"Hai, aku Shafa"
Aku berdiri di depan kelas setelah memperkenalkan diri. Sudah tak terhitung berapa kali aku pindah sekolah dan hari ini adalah hari dimana seorang Shafa Anindita, si gadis cantik juga imut ini, sekali lagi masuk ke sekolah baru. Nama sekolahnya adalah SMA Sianida.
Nama sekolahnya unik 'kan? Aku juga gak nyangka kalau nama sekolah ini beneran Sianida. Tadinya aku pikir cuman orang iseng aja yang asal bilang seperti itu.
"Oke, Silahkan kamu duduk di kursi yang kosong itu," ucap Bu Indri, guru Bahasa Indonesia sekaligus merupakan wali kelas di kelas 12 IPS 1 ini. Guru yang terlihat masih muda ini mengarahkan tangannya ke arah kursi yang berada di baris ke dua bangku ke empat.
Aku pun mengangguk sambil melangkahkan kaki ke bangku ke empat dari baris ke dua itu.
Aku duduk dengan tenang mendengarkan penjelasan Bu Indri yang terkesan berbelit-belit itu. Sebenarnya bukan penjelasannya yang berbelit-belit, tapi memang aku nya aja yang gak ngerti.
Ini adalah salah satu kelemahan ku. Wajah ku memang cantik, tapi sayangnya Tuhan terlalu baik sehingga aku hanya dibekali kecerdasan yanga hanya sebesar biji kuaci.
"Hai, Shafa"
Aku menatap perempuan di depanku yang tiba-tiba menyapa ku yang tengah memasukkan buku juga kawan-kawannya ke dalam tas karena baru saja suara bel istirahat berbunyi.
"Em, iya?" balas ku.
"Aku Rena, kita ke kantin yuk!" Perempuan bernama Rena ini tersenyum menatap ku. Aku pun balas tersenyum padanya, walau aku sedikit gak suka dengan sikap SKSD -Sok Kenal Sok Dekat- nya ini.
"Hem, iya ayok!" aku pun mengangguk.
Pada akhirnya aku juga teman baru ku, berjalan bersama menuju kantin dengan diselingi beberapa obrolan ringan mengenai kegiatan pribadi yang sering dilakukan di rumah.
Ternyata Rena ini orangnya baik juga. Dia ini tipe orang yang ceria dan friendly.
"Mau makan apa, Sha?" tanyanya saat kita sudah duduk di kursi kantin.
"Em, samain aja deh sama kamu" jawab gue ringan. Dia pun mengangguk dan pergi memesan makanan.
Aku pun pada akhirnya ditinggal sendiri. Karena bosan, aku memutar kepala melihat-lihat kantin ini. Kantinnya luas juga ya. Suasananya sangat ramai, wajar karena bukan hanya aku juga Rena yang ada di sini, tapi juga teman-teman yang lain.
Setelah puas, aku pun mengambil handphone dari saku rok. Ah, sayangnya sama sekali gak ada yang ngirim pesan.
Dret! Dret!
Aku tersenyum masam melihat siapa yang mengirim pesan. Bukan mantan seperti yang kalian pikirkan, tapi operator budiman yang mengirim pesan bahwa kuota internet ku sudah habis. Ah, nasib-nasib!
"Hai, boleh aku duduk di sini?"
Aku langsung mengangkat kepala menatap orang yang tadi berbicara. Eh, ternyata dia laki-laki.
"Tapi, itu kursi-"
Ah, telat! Sebelum aku selesai bicara, dia udah duduk duluan. Aku pun mendengus.
"Kenapa?" tanyanya. Aku hanya menggeleng, males menjawab.
"Kamu mau jadi pacar ku?" tanyanya lagi. Kali ini aku terbelalak. Wah, gila ni laki.
"Pacar apaan? Kenal juga gak!" ucap ku ketus. Dia terkekeh sambil menatap ku dengan serius.
"Oke, gak apa-apa gak jadi pacar, kalau gitu langsung nikah aja yuk!" ucapnya makin ngaco.
Aku menggeleng, "Gak!" jawab ku semakin ketus.
"Tunggu aja nanti, aku pasti bakal jadi suami kamu," ucapnya percaya diri, "Kamu siap-siap aja, nanti aku datang ke rumah kamu, mau sungkem sama camer," sambungnya.
Ih, ni orang dari planet mana sih? Kok bisa punya pikiran seperti itu. Aku curiga dulu pas ibunya ngandung ni anak, ngidamnya nanas kali ya.
