"Ngapain sih kamu pake baju kayak gini, kurang bahan, ganti!" Bentak seorang pria ketika melihat gadis nya memakai baju yang memperlihatkan pusarnya
Niatnya memang baik, namun cara penyampaian nya yang salah, dia selalu kasar pada gadisnya itu, dan egois, sebenarnya mereka bukanlah sepasang kekasih, atau pacar, mereka hanya teman, yang saling memiliki perasaan, namun pria itu memiliki kekasih, sedangkan gadis itu, bahkan ketika hendak dekat dengan pria lain saja dia masih memikirkan pria itu.
"Rey, gua bukan pacar lu, stop deh larang-larang gua" kesal sang gadis
"Gak boleh! Pokoknya ganti! Gua gak mau cowok lain liat perut lu" ucap sang pria
Akhirnya gadis itu mengganti kausnya dan celananya juga. Gadis itu tersenyum pada sang pria yang tengah menunggunya. Dengan memainkan gawai nya.
"Rin udah belum?" tanya Rey
"Udah! Nungguin ya? Ngomong-ngomong Reva gimana?" Tanya Rin
"Baik, ayo, katanya gak mau banyak orang, keburu banyak orang nanti"
Rey menarik tangan Rin lembut, dia tak suka jika Rin membahas tentang Reva, meskipun Reva adalah pacarnya, namun ketika bersama Rin dia hanya ingin membicarakan tentang mereka berdua tanpa ada nama Reva di dalamnya.
"Ntar kemping bareng gua yuk! Kita ke Bandung" ajak Rey
"Kagak tahu" jawab Rin cuek
"Lu bakalan kuat kagak?" tanya Rey melihat Rin yang asyik memainkan daun di tangan kanannya, karena tangan kirinya di gandeng oleh Rey.
"Kuat sih kuat, tapi gua gak tahu di izinin atau nggak" jawab Rin melihat ke arah Rey, mata Rey dan Rin saling bertatapan, membuat Rin salah tingkah dan akhirnya membuang muka.
"Ayolah, berdua aja sama gua yok" ajak Rey lagi
"Nggak deh Rey"
"Kenapa sih!?! Kayak yang benci banget sama gua"
Rin yang mendapat bentakan itu menjadi kelabakan, Rin melihat ke sekeliling, untung nya hanya ada mereka berdua. Rin menatap tajam Rey, kesal.
"Bukan gitu Reynand, Gua tuh emang mager aja, lagian ke Bandung, jauh ah, gak bakalan di izinin, apalagi cuma berdua" jawab Rin kesal namun masih bernada lembut "Kenapa gak ngajak Reva aja?" tanya Rin yang membuat Rey kembali kesal
"Lu tuh kenapa sih, setiap kita lagi berdua selalu aja ada nama dia" kembali bicara dengan nada keras
Kali ini ada beberapa orang yang melihat kejadian itu, dan mereka menatap seakan tidak suka. Rin segera menunduk, malu rasanya.
"Kan gua cuma nanya" jawab Rin lembut bahkan sangat lembut hingga tak terdengar
Reyy hanya bisa menghela nafasnya, ia kemudian mengangkat tubuh Rin, ia tahu jika Rin tengah malu, namun dengan melakukan hal itu Rin justru semakin malu di buatnya
"Rey turunin gua ish" ucap Rin memukul punggung Rey ingin di turunkan "Malu di liatin banyak orang, nanti kalau di katain pacaran gimana?" tanya Rin
"Baguslah" jawab Rey santai
"Ish, please deh"
"Aduh si neng, bikin syirik aja, pacarnya perhatian ya neng" goda seorang ibu-ibu yang tengah melewati mereka
"Tuh kan" Timpal Rin "Turunin gua sekarang"
Rey pun akhirnya menurunkan Rin, dia melihat orang lain yang bergelayut mesra kepada pasangan, ada juga yang tengah saling Pegangan tangan, dan jangan lupakan pasangan yang tengah bercanda mesra.
