Namanya Hemela Aster. Gadis cantik kelahiran Milan yang tinggal di Indonesia sejak berusia 2 tahun. Tubuhnya tinggi dengan perpotongan tubuh yang proporsional. Wajahnya kaukasia dengan sedikit sentuhan Asia Timur, sebab dirinya berdarah campuran Shanghai-Milan.
Mela fasih berbahasa Indonesia, Inggris, dan Mandarin. Belakangan dirinya juga mempelajari bahasa Korea sebab di Indonesia sedang berlangsung demam Hallyu.
Hidupnya sempurna. Beruntung teman-temannya tidak rasis terhadapnya. Malah beberapa merasa tertarik dengan latar belakang Mela yang tidak biasa. Mela menjalani 20 tahun hidupnya dengan bahagia.
Sampai sebuah masalah tak terbayangkan menyeretnya dalam kekacauan fatal.
.....
Vante melirik jam di handphonenya. Waktu menunjukkan pukul satu dini hari. Aktivitas makan malam sebagai perayaan rampungnya film yang kali ini ia bintangi baru saja usai. Semua staf produksi dan bintang film juga sudah membubarkan diri.
Kendati sang manajer memintanya pulang ke apartemen, pemuda 25 tahun itu hanya abai dan memilih untuk melepaskan rindu pada seseorang yang ia kasihi.
Drrtt..
Getar notifikasi handphonenya menyadarkan Vante dari lamunan. Sebuah pesan masuk berhasil membuatnya menaikan kurva bibir.
💬Aku sudah sampai
Tok. Tok.
Ketukan kecil di jendela mobilnya lekas menyadarkan Vante. Segera ia membuka kunci otomatis pintu mobil penumpang di sampingnya. Membiarkan seorang gadis merangsek masuk dan duduk.
"Kau menunggu lama?"
Vante tersenyum mendengar suara gadis yang amat ia rindukan tersebut. Menatap dengan sarat kasih sayang, Vante menggeleng pelan. "Tidak akan pernah terasa lama jika yang ditunggu adalah kamu."
Gadis itu tersipu. Lantas tidak kaget manakala sekonyong-konyongnya Vante mendekat, hendak menyatukan birai.
Vante dan gadisnya tidak akan pernah tahu. Bahwa sedari tadi—tepat 2 jam sebelum kedatangan sang gadis, seorang paparazi dan bidikan kamera telah siap menguak rahasia besar.
.....
📌"Aktor Kebanggaan Hallyu Berkencan?"
Headline yang sangat menggemparkan. Sanggup membawa kemarahan CEO Bomb Ent. pada puncaknya.
Zero Kim, CEO Bomb Ent. itu kini melempar kasar remote televisi di tangannya.
"KAU LIHAT KEKACAUAN APA YANG KAU BUAT?!"
Vante hanya menatap datar monitor besar di hadapannya. Lantas balik menatap Zero. "Aku tanggung risikonya. Tolong buat konferensi pers untuk mengakuinya."
"Anak ini benar-benar..." Zero menekan pangkal hidung, "Andai semudah itu, sudah kulakukan daritadi."
"Mudah, hyung—"
"Mudah kau bilang?!" Zero mengambil pad nya dan menunjukan surel yang masuk sejak tadi pagi. "Baca ini sebelum kau semakin bicara tidak masuk akal."
Vante menurut. Cukup terkejut manakala mengetahui isi surel tersebut menegaskan agar Vante menepis berita tersebut. Sebab mengiyakannya bisa berdampak pada karir sang gadis.
"Kau mungkin tidak tahu karena kau seorang aktor. Tapi kehidupan idol tidak segampang itu. Sekali kau terkena skandal, apalagi skandal dating, kau akan sulit diterima publik." Zero menghela napas, "Hallyu memang kejam."
Mendadak Vante mengkhawatirkan gadisnya. "Beri aku waktu berpikir. Aku harus menghubungi Sally."
.....
Sudah puluhan panggilan Vante yang ditolak. Cemas tentu saja tidak bisa dilepaskan dari perasaannya sekarang. Bagaimana keadaan gadisnya? Apa baik-baik saja? Apa dia kini tengah menangis?
Di tengah kekalutan, Vante mendapat pesan dari Sally.
💬Oppa, aku sudah tidak sanggup. Mari akhiri hubungan ini. Semoga kau bahagia. Tolong jangan menghubungi ataupun menemuiku lagi. Cintaku tidak cukup kuat untuk bertahan dalam hubungan ini. Dari awal, mari anggap ini semua adalah kesalahan. Kebodohan di masa lalu. Kamu memang berarti. Tapi karirku jauh lebih penting.
Vante tidak bisa untuk tidak melempar handphonenya. Vante berteriak kesal. Bagaimana bisa dunia begitu kejam padanya?
.....
📞"Kau serius serius ingin pergi?"
Vante menghela napas. Ini sudah ketigakalinya Zero menanyakan hal yang sama. "Hyung, tentu saja. Kau mau aku masih terkurung di apartemen dan menjadi gila?"
📞"Tidak, tidak. Nikmati liburanmu dan tetaplah waras."
Vante merotasikan bola mata malas dan segera mengatur handphonenya ke mode pesawat. Bersiap tidur dalam 7 jam perjalanan menuju tempatnya berlibur.
Sebenarnya, disitulah tempat Vante akan menenangkan diri.
.....
Indonesia.
Negara dengan penuh keanekaragaman dan masyarakat yang terkenal ramah. Bukan tanpa alasan Vante memilih negara ini sebagai tempat pelarian.
Adalah Jimmy, sahabat Vante yang kini sedang melebarkan sayap sebagai VJ (voice jockey) stasiun radio ternama di Jakarta. Ya, Jakarta. Bayangan berupa kehidupan metropolitan yang akrab dengan Seoul dan gemerlap malam yang sibuk tiada henti melintasi benak Vante.
Vante segera menghubungi sang sahabat setibanya di Bandara Halim. Tentu saja bukan Bandara Soekarno-Hatta. Terlalu berisiko.
"Aku sudah sampai. Kau dimana?"
📞"Vante? Aduh, bagaimana, ya?"
Vante mengernyit. Perasaannya mendadak tidak enak. "Jim?"
📞"Begini, sobat. Mendadak aku punya urusan yang tidak bisa ditinggalkan."
"Jimmy, jangan bilang.."
📞"Tidak, aku tidak. Tentu aku tidak akan membiarkanmu sendirian seperti anak hilang disana. Adik sepupuku yang akan menjemputmu. Aku sudah minta tolong padanya."
"Apa dia bisa dipercaya?"
📞"Orangnya lumayan absurd, sih. Tapi tenang saja. Dia bisa jaga rahasia. Kau tunggu saja, ok?"
"Hei, Jimmy. Aku jauh-jauh kesini tidak untuk bercanda dengan—" Vante mendesah kesal manakala mendengar nada putus dari handphonenya.
.....