***
Aku keluar dari dalam mobil, berjalan dengan santai di halaman rumah. Aku tiba-tiba saja merasa ada yang aneh saat melihat sebuah mobil berwarna merah terparkir dengan apiknya di halaman rumah.
Mobil siapa ini? Seingat ku Mama sama Papa gak punya mobil warna merah. Em, Abang juga gak deh, karena Abang itu sukanya yang item-item.
Daripada bingung, lebih baik masuk aja langsung tanya sama Papa.
"Assalamu'alaikum, Pa, Ma, Aku pu ..." Aku terpaku melihat laki-laki tadi saat di kantin yang udah duduk santai di sofa, "lang!" lanjut ku pelan sambil menatap Papa dan Mama dengan penuh tanya.
"Salim dong sama calon suami," ucap Papa tersenyum menggoda.
Mataku membulat, tak percaya.
"Apaan si Pa! Kenapa dia ada di sini?" tanya ku ketus. Tangan ku terarah ke arah si lelaki gak tau malu itu.
"Ini, calon suami kamu," jawab Papa santai. Namun, itu malah membuat hati ku berontak.
"Dia ini Dion. Kamu gak inget, dulu kamu dan Dion sering bilang kayak gini, "Pa, Ma. Nanti kalo Dion dan Shafa udah besar, Dion dan Shafa pengen nikah!" gitu," lanjut Papa. Sekarang aku terdiam.
Apa benar dulu aku pernah bilang seperti itu? Aku menatap laki-laki yang ternyata bernama Dion itu. Dia tersenyum, tapi aku hanya diam menatapnya.
"Sha, kamu beneran gak inget ya?" tanyanya. Rautnya sedikit sendu membuat aku jadi gak tega.
"Bener kamu gak inget, Sha?" tanya Papa, "Kamu biasanya manggil Dion itu dengan embel-embel "Aa" loh Sha, inget?"
Aku diam sambil mencoba mengingat-ingat. Tiba-tiba saja mata ku terasa panas setelah mengingat kembali kenangan yang pernah aku juga si Aa ini lalui.
Mungkin ini yang sejak dulu aku cari. Mungkin ini yang selalu jadi alasan ku pindah sekolah beberapa kali. Mungkin ini, ini yang dari dulu aku lupakan. Janji ku dan juga Aa.
"Kenapa? Kenapa baru sekarang ke sini nya, A? Aku sampai lupa kalau aku masih punya janji sama Aa! Kenapa A? Kenapa?" aku bertanya sambil terisak.
Ku rasakan tubuhku ditarik dengan lembut ke dalam pelukannya hangat.
"Tenang, Sha! Tenang! Maafin Aa ya, Aa emang salah, tapi Aa udah nepatin janji kita 'kan?" si Aa menenangkan ku. Sejenak aku melupakan kehadiran kedua orang tuaku. Aku merasa hanya ada aku juga si Aa.
Aku mengangguk dalam pelukannya. Rasa kesal saat di kantin tadi seketika hilang terganti dengan rasa rindu juga senang yang membuncah dalam hatiku. Si Aa, Aa Dion ku sudah kembali!
"Aa, I love you!" ucapku seperti yang sering aku ucapkan sewaktu masih kecil.
"I love you too, Sha" balas si Aa tepat di samping telingaku.
"Ekhem!"
Suara deheman itu seketika mengingatkanku juga si Aa akan kehadiran kedua orang tua ku. Kami pun pada akhirnya tersenyum malu.
"Udah dulu kangen-kangenannya, jadi kapan kalian nikah?" Aku menatap Mama tak percaya. Aku bahkan belum lulus SMA.
"Nanti aja Ma, setelah kita lulus" balas si Aa membuat pandanganku teralih kembali menatapnya. Serius nih?
Aku tak mempermasalahkan si Aa yang memanggil kedua orang tuaku sama seperti ku, tapi kalimat yang diucapkan si Aa.
"Oke, om pegang omongan kamu!" ucap Papa tiba-tiba. Aku pun hanya bisa menghela napas pasrah.
***
Ternyata apa yang diucapkan si Aa 6 bulan yang lalu benar-benar terjadi. Kini aku tengah duduk di depan cermin dengan riasan khas pengantin wanita.
Hari ini adalah hari bahagia antara aku juga si Aa. Hari ini adalah hari diresmikannya hubungan kami di mata hukum juga agama.