"Lihat, emang lu gak iri" tanya Rey
"Gak tuh, ngapain iri" jawab Rin
Sebenarnya Rin juga ingin seperti mereka, namun, ia sadar, mereka hanya sebatas teman, dan ia juga sadar jika Rey adalah pacar dari Reva, salah satu orang terdekat nya.
"Lagian lu jomblo Mulu" ledek Rey
"Emang kalau gua punya pacar gak papa?" tanya Rin
"Awas aja kalau berani, gua bawa ke KUA langsung" Kesal Rey
'Tuh kan' batin Rin
***
Rey dan Rin kini tengah berada di salah satu lapangan, ada yang bermain bola, berjualan, bahkan ada juga yang tengah berpacaran. Rey kini tengah merangkul bahu Rin, namun selalu saja Rin tepis, sampai kemudian Rey mencengkeram bahu Rin dengan kasar, karena dia kesal selalu di tepis oleh Rin.
"Sakit Rey" ucap Rin pelan
"Makannya jangan lawan"
Yah, beginilah jika dia mencinta seseorang yang berperangai kasar, dan juga egois. Rin pernah meminta Rey untuk memilih antara dia dan Reva, namun, Rey bilang dia tak bisa memilih di antara keduanya.
"Rey, balik yuk" ajak Rin
"Makan serabi dulu yuk" Rey menarik tangan Rin ke sebuah pondok makan, dia memesan serabi
"Rey, gua gak laper, yuk pulang"
"Diem! Duduk di sana!" bentak Rey yang membuat Rin harus menuruti keinginan nya.
Orang-orang melihat ke arah Rin dan Rey, seolah kasihan kepada Rin. Namun Rey membisikkan sesuatu kepada Rin, dan diangguki oleh Rin. "Gak usah di tanggapi" yah itulah
***
Hari berganti hari, mereka masih sering main bareng, jalan, makan, bahkan chat sampe malem. Dan Rey, jangan tanyakan jika kenapa tidak dengan Reva? Dia, Rey, memiliki sedikit perasaan pada Reva sehingga dia tak tega untuk memutuskan Reva, Rey juga tak mau jika Rin pergi darinya.
"Rin, udah makan belum? gua ada di Deket rumah lu ini"
Rin yang mendapat pesan itu segera melihat keluar jendela, dan benar, ada Rey di sana. Namun agak sedikit jauh dari rumahnya karena, mamanya Rin belum mengenal persis pada Rey.
"Iyah, gua ke sana" jawab Rin
Rin segera turun ke bawah dengan memakai jaketnya, walaupun dia memakai celana pendek. Rey yang melihat itu menatap tajam pada Rin. Dia tidak suka jika Rin memakai baju atau celana yang memperlihatkan lekuk tubuh nya.
"Mau apa?" tanya Rin
"Nih" Rey menyerahkan kantung keresek putih kecil, terlihat sebuah minuman Boba dan sebuah kue coklat.
"Thx" jawab Rin tersenyum sambil mengambilnya
"Lain kali jangan keluar pake celana pendek,gua gak suka" ucap Rey kesal berusaha menahan nada tingginya
Rin yang baru sadar segera menunduk, ia terlalu senang hingga lupa pada penampilan nya di depan Rey. Yaps, Rin selalu senang, mau sepahit atau sekasar apapun Rey.
"Yaudah gua balik ke rumah ya" jawab Rin
"Gua gak diajak?" tanya Rey
"Hm, lain kali aja" jawab Rin
"Yaudah, bye, abisin, jangan lupa di makan" Rey mengelus kepala Rin lembut
Dia sebenarnya selalu menyayangi Rin, namun terkadang sikap Rin yang membuat nya marah, dan dia juga termasuk salah satu orang yang temperamental.
