"Aku tidak tertarik untuk memiliki kekasih sepertimu!" Ketus pria tampan yang bernama lengkap Angga Aditya itu.
"Kamu nolak aku, tapi aku sayang banget sama kamu Ngga" jelas wanita yang satu kampus dengannya itu.
Disalah satu kampus ternama, ia dijuluki sebagai bad boy yang disegani. Karena sepak terjangnya dalam hal-hal kriminalitas di dunia yang fana ini. Ia memiliki kepercayaan diri tinggi dan ketampanan yang tidak diragukan lagi.
Hari ini, di kantin kampus, Angga dan dua sahabatnya sedang merokok dan sibuk berbincang-bincang.
"Ngga, lu kalo nyari calon istri ntar yang kaya gimana sih? Clara cewek paling cantik di kampus ini aja lu tolak mentah-mentah" Tanya temannya yang bernama Satria Saputra.
"Ya nyari yang baiklah. Kalo bisa yang sholehah dan bisa menjadi ibu yang baik bagi anak-anak gua kelak"
"Lah, makhluk berengsek kaya lu ko milih cewek Sholehah?"
"Ya namanya juga milih, ya milih yang terbaik lah. Seberengsek apapun cowok, pasti dia bakal milih cewek yang terbaik untuk dinikahinya"
"Salut gue sama lu, Bro." puji temannya, Agung.
Saat mereka selesai menikmati sarapannya, tiba-tiba ada seseorang yang berteriak memanggil nama Angga.
"Angga!" Teriak seorang wanita bertubuh sexy yang menghampirinya.
Wanita itu bernama Clara, ia adalah wanita tercantik dan terkaya di kampusnya. Ia sangat tergila-gila pada Angga. Hal itu lah yang membuat Angga menjadi risih dan tidak ingin bertemu dengannya.
"Cabut yuk, ada parasit!" Ucap Angga saat melihat Clara menghampirinya.
"Lah, tapi Ngga" kata Agung.
Melihat sahabatnya pergi, Agung dan Satria pun mengikuti langkah sahabatnya.
"Ih ko jahat banget sih! Malah ninggalin Clara" gerutunya.
Karena sudah menunjukkan pukul 9 dimana jam kuliah pertama sudah dimulai, dengan terpaksa mereka bertiga masuk kedalam kelas.
"Sayang!!!," pekik seorang wanita dengan berlarian kecil menghampiri Angga yang ada didepan pintu. Wanita berpakaian ketat itu pun langsung memeluk nya.
Semua mahasiswi yang ada didalam kelas tersebut merasa iri dan sangat patah hati saat melihat Sherly berpelukan dengan Angga. Tapi, ada satu wanita yang terlihat cuek dan biasa saja. Wanita itu mengenakan pakaian tertutup yang membuatnya sangat dihormati oleh laki-laki. Ia bernama Jesna Abimana.
"Buatin tugas gue!" Ucap Angga lalu melempar bukunya di meja Jesna. Namun, malah mendarat ke kepalanya.
Buku tersebut mendarat tepat di kepala Jesna, yang membuatnya merasa sedikit pusing.
"Kan bisa dikasih baik-baik, ga perlu dilempar." Gerutu Jesna didalam hatinya.
"Eh cewek jelek! Buatin tugas gue juga ya"
Hampir seluruh mahasiswi meletakkan buku mereka diatas meja Jesna. Jesna memang dikenal sebagai mahasiswi terbaik dan sangat rajin. Namun, ia memiliki sikap bungkam seribu bahasa. Ia tidak mau berbicara dengan siapapun yang tidak benar-benar ia kenal. Hal itu membuat manusia-manusia berengsek memanfaatkan ketidakberdayaan nya.
"Ambil buku kalian! Cuma gue yang boleh minta buatin sama tuh anak!" Tegas Angga yang membuat semua orang langsung menuruti perintahnya.
"Ko kamu gitu sih sayang! Jangan-jangan kamu suka ya, sama si jelek!" Tanya Sherly dengan ekspresi curiga.
"Ya engga lah! Masa gue suka sama cewek item kaya dia!"
Kata-kata hinaan itu sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Jesna, secara fisik ia terlihat baik-baik saja, namun, siapa sangka didalam hatinya terdapat dunia rasa sakit dan luka.
Saat dosen sudah selesai memberikan materi, Angga pun menghampiri Jesna untuk menanyakan tugasnya.
"Mana tugas gue?" Angga menarik satu kursi dan duduk disamping Jesna. Karena terlalu dekat, Jesna pun sedikit menggeser posisinya.
