Aku kini sudah lulus SMK, dan aku tidak melanjutkan kuliah tapi langsung bekerja.
Aku bekerja di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang distribusi alat kesehatan, aku bekerja sebagai sales marketing, dan kami diwajibkan untuk turun langsung ke lapangan melakukan promosi penjualan produk dan mencari pelanggan.
Beberapa hari belakangan ini aku tidak mendapatkan pelanggan sama sekali, manajer selalu memarahiku.
Sampai akhirnya aku dan 3 orang temanku memutuskan untuk pergi ke sebuah desa terpencil yang jaraknya lumayan jauh dari kepadatan penduduk.
Kami berangkat pagi hari sekitar jam 9, hanya menggunakan 2 motor dan terdiri dari 2 cewe serta 2 cowok.
Kami melewati jalanan yang sangat curam, melewati hutan, dan desa yang ingin kami datangi terletak diatas sebuah gunung.
Ketika kami berada tepat diatas gunung, kami dihadapkan 2 arah jalur. Ada jalur kanan dan jalur kiri, kami belum Pernah kesini sebelumnya dan tentu kami bingung harus pilih jalan yang mana, Sampai akhirnya kita sepakat memilih jalur yang kanan.
Kami terus mengendarai motor, tapi tak kunjung menemukan desa yang kita cari.
Setelah jauh berkendara, tiba-tiba ada sebuah gapura pertanda kami akan memasuki sebuah pedesaan.
Kami sangat senang karena perjalanan jauh tidak sia-sia.
Tetapi Ketika kami melewati gerbang Suasana langit yang tadinya terang, tiba-tiba mendung dengan sendirinya. Dan tak lama kemudian kami menemukan sebuah desa yang penduduk nya sangat sedikit, mungkin tidak sampai 100 orang.
Kami segera menepi dan memarkirkan motor.
Rumah-rumah yang ada disana sangat sederhana, terbuat dari kayu dan atap hanya menggunakan daun kelapa.
Kami berjalan memasuki desa, tapi tak ada satupun manusia yang kami jumpai disana.
"Ise gawi Ikam pependo?"tiba-tiba sosok nenek-nenek dengan rambut beruban muncul dari belakang kami dengan ekspresi marah dan menggunakan pakaian yang bisa dibilang masih sangat tradisional.
Dan karena aku adalah orang asli Kalimantan, jadi aku mengerti apa yang dikatakan oleh si nenek tersebut.
Nenek itu bilang : " apa maksud dan tujuan kalian kesini".
Karena aku mengerti bahasanya, aku langsung menjawab...
"Taka Kakan malan pependo, cuma Kakan begawi tingen cil"
(Kami datang kesini, cuma ingin bersosialisasi saja)
Mendengarku yang bisa mengerti bahasanya, si nenek itu tiba-tiba bingung dan dia tiba-tiba menarik tanganku, lalu dibawa entah kerumahnya.
Sedangkan teman-teman ku yang lain, mereka malah tertawa melihat ku yang ditarik nenek itu dan mereka memutuskan pergi berkunjung ke rumah yang lain.
Sesampainya aku di rumah nenek, dia langsung menginterogasi semuanya.
"Ise Karan ko nak?"
(Siapa namamu nak?)
Nenek itu bertanya dengan suara berbisik-bisik, Entah apa yang dia takutkan.
"Darmin nek" aku memberitahukan namaku.
"Kenone Ikam kuli Sumba, po Kampoeng Endo?
(Kenapa kalian bisa masuk ke desa ini?) Si nenek kembali bertanya, dengan berbisik bisik.
"Emang kenone nek?"
(Emang kenapa nek).
aku mulai bingung, pasti ada sesuatu yang aneh.
"Belo keo Ulun bolum Yo kuli Sumba po Kampoeng Endo. Ena pun keo, dero Belo kuli baling nua"
(Tidak ada satupun orang hidup yang bisa masuk ke desa ini. Kalaupun ada, orang itu tidak akan bisa keluar selamanya).
Mendengar kalimat yang dikatakan si nenek, sungguh aku benar-benar kaget dan tidak mengerti apa maksud dari semua ini.
