Ah, mari bersulang di dunia indah ini. Di saat tawaku mengudara beriringan dengan ekspresi penuh kepuasan.
=•=•=
Di malam yang sunyi itu, aku berjalan sendirian. Bulan bersinar terang, memantulkan bayanganku di tanah terang karena pencahayaan lampu jalan. Aku berjalan dengan kedua tangan masuk ke dalam saku, semua terlihat baik-baik saja. Namun, sebenarnya aku tengah memikirkan sebuah hal yang sangat menyusahkan. Ini masalah tentang geng.
Aku Nakajima Rei, seorang ketua dari geng motor. "Kaibutsu" nama geng motorku. Bertindak sesuka hati, menguasai jalan, membantai geng lain adalah makanan sehari-hariku. Memang melelahkan, tapi ini adalah hidupku. Menjadi seorang 'serigala' di malam hari dan menjadi seorang 'manusia' di siang hari.
"Ibu, aku pulang." Seraya membuka sepatu serta jaketku, aku berteriak. Ini rumahku sendiri, aku harus mengutamakan sopan santun. Karena itu adalah peraturan yang tak tertulis dalam norma.
Namun, aku tak mendengar suara sautan dari ibuku.
Yah, kenapa aku bingung?
Ibu memang sering bekerja lembur hingga tak ada waktu untukkku sendiri. Ia berangkat saat aku masih tertidur dan pulang saat aku juga masih tertidur. Kadang, aku kesal dengan sikapnya yang selalu mementingkan pekerjaan. Tapi, ya sudahlah.
=•=•=
Keesokan harinya. Aku berjalan sambil menggendong tas di bahuku. Berjalan ke dalam kelas 2-D, tempat di mana seorang gadis cantik tinggal. Saat menggeser pintu kelas, mataku langsung tertuju kepada seorang gadis rambut pendek yang tengah sibuk dengan buku pelajarannya.
Aku berjalan perlahan. Mengendap-endap layaknya pencuri. Perlahan semakin memangkas jarak dengannya.
Apa aku harus mengejutkannya saja?
Yes.
Saat waktu kurasa tepat, aku langsung melompat serta memasang wajah mengerikan. "Graaawrr." Bertindak seperti serigala yang hendak menangkap mangsanya. Woaah, aku sangat keren.
Namun, aku tak melihat reaksi terkejut dari gadis ini. Ia hanya menatapku dengan tatapan malas. "Rei, ayolah ... hari ini aku sedang bingung tau ... tugas kemarin belum kukerjakan. Bagaimana ini?" tanyanya kebingungan. Seperti seekor kelinci yang kehilangan wortel, dia sangat kebingungan serta ketakutan.
"Lalu, mau kubantu mengerjakan?" tawarku. Walaupun aku sendiri tak tahu ini tugas apa, tapi setidaknya aku membantu.
Bukannya tersenyum, dia malah menatapku dengan wajah kecut. "Jika kau membantuku mengerjakan, bukannya mendapat nilai, aku malah akan dihukum."
"Ya, kau tahu itu." Aku menatap sekitar. "Kalau begitu, bagaimana ... ekhem. Semuanya, cepat pinjamkan tugas kemarin kepadanya. Bagi siapapun yang menolak, maka aku akan membunuhnya. Lihatlah, aku membawa pisau." Dengan suara kencang, aku berteriak. Seraya memamerkan pisau mainan yang selalu kubawa ini, kuberi ancaman kepada seluruh siswa kelas.
Benar saja, mereka langsung takut dan memberikan tugasnya kepada Hanabi–gadisku. Sudah kuduga, mereka pasti akan takut dengan ancaman seperti itu. Tak peduli, walau yang kubawa hanyalah pisau mainan.
Hanabi menatapku sambil menggelengkan kepalanya. Sementara aku tersenyum sambil membuat pose jari foto. Telunjuk dan tengah berdiri sementara lainnya tertekuk. "Peace," lirihku.
=•=•=
Sepulang sekolah, aku dan Hanabi berjalan bersama melewati lautan siswa sekolah yang hendak pulang ke rumah masing-masing.