"Mau, ya, Mel? Plisss.. Sayang banget udah sama Mela."
"Kenapa ga lo aja si, Sil?" Mela menatap Prisilla dengan pandangan malas, "Kan yang disuruh bang Jimmy tuh elu."
"Tapi kan gue gabisa bahasa Korea Mela sayang..."
"Tapi pasti dia bisa bahasa Inggris kan? Lagian ga mungkin bang Jimmy nyuruh lo kalo temennya ternyata ga bisa—"
"Iya ga bisa, Mela. Justru itu. Bang Jimmy nyuruh gue jemput, ntar ngomongnya pake bahasa isyarat. Ntar yang ada gue kaya orang purba, lagi. Mending lo aja, kan? Toh lo juga lagi ga sibuk."
"Siapa bilang gue ga sibuk? Gue sibuk banget tau."
"Sibuk nonton drakor! Itu mah ga ada sibuk-sibuknya." Prisilla mendorong tubuh Mela. "Udah buru sono! Ntar gue traktir mekdi."
"Dua porsi! Awas kalo cuma satu."
"Iya bawel! Buruan sana sebelum temen abang gue dateng! Good luck ya!"
"Ih, jemput dimana emang?"
"Oh gue belum bilang ya? Di Halim, beb."
"Hah? Orang sepenting apa sih sampe di Halim? Temen abang lo ada yang pejabat?"
"Ga tau." Prisilla menggendikan bahu. Mendadak terpikir pertanyaan masuk akal Mela. "Eh iya juga, ya? Ntar deh gue tanya abang gue. Lo berangkat aja dulu."
"Ga kebaik apa? Nanya dulu baru berangkat."
"Ih!! Ga keburu Mela! Udah sana!"
Setelah kepergian Mela, Prisilla segera menelepon Jimmy. "Halo, bang?"
📞"Halo. Kenapa?"
"Temen abang ada yang pejabat?"
📞"Ga ada. Tumben kamu ngaco."
"Ga.. Itu loh bang. Kan temen abang di Halim. Yang bisa pake Halim kan cuma orang penting."
📞"Oh.. Temen abang artis, dek."
"Oh, artis.." Prisilla mangut-mangut. Lantas menyadari sesuatu, "Loh?! Artis, bang?"
📞"Iya. Kamu udah otw, kan? Dia barusan nelpon udah nyampe bandara. Buruan, ya, dek."
"Bang! Gila, bang!"
📞"Hah? Gila apanya, sih?"
"Yang jemput temen abang bukan aku, tapi Mela, bang!"
📞"Oh, Mela.."
📞"Hah? Mela?!"
"Iya bang! Mela!"
📞"Mela temen kamu yang blasteran itu?"
"Iya bang! Mela yang mana lagi coba?"
📞"Gawat nih, dek."
"Kenapa bang?"
📞"Keknya Mela bakal kenal, deh. Temen abang itu aktor Korea."
.....
"Cowok disana kok mirip yang main drama You're My Everything ya?" Mela menyipitkan mata. Memastikan pandangannya tidak salah. "Bener yang jadi Han Sung bukan, si?"
Vante menghela napas. Sudah 15 menit dirinya duduk menunggu di bandara. Staf yang berlalu lalang tidak terlalu memedulikan kehadirannya. Mungkin sudah terlatih bersikap profesional. Karena itulah Vante dengan santai menurunkan maskernya.
Mela menatap ke sekeliling. Setelah memastikan hanya pemuda yang tengah duduk itu satu-satunya orang yang terlihat menunggu, Mela mendekat perlahan dan bertanya dalam bahasa Korea.
“Permisi?”
Vante mendongak dan berdiri agar bisa lebih mudah berbicara. "Adik Jimmy?"
"Bukan, saya teman adiknya. Saya yang diminta adiknya untuk menggantikan menjemput Anda."
"Adiknya kemana?" Bukan tanpa alasan Vante bersikap curiga. Karena dirinya tengah dilanda skandal besar di Korea, seditaknya tidak boleh ada celah selama masa pelariannya.
"Masih di kampus. Mau diantar ke sana?"
"Oh, tidak. Cukup antar saya menemui Jimmy. Ah, Jimmy bilang saya akan diantar ke apartemennya dulu."
"Kalau begitu, mari saya antar."
Vante menurut dan mengekori Mela. Saat hendak memasuki mobil, Vante hampir membuka pintu pengemudi jika saja tidak dicegat Mela.
"Maaf, Anda mau mengemudi?"
Vante mencerna keadaan. "Oh, ini bukan pintu penumpang?"
"Bukan. Di Indonesia pengemudinya di sisi kanan."
"O-oh.. ok."
.....
🔔ding dong..
Pintu terbuka menampilakan siluet pemilik unit tengah berdiri dengan senyuman. "Hai, bro."
"Hai." Vante langsung berjalan masuk tanpa repot berbasa-basi. Sungguh hari ini terasa sangat melelahkan untuknya.
Jimmy menggeleng maklum. Lantas mengumbar senyum pada Mela yang berdiri dengan tangan terkacak di pinggang. "Bang, Prisillanya ada?"
"Prisilla lagi sibuk nugas, dek. Kamu mau masuk ke dalam aja sekalian? Duduk-duduk dulu, gitu."
"Males, bang. Mela mau nagih mekdi ke Prisilla."
"Oh, abang aja yang pesenin, dek. Kan abang yang sebenernya minta tolong. Masuk dulu aja."
"2 porsi ya bang." Mela anteng masuk ke apartemen Jimmy. "Kalo mau dibonusin sih sama s-buck."
"Aduh, emang, ya temennya Prisilla sama kek orangnya, suka ngelunjak."
"Mana ada." Mela tertawa kecil. "Kan mumpung bang Jimmy traktir."
Mela dengan santai duduk di sofa. Tepat bersebelahan dengan Vante yang kini tengah memainkan nintendo. "Bang Jimmy, Mela mau nonton tv, ya!"
"Iya. Tolong jaga apart bang Jimmy bentar ya dek! Mau jemput Prisilla dulu sekalian beliin kamu mekdi."
"Sama s-buck bang, jangan lupa!"
Jimmy tertawa, "Sip." lantas pergi ke luar.
Karena Jimmy membeli saluran penayangan yang menyertakan channel luar negeri, tepat saat televisi menyala, layar menayangkan acara musik di Korea.
📺"Mari kita saksikan penampilan Rainbow. Go go!"
Vante terpekur. Tepat saat lagu dibuka oleh suara merdu Sally, mata Vante langsung tertuju ke televisi.
Namun hal itu tidak berlangsung lama, sebab Mela mengganti channel karena merasa tidak tertarik.
Vante sekonyong-konyongnya merebut remote di tangan Mela. Kembali mengubah saluran ke channel semula.
Mela terkejut, tentu tidak menyangka jika pemuda di sampingnya punya perangai seperti itu. Mela pikir semua teman Jimmy akan baik seperti Jimmy. Ternyata Jimmy juga bisa salah memilih teman. Kenapa Jimmy bisa berteman dengan orang tidak sopan begini?