***
"Rey, jangan lupa makan ya" "Rey jangan panas-panas an" "Rey, jangan main game terus ya" "Semangat Reynand" "Gua selalu ada di samping lu Rey" "Jangan terlalu kasar kalau sama Reva ya, cukup ke gua aja"
Semua itu selalu di ucapkan oleh Rin, Dan itulah yang membuat Rey semakin menyayangi Rin dan gak mau kehilangan dia, karena Rin terlalu lembut, karena Rin selalu ada, selalu perhatian dan selalu menurut.
"Rey katanya lu mau pergi ke Bandung? Sama Reva?" tanya Rin
"Iyah, lu sih gak mau" jawab Rey
"Ouh, congrate ya" Rin tersenyum tulus
"Lu cemburu kan?" tanya Rey
"Gak tuh, gua lebih suka sama Third Lapat, daripada lu" Jawab Rin
"Siniin handphone lu" Rey menarik handphone Rin kasar "Siapa third Lapat" dengan nada meninggi
"Idol Thailand" jawab Rin berhati-hati
"Hapus wallpaper nya, ganti sama foto gua, gua lebih ganteng dari dia, udah ah, gua pulang duluan" Dengan kasar Rey meninggalkan Rin di taman
"Hati-hati Rey" Tetap begitu, Rin masih begitu perhatian meskipun Rey sudah kasar padanya
"Bac*t Anj*nk" kesal Rey
Rin terdiam, ia lelah sebenarnya, ia pun ingin berhenti, namun ia selalu tak bisa. Ia selalu menangis dalam diamnya ketika Rey tanpa sengaja mengucapkan kata kotor untuk nya.
***
Sudah beberapa hari ini tak ada kabar dari Rey, Rin pun tak berani untuk chat duluan, karena katanya dia pergi bersama Reva. Rin masih tetap sabar menunggu, kadang jika ia rindu ia akan mendengar kan music dari Rey, you are the reason, yah lagu barat itu pernah di nyanyikan oleh Rey untuk Rin. Terkadang Rin juga melihat fotonya bersama Rey.
"Gua kangen" ucapan itu yang selalu keluar dari mulut nya
Ada satu kebiasaan Rin yang sampai saat ini selalu jadi hobinya. Dia hobi membuat novel, hobi menulis diary, dan juga hoby membuat cerpen. Terkadang Rin mencurahkan segalanya ke dalam semua tulisannya, rasa sakitnya, kecewanya, atau bahkan ketidak kuatan dia.
"Rey"
Akhirnya, ia duluan yang chat pada Rey, namun hanya di baca, satu menit, Rin masih menunggu, dua menit, masih sama, 10 menit, masih juga sama, sampai satu jam, tak ada balasan sama sekali.
"Lagi apa? Kapan pulang? Jauh banget gak? Jangan capek-capek ya, Jangan lupa banyakin minum" lagi!!! Rin mengirim pesan pada Rey
Setelah satu jam, pesan itu baru di baca, namun lagi-lagi tak di balas oleh Rey, walaupun Rin merasa sakit, namun ia berfikir positif terlebih dahulu. Mungkin sinyal di Bandung sedang jelek, atau mungkin Rey dan Reva tengah berduaan.
***
Pagi ini Rin sudah siap untuk pergi ke sekolah, dia melihat pesan nya belum sama sekali di balas, dengan penuh keyakinan Rin mengetikkan lagi pesan pada Rey, berharap kali ini di balas.
"Rey, gua sayang sama lu, see you"
Dibaca, tiba-tiba Rey menelpon Rin, belum sempat Rin angkat, tiba-tiba ada sebuah sepeda motor yang menyenggol nya dan membuatnya terdorong ke jalan raya dan bus pun melintas menabraknya hingga terpental begitu jauh.
"Rey, gua sayang sama lu" Sebelum hilang kesadaran nya dia sempat mengucapkan hal itu, berharap Rey dapat mendengarnya, di sampingnya, handphonenya terus berdering, telpon dari Rey.
