" Assalamu'alaikum " lirih Ana saat memasuki sebuah rumah yang sudah di tinggalkan cukup lama oleh keluarga nya.
Rumah yang begitu besar dan indah kini sudah terlihat pudar warna cat nya. Terlihat banyak sarang Laba-laba yang menggantung dan juga debu yang menempel di setiap penutup meja, kursi, dan juga perabotan lainnya.
Ana terus melangkah masuk dengan tangan menarik koper yang berisi penuh dengan baju miliknya, karena dia berencana akan tinggal di sana beberapa hari karena libur semester. Dan tentunya Ana tidak lah sendiri ada Vita dan juga Maria yang menemaninya.
" Astaga.. ini rumah atau sarang hantu sih, An! gini banget deh! " protes Vita dengan mata terus memandangi semua penjuru.
" Iya. Apa kita nggak sebaiknya cari tempat penginapan yang lain saja? " imbuh Maria yang bergidik ngeri.
Ana menghela nafas berat, menoleh ke arah kedua sahabat nya yang sama sekali tak semangat. " Apa sih, kalian takut?. Lagian ya, kita tinggal beberes sebentar juga bersih lagi. Daripada kita menyewa tempat lain kan buang-buang duit. Lebih baik duitnya kita buat jalan-jalan besok. " seru Ana dengan wajah gembira.
Sesuai dengan apa yang Ana katakan keduanya sepakat tinggal di sana meskipun dengan terpaksa.
Satu jam ketiganya beberes dan kini semua tempat terlihat bersih dan tak seperti lagi. " Akhirnya. " seru Vita dengan senang sembari memandangi hasil kerjanya yang begitu memuaskan.
Baru saja satu jam mereka di sana hari sudah berganti menjadi malam, karena mereka bertiga memang sampai di sana di saat sudah petang tadi.
Tok tok tok...
Terdengar pintu di ketuk dari luar.
Ana pun berlari, menghampiri pintu itu dan membukanya. Terlihat laki-laki tua yang datang sembari membawa rantang. " bapak siapa ya? " tanya Ana.
" Maaf, Non. Mengganggu malam-malam, saya Pak Agus. Tadi bapak Non memberi beritahu bahwa Non datang untuk berlibur, jadi saya kesini untuk memberi makanan ini untuk Non dan juga temen-temen Non. " jawab Pak Agus menerangkan.
Ana tersenyum, menerima rantang itu dan berterima kasih pada Pak Agus.
Pak Agus masih saja berdiri di sana, matanya terus menatap bangunan tua itu. Tidak ada angin tidak ada hujan Pak Agus terlihat begitu ketakutan saat melihat di dalam.
Pak Agus pun bergegas pergi dengan membawa ketakutan itu." permisi Non, saya pulang dulu. " Pak Agus langsung berlari.
Ana hanya mengernyit, menatap kepergian Pak Agus yang begitu buru-buru. Ana mengangkat kedua bahunya acuh sebelum dia memutuskan untuk menutup pintu lalu masuk.
" siapa, An! " tanya Maria.
" Pak Agus. Dia hanya mengantarkan ini untuk kita, katanya di si suruh sama Papa. " jawab Ana santai.
" wih.. makan nih! kebetulan perutku sudah keroncongan! " Vita langsung berlari ke arah Ana dan langsung menarik rantang itu dan membawanya ke meja lalu membukanya.
Ana dan juga Maria pun mengikuti Vita yang sudah lebih dulu ke meja makan dan sudah duduk di sana.
Mereka Akhirnya makan malam dengan menu seadanya yang di bawakan oleh pak Agus baru saja. Mereka tampak menikmati makanan itu.
Makan malam yang begitu tenang harus terganggu karena lampu berkali-kali mati lalu hidup kembali.
Ketiganya pun menghentikan makan mereka untuk mencari penerang lain meskipun lampu nya kembali menyala.
" berapa tahun keluarga mu tidak bayar listrik, An! " tanya Vita.
Tak ada ketakutan dari mereka bertiga, mereka tampak biasa saja.
Brakkkk....
Terdengar benda jatuh yang begitu keras, membuat mereka bertiga terkejut dan langsung berteriak. " Akkk!! "
Dan setelah teriakan mereka lampu kembali padam.
" ini ada apa, An? " tanya Maria samar-samar.
" nggak tau? " jawab Ana.
Mereka bertiga pun duduk bergabung menjadi satu mengelilingi lilin yang sudah Ana nyalakan.
klek.... klek.. klek...
Angin berhembus membuka jendela dengan sendirinya.
