Prank!
Alex membanting gelas yang ada di tangannya.
Ia kesal terhadap Melly--istrinya.
"Apa kau tak masak Mel?!" Alex membentak Melly. Melly dengan takut memunguti pecahan gelas itu.
Alex adalah seorang suami pemabuk juga penjudi Ia adalah ketua geng di pasar Pancoran. Alex ditakuti semua orang yang ada di pasar. Jika berurusan dengan Alex tiada ampun baginya.
Kerjanya hanya memalak di orang-orang kecil pedagang kaki lima di pasar.
Hari itu Alex kehujanan ia pulang hendak makan ketika membuka tudung saji tak satupun hidangan yang tersaji di atas meja.
"Hari ini aku tak masak, Bang. Abang tak memberiku sepeserpun uang." Melly tampak ketakutan matanya berembun suaranya pun terbata-bata ia takut Alex memukulnya.
Arghh!
Alex berdiri seraya berkacak pinggang dan menunjuk wajah Melly.
"Kau 'kan bisa bekerja tanpa harus menunggu uang dariku. Kerjaanmu hanya menyusahkan saja!"
Alex menghampiri Melly yang tengah menunduk karena mengambil pecahan gelas kemudian ia menjambak rambutnya yang panjang.
"Kau sebagai istri bodoh sekali. Kau tahu aku lapar," ucap Alex. Matanya mendelik seperti hendak lepas dari tempatnya.
Melly mengaduh kesakitan tapi tak dihiraukan Alex.
"Jika aku bekerja siapa yang akan menunggu Malika?" tanya Melly balik.
Didorongnya kepala Melly dan berkata, "Halah! Alasan. Kau istri tak becus!"
Ketika hendak menendang Melly tiba-tiba ponsel Alex berdering. Hal itu urung dilakukan Alex.
Drrtt .....Drrt ....
"Halo, ada apa Bro?" tanya Alex pada si penelpon.
"Gawat, Bro! Lokasi ada seseorang yang mengambil lapak kita," sahut penelpon.
"Siapa?" tanya Alex kemudian.
"Gangster dari Tanah Abang."
"Apa?!" Alex terkejut setengah mati.
"Kurang ajar! Beraninya mereka memasuki wilayah kita!"
Alex meraih kunci motor di atas meja makan.
"Baik, Bro. Gue ke sana sekarang."
Alek tergesa-gesa dan meninggalkan Melly yang sedang meringkuk ketakutan.
Ketika Melly berdiri Alex balik lagi.
"Urusan kita belum selesai, jika aku pulang kau belum masak akan ku hajar kau!" Alex mengancam Melly.
Meli hanya bisa menangis dan bingung ia tak tahu harus berbuat apa dan harus masak apa sementara ia tak sepeser pun memegang uang.
Jika ia nekat bekerja siapa yang akan mejaga Malika.
Melly merenung dan menyesali pilihannya kala itu hubungannya Tak direstui oleh kedua orangtuanya. Melly merupakan gadis keturunan keluarga berada. Tapi ketika ia memilih nikah dengan Alex semua aset milik Melly
dicabut oleh ayahnya.
*
*
*
Alex dan geng-nya berkumpul di basecamp mereka melakukan upaya penyerangan terhadap gangster Tanah Abang.
Apes nasib sial menimpa Alex kini lawan duelnya tak bisa dikalahkan. Beberapa temannya pun lari kocar-kacir menghindari serangan.
Alex babak belur tidak ada orang pun yang menolongnya. Wajahnya penuh darah segar mengalir. Pelipis kanan sobek dan bibir bawah pecah karena tonjokan ketua gangster Tanah Abang.
Semua orang yang menyaksikan ada yang merasa senang. Ada pula yang merasa iba. Tapi tak seorang pun yang berani memberhentikan aksi brutal mereka.
Nyawa diujung tanduk Alex tak bisa berkutik tubuhnya lemah mukanya hampir hancur tubuhnya di injak-injak oleh segerombol gangster dari Tanah Abang. Alex merintih ia teringat Melly dan Malika.
"Ya Tuhan tolong aku. Beri aku kesempatan untuk bertaubat aku berjanji tidak akan kan menjadi preman lagi," ucap Alex lirik penuh harapan.
Gangster terus saja memukuli dan menginjak-injak tubuhnya.
"Seseorang tolong aku. Aku berjanji akan menjadi orang yang baik,"
Stop!
"Hentikan!" teriak seseorang.
Seseorang itu adalah seorang ustadz yang tak sengaja melihat kerumunan dan keributan ulah dua gangster.
Dan di belakang pria itu dua orang polisi mengacungkan senjatanya ke arah gangster.
Mereka tak bisa berkutik dan menyerahkan diri.
Alex dilarikan ke rumah sakit oleh seorang ustadz tersebut.
*
*
*
Melly terkejut mendengar Alex masuk ke rumah sakit ia menitipkan Malika pada tetangganya.
Alex kritis dan mengalami koma. Melly meraung di samping Alex.
"Bang, bangun. Sadarlah." Melly berbisik di telinga Alex. Kedua netranya berembun berulangkali ia menghapusnya.
"Melly sudah masakin Abang makanan yang enak."
Melly menggenggam tangan Alex punggung telapak tangannya. Pria yang ia cintai terbaring tak berdaya.
Dua hari kemudian Alex sadar bangun dari komanya.
"Abang ...," panggil Melly lirih. Ia mengecup kening suaminya penuh haru.
"Mel, maafkan Abang, ya. Sudah menyakitimu. Abang berjanji akan menjadi orang yang baik dan bertanggung jawab untuk keluarga kecil kita,"
Melly terharu lalu memeluk suaminya dan berucap, "Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu. Meli senang mendengarnya, Bang."
Semenjak kejadian pengeroyokan itu Alex menjadi seseorang yang bertanggung jawab terhadap anak dan istrinya juga memperbaiki sikap buruknya di masa lalu. Ia tak lagi menjadi seorang preman. Alex benar-benar taubat tak mengulangi lagi.