Di saat aku sedang sibuk berbicara bersama Hanabi, tiba-tiba sekumpulan laki-laki dengan penampilan seragam acak-acakan menghalangi kami berdua. Di antara semua laki-laki brandal itu, terlihat seseorang yang mencolok. Ia berjalan mendekatiku.
"Yo, Rei. Lama tak bertemu!" sapa orang ini dengan aksen bicara menyebalkan.
Aku menepis tangannya yang berusaha mendekat. "Kenapa kau menemuiku? Jangan mendekat."
"Wo wo wo, tenang tenang. Aku hanya ingin melihat orang yang telah membuatku babak belur saat itu. Apa kau tahu, berapa lama aku harus dirawat di rumah sakit gara-gara perbuatanmu?" tanyanya tampak merasa kesal.
Samar-samar, telingaku mendengar suara bisikan gadis. "Psstt, Rei. Siapa mereka? Kenapa mereka terlihat menakutkan?" tanya Hanabi berbisik.
Aku merendah, berbisik kepada Hanabi. "Jangan takut, mereka hanya pandai menggertak saja."
"Ekhem. Pertama, aku tak peduli. Kedua, aku tak mau peduli. Ketiga, enyahlah, aku tak peduli denganmu," ujarku lalu meneruskan. "Ayo, Hanabi. Kita pulang. Lagi pula, siapa yang peduli kau masuk rumah sakit berapa lama, cih."
Tak menggubris dia yang sedang merengek meminta pertanggung jawaban, aku menerjang kerumunan geng tersebut. Sebenarnya aku ingin menghajarnya, tapi aku ingat bahwa aku sedang membawa seorang perempuan.
"Rei, tunggu sebentar. Ada yang ingin kutanyakan. Rei ... berhentilah dulu!" pinta Hanabi.
Melihatnya yang berusaha melawan begini, aku pun langsung berhenti. "Ada apa?"
"Tadi orang itu bilang kalau kau memukulinya? Apa itu benar?" tanya Hanabi dengan ekpresi wajah takut.
Aku tersenyum sembari mengusap-usap rambut pendeknya pelan. "Bukan. Dia hanya sedang gila, kau tahu aku punya banyak penggemar, ya kan?" kataku berupaya menenangkannya.
Hanabi menyatukan kedua tangan di depan dada. Sambil menggembungkan kedua pipi, dia terlihat merajuk. "Apa ini semacam cara untuk membuatku tidak marah lagi? Semacam menenangkan?" Lagi-lagi dia bertanya. Kali ini, saat dia berbicara, pipi bakpaunya itu bergerak.
Ah sial, dia sangat imut.
"Kau tahu tidak, Hanabi? Kau sangat imut saat ini. Sial, rasanya aku ingin mencubit pipimu itu," ucapku tersenyum gemas.
Tiba-tiba, wajahnya memanas. Berubah menjadi merah padam. "Heee, dasar mesum! Rei memang seorang bad boy mesum!"
Tunggu, apa?
Hanabi berjalan meninggalkanku dengan pipi memerah itu. Dia berlari lebih cepat daripada yang kuduga.
"Hei, Hanabi! Aku tidak mesum tau! Aku hanya pacarmu!" teriakku bergema di antara banyaknya orang. Aku berlari mengejarnya, seperti sebuah drama.
=•=•=
Malamnya, dengan penampilan keren dan rapi. Aku berdiri tepat di depan rumah Hanabi. Sengaja, kami memang ingin merencanakan kencan untuk malam ini.
Tok! Tok! Tok!
"Malam, apa tuan putri sudah siap?" Sambil mengetuk pintu rumahnya tiga kali, kubertanya diiringi candaan.
Tak perlu menunggu lama, seorang gadis cantik mengenakan baju layaknya geng motor keluar dari dalam rumah. "Eh, Rei. Kau sudah sampai? Berangkat sekarang?"
Aku menganggukan kepala dua kali. "Terserah tuan putri. Mau berangkat sekarang atau buatkan aku teh dulu?"
"Berangkat sekarang saja."
"Ih jahat."