"Cepat tolong anak itu"
Rin segera di larikan ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan, darah terus mengalir dari dahi kanannya, dan terdapat beberapa lebam di tubuhnya akibat terpental begitu jauh.
***
Sementara itu, di Bandung, Reva tengah memakan sebuah pop mie dan Rey yang tengah berdiri agak jauh darinya, Rey mencoba terus menerus menelpon Rin, namun tak di angkat, sampai kemudian tidak aktif.
"Rin jangan buat gua panik" ucap Rey pelan
Kemudian seseorang memberitahunya satu hal
"Rey, ini gua Rin, handphone gua kelindes truk, gua baik-baik saja kok, lu jangan khawatir"
Mendapatkan pesan seperti itu akhirnya Rey tenang, dia kembali ke dekat Reva, sikapnya pada Reva dan sikapnya pada Rin sangat berbeda. Rey terkesan lebih cuek pada Reva, mau Reva memakai pakaian sependek apapun dia tak akan marah, dan Reva jika membicarakan Rin pun Rey selalu menjawabnya, bagi Rey, Rin selalu ada di setiap pembicaraan nya adalah suatu hal yang bagus.
***
Saat di rumah sakit, Rin memberitahu sahabat dan keluarga nya agar tak ada yang memberitahu Rey akan kondisi nya, mau itu hidup ataupun mati, karena Rey tengah bahagia, dan setelah itu Rey akan menghadapi ujian sekolah di sekolah nya, karena sekolah mereka berdua berbeda. Ia tak mau Rey tahu dan terbebani. Dan keluarga serta sahabatnya setuju.
"Maafin Rin semuanya" kata itu yang terakhir diucapkan seorang Rin, sebelum akhirnya dia dinyatakan meninggal dunia
***
Sudah satu bulan Rey tak bertemu Rin, rumah Rin pun selalu kelihatan sepi, ketika dia bertanya pada sahabatnya dan juga sahabat Rin, mereka hanya mengatakan jika Rin dan keluarga nya tengah berlibur ke luar kota selama 2 bulan.
Yang kenyataannya justru keluarga Rin selalu bersembunyi jika ada Rey ke dekat rumah mereka. Rey masih bersama Reva, namun Sikap Rey pada Reva semakin menjadi, dia benar-benar sudah tak peduli pada pacarnya itu. Disaat mereka berpacaran hanya jawaban singkat yang di dapatkan oleh Reva.
***
Ujian sekolah Rey sudah selesai, dan hasilnya pun memuaskan, Rey di terima di sebuah kampus besar, universitas gadjah Mada. Rey akan memberitahu hal baik ini pada Rin, dengan langsung ke sekolah Rin, karena 2 bulan juga sudah lewat yang berarti Rin sudah pulang.
"Rin nya ada? Kelas MIPA 3" tanya Rey pada salah seorang siswi ketika ke sana
"Rin?" Tanyanya "Oh, kak Rindu? Bukannya kak Rin udah meninggal dua bulan yang lalu?" tanya siswi itu
Duarrr!!! Bagai tersambar petir, Rey terdiam, kemudian menarik kerah baju siswi itu
"Jangan pernah lu ngomong kek gitu, Rin ada kan? Dia gak meninggal!" bentaknya
Setelah itu Rey pergi meninggalkan sekolah Rin menuju rumah sahabatnya, dia hendak memastikan hal itu sendiri.
"Gung!!! agung!!! Agung" teriak Rey
"Apaan sih Rey? " tanya agung sahabat nya
"Dimana Rin?" tanya Rey
Agung terlihat terdiam, dia menunduk
"Dimana Rin?" tanya Rey dengan membentak
tak ada jawaban "Dimana Rindu gua Gung" tanya Rey kini melunak
Kini Rey meneteskan air matanya "Dimana Rindu Gung"
"Dia udah gak ada Rey, maafin gua, Rin sendiri yang mau biar lu fokus sama belajar lu"
Lemaslah sudah Rey, dia terdiam. "Anterin gua ke rumahnya, gua mau lihat Rin, dia gak mungkin pergi, kalian pasti nge prank gua kan?"
