan dengan Ara. Ia hanya tidak ingin melihat sahabatnya patah hati untuk kesekian kalinya.
"Kenapa harus mencintainya dalam diam, Ara? Seenggaknya kamu ungkapin perasaan itu sama dia," tutur Jessica yang tentunya tidak bisa Ara jawab.
Senyuman dibibir Ara seketika memudar kala mendengar aba-aba ijab kabul akan dimulai, ia memejamkan matanya sesaat lalu kembali membuka matanya sekadar untuk menguatkan hatinya.
Jessica menggenggam erat jemari Ara yang sudah dingin dan berkeringat, Jessica tahu apa yang tengah Ara rasakan saat ini.
"Aku sudah bilang, sebaiknya kamu pulang Ara, ini akan menyakitimu. Bertahun-tahun lamanya kamu mencintai dia dalam diam itu tidak mudah bagi kamu melupakannya. Please Ara, tolong dengarkan ucapan aku, aku enggak mau sahabat aku kenapa-napa," cecar Jessica menatap sendu pada Ara yang kini tengah mencoba menarik sudut bibirnya.
Suara seseorang yang amat familiar di telinga Ara terdengar lantang sedang melantunkan sebuah surah Ar-rahman sebagai mahar untuk si pempelai perempuan.
"M-maharnya surah Ar-rahman?" cicit Ara sambil menyeka air matanya dengan kasar.
Saat ini Jessica tidak tega melihat kondisi Ara yang tampak terpuruk. Namun, tetap dipaksa untuk bersikap biasa-biasa saja walau Jessica tahu hati Ara menjerit.
"Ananda Muhammad Rizky Alatas bin Abdul Qodir. Saya nikahkan engkau dan kawinkan engkau dengan anak saya yang bernama Aliya Sachi Putrinayah dengan maskawin berupa seperangkat alat sholat dan surah Ar-rahman. Tunai."
Ara sontak langsung keluar dari dalam masjid Al-Hikmah, tangis pecah seketika bersamaan dengan suara lantang pemuda yang sejak dulu ia cintai dalam diam dan sampai detik ini pun Ara sulit untuk melupakan sosok dia.
Sambil memegang erat-erat tali tas slimbag, beberapa tamu undangan menatap wajah Ara yang tampak berantakan, gadis berjilbab navy tersebut mengabaikan tatapan mereka dan terus pergi dari masjid Al-Hikmah.
Kini, Ara berhenti berpijak saat sayup-sayup telinganya mendengar semua orang mengucapkan kata 'sah' secara serentak. Tubuh Ara runtuh di halaman depan masjid Al-Hikmah, tangisnya pun pecah bersamaan mimpi dan kisah cintanya.
Begitu menyakitkan. Ara kira, ia sanggup untuk melihat detik-detik pemuda itu mempersunting orang lain. Jemarinya memegang besi pada salah satu pagar masjid. Tidak ada orang yang melihat kerapuhan Ara, mereka semua tengah berkumpul di depan sekadar untuk mendapatkan foto bersama mempelai.
"Ya Allah ... Rasanya sakit ... Aku yang selalu berharap, mendoakan dia di persetiga malam agar kelak dipersatukan dengan cara baik-baik ... Tapi ... takdir-Mu berkata lain."
Runtuh sudah hati Ara saat ini, harapannya telah pupus kala ingat Rizky yang kini sudah berstatus sebagai suami orang. Tidak ada alasan lagi untuk mencintai Rizky. Detik ini, Ara menatap ulang relung hatinya sembari berdiri.
Sebelum pergi dan meninggalkan masjid Al-Hikmah, Ara sedikit menoleh ke belakang di mana semua orang tampak bahagia terpancar dari wajahnya.
"Aku melepaskanmu dengan pilihanmu sendiri. Rizky ... aku bahagia bisa mengenalmu. Insyaallah, aku akan segera melupakanmu. Berbahagialah, kamu dan istrimu semoga cepat diberi momongan. Terima kasih udah hadir dalam hidup aku, Ki. Maaf ... untuk saat ini aku belum bisa menemuimu ... Jessica benar, aku harus mencoba untuk pergi meninggalkanmu. See you ... terima kasih atas kisah cinta dalam diamku selama ini."
Ara menyeka sudut matanya, gadis itu segera pergi meninggalkan area masjid Al-Hikmah dengan perasaan kecamuk. Biarlah saat ini ia merasakan sakitnya patah hati, pahitnya sebuah kenyataan. Karena Ara tahu, tidak ada takdir buruk dalam hidup ini. Semua adalah takdir terbaik yang Allah berikan padanya.
"It's okay Ara. Kamu kuat. Ada Allah yang tetap mencintaimu."