"Kemarikan remotenya."
"Tv ini bukan milikmu."
"Memang. Juga bukan milikmu."
"Aku tamunya disini."
"Aku juga tamu."
"Aku akan tinggal disini."
"Aku sudah berkali-kali menginap disini."
Vante menghela napas. Untuk apa dirinya berdebat tidak penting dengan seorang gadis egois? Vante melempar remote. "Sudahlah. Malas berdebat denganmu."
"Kau mau nonton acara ini?"
Vante menatap datar televisi. Kini di channel yang sama, penyanyi yang tampil sudah berbeda.
"Tidak. Terserah kau saja."
.....
"I'm home!!"
Jimmy membuka pintu apartemen. Disusul Prisilla mengekor di belakangnya.
"Me too!!"
Namun alangkah terkejutnya Jimmy manakala menemukan Vante dan Mela tengah terlelap dengan kepala saling tersandar menyilang di pundak.
Tepatnya kepala Vante yang tersandar di bahu Mela. Sedang kepala Mela tersandar di kepala Vante.
Prisilla tidak tahan untuk tidak mengambil gambar. Sebuah momen langka saat Mela skinship dengan laki-laki. Bahkan dengan Jimmy saja Mela kadang risih dan cenderung menghindar terhadap kontak fisik.
"Kok mereka bisa jadi kek gini?"
"Bang Jimmy aja ga tau. Apalagi Prisilla, bang."
Jimmy menggeleng tak habis pikir. Lantas membangunkan Vante pelan. "Vante, bangun."
Vante yang memang terbiasa dibangunkan dengan panggilan lantas terbangun. Terkesiap kaget saat mendapati dirinya tengah bersandar di pundak seorang gadis.
Mela juga terkesiap bangun saat merasakan beban di bahunya menghilang.
"Kok kalian bisa tidur barengan gitu?"
"Sil, ambigu banget sumpah." Mela mengucek matanya. "Gue ga tau. Terakhir gue sama dia minum minuman di kulkas."
Seketika Jimmy ingat dengan minumannya. “Oh.. kalian minum minuman punyaku. Itu memang agar cepat mengantuk. Karena aku akhir-akhir ini kena insomnia. Jadi dokter menyarankan minum itu.” Jimmy menggeleng kasihan. “Bisa-bisanya kalian tahan minum herbal itu. Aku saja eneg.”
“Memang eneg, bang. Banget.”
"Kalian ngomong apa, sih?" Prisilla gedeg. Memang sedari tadi Jimmy dan Mela mengobrol dengan bahasa Korea agar Vante juga bisa memahami apa yang terjadi.
"Intinya, gue sama nih orang ga sengaja minum herbanya bang Jimmy yang bisa bikin ngantuk."
.....
"Malu, ya?" Jimmy menghampiri Vante yang termenung di balkon.
"Untuk apa?"
"Tadi kau tidur di pundak seorang perempuan." Jimmy tersenyum kecil. "Seorang Vante. Siapa yang bisa menyangka?"
"Yah.." Vante menenggak minuman kaleng di tangannya. Tersenyum pilu. "Sama seperti saat berita itu keluar. Siapa yang menyangka itulah akhir hubunganku dan Sally."
"Idol memang begitu. Berhubungan dengan mereka tentu risikonya lebih besar ketimbang publik figur lain."
"Ya, kau benar."
Jimmy menatap Vante. "Apa kau tidak pernah terlibat cinta lokasi dengan lawan mainmu?"
Vante menggeleng. "Beberapa membuat risih. Dan sisanya terlalu dingin."
"Kau tahu aku akan terus mendukungmu, kan?"
"Tentu."
"Apapun pilihanmu, lihatlah dulu dari semua sisi."
"Maksudmu?"
"Maksudku," Jimmy memalingkan pandang menatap langit. "Cobalah untuk berkaca dari sisi wanitamu. Apakah yang kau lakukan adalah yang terbaik baginya, atau malah akan menghancurkannya."
.....
"Jadi dia itu beneran yang main You're My Everything?"
Jimmy mengangguk. "Dia temen abang. Namanya Vante."
"Terus ke Indonesia ngapain? Liburan?"
"Bisa dibilang gitu, tapi sebenernya enggak." Jimmy menghela napas. "Dia kena skandal sama salah satu idol cewek. Makanya lari ke sini."
"Pantes Prisilla ga bisa jelasin banyak."
"Prisilla udah tau kok masalahnya gimana. Tapi setelah tau, dia ngerasa ga berhak buat cerita ini ke kamu." Jimmy tersenyum. "Lucunya, dia juga yang maksa abang buat cerita ke kamu."
"Terus sekarang gimana, bang? Temen abang mau sampai kapan disini? Emang ga takut ada nitizen indo yang tau dan sebarin?"
"Kamu pikir Vante milih nginep disini karena apa? Di wilayah sekitaran sini kan ga banyak yang lewat. Kalo papasan juga ga bakal peduli."
"Kawasan E.L.I.T. emang." sewot Mela datar.
Drrtt...
Nada pesan masuk di handphone Mela terdengar. Mela segera membuka pesan yang ternyata jumlahnya kalau ditotal ada puluhan dari nomor-nomor di kontaknya. "Loh kenapa nih banyak yang chat?"
"Mana?" Jimmy penasaran. Firasatnya mendadak tidak enak. Lantas Jimmy menyalakan handphone yang ternyata tidak sengaja terpasang mode diam. Ada belasan chat dari Prisilla untuknya.
Saat memeriksa isi pesan, baik Mela maupun Jimmy tidak kuasa menahan keterkejutan.
.....
📞"Vante, aku membiarkanmu liburan agar masalah yang kau timbulkan reda. Kenapa disana kau malah membuat masalah baru?!"
"Hyung, itu bukan salahku. Aku bisa jelaskan keadaannya."
📞"Bukan itu yang terpenting! Setelah skandal sebelumnya opini publik sudah buruk memandangmu. Sekarang ditambah masalah ini, se—"
Vante mengernyit bingung saat Zero terdiam tiba-tiba di seberang panggilan. "Hyung?"
"Vante! Jackpot!"
"Maksudnya?"
"Barusan tim mendapat surel kerjasama dari acara tv. Mereka menginginkan interaksimu dengan gadis asing itu. Apa kau bisa kembali kemari dan membawa dia bersamamu?"
"Apa? Hyung, kau waras?"
"Dengar, kini opini publik malah mendukung hubunganmu dengannya. Mereka..."
.....
"Jadi maksudmu, karena mereka mengira berita datingmu dengan idol itu palsu dan kau tidak ingin aku "yang dikira pacar aslimu" marah, kau jauh-jauh langsung datang ke sini secara diam-diam dan tanpa pengumuman untuk menjelaskan keadaannya padaku, tapi hubungan kita malah terbongkar?"
Vante mengangguk yakin.