Akhirnya Agung mengantar Rey ke rumah Rin, Agung mengetuk rumah Rin dengan sopan. Rey juga menunggu. Mama Rin membuka pintu, dan mempersilahkan mereka masuk. Yah, mama Rin tahu kalau hari ini adalah kelulusan untuk Rey atau mungkin jika Rin masih ada Rin pun akan merayakan kelulusannya.
"Rindu sudah tidak ada nak Rey" ucapan itu lah yang keluar ketika sebelumnya Rey dan Agung berbasa basi
"Gak mungkin tan, Tante pasti bohong, Rin gak mungkin ninggalin Rey" Kini Rey menangis
"Rin!!! Rin!!! ayo turun sayang!!! Gua di sini!!" teriak Rey
Agung hendak menahan Rey, namun mamanya Rin menahan Agung, membiarkan Rey berbuat sesuka Rey. Rey mencari ke atas ke kamar Rin, namun Rin tak ada. Tangis Rey pecah semakin kencang. Dia memeluk boneka pemberiannya untuk Rin.
"Rin, lu gak bisa tinggalin gua"
Agung pun ikut menangis melihat Rey yang dikenal kasar, kini terlihat rapuh dan lemah, mama Rin juga menangis, betapa besar pengaruh putrinya itu untuk orang lain, orang yang pernah Rin ceritakan namun belum sempat Rin perlihatkan.
***
Kini di depan makam Rin, Rey tengah menangis. Mengingat Rin yang selalu tersenyum padanya, tertawa dengan nya, dan selalu tersipu malu ketika mata mereka bertemu.
***
"Rey, hari ini gua ulang tahun loh, kok lu gak ngucapin?"
"Oh, happy birthday"
"Ish, nyebelin"
Hahaha Rey tertawa melihat Rin yang kesal.
***
"Rey, liat deh gua makan apa?"
"Astaga Rin, cabut gak? keluarin, itu jarum gimana kalau ketelen?"
"Gak mau wlee, eh akhhhh"
"Tuh kan, buruan ke rumah sakit"
"Tapi boong"
Semua momen indah itu terlintas di kepala Rey.
***
"Kalau gua mati duluan gimana?" tanya Rin
"Gua gak akan siap, janji sehidup semati Rin"
"Ya kan gua nanya"
"Gak boleh pokoknya"
"Yaudah Iya deh"
***
"Siapa cowok tadi!!!?" Bentak Rey
"Diiiiia temen" Rin gugup
"Gak ada temen yang pegang tangan" Rey menekan bahu Rin kencang
"Dia temen gua Rey, hiks"
"Bab* bohong Mulu"
Dan perilaku kasar nya
***
"Rin, maafin gua, gua nyesel pernah kasar sama lu, sekarang lu balik lagi ya, gua pengen lu balik lagi Rin, Gua gak sanggup kalau harus tanpa lu, Gua mohon Rin, gua sayang sama lu"
Rey menangis
"Rey, ikhlaskan Rin, dia pasti gak mau lihat lu kaya gini" Agung memegang bahu Rey
"Gua sayang sama lu Rin, see you di kehidupan yang akan datang"
Rey pun pergi, dengan meninggalkan sebuket bunga di atas makam Rin. Walaupun berat, namun ia harus maju, dan hubungannya dengan Reva pun sudah berakhir. Penyesalan bersikap kasar dan mengabaikan pesan Rin masih di rasakan Rey sampai saat ini. Dan kini Rey sudah tak lagi bersikap kasar, dia melakukan semua yang diminta gadis yang di sayangnya itu