Seorang bocah laki-laki berusia 10 tahun tengah liburan bersama keluarganya di sebuah pantai di Bali. Sebut saja namanya Levi Miller.
Levi Miller, anak tunggal dari keluarga Miller. Dia memiliki paras yang tampan meskipun ia baru memasuki usia 10 tahun.
Saat sedang berlarian kecil menelusuri pantai, tanpa sadar Levi tersandung pasir pantai sehingga mengakibatkan dirinya menabrak seorang gadis seumurannya. Mereka bertabrakan sehingga membuat keduanya terjatuh.
Levi menindih perempuan tersebut dan tanpa disengaja bibir keduanya saling menyatu. Mata gadis itu membesar saat merasakan benda kenyal di bibirnya, lantas dengan cepat ia mendorong tubuh Levi dengan sekuat tenaga.
Astaga, apa yang barusan kulakukan! batin Levi terkejut.
Levi yang sadar pun langsung berdiri dan meminta maaf kepada perempuan tersebut. Namun sayangnya, anak perempuan itu sudah lebih dulu menangis sambil memarahi serta membentak-bentak Levi.
“Aku minta maaf, aku tidak bermaksud untuk menciummu. Itu adalah kecelakaan, aku benar-benar minta maaf!” ucap Levi dengan rasa bersalah.
“KAU BARUSAJA MENCIUMKU! AKU AKAN MELAPORKANNYA KEPADA IBUKU AGAR IA MEMARAHIMU!” jerit anak perempuan itu dengan lantang.
Levi menatap anak perempuan itu dengan rasa bersalah di lubuh hati lelaki itu. “Aku benar-benar minta maaf, sungguh aku tidak bermaksud untuk menciummu. Aku bersumpah itu adalah sebuah kecelakaan, maafkan aku.”
“Aku membencimu, dasar aneh!” jerit anak perempuan itu dengan tangisan yang masih keluar dari matanya.
Anak perempuan itu sontak berlarian kencang sambil mengusap air matanya yang terus turun menuruni pipinya. Levi hendak mengerjarnya namun langkahnya terhenti karena ia tidak dapat menemukan sosok anak perempuan tadi, ia berlari sangat kencang sampai Levi kehilangan jejaknya.
Levi menghela nafasnya berat, ia menunduk lesu. Perbuatannya sudah membuat seorang anak perempuan menangis histeris, bahkan anak perempuan itu terus-menerus meneriaki Levi.
Saat Levi sedang menunduk lesu, ia melihat sebuah cincin tergeletak di pasir. Levi pun membatin, Pasti ini milik anak perempuan tadi.
Levi memungut cincin itu dan menyimpannya dalam saku celananya. Setelahnya, Levi berjalan mendekati ibunya yang sedang asik berjemur. Levi pun menceritakan segalanya kepada sang ibunda, ibunya hanya tertawa kecil mendengarkan seluruh cerita Levi dengan anak perempuan itu.
Tak terasa waktu telah berjalan selama 15 tahun lamanya. Levi kini sudah menjadi seorang aktor dengan bayaran tinggi, namanya seketika melejit tinggi saat lelaki berusia 25 tahun itu membintangi sebuah film romansa yang sangat amat populer belakangan ini.
Saat sedang beristirahat di ruang tunggu, Levi menghembuskan nafasnya gusar. Ia mengambil sebuah kalung berliontin cincin silver dari balik kaosnya, yang ia temukan 15 tahun yang lalu.
Sebuah kenangan yang tak pernah terlupakan oleh Levi, peristiwa lucu dan konyol yang terjadi antara dirinya dan juga seorang anak perempuan misterius.
Tanpa sadar, lelaki itu tersenyum tipis saat sedang memperhatikan cincin tersebut. Ia sungguh berharap bisa di pertemukan kembali dengan anak perempuan yang telah ia cium dulu. Levi terus memerhatikan cincin silver itu dengan seksama, sebuah ukiran kecil bertuliskan ‘Alea’ terus menghantui pikirannya selama ini.
“Alea, dimana kau saat ini.” gumam Levi dengan suara serak.
Terdengar suara langkah kaki tak jauh dari Levi, dengan cepat Levi menyembunyikan kalung berliontin cincin itu di balik kaos hitamnya. Managernya tengah menatap Levi dengan mimik wajah serius, Levi membalas tatapan dari managernya dengan tatapan datar, tatapannya beralih ke seorang gadis berambut panjang dengan tinggi yang kurang lebih 160 cm. Gadis yang tengah berdiri tepat di sebelah managernya.
“Ini Aleana, dia adalah asisten barumu. Kuharap kalian bisa bekerjasama satu sama lain.” papar sang manager kepada Levi dan Aleana.