=•=•=
Malam yang dingin, lampu-lampu jalan beriringan menyinari jalan. Ban motorku berputar, berjalan mengitari kota. Tangan Hanabi melekat erat dalam pinggangku, kehangatan pelukannya membuatku merasa nyaman. Entah kenapa, saat aku berada di dekatnya aku selalu merasa nyaman.
Kurasa, aku memang benar-benar mencintai Hanabi. Tak peduli seberapa buruk kebiasaannya, tapi yang pasti dia cantik.
"Hanabi. Mau merasakan cepatnya motorku?" Menaikkan volume suara, aku berteriak. Berniat memperingatkan Hanabi bahwa aku ingin mempercepat kecepatan motor. Namun, sepertinya dia tak mendengarku.
"Hah? Apa? Aku tak bisa mendengarmu!"
Percuma.
"Pegangan erat-erat, satu ... dua ... tiga!"
"Wohooooo ...!"
"Reiiiii ...."
Tepat pada saat hitungan ketiga, kutarik gas motorku hingga nyaris tak bisa diputar lagi. Dengan begini, kecepatan motorku telah berada di kecepatan tertinggi. Hanya bermodal insting serta kemampuan berkendara, aku mendahului satu per satu kendaraan yang ada di belakangku. Saking lajunya hingga membuat jaketku berkibar.
Singkat cerita, kami telah sampai di markas geng motor "Kaibutsu" yang kuceritakan. Di sana tampak banyak sekali para anggota geng motor lain sedang duduk sambil mengobrol. Aku sengaja mengajak Hanabi agar dia bisa melihat bagaimana geng motorku ini. Walau harus menyembunyikan sedikit kebenaran.
"Hanabi, inilah geng motor yang kuceritakan kepadamu. Jangan khawatir, meski kebanyakan dari mereka terlihat menakutkan, tapi mereka tak akan pernah berani menyentuhmu. Atau aku akan membuatnya menemui ajalnya saat itu juga," ucapku seraya memakaikan topi hitamku kepadanya. "Baiklah, ayo sapa mereka bersamaku."
"I-iya."
Aku tersenyum tipis. Sambil bergandengan tangan, kami berdua berjalan menghampiri kerumunan anggota geng.
"Yo, kalian. Aku datang," sapaku sambil melambaikan satu tanganku di udara.
"Selamat datang kembali, Ketua. Wuissshh siapa gadis cantik yang ada di sampingmu itu? Apa dia pacarmu, Ketua?" tanya salah satu anggota geng. Dia Akeo.
Aku tersenyum lebar. "Yah, dia adalah Hanabi. Dia pacarku. Kalian semua, jangan berani menyentuhnya. Atau kalian tau kan akibatnya ...?"
Setelah mendengar ancamanku, mereka semua kompak menjawab, "'... maka aku akan menghabisimu dengan pisau ini serta membakar jasadmu saat sudah meninggal.'"
Mereka mengingat setiap kata dari ucapanku.
"Bagus. Kalian memang monster yang sebenarnya."
Aku beralih menatap Hanabi yang terlihat sedang kebingungan. "Ayo duduk. Kita akan berpesta malam ini." Seraya menarik tangan gadis itu menuju kursi duduk, aku berlari.
"Yo, tuang sakenya di sini, Yugi!" pintaku kepada Yugi. Tak berselang lama, datang seorang pria paruh baya. Di tangannya, dia membawa sebuah nampan dengan sebotol sake penuh di atasnya. Serta dua gelas kosong.
Ia meletakkan nampan di meja serta menuangkan sakenya ke dalam gelas.
"Makasih, Yugi," ucapku kepadanya.
Dia membungkuk 90° kemudian berjalan kembali.
Aku meraih satu gelas berisi tiga perempat sake ini serta mengangkatnya ke atas tinggi-tinggi. "Semuanya, mari bersulang di malam yang indah ini! Untuk merayakan hari kedua hubunganku dengan Hanabi!"
"Iya!"
"Hanabi ambillah. Kita akan berpesta malam ini."
"Apa itu ... sake?"
