Hana POV
Flashback saat aku masih kuliah.
"Apa kau sudah punya pacar?" Seorang pria tiba-tiba bertanya padaku. Aku terkejut. Lebih tepatnya takut. Aku sudah sering mendengar rumor tentang dia. Katanya saat SMA dia sering bolos sekolah, sering malak teman-temannya dan hampir dikeluarkan dari sekolah karena berkelahi dengan siswa dari sekolah lain.
"Apa kau sudah punya pacar?" Ia bertanya sekali lagi.
"B-Belum ..." Ada nada bergetar dari mulutku.
"SEKARANG HANA PACARKU." Ia berteriak. Membuat semua mahasiswa menoleh ke arah kami.
Seharusnya aku menjawab sudah. Aku menyesal bilang belum.
Sejak hari itu ia selalu mengikutiku. Ke kelas, ke kantin bahkan ke toilet. Semua orang juga tidak berani macam-macam denganku karena reputasi buruknya.
Sampai akhirnya saat malam setelah aku selesai kerja part time. Jalanan sudah terlalu sepi. Aku hanya berharap tidak ada yang menggangguku. Tapi yang terjadi adalah adalah pria mabuk yang mulai mendekatiku. Aku takut. Sangat takut. Pria itu menyentuhku. Aku berusaha kabur tapi tangannya terlalu erat memegangku.
"Tolong ..." Aku berteriak walau aku tahu mungkin tidak ada yang mendengarnya.
"Buk ... Buk ... Buk ..." Pria mabuk itu jatuh tersungkur. Roy pria yang selalu mengikutiku itu yang memukul pria itu.
Roy lalu menggendongku yang sudah sangat berantakan.
"A-Aku bisa jalan sendiri."
Tapi seolah-olah ia tidak mendengarku. Ia tetap menggendongku. Aku terkejut saat aku dibawa ke rumahnya. Apa ini yang dimaksud keluar dari mulut harimau masuk lubang buaya?
Ternyata tidak. Ia bersikap baik denganku. Memberiku piyama bercorak bunga.
"Jangan salah paham. Itu milik kakak perempuanku."
"Aku mau pulang."
"Malam ini kau tidur di sini." Roy menunjuk tempat tidur.
"Kau tidur di mana?"
Roy menunjuk sofa.
"Kau bisa tidur di sini kalau kau mau." Aku menepuk ranjang di sampingku.
Roy tampak terkejut.
"H-Hanya tidur. Bukan yang lain," kataku sambil menggoyangkan tanganku. Aku jadi sedikit malu. Aku tak ingin ia salah paham.
Keesokkan harinya aku mencium aroma masakan.
Harum. Apa ibunya yang memasak? Bagaimana ini? Aku takut bila ibunya berpikiran kami semalam ...
Ternyata tidak. Roy yang memasak untuk sarapan kami. Penampilannya dan kelakuannya berbanding terbalik dengan yang selama ini aku dengar.
"Aku harap kau merahasiakan peristiwa semalam." Aku hanya takut bila ayah mendengarnya maka ayah akan melarangku kerja lagi sedangkan aku masih butuh uang untuk membayar kuliah.
Roy mengantarku pulang. Bisa dipastikan ayah memarahinya.
"Maafkan saya, om." Roy hanya menundukkan kepalanya.
Bukan Roy yang seharusnya ayah marahi.
Sejak peristiwa itu kami menjadi semakin dekat. Ia tidak seperti rumor buruk yang selama ini aku dengar. Bahkan membunuh nyamuk pun ia tidak tega. Katanya nyamuk juga mau hidup.
Dan sekarang kami sudah lulus kuliah dan bekerja. Sampai suatu saat kami berkencan. Roy tiba-tiba berlutut, menunjukkan cincin di sebuah kotak mungil dan berkata "Will you marry me?"
"Yes, I do."