"Be-belum selesai" jawab Jesna dengan terbata-bata.
"Lo gimana sih! Padahal tinggal nyalin doang susah bener!" Angga berteriak pada Jesna.
"Maafin saya" ucap Jesna yang terlihat gugup.
Dengan kasar, Angga merebut buku yang sedang ditulis oleh Jesna. Ia kemudian menarik tangan Jesna dan membawanya pergi.
"Pasti Angga marah besar tuh" kata Agung.
"Iya, abis marah, disayang tuh." sambung Satria.
Semua mahasiswa/i memperhatikan mereka berdua selama perjalanan, ada yang iri dan ada yang senang. Mereka iri melihat Angga memegang tangan Jesna, tapi mereka juga senang melihat Jesna tertekan.
Saat sudah sampai di atap kampus, Angga menghentikan langkahnya dan melepaskan tangan Jesna.
"Duduk!" Ketusnya pada Jesna.
Mereka duduk bersampingan disebuah kursi yang cukup panjang.
"Lo tuh kenapa sih selalu diem aja kalo ada yang menghina! Lo ga punya mulut buat ngomong!" Lagi-lagi Angga bertanya dengan intonasi yang tinggi.
Jesna tidak menjawab apa-apa, ia malah sibuk melanjutkan tugas Angga.
"Lo tuh udah jelek, budeg juga ya!" Teriaknya lagi.
Mendengar itu, membuat Jesna berhenti menulis, ia hanya bisa tersenyum menatap langit biru diatasnya.
"Emang, kalo saya ngomong, mereka atau kamu bakalan dengerin? Belum tidur pun saya sudah bermimpi jika itu tidak akan pernah terjadi, saya diam bukan karena saya lemah.Tapi saya sadar banyak bicara malah akan menimbulkan masalah" Jelas jesna dengan telaga yang sudah penuh dimatanya.
"Saya emang jelek, tapi saya ingat, jika kupu-kupu yang cantik sekalipun pernah menjadi ulat yang menjijikkan. Dan saya tidak marah jika kamu bilang saya hitam, lagi pula spidol lebih mahal dari pada kapur"
"Ya tapi Lo tuh terlalu lemah dimata mereka, Lo tuh harus ikutin kata-kata gue! Gue mohon, sesekali lawan Gue!"
"ANGGA!" panggil Clara dari jarak yang cukup jauh.
"Lo pergi aja ke kelas, gue mau urusin nih manusia" perintah Angga.
"Saya mau disini," tolak Jesna.
"Angga! Kamu kenapa sih berusaha terus buat menghindar dari aku. Apa jangan-jangan karna ini cewek!" Tegas Clara sambil menunjuk Jesna.
"Lo buruan pergi" perintah Angga lagi, namun, Jesna tetap menolaknya.
Karena kesal, Clara menyiramkan gelas berisi coklat panas yang ia bawa ke jilbab Jesna.
Coklat itu tidak terlalu panas, namun membuat jilbab yang dikenakan Jesna menjadi kotor. Tidak hanya menyiram Jesna, Clara juga menarik jilbab Jesna.
"Aw sakit" teriak Jesna.
"Lepasin dia atau gue patahin tangan Lo!" Ketus Angga. Lalu Clara melepaskan tangannya.
"Berani Lo sentuh istri gue lagi, kelar hidup Lo!" tegas Angga dengan tatapan mematikan.
Angga terlihat sangat marah karena perilaku Clara yang menganggu Jesna.
"Istri?" Clara mengerutkan keningnya karena tidak percaya.
"Iya! Dia istri gue! Jadi lo sama temen-temen lo jangan pernah gangguin istri gue! Paham!" Ucap Angga dengan penuh penegasan.
"Kamu bakal nyesel Angga!" Clara pergi dengan perasaan marah.
"Lo baik-baik aja kan? Gue bakal suruh orang buat ambil baju Lo"
"Kamu tidak usah sok peduli sama saya dan saya bukan istri kamu!" Tegas Jesna dengan air mata yang telah membasahi pipinya.
Dengan baju yang sudah terkena noda, Jesna pun memutuskan untuk pulang.
"Kenapa sih Lo tuh jahat banget sama gue! Gue udah berjuang, tapi Lo ga pernah hargain gue!" Teriaknya pada Jesna.
"Saya tidak suka mendekati masalah" jawab Jesna lalu pergi meninggalkan Angga.