Aku memperlihatkan gelasku kepadanya sembari mengangguk. "Iya, ini sake. Memangnya kenapa?" tanyaku bingung saat melihat mimik wajahnya begitu.
Dia tersenyum paksa sambil menggelengkan kepala. "Maaf, Rei. Aku tidak bisa meminumnya. Ehm, aku mau pulang dulu," ujar Hanabi sambil berdiri lalu berjalan pergi.
Reflek, aku pun langsung berdiri mengejarnya yang hendak pergi.
"Hanabi, tunggu dulu."
Tak menggubris panggilanku, dia hanya membenarkan tas yang dia bawa kemudian mempercepat laju jalan.
Namun, pada akhirnya aku mampu mengejar langkah gadis mungil ini.
"Hei hei, Hanabi. Tunggu dulu," ujarku sambil menahan tangannya. "Kenapa kau pergi begitu saja? Ada apa?" sambungku menanyakan hal yang ingin kutanyakan.
Hanabi dengan cepat langsung menepis tanganku. "Jangan memegangiku! Lepaskan!" teriaknya melawan.
"Kenapa?"
Hanabi memeluk tangan bekas peganganku dalam dadanya. Tiba-tiba, wajahnya berubah menjadi sendu. "Bukankah aku sudah pernah bilang kepadamu, aku sangat tak suka laki-laki yang mabuk. Benar, aku tak pernah melarangmu untuk bergabung ke dalam geng. Hanya saja, aku tak suka kalau kau meniru kebiasaan buruk mereka," kata Hanabi kemudian melanjutkan, "sekarang, aku sudah tau kebiasaanmu saat ada di geng. Dan aku tidak suka. Maaf, Rei. Sebaiknya kita sudahi hubungan ini, maaf, aku tak mau berpacaran dengan laki-laki pemabuk."
Setelah mengucapkannya, Hanabi berbalik membelakangiku dan memanggil sebuah taksi berhenti tepat di depannya. Bahkan sebelum aku menentangnya, dia sudah pergi.
"Hanabi! Tu-tunggu, dulu!"
Tak ada gunanya. Ia sudah terlanjur pergi.
Aku kembali ke markas geng dengan perasaan kecewa. Mata malasku menangkap pemandangan anggota geng lain sedang berpesta bahagia bersama, sementara aku masih terjebak dalam kesedihan.
"Oi, Ketua! Ayo cepat kita berpesta. Minuman-minuman ini tak akan bisa habis dengan sendirinya!" teriak Akeo memanggilku. Namun, tubuhku rasanya tak semangat.
Aku mengabaikan panggilannya dan duduk di salah satu bangku yang terletak cukup jauh dengan anggota lain.
Beberapa saat telah berlalu, tak ada hal-hal yang kulakukan. Selain bernapas dan mengedipkan mata. Kenapa tiba-tiba aku merasa seperti berada dalam dunia yang sepi?
Mungkinkan karena Hanabi pergi? Yah, aku berharap terlalu banyak padanya.
Dua jam telah berlalu, aku masih duduk tanpa melakukan apa-apa. Tidak sampai sesuatu terjadi kepadaku. Ponselku berdering, dengan segera ku cek ponsel di dalam sakuku. Ternyata itu telepon, tapi dari Hanabi?
Apa dia ingin mengajakku balikan?
Aku harus cepat.
"Hai, Hanabi. Apa kau berubah pikiran? Kalau iya di mana kau sekarang? Aku akan menjemputmu. Karena–"
"Apakah ini sang serigala, Rei? Hahaha akhirnya aku bisa berbicara denganmu," lirih suara seseorang terdengar membalas pertanyaanku.
Namun, suaranya tidak terdengar seperti suara Hanabi. Bahkan, suaranya sama sekali tidak mirip perempuan. Ini suara pria. Dan, dia tahu namaku.
"Siapa kau? Kenapa kau tahu nama–ah tidak penting. Saat ini yang penting, kenapa kau memegang ponsel Hanabi?" tanyaku sedikit gemetar ketakutan.
"Hahahahahaaa ...." Dia tertawa lirih. "Jadi, nama gadis ini adalah Hanabi, ya? Nama yang bagus untuk nama gadis malang."