"Hah!? Apa ini masuk akal?" Mela memijit pelipisnya yang mendadak pening. "Aku tidak habis pikir dengan imajinasi fansmu."
"Meski enggan mengakuinya, tapi imajinasi aneh itulah yang menyelamatkan karirku. Lagipula, mereka mendukung hubungan kita."
"Tolong jangan pakai frasa kita. Aku merinding mendengarnya." Mela balik menatap Prisilla yang sedari tadi berdiri denga tatapan tidak nyaman. "Heh, lo belum jelasin kenapa tuh foto bisa kesebar."
"M-maaf, Mel. Gue ga tau Jean bakal nemuin tuh foto pas pinjem hp gue buat nelfon bokapnya. Tau-tau malamnya tuh foto udah kesebar aja di gc jurusan. Terus sisanya, ya.. lo tau lah."
"Jimmy, tolong bujuk dia." Vante menatap Jimmy dengan pandangan memelas.
"Memang dasarnya aktor, maaf aku tidak tertipu dengan pandangan penuh kepalsuan itu." Jimmy menepuk pundak Vante, "Berusaha sendiri, ya. Oh, ya." kemudian mendekatkan bibir ke telinga Vante. "Karena aku baik, aku akan memberitahumu. Ada satu hal yang tidak bisa ditolak gadis itu."
Vante menaikkan alis dengan pandangan menunggu jawaban.
"...."
Vante terdiam sejenak. "Kau serius?"
"Coba saja kalau tidak percaya." Jimmy mengendikkan bahu. "Aku pergi kerja dulu ya. Makan siang kalian pakai layanan pesan antar saja."
"Bang Jimmy, aku ikut!!" Prisilla langsung meraih ujung jaket denim Jimmy. "Mela, semangat, ya! Gue tau lo kuat!"
"Gila, tuh anak. Maksudnya apa, coba?" gumam Mela kesal. Mela kesal karena dirinya tidak bisa 100% marah pada Prisilla. Sekalipun Prisilla secara tidak langsung ikut andil, Prisilla tetaplah sahabatnya.
"Mela, kalau kau mau bantu, aku janji akan membelikanmu botol minum edisi terbatas s-buck." Vante berujar ragu. Ragu saran Jimmy tidak berhasil.
Ya. Membujuk Mela memang tidak memerlukan uang berjuta-juta ataupun perhiasan dan barang mewah.
Mela mendecih. "Tidak mungkin. Edisi yang kumau sudah tidak produksi."
"Kau tidak tahu?" Vante menyeringai, "Di Korea akulah bintang iklan dari edisi terbatasnya."
.....
"Wah, memang lebih cantik dari yang terlihat di berita."
"Sudahlah hyung. Sekarang aku sudah membawanya. Lalu selanjutnya apa?"
"Selanjutnya? Tentu saja kita harus mempermaksnya!"
"Per—apa?"
Selanjutnya yang terjadi adalah Mela yang kini duduk di ruang rias Bomb Ent.
"Baru pertama kali didandani, ya?"
Mela tersenyum dan mengangguk canggung pada seorang gadis stylish yang terlihat sedikit lebih tua darinya.
"Jangan gugup. Pada dasarnya kau cantik, jadi ini tidak akan banyak memakan waktu." dia menyapukan tipis perona pipi. "Selesai. Tunggu disini, ya. Biar kupanggilkan CEO Kim."
Mela mengangguk dan menghela napas. Mencoba menenangkan diri. Sejauh ini, perasaannya dirudung kekalutan lantaran belum mengabarkan apapun yang terjadi kepada kedua orangtuanya di Milan. Ini hallyu, tentu saja beritanya bisa sampai kesana.
Sejak lulus SMA orangtua Mela memang pindah lagi ke Milan. Awalnya mereka ingin mengajak Mela ikut serta, tapi Mela lebih memilih tetap di Indonesia dengan dalih tidak ingin terkena culture shock.
Karena itu Mela sering menginap di apartemen Jimmy. Selain karena Prisilla yang juga tinggal di satu hunian dengan Jimmy, Mela juga merasa lebih aman karena kawasan apartemen Jimmy merupakan daerah elit yang keamanannya terjaga.
Kembali pada kenyataan, Mela tersekiap dari lamunan tatkala mendapati Vante kini menatapnya tanpa berkedip di balik cermin. Pemuda itu berdiri tepat di belakangnya. Mela hanya membalas dengan tatapan bingung dan enggan berbalik.
Hening.
Barulah saat Zero memasuki ruangan dan memecah keheningan, waktu terasa kembali berjalan. "Astaga! Aku jadi ingin mendebutkanmu sebagai aktris."
"Hyung, akting segini saja dibujuknya susah bukan main, bagaimana bisa kau menginginkannya menjadi aktris?"
Meski sedikit enggan, mau-tidak mau Mela berterima kasih dalam hati pada sanggahan Vante.
"Ya sudah. Mari mulai dengan konferensi pers."
.....
Di lain tempat.
"Wah, luar biasa! Vante oppa, benar-benar.."
"Gadis itu cantik sekali. Salah satu fansnya, ya?"
"Kurasa bukan. Lihat pandangan Vante oppa. Dia saja sangat terpesona."
Jinsil, salah satu member Rainbow sekaligus teman terdekat Sally segera menoleh ke arah sang sahabat. "Kau tidak apa-apa?"
"Itu haknya. Lagipula memang salahku sudah memutuskan hubungan sepihak dengan kejam."
"Tapi kau kan terpaksa." Jinsil nampak tidak terima. "Kau tahu apa yang tidak adil? Saat kau dengannya kau mendapat hujatan. Tapi saat gadis biasa itu di posisimu, dia menuai pujian dan dukungan! Tidakkah kau marah?!"
Semua member Rainbow yang lain terkejut, menghentikan aktivitas masing-masing dan menaruh atensi pada Jinsil dan Sally.
"H-Hei Jinsil eonni. Lagipula Sally eonni sudah berusaha melupakannya." Choa, gadis termuda di Rainbow berusaha meluruskan.
"Kalian tahu apa yang membuatku marah?! Kenapa idol seperti kita yang sudah mencurahkan 24 jam hidup untuk fans seperti tidak punya hak untuk mencintai pasangan kita?! Apa yang salah dengan jatuh cinta dan berpacaran?! Kenapa bisa dianggap tidak normal?!"
"Eonni, tenangkan dirimu. Kita bisa bicarakan ini dengan kepala ding—"
"Tenang, kau bilang?! Aku sudah muak dengan peraturan penjara ini! Kurasa," Jinsil menitikkan air mata, "Kurasa aku tidak sanggup—"
"Jinsil!" Sally membentak lantang. "Kau mau aku memperjuangkannya?! Baik! Akan kulakukan! Aku sudah muak dengan kekangan ini!" Sally tersengal, "Tunggu sampai kontrak kita berakhir 2 bulan lagi, aku tidak akan berencana memperpanjang kontrak."
