Pada zaman dahulu ketika aku masih kecil, mungkin sekitar tahun 2004 dan aku masih berumur 5 tahun saat itu.
Kala itu ada seorang nenek-nenek yang umurnya sudah lebih dari 100 tahun tapi dia masih hidup dan kuat berjalan.
Nenek itu hidup sebatang kara, dia tidak punya suami bahkan tidak punya anak, dia hidup disebuah gubuk kecil yang jauh dari pemukiman penduduk alias dia hidup menyendiri tak mau bertetangga dengan yang lain, nenek itu biasa dipanggil dengan sebutan nenek Penye.
Buat kalian yang tinggal diluar Kalimantan, pasti sudah tidak asing ketika mendengar kata "Kuyang" atau hantu berkepala terbang.
Singkat cerita, pada kala itu warga yang ada di desaku sangat diresahkan dengan keberadaan kuyang yang selalu saja berkeliaran tiap malam didesa kami. Kuyang itu menghisap darah anak-anak kecil yang masih bayi dan juga balita. Kalau kata orang tua, mereka meminum darah itu untuk menjaga kecantikan kulit dan agar bisa hidup abadi selamanya.
Dan kejadian itu terjadi selama bertahun-tahun namun tak pernah ada yang tau siapa dibalik sosok kuyang tersebut.
Sebenarnya para warga sudah mencurigai kalau si nenek Penye ini adalah dalang dibalik sosok kuyang tersebut, namun warga tidak mempunyai cukup bukti kalau dia adalah pelakunya.
Kami para anak-anak yang masih kecil, dilarang untuk main terlalu jauh dari rumah apalagi kalau mainnya sampai Maghrib. Entar bisa diculik sama kuyang itu.
Pada suatu hari, aku dan teman-teman ku main di sebuah bangunan tua yang sudah tidak berpenghuni, kami bermain petak umpet disana.
Tapi kami tidak mengetahui kalau bangunan tersebut letaknya dekat sekali dengan rumah si nenek Penye.
Kami mulai bermain, Salah satu temanku Azul namanya dia bertugas untuk berjaga dan kami yang lainnya bersembunyi.
Kami bermain ada 5 orang.
Aku dan temanku bernama Azizah pergi bersama mencari tempat persembunyian, dan setelah jauh berlari kesana-kemari.
kami tiba-tiba melihat ada sebuah gubuk kecil.
"Rumah siapa itu?" Tanya Azizah padaku.
Kami benar-benar penasaran, siapa coba yang punya rumah di tengah hutan ini.
Kami berniat untuk bersembunyi di gubuk tersebut, lalu kami berjalan perlahan masuk ke perkarangan.
Baru saja kami mau masuk, tiba-tiba seseorang membukakan kami pintu.
"Nenek Penye..." Aku dan Azizah berteriak bersamaan, ketika melihat orang tersebut.
Ketika kami hendak berlari dia menahan dan memegang tangan kami berdua.
Apalah daya kami masih bocah 5 tahun, Kami benar-benar tidak bisa melawannya.
Kami berteriak meminta tolong sekencang-kencangnya, sampai akhirnya teman-teman kami datang menemui kami.
Entah kenapa, ketika melihat teman-teman kami datang.
Si nenek Penye langsung melepaskan tangan kami berdua.
"Kenapa kalian takut sama nenek..." Ucapnya bertanya kepada kami.
Tanpa pikir panjang, kami tidak memperdulikan perkataannya sama sekali.
Kami langsung berlari meninggalkan gubuk tersebut, dan secepat mungkin bisa sampai ke rumah masing-masing.
Kami pulang dengan selamat, namun sesampainya di rumah aku dan teman-teman ku yang lain sudah sepakat untuk tidak memberitahu orang tua kami.
Namun kejadian mengerikan tidak berhenti sampai di situ saja.
Ketika malam hari, waktu aku tertidur pulas.
Tiba-tiba badanku tidak bisa digerakkan sama sekali layaknya sedang ketindihan, namun ini berbeda karena aku bisa merasakan ada sesuatu yang sangat nyeri disekitar paha kananku.
Aku terus berusaha untuk bergerak, kutendang-tendangkan kakiku sekuat mungkin tapi tetap tidak bisa.
Sampai akhirnya beberapa menit kemudian, kakiku bisa digerakkan tapi mataku belum bisa dibuka, lalu kutendangkan kakiku sekuat mungkin.
Dan benar saja, aku merasakan sedang menendang sesuatu seperti sebuah kepala.
Aku benar-benar panik, kepala siapa yang aku tendang barusan.
Setelah menendang kepala tersebut, mataku akhirnya bisa dibuka juga.
Aku melihat kesekitar, ternyata aku tidur sendiri disini tidak ada orang lain.
Lalu Aku teringat akan paha kananku yang sedari tadi nyeri, dan betapa kagetnya diriku ketika melihat pahaku tiba-tiba berwarna biru dengan disertai bekas gigitan.
Keesokan paginya, tiba-tiba ada orang yang mengetuk-ngetuk pintu ku.
Ibu ku menyuruh aku untuk membukakan pintu, dan akupun berjalan dengan kondisi kaki yang sedikit pincang karena nyeri bekas gigitan.
Aku perlahan membukakan pintu, dan betapa kagetnya aku ketika melihat orang yang sedari tadi mengetuk pintu adalah si nenek Penye.
Aku berlari mengadu ke ibuku dengan sangat ketakutan dan berlindung dibalik badannya.
Ibuku menghampiri dia untuk menanyakan tujuan datang kemari, aku bersembunyi di balik pintu sembari mengintip kecil.
Setelah berbicara dengan nenek itu, tiba-tiba ibuku balik ke dapur tapi si nenek Penye masih berdiam diteras rumah.
Aku bingung ada apa sebenarnya yang terjadi.
Tak lama kemudian ibu ku datang lagi, kali ini ibukumembawa beras sekantong plastik.
Ternyata si nenek Penye itu sedang meminta sumbangan beras, karena katanya dia kehabisan beras dan sudah tidak makan beberapa hari ini.
Setelah si nenek Penye itu pergi, aku pamit dari rumah untuk berkumpul dengan teman-teman ku untuk membicarakan kejadian semalam.
Kini aku sudah berkumpul dengan teman-teman ku yang kemarin.
ketika aku hendak bercerita, teman-teman ku yang lain mulai bercerita duluan tentang kejadian aneh yang mereka alami semalam.
Anehnya cerita kita semuanya sama...
Ketika kami tertidur, kaki kami terasa nyeri terus bangun-bangun terdapat luka biru bekas gigitan di paha kanan.
Dan tidak hanya itu, pagi ini si nenek Penye juga meminta sumbangan beras dan sembako sama seperti saat dia datang ke rumahku.
Aku benar-benar tidak mengerti kenapa hal yang kami alami bisa terjadi sama persis satu sama lain.
Saat kita sedang ghibah tentang si nenek Penye, tiba-tiba dia datang lewat didepan kami.
Kami benar-benar berpencar, berteriak dan pulang kerumah masing-masing.
Setelah kejadian tersebut, beberapa hari kemudian tiba-tiba si nenek Penye ditemukan meninggal dunia dirumahnya.
Warga sekitar banyak yang tidak berani untuk datang memandikan jenazah tersebut, hanya ada beberapa orang saja yang berani datang.
menurut pengakuan mereka yang memandikan jenazah si nenek, kata mereka dari mulutnya keluar cairan darah biru yang sangat menyengat.
Dan setelah si nenek Penye meninggal, semenjak itu pula penampakan teror hantu kuyang sudah tidak ada lagi di desa kami sampai sekarang.