Aku menyeringai kesal. Jemariku mencengkram botol kosong bekas minuman sekuat-kuatnya. Bahkan hingga membuat botol kosong ini tak berbentuk lagi.
"Hanabi sekarang sedang disandra oleh geng Taisho. Jika kau ingin menyelamatkannya, pergilah ke gedung kosong di Jalan Ryubi sendirian. Ingatlah, kau tak boleh membawa polisi bersamamu. Atau kau tahu kan, apa yang akan terjadi?" bisik laki-laki menyebalkan ini. Mendengar suaranya saja membuatku sangat kesal. Aku tahu siapa dia.
"Cih, aku tak mungkin bisa termakan tipuan rendahanmu ini," balasku.
"Haha, ternyata kau tak percaya, ya."
Setelah itu, suaranya menghilang tak terdengar lagi. Tergantikan dengan suara samar-samar tak jelas. Sampai saat itu tiba.
"Reii! Jangan ke sini! Mereka telah menyiapkan banyak pasukan untuk membunuhmu! Jangan khawatirkan ak–mphhhh mphhhh."
"Hanabi? APA YANG KAU LAKUKAN PADANYA, HAH?!"
"Sekarang kau percaya, kan? Kalau begitu cepatlah. Datang ke sini sebelum malam semakin larut dan selamatkan dia."
Aku bergegas menutup telepon dan berlari menuju keluar tempat tongkrongan. Namun, Yugi secara tak diduga menghalangi jalanku.
"Rei, apa kau sudah gila? Mereka pasti akan menghabisimu," ucap Yugi memperingatkanku.
Aku tak tahu bagaimana dia bisa tahu, tapi masalahnya sekarang waktuku tidak banyak.
"Aku tahu itu akan terjadi. Tapi, mereka menyandera Hanabi. Aku tak bisa berbuat banyak saat ini," jawabku resah.
Yugi memegang kedua bahuku. "Tenanglah ... tarik napas. Coba pikirkan sebuah rencana yang bisa membuat mereka takluk tanpa membuatmu serta dia terluka," pinta pria paruh baya ini.
Aku menatap kedua mata hitamnya yang terlihat sangat berharap bahwa aku mengikuti nasehatnya. Aku menyeringai, saat ini aku berusaha meredam seluruh emosiku agar tak memperparah suasana.
Mataku melirik ke kanan, tempat di mana para anggota geng Kaibutsu masih sibuk berpesta sake. Pada saat yang bersamaan, terlintas sebuah ide di otakku.
Ini akan menjadi malam yang panjang.
=•=•=
Singkatnya, aku telah sampai di tempat yang mereka bicarakan. Gedung kosong di jalan Ryubi. Dari arah atas, aku melihat tiga orang dengan penampilan penuh seperti preman. Merekalah pemimpin geng Taisho.
Aku langsung masuk ke dalam, menaiki satu per satu anak tangga hingga sampai di atap gedung. Benar saja, di sana ada banyak anggota geng Taisho. Namun, atensiku hanya tertarik kepada seorang gadis yang tengah terduduk di sebuah kursi dengan keadaan tubuh terikat serta mulut ditutup oleh lakban hitam.
Aku berhenti sejenak. Kupakai masker dan topi hoodie jaketku sampai membuat sebagian wajahku tak terlihat.
Tangan kananku terangkat ke udara, menunjuk ke arah mereka. "Hei kalian, lepaskan Hanabi sekarang juga! Cepat, sebelum kalian pulang dengan keadaan babak belur."
Tap! Tap! Tap!
Terdengar suara langkah kaki dari arah belakang. Dia Junsuke, pemimpin geng Taisho. Sudah kuduga, dia yang merencanakan ini semua. Dia juga orang yang tadi pagi menghalangi jalanku dan juga Hanabi.
"Jangan buru-buru begitu dong, Rei. Kita belum mengobrol, kenapa kau ingin cepat-cepat membunuh?" tanya Junsuke dengan suara yang sama. Suara menyebalkan itu.