.....
"Kalian bisa mulai dengan scene masak. Vante atau Mela, ada yang bisa memasak?"
"Saya bisa." Mela mengangkat tangan kanannya.
"Vante bagaimana?"
Vante menggeleng pelan. "Masakan saya tidak pernah berhasil."
"Kalau begitu, Mela tolong bimbing Vante, ya. Usahakan chemistry kalian sebagai pasangan ditunjukkan sealami mungkin."
Mela dan Vante mengangguk.
"Ok, siap-siap!"
"Take 1,"
"ready,"
"action!"
Karena EQ Vante sudah terlatih di dunia entertainmen, Vante dengan lancar membuka acara. Sutradara nampak puas dengan awal yang bagus ini.
"Nah, sekarang kita mau memasak apa?"
"Kau tahu, kan aku dari Indonesia?" Mela menanyai Vante dengan bahasa informal. Kemudian menatap ke arah sutradara, "Oh, maaf. Kelepasan. Apa saya harus pakai bahasa formal dengan Vante oppa?"
"Tidak, tidak. Silakan lanjutkan." Sutradara Jung nampak puas. Kemudian berbisik pada CEO Kim yang duduk di sampingnya. "EQ gadis itu bagus juga. Cocok sekali menjadi entertainer. Kau ada rencana mendebutkannya?"
"Tidak, dia jauh-jauh kesini hanya untuk Vante." jawab Zero bangga.
"Oh-ho.."
Kemudian mereka kembali fokus pada Vante dan Mela.
Sebenarnya Vante cukup terkejut dengan hal tadi. Namun sikapnya yang terlatih profesional membuatnya bisa dengan cepat merubah mimik.
'Ternyata dia orang yang profesional dan serius dengan pekerjaannya.' tanpa sadar Vante memuji Mela dalam hati. Saat menatap gadis itu yang serius mengiris daging, Vante memperhatikan anak rambut yang sedikit menghalangi pandangan Mela.
Tanpa sadar dirinya menyelipkan anak rambut gadis itu ke belakang telinga. Membuat Mela sedikit terkejut, namun berusaha menyembunyikan pipinya yang memerah.
"Cantik," gumam Vante tanpa sadar. Namun baik Vante maupun Mela tidak sadar bahwa suara kecil pun dapat mudah terdengar karena mereka sudah memasang klip mic.
"T-tolong fokus pada masakannya, Vante oppa." Mela meraih tangan Vante dan meletakkan bawang putih. "Tolong kupas, ya."
Vante tanpa sadar mengangguk. 'Pipinya merah. Imut sekali', pikirnya.
Karena sedari tadi Vante terlihat eror, Mela mengetuk dahi Vante dengan tekukan jari telunjuknya, "Maaf."
Vante tersadar. "Apa yang kau—"
"Kupas bawang di tanganmu, oppa. Waktu kita tidak banyak."
Vante cemberut dan menaikkan bibir bawahnya. "Harusnya kan kau tinggal bilang. Tidak usah menggetok kepalaku segala."
Mela memutar bola mata jengah.
Sedang Vante kebingungan dengan sayuran di tangannya. Dirinya belum pernah melihat bawang putih. TMI, di Korea bawang putih memang jarang digunakan, sebab orang Korea lebih sering memakai bawang bombay. "Ini apa?"
"Itu? Bawang putih." Mela menjawab bingung. Kemudian teringat kalau mungkin saja ini kali pertama Vante melihatnya. Mela menepuk jidat. "Benar juga. Ini kali pertama oppa lihat bawang putih, kan?"
Vante mengangguk polos.
"Ya sudah. Tolong siapkan wajan dan tuang minyaknya saja kalau begitu."
Vante menurut. Saat hendak menuangkan minyak, "Seberapa banyak?"
"Kurasa 4 sendok makan cukup."
.....
"Kerja bagus hari ini!" Sutradara Jang bertepuk tangan gembira. "Aku yakin episode pembuka ini.. Ah! Tidak perlu banyak edit lagi, kalian sangat natural tadi!"
"Terima kasih."
Baik Vante maupun Mela sama-sama membungkuk kecil.
"Ya sudah. Kalau begitu tunggu saja ya episode ini ditayangkan, aku jamin nama kalian akan semakin melesat. Terutama kau, Vante. Aku sangat puas dengan kerjamu yang profesional. Memang entertainer sejati hahaha.."
"Terima kasih sutradara Jang. Saya akan bekerja keras."
"Bagus, bagus. Kalau begitu bagaimana kalau kita rayakan dengan makan malam?"
"Mohon maaf sutradara Jang, Mela baru datang dari Indonesia tadi malam. Paginya dia sudah langsung dibriefing untuk syuting. Jadi dirinya masih jet lag dan belum sempat istirahat yang cukup."
"Ah.. sayang sekali. Tapi tidak apa. Kita masih punya banyak kesempatan. Ya sudah kalau begitu. Kalian silakan pulang duluan. Urusan kru biar aku saja."
"Maaf merepotkan sutradara Jang." Vante tersenyum sungkan.
"Ah, tidak.. Santai saja."
"Kalau begitu kami permisi."
"Oh, ya. Apa selama Mela di Korea kalian berdua tinggal bersama?"
"Tentu saja." jawab Vante spontan dengan nada yakin.
Mela dan Zero terkejut. Tidak menyangka Vante dengan gampang memberikan informasi untuk orang lain.
Zero segera mengambil alih keadaan, "Vante, tolong pulang duluan dengan Mela. Aku masih ada urusan dengan sutradara Jang."
.....
"Kamarmu di sebelah kamarku. Kau mau mandi dulu? Kamar mandinya ada di dalam kamar." Vante meletakkan ransel Mela yang sedari tadi disampirkannya di pundak.
Mela mengambil ransel dan menggeret kopernya setelah membuka pintu kamar. "Iya. Aku ini orang Indonesia. Mandinya minimal 2 kali sehari."
Vante manggut-manggut paham. "Ya sudah. Aku kembali ke kamarku dulu. Kalau kau butuh apa-apa aku ada di sebelah."
"Iya."
"Oh, tunggu sebentar." tiba-tiba Vante teringat sesuatu. Ia segera masuk ke dalam kamarnya dan keluar dengan membawa paper bag di tangan. "Ini imbalanmu."
"Tumblr s-buck edisi terbatas?"
Vante mengangguk dan tersenyum. "Untung saja di kantor masih menyimpan 2 tumblr. Aku juga mengambil 1 kalau-kalau punyamu rusak."
"Terima kasih banyak." Mela tersenyum senang. Tidak henti-hentinya dia melirik penuh minat ke dalam bingkisan paper bag pemberian Vante.
'Benar-benar puas hanya dengan hal sederhana', Vante semakin merekahkan senyum. "Ya sudah. Tidur sana yang nyenyak. Besok ada briefing untuk episode 2 dan syuting scene tambahan."
"Siap!" seru Mela semangat. "Aku ke kamar duluan, ya.."