"Ikam harus muli sekarang lou, ena Ikam Belo muli nyampe malom mo Mendo, Ikam akan tilo memendo"
(Kalian harus pulang sekarang juga, kalau sampai malam kalian disana, kalian tidak akan bisa pulang selamanya)
Ucap si nenek yang membuat aku semakin panik.
"Malom Endo Ulun Kampoeng mo Mendo Keo ritual, dero akan senang ena mite Ikam pependo, kuli jenadi tumbal"
(Ketika malam hari orang di kampung ini akan mengadakan ritual, dan mereka akan sangat senang ketika melihat kedatangan kalian kesini, karena bisa dijadikan tumbal).
Intinya maksud si nenek, di desa ini masih mempercayai keyakinan animisme ,Dimana mereka masih melakukan ritual setiap malam untuk menghormati nenek moyang mereka.
Sebelum aku pergi memberi tahukan teman-teman ku yang lain, si nenek memberikan jampi-jampi semacam jimat gitulah, agar kami bisa keluar dari desa ini dengan selamat.
Aku berterimakasih kepada si nenek, dan segera mencari teman-teman ku yang lain.
Aku terus mencari kesana kemari, tapi tak kunjung menemukan mereka bahkan tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali disini.
Sampai akhirnya aku menemukan mereka diujung desa, dan ternyata para warga semua pada berkumpul disana.
"Weh, cepat pulang ini udah mau malam loh" aku berteriak memanggil nama mereka.
Sontak semua mata langsung tertuju padaku.
"Malam... Iniloh masih siang" salah satu temanku menyahut.
"Kalau kalian gak bisa pulang, jangan salahin aku..." Aku langsung balik dan menuju motor.
Mendengar ancamanku, untung saja teman-teman ku langsung bergegas mengikuti ku.
"Min... Kamu kenapa sih?" Mereka jengkel melihat tingkahku.
"Kalian sadar gak sih, desa ini aneh... Kata nenek tadi, kalau kita sampai malam disini kita gak akan bisa pulang lagi, karena akan dijadikan tumbal" aku menegaskan dan menjelaskan mereka semua.
Tak lama kemudian, tiba-tiba ada satu laki-laki paruh baya membawa golok ditangannya meneriaki kami.
"Hey... Kakan pepone Ikam, Ikam Belo anta kuli muli Ket Mendo"
(Hey... Mau kemana kalian, kami gak akan membiarkan kalian pergi dari sini)
Laki-laki itu berteriak memaki kami sembari mengacungkan golok yang ada ditangannya.
"Apa katanya...?" Teman-teman ku pada ketakutan.
Aku tak menjelaskan, tapi menyuruh mereka agar segera naik ke atas motor supaya cepat pergi dari sini.
Ketika kami hendak berangkat...
"Dasu dero, apan Belo kuli baling Ket Mendo"
(Kejar mereka, jangan sampai keluar dari sini) laki-laki itu mengerahkan beberapa Ekor anjing untuk mengejar mereka.
Entah ada ilmu apa, anjing-anjing itu beneran langsung menuruti perintah dan mengejar kami.
Kami segera mempercepat laju kendaraan dan sangat panik tentunya.
Apalagi aku posisi nya sedang dibonceng, sumpah aku panik banget sampai memukul-mukul temanku agar lebih cepat lagi.
Kalau temanku yang cewek, gak usah ditanya. Mereka sampai nangis ketakutan karena anjing itu terus mengejar bahkan semakin dekat.
Tiba-tiba suasana langit berubah menjadi lebih gelap dari sebelumnya, seperti nya ini sudah hampir malam.
"Cepat gaes... Kalau sampai malam kita tetap disini, kita gak akan bisa pulang" aku berteriak memberitahu mereka.
Tapi setelah jauh berkendara, kami gak kunjung menemukan gerbang yang tadi kami lewati. Entah kami tersesat atau bagaimana, kamipun tak mengerti.
Anjing-anjing yang sedari tadi mengejar kami juga tiba-tiba menghilang.
Kami menepi sebentar dan bingung, harus kemana.
