Abillia tidak mengira, semalam panjang mempertaruhkan nyawa demi mekarnya sang bunga mawar–dirinya yang lain mempertemukannya pada seorang asing tak bahkan tidak diketahui apakah itu musuh ataupun sekutu.
Nafas yang di berikan 'orang itu' menjadikan sang ratu dapat melihat hari esoknya.
Istana Defrote dan seluruh mawar yang melapisi dindingnya adalah separuh dari diri sang ratu. Dimana sebuah kutukan dari penyihir misterius yang mengatakan bahwa sang ratu–Abillia tidak akan pernah melihat dunia hingga kelopak mawar hitam yang penyihir itu tabur di seluruh dinding istana mekar.
Entah apa tujuan dari sang penyihir, Abillia sang ratu muda yang kala itu berusia delapan belas tahun tidak mengerti sama sekali.
Penyihir pun akhirnya pergi dengan meninggalkan bau aneh dipenjuru istana, membuat setiap penghuni menjadi makhluk tak kasat mata dan tertidur panjang sepanjang waktu. Sang ratu sendiri–Abillia dibiarkan tertidur loteng istana dengan alas seadannya oleh sang penyihir.
Demikianlah Defrote tertidur untuk waktu yang lama.
"Hormat kami yang Mulia," seorang kepercayaan Ratu Abillia menghadap di singgasana ratu.
Abillia sama sekali tak menua, sama seperti orang itu. Pancara cahaya bahagia dari raut bersahabat milik pria tua itu membuat sinar mata Abillia terpancar.
"Paman ..." ucap Abillia pelan.
"Ya, yang mulia. Kerajaan kita telah kembali bangun, apakah perintah pertama anda yang mulia?" tanya menteri itu.
"Tidak ada paman, uhuk ..." Abillia tiba-tiba terbatuk kecil dengan mulut memuntahkan darah. Sang menteri sangat khawatir hingga tanpa sadar naik keatas singgasana yang seharusnya tidak ada sesiapapun boleh naik selain pemilik istana.
"Ada apa yang mulia? an-anda memuntahkan darah?!" panik si menteri.
Abillia mengeleng kemudian menyeka mulutnya perlahan, dia kemudian berkata kepada menteri, "Paman seharusnya kau tidak naik kesini, turunlah sebelum ada yang melihat," pinta Abillia.
Menteri itu pun turun atas permintaan Abillia, dengan khawatir dia bertanya," Ada apa dengan anda yang mulia?" tanyanya. Tentu tidak ada satupun orang yang tau bahwa separuh dari sang ratu terikat dengan mawar milik penyihir. Karena itu, Abillia dengan baik hati tidak memberitahukan siapa pun masalah itu agar tidak merepotkan bawahannta.
"Paman, lebih baik kau carikan aku seorang bermata merah. Entah itu pria atau wanita, aku tidak perduli asalkan dia bermata merah. Dan satu lagi, sembunyikan hal ini dari siapapun," perintah Abillia.
"Baik yang mulia ..."