Setelah Mela menutup pintu, Vante berjalan dan memasuki kamarnya. Lantas memasuki kamar mandi untuk sekadar mencuci wajah. Setelah memakai perawatan malam Vante segera merebahkan diri di ranjang.
Tanpa sadar potongan-potongan kejadian hari ini berkelebat dalam benaknya. Gadis yang mungkin saja kini sudah terlelap di kamar sebelah itu benar-benar terlihat menarik di mata Vante.
Gadis itu lugas, tapi sebenarnya pemalu. Sangat mudah dibujuk. Masakannya juga enak sekali. Belakangan Vante tahu kalau gadis itu juga tidak suka makanan pedas seperti dirinya. Cerdas dan EQ tinggi. Bahkan saat Vante mengira gadis itu akan menjambaknya saat tahu skandal Vante melibatkan dirinya, gadis itu hanya terkejut dengan wajah kebingungan yang menggemaskan.
Bahkan barusan gadis itu menampilkan ekspresi senang bukan kepalang karena berhasil memiliki sebuah botol minum. Botol minum!
Vante membayangkan Mela, hingga tersadar saat detak jantungnya semakin cepat memompa. Mendadak Vante juga menyadari bahwasanya sedari tadi sudut bibirnya sudah naik ke atas. Hanya karena memikirkan Mela.
Vante menggeleng kuat. Memukul kepalanya dengan bantal. Kemudian memilih tidur tengkurap dengan kepala di bawah bantal. Vante mendesah frustrasi,
"Kau, gila, Vante."
.....
Ini sudah kali keempat syuting. Baik Vante maupun Mela benar-benar bersikap layaknya sepasang kekasih biasa di depan kamera. Kebersamaan dan interaksi mereka, tidak dapat dipungkiri juga merupakan hal yang membuat keduanya menyadari ada banyak kesamaan dan perbedaan di antara mereka yang malah saling mekengkapi.
Sebut saja hari ini. Mela ternyata punya bakat menggambar, namun payah dalam memilih warna. Sedang Vante ternyata punya pandangan peka dalam pemilihan warna. Bersama, mereka berhasil menciptakan sebuah lukisan pemandangan yang indah dan detail yang sanggup membuat instruktur lukis mereka terpukau.
"Kalian yakin baru kali pertama mengikuti kelas lukis?" guru Shin berdecak kagum.
Vante dan Mela tertawa kecil dan mengangguk.
Syuting kali ini juga berjalan lancar. Sutradara Jang, seperti biasa sangat puas dengan hasil syutingnya.
"Hah.. Sayang sekali 2 hari lagi adalah jadwal syuting terkahir." desah kecewa sutradara Jang.
Memang benar acara ini hanya menampilkan 8 episode. Sebab sutradara Jang dulu skeptis apakah Mela bisa mengimbangi kemampuan Vante dalam reality show atau tidak.
Namun nasi sudah menjadi bubur. Bomb Ent. enggan menambah episode sebab Mela harus kembali ke kehidupannya di Indonesia. Kuliahnya saja belum lulus. Mela tidak ingin cuti kuliah lama-lama.
Vante yang menyadari kebersamaannya dan Mela akan segera berakhir hanya diam-diam merasa sedikit tidak rela. Sejauh ini, Vante benar-benar nyaman berada di dekat Mela. Hal ini jelas berbeda dengan saat dirinya bermain peran dalam sebuah drama. Kali ini Vante tidak berpura-pura. Dia sungguh-sungguh menampakkan rasa sayangnya saat bersama Mela. Tidak dapat dipungkiri, mungkin saja Vante sudah benar-benar jatuh cinta.
Sedangkan Mela, bukannya gadis itu tidak mencintai Vante juga. Hanya saja berkali-kali akal sehatnya selalu mengingatkan, ada perbedaan besar membentang di antara mereka. Salah satunya status Vante yang merupakan seorang public figure dan dirinya yang orang biasa.
"Jangankan artis, fansnya aja bukan." Mela menggumam kecil.
"Kau bilang apa?" Vante melihat Mela yang terkesan murung menggumam tanpa Vante tahu berbicara apa. Tentu saja. Mela bergumam dengan bahasa Indonesia.
"Bukan apa-apa." Mela tersenyum canggung.
"Oh iya. Malam ini sudah mulai penayangan episode 1. Jangan lupa tonton, ya. Lihat kerja keras editor yang—ah, kurasa editornya tidak perlu bekerja keras. Sebab dari episode awal chemistry kalian sudah sangat bagus."
Vante mengangguk. "Tentu kami harus menontonnya malam ini."
.....
Mela keluar dari kamar dengan setelan kaos dan celana pendeknya. Melangkah dengan sendal tidur beruang putih menuju ruang televisi. Ternyata Vante sudah duduk santai dengan piyama motif kotak-kotak dan sendal tidur beruang cokelatnya.
Saat menyadari sendal tidur Vante, mendadak pipi Mela bersemu merah. Kenapa dia baru menyadari hal ini?
Mela mencoba tidak memedulikannya dan duduk di samping Vante. Namun malah pemuda itu ikut menyadari sendal tidur mereka yang terlihat seperti sendal pasangan. "Loh, sendalmu beruang juga?"
Mela mengangguk. "Aku sudah memakainya sejak 5 bulan yang lalu."
Maksud Mela dirinya sudah terlebih dahulu membeli sendal itu sebelum mengetahui Vante ternyata membelinya juga.
Vante tertawa kecil, "Kau tidak tahu? Julukan hewan dari fans untukku adalah beruang."
"Oh." Mela mencoba tidak memusingkannya. Sebab dirinya tidak ingin semakin terlibat percakapan dengan Vante. Mela takut kupu-kupu di dalam perutnya beterbangan lagi.
Vante menyimpan senyum senang. Julukan beruang tidak sepenuhnya benar. Sebenarnya sedari dulu julukan dari fans untuknya adalah anak harimau. Tapi karena Vante menyadari Mela memakai sendal beruang, diam-diam Vante memposting dirinya yang suka beruang dengan tujuan agar fansnya mengganti simbol Vante dengan beruang. Jadi Vante bisa berkelit dengan mudah saat membeli sendal beruang agar terlihat sepasang.
Akhirnya, tayangan reality show Spend My Days With You sudah tayang. Vante dan Mela fokus menonton.
Harus Vante akui, editor acara ini benar-benar hebat dalam menciptakan suasana romantis untuk mereka. Padahal seingat Vante, hari pertama itu Mela masih sedikit menunjukkan interaksi romantis dengannya. Tapi beberapa kali editor menambahkan kata-kata di layar seolah-olah itu isi hati Mela dan Vante. Sehingga saat mimik mereka sesuai, suasana romantis benar-benar terasa.
Namun Vante terkejut saat dirinya menggumam hari itu malah ikut terekam.
"Cantik."
"Cantik."