Teman-teman cewek ku pada panik dan nangis, serta saling menyalahkan satu sama lain.
Aku tiba-tiba teringat akan jimat yang dikasih nenek tadi, katanya jimat itu harus aku makan agar bisa keluar dari tempat ini.
Aku segera mengeluarkan dan menelannya.
Teman-teman ku pada kebingungan apa yang aku lakukan, tapi aku diam tetap melanjutkan ritual itu.
Saat aku menelan jimat itu tiba-tiba kepalaku pusing dan aku langsung muntah-muntah, mereka semua pada panik melihat aku seperti itu.
Setelah sekian lama, semua berangsur membaik.
Aku tiba-tiba melihat seekor burung enggang, hinggap diatas pohon. Dan ketika melihat burung itu entah kenapa aku punya feeling, dia yang akan menuntun kami keluar dari sini.
"Hi...hi... Hi..." Tiba-tiba terdengar suara seperti kuntilanak yang sangat nyaring.
Mereka semua panik, tapi aku masih saja mengamati burung enggang yang sedari tadi hinggap di pohon.
Seketika aku melihat burung itu terbang...
"Cepat ikutin burung itu..." Aku berteriak menyuruh pergi mengikuti kemana arah perginya burung itu.
Kamipun bergegas berjalan dengan mengikuti kemana arah burung itu pergi.
Disepanjang perjalanan, aku banyak sekali melihat hal-hal aneh. Aku melihat banyak sekali pocong yang berdiri di pinggir jalan, dan pocong itu bukan pocong biasa karena ukuran nya lebih besar dari pocong yang normal. Selain itu aku juga melihat banyak kuntilanak yang bertengger diatas pohon dan yang lebih aneh hanya aku yang bisa melihat, teman yang lain tidak bisa sama sekali.
Tapi aku berusaha untuk tegar dan tidak memberitahu temanku yang lain agar mereka tidak panik.
Kami terus mengikuti burung itu pergi, sampai akhirnya feeling aku benar.
Kami akhirnya menemukan gerbang yang kami lewati tadi, kami benar-benar bahagia dan menangis karena berhasil keluar dari sini.
Ketika kami berhasil menemukan gerbang, si burung enggang tadi juga Langsung menghilang dengan sendirinya.
Kami terus berjalan, sampai akhirnya menemukan jalan raya. Lalu Kami singgah disebuah warung makan sekaligus membeli bensin.
Dan betapa kagetnya diriku ketika melihat jam dinding yang ada di warung tersebut menunjukkan jam 3 Subuh.
Aku dan teman-teman ku sungguh sangat kaget dengan fenomena ini, bahkan kami ingin memastikan kepada pemilik warung.
Dan ibu warung mengatakan kalau sekarang emang sudah jam 3 Subuh, jam itu benar dan gak salah.
Lalu kami juga bercerita tentang desa yang barusan kami datangi tadi, dan menyebutkan nama desanya sesuai yang tertera di gapura.
"Saya lahir dan besar disini, tapi saya gak pernah sama sekali mendengar nama desa itu" ucap ibu warung terheran-heran.
Mendengar penjelasan itu, kami dibuat tambah bingung. Lantas desa yang kami masuki tadi itu apaan, apakah kami masuk ke desa ghaib atau bagaimana.
Setelah selesai makan, kamipun melanjutkan perjalanan pulang. Tapi sebenarnya kami harus absensi dulu ke kantor.
Sesampainya di kantor, kami langsung dimarahi sama manajer karena pulang telat hingga larut sampai subuh.
Kami berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, tetapi dia tidak percaya dan menganggap semua cerita kami bohong.
Keesokan harinya, beberapa temanku langsung berhenti kerja karena kejadian itu.
Aku sempat masuk Beberapa hari, tapi orang-orang yang ada di kantor malah mengejek cerita kami. Bahkan beberapa dari mereka berusaha untuk mendatangi desa yang kami sebutkan, tapi nyatanya mereka tidak berhasil menemukan desa yang kami ceritakan.
Karena sudah tidak kuat akhirnya aku memutuskan resign mengikuti jejak yang lain.