" kenapa jadi nggak asik gini sih? " ucap Vita yang mulai merinding.
Jedeerrr.......
" Akkk!!...
Petir pun juga ikut mengubah ketenangan mereka bertiga.
" An... Ana, aku takut " ucap Maria yang terus memegangi lengan Ana di sebelah kiri, dan sebelah kanan ada Vita yang memegangi nya dengan sangat erat.
Ana beranjak.
" kamu mau kemana An? " tanya Maria.
" Aku mau nutup jendela! " seru Ana.
" aku ikut " ucap Vita.
" aku juga" sambung Maria.
Tanpa menjawab Ana berjalan dengan terus di gandeng oleh mereka berdua yang sudah ketakutan.
Tangan Ana meraih jendela yang terus berbunyi itu karena angin dan hendak menutupnya. Namun Ana menghentikan tangan nya saat terdengar ada seseorang yang menangis tak jauh dari sana.
" Hiks.. Hiks... hiks....
" kok ada yang nangis? kalian denger nggak? " tanya Ana menoleh ke arah dua sahabat nya bergantian.
Kedua sahabatnya menggeleng, karena mereka memang tak mendengar apapun kecuali suara angin yang terus berhembus dan juga jendela yang terus berbunyi.
" masak sih? tapi beneran ada orang yang nangis " ucap Ana lagi.
Hiks.. Hiks... Hiks...
Lagi-lagi suara terdengar dan kali ini kedua sahabat nya juga mendengar nya.
" Ana. Aku takut " Vita semakin erat memegangi lengan Ana begitu juga dengan Maria.
Kedua sahabat nya begitu takut bahkan mereka sudah merinding dan juga gemetar.
" kita lihat yuk. Aku penasaran nih" ajak Ana.
" tidak tidak!, kita disini saja Ana. Aku bener-bener takut. " jawab Maria.
" tapi aku penasaran, kalau kalian nggak mau biar aku sendiri yang lihat " kekeuh Ana.
Ana melepaskan diri dari kedua sahabat nya itu mengambil senter dan berjalan keluar dari rumah untuk mencari tau siapa yang menangis di malam-malam begini.
Hiks... Hiks... Hiks...
Tangisan itu terus terdengar di telinga Ana membuat nya semakin penasaran.
" Ana! ikut! "
Vita dan juga Maria akhirnya ikut juga dengan Ana.
Mereka bertiga berjalan pelan. Semakin jauh dari rumah itu dan suara tangisan itu semakin kerap mereka dengar.
" Ana,, aku takut. " lirih Vita yang terus berjalan mengekor di belakang Ana begitu pula dengan Maria.
Ketiganya terus melangkah masuk ke hutan kecil di belakang rumah itu, menerobos kabut yang sangat tebal demi mencari tahu siapa yang tengah menangis.
Hiks... Hiks.. Hiks....
Suara tangis semakin nyata mereka dengar.
Minim nya cahaya membuat mereka bertiga tidak bisa jelas melihat depan.
Namun pandangan mereka bisa sangat jelas saat mereka bertiga sampai di sebuah pohon besar. Pohon yang sudah berapa tahun usainya mungkin sudah ratusan tahun.
" Ana, kita pulang saja yuk" ajak Maria yang sudah benar-benar ketakutan kali ini.
" iya, Ana. Kita pulang saja yuk. Nggak ada apa-apa juga kan di sini. " imbuh Vita.
Ana tetap tak bergeming dia masih penasaran dengan suara tangisan tadi yang kini semakin jelas.
" suaranya di balik pohon itu. " Ana melangkah semakin mendekati pohon besar itu dan tentunya kedua sahabat nya tak mau ketinggalan.
Gadis berambut panjang, bergaun Hitam tengah duduk bersandar di pohon besar itu dengan memeluk kedua kakinya dan menyembunyikan wajahnya di antara kedua kakinya.
Tangan Ana ragu-ragu ingin menyentuh gadis itu.
" Ana jangan. bagaimana kalau dia.." ucapan Maria terhenti saat Vita menutup mulutnya dengan tangan nya.
" Sstttt. "
" Mbak " panggil Ana dengan lirih.
Tubuh Ana gemetar, tangan nya pun juga gemetar saat ingin menyentuh gadis itu.
" Mbak. " panggil Ana sekali lagi.
Gadis itu mengangkat wajahnya dan langsung menoleh ke arah Ana dan dua sahabat.
" Akkkkkkkkk........
*************************
Maafkan jika ada kekurangan nya ya..
Maaf sampai di sini dulu cerita ku. Lanjut di cerita selanjutnya....
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