Bahkan editor menambahkan adegan ulang untuk mempertegas gumaman Vante. Sontak Vante panik dan menoleh ke arah Mela untuk kemudian mendapati wajah gadis itu telah sempurna memerah.
Vante jadi terpikir, mungkin saja Mela juga jatuh cinta padanya. "M-Mela."
"Y-ya?" Mela menjawab namun tidak berani menoleh. Pandangannya hanya fokus pada televisi sedari tadi.
Namun alangkah terkejutnya Mela saat dirasanya tiba-tiba mendapat kecupan dari Vante di pipinya. Mau-tidak mau Mela menoleh ke arah Vante dan menemukan wajah pemuda itu juga telah sempurna memerah.
"Mau jadi pacarku, ya?"
Deg.
Mela merasakan jantungnya berdentum bertalu-talu. Kupu-kupu benar-benar sudah beterbangan di dalam perutnya. Tanpa sadar gadis itu mengangguk.
Vante tersenyum senang dan mendekatkan wajahnya. "Sungguh?"
Sekali lagi, tanpa sadar Mela mengangguk.
Maka detik berikutnya Vante menyatukan birai mereka. Membuat Mela setengah terkejut namun refleks menutup matanya. Menikmati manakala Vante menaikkan intensitas. Lengannya memeluk leher Vante sedang tangan pemuda itu mengelus pelan punggungnya.
Setelah melepaskan tautan, Vante tersenyum dan kembali mengecup sekilas bibir Mela yang memerah. Kemudian membawa gadis itu masuk ke dalam pelukannya.
Mela berusaha mencerna keadaan. Namun lengannya juga dengan sadar balas memeluk Vante manakala merasakan kehangatan dalam pelukannya.
.....
Hari ini merupakan tepat 2 bulan sejak Mela pertama kali menginjakkan kaki di Seoul. Hari ini pula merupakan hari terakhir syutingnya dengan Vante.
Sedari pagi, manakala dirinya masih malu-malu menatap wajah Vante yang tersenyum lebar menatapnya, CEO Kim sudah mengabari sambutan reality show mereka sangat baik. Bahkan mampu meraih rating tertinggi dalam sejarah, yaitu 28% dan hal itu melebihi rating drama tertinggi sepanjang sejarah.
Zero Kim menyadari tingkah Vante yang tidak biasa, persis gelagat anak itu saat jatuh cinta. "Vante, kau balikan dengan Sally?"
Vante langsung mengeraskan wajah kesal. "Kenapa hyung tiba-tiba membicarakannya?"
Mela tersadar bahhwa Vante pernah menjalin hubungan dengan gadis itu. Entah kenapa dirinya sedikit cemburu. Padahal jelas dia sudah tahu Vante tidak pernah lagi berhubungan dengan gadis itu.
"Kau terlihat seperti orang pacaran yang kasmaran sedari tadi." Zero sedikit merasa bersalah karena salah menebak. Kalau bukan Sally, jangan bilang.. "Oh, atau kau malah jadian dengan Mela?!"
"A-anu—"
"Iya." Vante langsung memotong ucapan Mela. Meraih tangan gadis itu untuk digenggam. "Kurasa kami sama-sama cocok. Kami juga saling suka. Dan beruntungnya fansku mendukung hubungan kami. Jadi boleh, kan, hyung?"
"O-oh? Tentu saja." meski sedikit terkejut, Zero sudah puas jika Mela yang jadi pacar Vante. Mela sudah memenuhi semua kriteria untuk menjadi pacar Vante. Attitude dan EQ nya bagus, wajah dan latarnya juga. Fans Vante juga mendukung. Terbukti dengan komentar-komentar positif saat acara Vante dirilis. Yang terpenting, mereka saling suka.
.....
Hari ini syuting juga berjalan dengan lancar. Sebagai perayaan hari terakhir syuting, sutradara Jang ingin mengadakan acara makan bersama. Sekaligus merayakan keberhasilan pencapaian rating tertinggi sepanjang sejarah industri pertelevisian Korea.
Vante dan Mela menyanggupinya. Diam-diam mereka juga menjadikan makan malam ini sebagai salah satu kencan pertama mereka.
"Mari bersulang untuk kesuksesan kita."
Vante membisiki Mela. "Kau bisa minum?"
Mela menggeleng. "Ini kali pertama."
Vante mengambil gelas Mela dan emukarnya dengan jus apel. "Yang ini kadarnya lumayan tinggi. Nanti aku akan mengajakmu minum dengan kadar yang rendah. Kalau kau langsung mencoba ini kepalamu bisa sakit."
Menurut, Mela mengangguk dengan senyuman.
Interaksi kecil mereka berdua, sekalipun posisinya di pojok tidak luput dari perhatian kru acara dan sang sutradara.
"Hei, pantas chemistry kalian bagus. Ternyata kalian sangat akur ya di luar jam kerja."
Mela tersenyum sungkan. Sedangkan Vante dengan berani merangkul Mela. "Tentu saja. Karena kami saling mencintai."
Mela malu dan memilih menyembunyikan wajahnya di dada Vante. Vante tersenyum dan memeluk Mela. Membenamkan kepala gadis itu dalam pelukannya. "Sepertinya aku juga tidak akan minum."
Mela mendongak dalam pelukan Vante dengan ekspresi bingung. Membuat Vante tersenyum dan mencium keninya gemas. "Kita kan harus pulang dengan selamat."
Sontak kelakuan Vante dihadiahi sorakan menggoda dari para kru.
Namun euforia itu tidak berlangsung lama. Sebab salah seorang kru yang terlihat mabuk berteriak memanggil Vante.
"VANTEEEE.. PACARMU MENCARI DI DEPAN."
Keheningan tiba-tiba menjalari ruangan. Vante dan Mela saling bertatapan. Seolah bisa merasakan kekhawatiran Mela, Vante berdiri dan dengan lembut menggenggam tangan Mela. "Apa kau bisa ikut?"
Sebenarnya Mela berusaha keras untuk menghargai Vante dan masa lalunya. Tapi melihat lampu hijau dari Vante, gadis itu lantas tidak menutupi rasa penasarannya dan mengangguk.
"Maaf, aku dan pacarku harus keluar untuk membereskan masalah kecil sebentar."
Saat Vante dan Mela keluar dari ruangan, beberapa rekan kerja kru yang mabuk itu menghampiri dan menoyor kepalanya.
"Siapa yang kau maksud pacar Vante!? Jelas-jelas pacar Vante itu Mela."
"Aku tidak terlalu ingat. Tapi dia memang mengatakan dialah pacar Vante."
"Apa kau mengenalnya?"
"Tidak. Tapi dandanannya seperti seorang artis."
.....
Benar dugaan Vante. Siapa lagi kalau bukan Sally?
"Untuk apa kau kemari?" tanya Vante dingin.
Sally menitikkan air mata dan langsung merangsek ke pelukan Vante. Bahkan tidak memperhatikan bahwa tangan pemuda itu sedang menggenggam erat tangan Mela.