Aku mengembalikan posisiku menjadi berdiri normal. Kuturunkan sedikit maskerku ke bawah. "Ini bukan tentang berani atau tidak. Jun, kalau kau ingin melampiaskan kemarahanmu, panggil saja aku. Tapi jangan Hanabi. Dia tak tahu apa-apa tentang masalah kita," ucapku berusaha untuk tidak marah.
Dia menunduk seraya tersenyum. "Tak mungkin. Aku tidak akan membiarkanmu hidup bebas. Setelah yang kau lakukan kepadaku serta Geng Taisho," ucap Jun jelas penuh rasa kesal.
"Lalu, apa yang kau inginkan? Kalai kau ingin aku minta maaf, cobalah untuk bermimpi dulu. Karena minta maaf kepadamu adalah sebuah dosa besar bagiku."
"Makanya aku merencanakan semua ini. Kau pasti sudah tahu kalau aku hanya akan menghabisimu iya kan? Dan bodohnya kau datang sendirian. Semakin memudahkanku untuk menghabisimu," ujar Jun puas. Dia merasa bahwa dia akan mendapatkan kemenangan.
Haha, dia belum tahu.
"Yah, aku memang datang sendirian. Tapi, kedua tanganku dan kakiku ini bisa menghabisi kalian semua," ucapku sambil tersenyum licik.
"Banyak omong. Semuanya, serang dia!" Jun memberikan komando kepada para anggota geng untuk maju dan menyerangku.
Sama halnya dengan dia, aku memakai maskerku lebih dulu. Kemudian mengangkat satu tanganku di udara untuk memberi isyarat. Dari balik kegelapan, mulai muncul satu per satu pria yang mengenakan jaket jeans bertuliskan "Kaibutsu".
Ini adalah salah satu rencanaku, aku sengaja datang duluan dan mengalihkan perhatian mereka agar kedatangan anggota Kaibutsu bisa tersamarkan.
"Lihatlah, aku tidak datang sendirian. Mari kita mulai malam ini dengan sebuah pertempuran kecil, bagaimana?"
Melihat kedatangan anggota lain Kaibutsu sontak membuat mereka semua gentar. Di saat itulah, aku berlari kencang melewati tengah-tengah anggota-anggota geng Taisho dan memukul Jun.
Dia langsung tergeletak di tanah. Aku mengangkat tanganku dan memberi isyarat di udara. Memerintahkan mereka untuk mulai menyerang dan beberapa mengamankan Hanabi.
Jelas saja, pukulan itu tak membuat Jun meninggal dunia. Dia hanya jatuh. Saat ini dia bangkit lagi. Bekas lebam hasil pukulanku menghiasi pipinya.
Belum berakhir sampai di sana, aku menyerang Jun sekali lagi. Melepaskan pukulan dan tendangan berkali-kali tanpa henti membuat Jun kewalahan dan akhirnya terjatuh lagi. Kali ini keadaan tubuhnya sudah sangat babak belur.
Namun, ini belum selesai. Kuremas kerah bajunya dan membuat dia berdiri secara paksa. Kupukul wajahnya berkali-kali dengan akurasi pukulan sama. Membuat darah mengalir dari hidungnya.
Seperti dugaanku, karena dia hanya pintar memerintah membuat Jun sama sekali tak bisa bertarung. Dia hanya kuat di otak.
Aku melihat keadaan belakang. Sepertinya Kaibutsu telah berhasil menumbangkan geng Taisho dengan mudah. Syukurlah. Tapi, ini belum selesai.
Aku harus membereskan orang yang telah berani mencampuri urusan hidupku. Kuambil pisau kecil dari sakuku kemudian kutikamkan pisau itu ke bagian bahunya kemudian perut. Hingga darah mengalir kemana-mana. Walau dia sudah tewas tapi entah kenapa tanganku tak mau berhenti.
"Hei, Ketua. Berhentilah. Dia sudah mati!"
"Grrrhhh ... aku harus membuatnya lebih menderita dari ini. Beraninya dia menyentuh Hanabi," ucapku kemudian menancapkan pisauku tepat di arah jantung.
Hah ... hah ...