Jam kuliah pun berlalu. Seperti biasanya, mereka bertiga, Angga, Satria dan Agung, tidak langsung pulang kerumah melainkan pergi ke lokasi balapan liar yang sudah mereka tentukan.
Mereka memasang taruhan yang cukup besar, yakni 100 juta. Setiap kalinya, Angga selalu menang saat balapan, namun, kali ini ia terlihat sengaja mengalah. Uang 100 juta lenyap dan ia mengalami kekalahan.
Uang 1 miliar pun tidak masalah untuk dikeluarkan olehnya, namun, karena sebuah alasan ia harus dengan sengaja melakukannya.
"Ngga, lu baik-baik aja, kan" tanya Satria.
Angga mengangguk pelan.
"Hai" sapa seorang wanita yang adalah lawan Angga saat balapan tadi.
Agung dan Satria pun dengan peka meninggalkan mereka berdua.
Wanita itu mendekati Angga dengan tubuh sexy nya, dan dengan belahan dada yang terbuka, ia mendekatkan tubuhnya pada Angga.
"Maafkan aku karena membuatmu kecewa" Ia membisikkan itu ke telinga Angga.
"Mau ikut denganku?" Ajak Angga.
"Dengan senang hati" jawabnya.
Angga mengajak wanita itu kedalam mobilnya. Bukannya senang, Angga malah memasang ekspresi dingin diwajahnya.
"Kamu masih marah?" Tanya wanita itu.
"Gue cuma mau kasih tau sama Lo, kalau hari ini hari terakhir balapan gue. Dan ingat! Kemenangan Lo hari ini adalah rasa kasihan gue!" Ucap Angga dengan penuh penegasan.
"Maksud kamu? Kamu sengaja ngalah?"
Ckittttttttttttttt ...
Angga menghentikan mobil mewahnya secara mendadak, "Iya" Angga lalu membukakan pintu mobilnya dan mempersilahkan wanita itu untuk keluar dari mobilnya.
"Ah, gue harus minta maaf sama dia. Pasti kepalanya sakit pas gue lempar pake buku" ucap Angga seraya mengingat-ingat kejadian waktu di kampus siang tadi.
Dengan cepat ia melajukan kendaraannya dan pergi ke sebuah apotek.
"Saya mau beli obat"
"Obat apa ya kak?"
"Terserah"
"Ga ada obat yang namanya terserah, Kak"
"Maksud saya obat apa aja yang penting obat"
"Rp. 299.000"
"Ko murah banget? Cari obat yang paling mahal lah!"
"Rp. 1.200.000."
Angga pun memberikan kartu kreditnya. Pelayan kasir itu cukup terkejut saat melihat kartu kredit milik Angga, dimana kartu itu hanya dimiliki oleh orang-orang yang sudah memiliki kekayaan mencapai kurang lebih 14 miliar.
"Ya ampun, udah ganteng kaya lagi" ucap seorang kasir wanita itu dengan tidak berkedip saat menatap Angga.
Kejadian seperti itu sudah biasa ia alami. Menurut Angga, para wanita kebanyakan tertarik padanya karena fisik dan juga materinya. Biasalah namanya juga betina.
"Dimana ya, rumah baru tuh cewek?" Tanyanya pada diri sendiri.
"Mana udah malem lagi! Udah tidur belum ya?"
Pesan grup,,,
"BRO, minta alamatnya Jesna dong. Ada perlu nih mau ngambil tugas"
Angga mengirimkan pesan tersebut pada sahabatnya.
"Mau ngapain hayo? Ciee ada yang mau datang kerumah cewek nih" ujar Satria menggoda Angga.
"Ga tau nih, tapi kayanya mau ngelamar anak orang nih" sambung Agung.
"Kasih tau gue cepet!!!"
"Dih!! Ngegas! Mana tadi pulangnya ga bilang-bilang lagi"
"Nih alamatnya"
Setelah mendapatkan alamat rumah Jesna, dengan segera Angga langsung mempercepat perjalanannya.
Saat sampai di alamat yang temannya berikan, Angga terlihat bingung dan sedikit tidak percaya.
"Panti asuhan? Dia tinggal di panti? Bukannya dulu dirumah mewah?"
Karena sudah pukul 22.00. kondisinya sudah sangat sepi, dengan memberanikan diri Angga bertanya pada Satpam yang bertugas disana.
"Pak, saya mau cari Jesna"
"Mau apa kamu cari-cari Jesna?" Tanya satpam itu dengan sinis.
"Bapak kepo banget sih! Ya terserah saya mau ngapain!" Ketus Angga.