Mela bisa merasakan keringat dingin menjalari tangan Vante. Ekspresinya sekarang terlihat jijik dan benci. Vante melepas kuat tubuh Sally dengan sebelah tangan yang terbebas dari genggaman Mela. Nadanya benar-benar dingin dan terasa seperti menahan amarah. "Kau tidak lihat aku sedang bersama pacarku?"
Sally terkejut dan menggeleng pelan. "T-tidak mungkin. Kau masih mencintaiku. Vante oppa, gadis ini pasti hanya pelampiasanmu saja, kan?"
Meski tahu perkataan Sally terdengar mengada-ada, tetap saja dada Mela mendadak sakit seolah diremuk saat mendengar kata-kata kejam itu menguar. Bukan tidak mungkin sebenarnya Vante menjadikan dirinya pelampiasan. Bodoh. Mengapa Mela baru terpikirkan hal ini sekarang?
Vante menggeleng tak habis pikir. "Ada apa dengan imajinasimu? Bukankah saat itu sudah jelas kita putus? Lagipula aku sudah tidak mencintaimu. Untuk apa kau memintaku kembali?"
"Oppa, aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Aku rela melpaskan karirku demi dirimu. Sekarang aku sudah bukan member Rainbow. Oppa, aku sangat mencintaimu."
Entah Vante harus bersyukur atau tidak, perasaannya untuk gadis di depannya ini kini sudah benar-benar tidak bersisa lagi. Bahkan Vante sulit merasa iba dengan keadaan Sally kendati dirinya bilang telah melakukan segalanya untuk bisa bersama Vante.
Maaf saja, Vante tidak sebaik itu.
"Harusnya kau tidak gegabah. Ha—" Vante merasakan tangannya yang genggaman Mela melemah. Vante rasa mungkin Mela cukup terguncang. Vante refleks membawa Mela dalam pelukannya. Menciumi pucuk kepala gadis itu untuk sekadar menenangkan gadisnya.
Mela meremas ujung sweater Vante.
Vante menangkup wajah Mela dan menatapnya dengan pandangan menenangkan. Berkata lembut, "Tahan sebentar lagi, hm?"
Sally menangis melihat pemandangan di depannya. Bagaimana bisa? Bahkan semasa mereka pacaran dulu Vante tidak pernah memperlakukannya sesayang dan selembut itu. "Ini tidak adil!"
Vante mengalihkan pandang dan menatap tajam Sally. "Apa maksudmu tidak adil?" Vante membentak, "Sudah cukup!"
"Sally, kau dengar. Jika kau punya nyali untuk menggangguku ataupun kekasihku, siap-siap kehilangan segalanya."
.....
Meski sedikit tidak rela, mau-tidak mau Vante setuju dengan kepulangan Mela.
"Ingat untuk selalu memberi kabar, ya? Kau tahu aku tidak akan tidur sebelum tahu kabarmu, kan?"
Mela tersenyum dan mengangguk. "Iya.."
"Kapan kau kesini lagi?"
"Dua bulan dari sekarang, saat libur semester."
"Kuliahmu masih berapa lama?"
"Normalnya 2 tahun lagi."
"Bisa tidak kau buat jadi setengah tahun lagi?"
Mela tertawa kecil, "Tidak."
Vante menunduk sedih. Bibir bawahnya semakin naik menandakan dirinya yabg sangat kecewa.
"Tapi sepertinya bisa diusahakan jadi 1 tahun lagi."
"Benarkah?"
"Iya. Tapi risikonya aku jadi tidak punya waktu banyak untuk menghubungimu."
Vante kembali bimbang. "Ya sudah. Terserah kau saja."
"Tenang. Sesibuk-sibuknya aku pasti akan menghubungimu."
"Janji, ya?"
"Tentu saja. Aku berangkat, ya?"
Mela ingin melepaskan tautan tangan mereka. Tapi Vante malah semakin mengeratkan tautan. "Ciumnya mana?"
Mela terbelalak. Wajahnya memerah. "D-disini?"
Vante tidak menjawab dan malah mencuri ciuman dari Mela. Mela mengalungkan lengan di leher Vante dan membalas pagutan.
Mereka sadar beberapa orang yang lewat mengambil gambar. Mungkin foto mereka akan menjadi trending di media sosial. Tapi mereka tidak peduli. Sebab cinta mereka sungguhan.
End.
Epilog.
"MELAAAA.." Prisilla berlari dan memeluk sang sahabat saat melihat siluet Mela yang tengah menggeret koper.
Mela tersenyum dan membalas pelukan Prisilla. "Kangen banget aku, Sil.."
Prisilla melepaskan pelukan dan menyadari Mela memakai kacamata hitam. "Gila. Lo pulang-pulang jadi artis."
"Iyain." Mela melirik Jimmy yang berdiri sedari tadi dengan senyuman. Mela melambaikan tangan. "Bang Jimmy."
"Yo!" Jimmy tersenyum. Kemudian menunjukkan handphonenya yang ternyata sedari tadi terhubung panggilan video dengan Vante. "Istrimu mendarat dengan selamat."
📞"Syukurlah. Sayang kau baik-baik saja?" Vante di seberang sambungan bertanya dengan senyuman. Tampak pemuda itu kini berbaring di ranjangnya dengan kemeja kotak-kotak kesayangan.
"Woo sayang dia bilang dek. Ada apa, nih?" goda Jimmy. Sebenarnya dia sudah tahu jauh-jauh hari, lebih tepatnya satu hari setelah Vante dan Mela resmi jadian.
Wajah Mela tersipu. "Udah, ih bang Jimmy jangan pura-pura ga tau. Aku tau kok Vante udah kasih tau bang Jimmy duluan."
"Kasih tau apa? Lo beneran jadian sama Vante?" tebak Prisilla penasaran.
Mela mengangguk malu.
"Wahhh.. Gila, temen gue pacaran sama artis Korea! PJ ga mau tau!"
"Iya, ntar.." Mela kembali fokus menatap Vante yang terlihat mengantuk di balik sambungan. Maklum perbedaan waktu Jakarta dan Seoul adalah 2 jam. Waktu di Seoul sama dengan WIT. "Oppa, kau mengantuk? Tidur yang nyenyak, ya. Besok pagi aku akan menghubungimu."
Vante mengangguk dan melambaikan tangan. "Sampai jumpa besok. Selamat malam."
Setelah sambungan terputus, Jimmy tiba-tiba teringat sesuatu. "Oh, iya. Barusan kemarin orangtua kamu di Milan nelfon bang Jimmy. Katanya kamu ga ada mau jelasin sesuatu, gitu?"
Mela terbelalak.
"Oh, iya!"
.....
Makasih sudah meluangkan waktu untuk membaca Dating By Accident sampai tamat. Aku tau kok ini cerpen tapi panjang banget 🤣 Terus terang kaget juga bisa bikin sepanjang ini. Kalo dibikin novel bisa dapat 6-9 bab wkwk..