Darah mengalir dari manapun itu. Mata Jun terbuka, akan tetapi dia sudah tak bernyawa. Lihatlah, ini pemandangan yang sangat ingin kulihat dari pemimpin sok sok an ini.
Hahahaahaaa!
Jun telah lenyap di tanganku! Dia pasti tersiksa! Hahaha!
Aku tertawa terbahak-bahak seperti seseorang yang telah kehilangan akal. Darah Jun membuatku merasa tenang. Cairan merah ini membuatku ingin semakin membuatnya menderita.
Siapa selanjutnya?
"Ketua."
"Apa?!" jawabku sinis. Cih, kenapa dia mengangguku di saat aku sedang menikmati kemenangan ini.
"Nona Hanabi sekarang sedang diberi perawatan. Dia sudah sadar. A-apa Ketua ingin melihatnya?" tanya seseorang ragu.
Deg.
Setelah mendengar kata 'Hanabi' tiba-tiba tubuhku serasa ditarik oleh sebuah benang. Aku mengedipkan mataku, awwhh ... kepalaku sedikit pusing.
Apa? I-ini Jun?
Kenapa Jun bisa berdarah seperti ini? Si-siapa yang melakukannya?
"Hei kalian, siapa orang kejam yang melakukan ini?" tanyaku kepada Akeo.
Akeo langsung menunjuk ke arahku. Maksudnya, aku?
Mana mungkin.
Tap! Tap! Tap!
Dari belakang, kami semua mendengar suara langkah kaki seseorang. Saat mereka menyingkir, barulah aku tau kalau itu Hanabi. Ia berjalan tertatih-tatih. Aku yang awalnya berjongkok langsung berdiri dan berlari ke arahnya.
"Ha-Hanabi, kau sudah pulih. Kau baik-baik saja, kan?" tanyaku khawatir saat melihatnya begini.
Dia tersenyum padaku. "Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu, apa kau baik-baik saja?"
Aku menghela napas panjang. "Yah syukurlah. Aku juga baik-baik saja, hanya pusing sedikit," ujarku lalu meneruskan, "Hanabi, aku minta maaf, ya. Kencan ini harusnya romantis, tapi aku malah mengubahnya menjadi aksi dan thriller. Maaf, ya."
Seraya menggaruk-garuk tengkukku aku tertawa. Tak kusangka, dia juga ikut tertawa.
"Heei ini tidaklah buruk. Aku suka di saat kau menahanku untuk tidak pergi. Setidaknya di sana kau romantis hahahaa. Ehm, Rei, harusnya aku yang minta maaf. Aku terlalu mengekangmu padahal aku tahu, kau adalah ketua geng motor yang jelas pasti akan bertindak sedikit berbeda dengan orang normal," lirih gadis itu. "Makanya, mulai sekarang aku akan mencoba untuk mengerti keadaanmu. Aku tak akan meminta banyak, asal kau tak tergoda dengan gadis lain saja, ya!"
Aku reflek mencubit salah satu pipi chubbynya. "Tapi, tadi pagi aku berkencan dengan gadis dari kelas sebelah, gimana dong?"
"Heeeeee Reeeeii!" Hanabi menepis tanganku dan mulai menarik rambut pendekku.
"Eittt, aku hanya bercanda saja kok. Awwwwhh lepaskan, hei hei Hanabi." Seraya berusaha membujuknya melepaskan cengkraman setan ini, aku hanya bisa diam. Tangannya mencengkram sangat kuat.
Kau tahu, terkadang Hanabi terlihat lebih menakutkan daripada anggota geng.
"Awwhh Hanabi lepaskan!"
"Hadehh, mereka mulai lagi. Kau tahu kalau aku single kan, Ketua? Jangan pamer begitu."
"Sabar Akeo, sabar."
Begitulah, malam mengerikan di mana aku nyari berubah menjadi "Serigala" sepenuhnya. Untung, Hanabi datang. Gadis penuh cahaya itu.
Kuharap, aku bisa menjaganya.
Aku tidak ingin ada lagi air mata yang keluar, aku harus menjadi lebih kuat dan lebih kuat.
Mungkin, aku harus memperbaiki sikapku juga.
~Tamat~