Karena suara Angga yang cukup keras, membuat Jesna yang masih sibuk mengerjakan tugas kuliahnya terganggu dan akhirnya menyelidiki sumber suara tersebut.
"Ada apa Pak?" Tanya nya pada satpam.
"Ini Non, ada yang cariin Non Jesna"
"Jesna! Lo kenal kan sama gue!" Teriak Angga dari luar pagar.
"Kamu mau ngapain?" Tanya Jesna.
"Gue cuma mau ngasih obat buat Lo!"
"Obat?" Tanya Jesna dengan raut wajah kebingungan.
"Kepala Lo sakit kan pasti karena buku tadi? Nih obat buat Lo!" Dari luar pagar, Angga melemparkan obat tersebut ke arah Jesna.
Jesna pun berhasil menangkap bungkusan plastik berisi obat tersebut. Tanpa ia sadari, Angga pergi dengan cepat tanpa berpamitan dengan nya.
"Eh, kok langsung pergi?"
Keesokan paginya, saat dikampus mereka berdua kembali bertemu. Namun, kali ini Jesna yang menemui Angga di atas atap sekolah mereka. Angga sedang merokok sendirian di sana.
"Nih obat kamu" Jesna mengembalikan bungkusan yang diberikan Angga padanya semalam.
"Itu buat Lo. Dan semuanya buat Lo!"
"Saya ga sakit, jadi kamu bisa kasih sama yang lebih membutuhkan" tegas Jesna tanpa menatap Angga sedikitpun.
Jesna lalu melangkahkan kakinya dan pergi meninggalkan Angga,
"Dulu, aku yang mengejar mu. Dan sekarang, kamu yang aku kejar" ucap Angga dengan tatapan kosongnya.
"Gue udah berubah! Gue udah berusaha buat jadi lebih baik lagi, gue juga udah berhenti buat balapan. Walaupun baru kemaren" teriak Angga.
Ucapan itu membuat langkah kaki Jesna terhenti. Perlahan, Angga pun mendekatinya. "Gue cinta sama Lo dan masih tetap cinta sama Lo!"
"Gue udah coba buat ngelupain Lo! Gue juga udah berusaha untuk ga cinta lagi sama Lo! Tapi nyatanya, gue tetep ga bisa!"
"Lo pikir! Kenapa gue selalu bully ataupun nyuruh Lo, karna gue mau deket terus sama Lo!" Sambungnya.
Air mata Angga menetes didepan Jesna. Ia terlihat sangat kesal dan penuh emosi. Angga menendang apa saja yang ada di sana untuk melampiaskan kekesalannya. Ia meremas rambutnya sendiri lalu meninju dinding dengan kuat. Yang membuat punggung tangannya mengeluarkan darah.
"Terima kasih karna telah mencintaiku selama itu"
"Tapi ..."
"Tapi apa?" Angga langsung memotong ucapan Jesna.
"Aku belum bisa menerima mu,"
Penolakan itu seketika meremukkan hati Angga yang awalnya sudah hancur berkeping-keping.
"AKHHH!!!!" teriak Angga dengan melampiaskan tangannya ke dinding dengan keras.
"Aku akan menerima mu, jika kamu sudah menemui orang tuaku" lanjut Jesna.
Tangis kebahagiaan pun mengiringi keduanya.
"Kenapa sih kalo ngomong harus setengah-setengah" ucap Angga seraya mengusap air matanya.
Tanpa diduga-duga, Angga mengeluarkan kotak merah berbentuk cinta dari saku celananya. Namun, sebelum itu ia terlihat meletakkan ponselnya disebuah kursi yang ada didekat mereka.
Angga berlutut dihadapan pujaan hatinya, lalu membuka kotak berbentuk hati tersebut.
"Mau, kan?" Tanya Angga.
Jesna mengangguk pelan. Yang membuat Angga tersenyum bahagia. Dan langsung memasangkan cincin dijari manis Jesna.
"ANGGA!!!!!!!!!!" Semua mahasiswi datang ke atas atap dan berteriak memanggil namanya.
"Potek hati gue vgst!"
"Mana siaran langsung lagi, hiks hiks"
Tanpa Jesna sadari, Angga melakukan siaran langsung di akun media sosialnya.
"Kamu ngundang mereka?" Tanya Jesna.
"Engga ko, mereka datang sendiri. Mungkin karena itu" Ucap Angga seraya menunjuk ponselnya.
Senyum bahagia pun terukir di wajah keduanya.