Aleana tersenyum sambil mengulurkan tangannya ke hadapan Levi. “Namaku Aleana, kau bisa memanggilku Alea.”
Levi yang melihatnya pun hanya bisa memutar bola matanya malas, ia menghiraukan sosok Aleana dan memilih untuk memainkan ponselnya. Aleana berdecih pelan, kesal dengan sikap Levi yang sangat sombong.
“Dia memang cuek dan terkesan dingin, kuharap kau bisa sabar dengan sifatnya, Aleana.” ucap sang manager dengan penuh harap.
Aleana mengangguk, “Aku akan berusaha semaksimalku.”
“Baiklah, aku akan meninggalkan kalian berdua disini. Aleana, turuti semua kemauan Levi. Jangan sampai ia memintaku untuk memecatmu dihari pertamamu bekerja.” pesan sang manager itu kepada Aleana. Aleana hanya bisa mengangguk pelan dengan senyuman tipisnya.
Sang manager pun pergi meninggalkan Aleana dan Levi berduaan di ruang istirahat itu. Aleana menghembuskan nafasnya berat saat ia melihat sosok Levi yang sangat angkuh itu. Wajah Levi meningatkan Aleana pada bocah laki-laki yang sangat ia benci selama ini, bocah laki-laki yang telah merenggut ciuman pertamanya.
“Levi, apa yang—”
“Diam jika kau tidak ingin di pecat.” tekan Levi kepada Aleana.
“Baik, maafkan—”
“Apa kau tuli? Aku baru saja menyuruhmu untuk diam dan sekarang kau masih saja berbicara?”
Levi menatap wajah Aleana dengan tatapan tajam. Aleana menunduk lesu, tak menyangka aktor ternama ini memiliki sifat yang sangat angkuh dan menyebalkan. Namun Aleana tidak bisa berbuat banyak, ia hanya bisa diam dan menuruti seluruh kemauan dari aktor tampan itu.
Levi berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menjauhi Aleana, ia berniat untuk pergi dari ruangan itu. Hanya saja saat ia sedang melangkahkan kakinya, tanpa sadar ia tersandung tali sepatunya sendiri.
Aleana langsung menarik tubuh Levi agar lelaki itu tidak terjatuh, hanya saja perbedaan ukuran tubuh keduanya tidak memungkinkan untuk Aleana membantu Levi. Akhirnya, Aleana ikut terjatuh bersama Levi dan ia menindih lelaki itu.
Keduanya terjatuh dan tanpa sadar bibir mereka menyatu. Bola matanya mulai membesar dan perasaan lampau mulai kembali, memori akan 15 tahun yang lalu telah terjadi kembali. Aleana segera berdiri dan menjauhi Levi, berbeda dengan Levi yang hanya diam sambil membenarkan posisinya untuk berdiri.
“A-aku minta maaf, aku—”
Perkataan maaf dari Aleana langsung di sanggah oleh Levi, lelaki itu menatap wajah Aleana dengan mimik wajah serius.
“Kau adalah anak perempuan yang kucium 15 tahun yang lalu, bukan?” tanya Levi dengan tatapan penuh tanya.
Aleana membalas tatapan Levi dengan perasaan bingung, “Apa maksudmu?”
Levi mengeluarkan kalung berliontin cincin silver dari balik kaosnya dan menunjukkannya kepada Aleana. “Ini milikmu bukan? Kau adalah anak perempuan yang tanpa sengaja kucium di pantai 15 tahun yang lalu, tekstur bibir kalian terasa mirip.”
Mata Aleana membesar saat mendengar pernyataan dari Levi, mimik wajahnya yang sebelumnya gelisah berubah menjadi marah. Ternyata Levi adalah laki-laki yang selama ini ia benci, lelaki yang telah merenggut ciuman pertamanya.
“KAU!” teriak Aleana dengan wajah merah padam.
“Aku tidak menyangka bisa bertemu lagi denganmu, doaku akhirnya selama ini tercapai. Aku sangat senang bisa bertemu lagi denganmu setelah 15 tahun berlalu.” ungkap Levi dengan jujur, ia tersenyum lembut menatap wajah Aleana yang semakin geram dengan sikapnya.
“ASTAGA! AKU SANGAT MEMBENCIMU!” jerit Aleana dengan segala kebencian di hatinya.
“Kurasa kita impas, aku tanpa sengaja menciummu dulu dan kau tanpa sengaja menciumku sekarang.” ucap Levi dengan senyuman tipis.
“KAU GILA!” bentak Alena kesal.
Aleana langsung menghentakkan kakinya untuk menjauhi Levi, ia keluar dari ruangan tersebut dengan perasaan campur aduk. Berbeda dengan Levi yang justru tersenyum gembira sambil menyentuh bibirnya, tak menyangka dirinya akan bertemu dengan Aleana setelah 15 tahun berlalu.
Aleana yang sedang berada diluar pun mengutuki dirinya karena ia tanpa sengaja telah mencium laki-laki yang sangat ia benci selama ini. Bahkan kini Aleana telah menjadi asisten laki-laki itu.
Namun satu hal yang membuat Aleana resah, mengaja sejak tad jantungnya berdebar tidak karuan. Rasanya sungguh aneh karena Aleana sudah lama tidak pernah merasakan hal ini lagi, apa mungkin ia jatuh cinta dengan pesona seorang Levi Miller?
Aleana sontak menggeleng dan berusaha menghilangkan perasaan itu di lubuh hatinya, “Tidak mungkin aku jatuh cinta dengannya, aku membencinya bukan menyukainya. Ini gila!”
“Tapi apa yang tadi ia katakan sebelumnya? Dia senang bisa bertemu lagi denganku? Doanya terkabul? Apa selama ini ia memikirkan diriku?” racau Aleana dengan perasaan gelisah.
“Iya. Aku selalu memikirkan tentangmu, Alea.” jawab seorang laki-laki bersuara berat dari arah belakang Aleana.
Aleana sontak berbalik dan mendapati Levi dengan berdiri di belakangnya sambil memandangi wajahnya. “Kau! Apa yang kau lakukan disini!”
“Aku merindukanmu. Aku tahu ini aneh tapi semenjak kejadian 15 tahun yang lalu, aku selalu memikirkamu. Bahkan aku berusaha mencari informasi tentangmu namun nihil, aku tidak mendapatkan apa-apa. Dan sekarang kau sudah ada di depanku, keinginanku untuk bertemu denganmu terwujud.” Levi mulai menceritakan segalanya kepada Aleana.
“Aku mencintaimu, Alea. Aku tau ini terdengar gila tapi aku benar-benar mencintaimu.” ungkap Levi dengan mimik wajah serius.
“Kau gila! Kita baru 2 kali bertemu dan kau mengatakan bahwa kau jatuh cinta denganku? Aku bukan tipe gadis yang bisa kau bohongi dengan pesona tampan dan ucapan manismu, Levi.” balas Aleana serius.
Levi menggeleng, “Aku belum pernah jatuh cinta dengan orang lain selain dirimu, Alea.”
“Bohong!” sela Aleana kesal.
“Aku serius. Apa kau tidak pernah memikirkan tentangku selama ini? Kau tidak penasaran dengan bocah laki-laki yang telah menciummu dulu?” Pertanyaan Levi membuat Aleana terdiam.
Aleana memang selalu memikirkan Levi, memikirkan bocah laki-laki yang seenaknya menciumnya dulu. Namun bukan berarti Aleana mencintai Levi, justru Aleana membenci Levi.
“T-tidak!” bohong Aleana.
“Kau berbohong, Alea. Aku bisa melihat ekspresi bohongmu,” ucap Levi dengan senyuman tipis.
“Oke, aku memang sering memikirkanmu tapi itu bukan berarti aku jatuh cinta denganmu. Aku membencimu karena kau telah merenggut ciuman pertamaku!” jelas Aleana kepada Levi.
“Aku tahu.” jawab Levi santai.
Lelaki itu lalu mendekati Aleana dan menatap wajah gadis itu dengan serius, “Benci dan Cinta itu tidak beda jauh. Kau membenciku tapi juga mencintaiku, sedangkan aku tulus mencintaimu.”
Aleana terdiam, hanyut dalam tatapan dalam Levi.
“Aku hanya ingin memulai semuanya dari awal, aku ingin berkenalan denganmu, aku ingin kau menjadi kekasihku.” ucap Levi dengan senyuman tipis dan tatapan dalamnya yang membuat Aleana terasa terhipnotis.
“A-apa?” tanya Aleana terbata-bata saat mendengar kalimat terakhir dari aktor tampan itu.
“Maukah kau menjadi kekasihku, Alea? Aku sudah lama menunggu moment ini, aku berharap kau mengatakan iya.” imbuh Levi.
Aleana terdiam sesaat, jantungnya berdetak sungguh tidak karuan. Wajahnya merah merona, rasanya seperti mimpi.
“Kuanggap diammu adalah iya,” lanjut Levi dengan senyumannya.
Aleana melotot dan langsung dipeluk erat oleh Levi, gadis itu sontak membalas pelukan dari Levi dengan jantung yang masih menggebu-gebu.
“Jantungmu serasa seperti konser, Alea.” ledek Levi disertai tawa kecilnya.
“Kau juga sama!” ucap Aleana tak mau kalah.
Levi menutup kedua matanya, masih dengan posisi memeluk Aleana, perempuan yang selama ini ia cari.
“I miss you, Alea. I will always love you, always and forever.”
—Tamat—