🔴MENTAL ILLNES ALERT!!!🔴
Matahari sudah terbit memancarkan sinarnya. Di perjalanan menuju sekolah yang cukup panjang, sinarnya tidak pernah kuhiraukan. Walapun udara sudah semakin menghangat, tatapanku masih dingin seperti biasanya. Aku tidak ingin melihat tatapan aneh dari orang – orang di sekitarku. Mereka seperti menganggapku sebagai orang yang depresi berat dan introvert. Yap! Inilah diriku. Gadis SMA tidak biasa berumur 17 tahun. Apakah aku 17 tahun? Aku saja lupa kapan aku berulang tahun. Bagaimana aku ingat umurku? Sudahlah, tak usah kupikirkan.
Aku tidak peduli apa kata orang. Masalahku hanya aku yang tahu. Terserah mereka mau berpikir seperti apa. Walaupun yang terjadi padaku adalah hal yang parah pun aku tetap tidak akan mendengarkan kata mereka, karena aku tahu mereka tidak akan bisa membantuku sama sekali.
15 menit kemudian, kakiku menapak di dalam kelasku yang suram. Bagaimana tidak suram? Toh, tatapan anak-anak kelas selalu menampar wajahku berkali-kali. Mereka seperti tidak suka dengan keberadaanku di sini, tetapi aku harus melanjutkan sekolahku setidaknya sampai lulus SMA. Itu adalah janjiku pada ibu. Walau ia sudah tiada, aku selalu merasa bahwa ia tetap melihatku dari sana. Melihat apa yang terjadi padaku. Aku percaya apa pun yang terjadi padaku, ia dan Tuhan yang tetap membantuku dari sana. Hanya merekalah yang aku ingat dalam hidupku.
Bel berbunyi. Semua anak masuk ke kelas masing-masing. Anak-anak di kelasku duduk di tempatnya masing-masing. Lalu, mereka berbincang – bincang sebentar dengan teman mereka. Aku? Seperti biasa, tidak ada yang mau mengajakku berbincang apalagi berteman. Tidak lama kemudian, guru datang ke kelas. Semua anak di kelas terdiam. Lalu, kami semua mengucapkan salam pada guru.
Ku lihat lagi jam dinding. Pukul delapan pagi. Ada dua jam lagi agar jarum pendek menunjuk angka 10. Aku takut. Sangat takut. Aku tidak mau bertemu dengannya lagi. Padahal, baru seminggu aku merasa dia sudah tiada. Dirinya sudah nampak lagi kemarin pukul sepuluh pagi dan tujuh malam. Bayang-bayangnya seperti tidak jauh dari diriku. Keringatku terus keluar bagaikan air terjun di gunung. Aku tundukkan kepalaku agar guru tidak tahu apa yang sedang kukhawatirkan.
“Risa Rachmawati? Apakah hadir?” satu kali panggilan dari guruku tidakku hiraukan.
“Risa? Ada orangnya? Risa?!”
“Ii..iya bu!” aku pun baru tersadar. Aku mengangkat tanganku dengan tatapan tetap menunduk ke bawah sehingga rambutku menutupi semua wajahku. Lalu, kuturunkan kembali setelah guru sudah melihatku.
Selesai mengabsen anak-anak kelas, pelajaran pun dimulai. Materi demi materi disampaikan pada kami semua. Aku tetap tidak bisa fokus pada pelajaran. Jam terus mengeluarkan suaranya. Kepalaku pusing. Aku pun sibuk dengan memikirkan rasa sakit yang akan kualami. Tiba-tiba aku mencium bau rokok. Aku tahu. Sebentar lagi ia akan datang menyiksaku. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 10 kurang 15 menit. Bau alkohol menyengat hidungku kali ini. Aku menangis. Menangis dalam diam, agar guru dan teman-teman tidak mengetahuinya.
Benar saja, seorang lelaki bertubuh besar masuk ke kelas. Lalu, ia menghampiriku dengan jalan yang terombang-ambing. Ia sedang mabuk. Ia membawa sebuah kayu di tangannya. Dari kejauhan pun ia sudah mengangkat tangannya yang membawa kayu bersiap untuk memukulku. Aku langsung meringkuk tubuhku bersiap untuk dipukul. Lalu, tangannya mengayun dan kayunya hendak mengenai kepalaku. “AAAAAARGH....!!” suara melengking keluar dari mulutku. Aku berteriak dan terjatuh di lantai. Semua anak menatap diriku dengan penuh tanya. Tetapi aku tetap meringkukkan tubuhku untuk melindungi anggota tubuhku yang lainnya, terutama pada bagian dada dan perut, juga wajahku. Guru yang sedang mengajar pun ikut terkejut sambil menghampiriku. Ia melihat diriku dengan iba. Aku frustasi. Aku tetap tidak mau menunjukkan wajahku pada mereka. Aku terus ketakutan. Mereka seperti kebanyakan orang yang menganggapku sebagai orang gila.
Sampai pada akhirnya, kepalaku yang sempat terantuk pada lantai semakin sakit. Aku pun mengangkat wajahku melihat mereka yang menatapku. Mereka berwarna biru. Tak lama kemudian mereka berwarna kuning, lalu hijau. Tiba-tiba pandanganku meredup seperti ada kunang-kunang membawa gelap. Lalu, mataku pun terpejam. Semua tubuhku melemah. Sebenarnya aku masih sadar, tetapi aku tidak bisa menggerakkan tubuhku. Semua anggota tubuhku seperti mati, kecuali pendengaran dan perabaanku. Aku masih bisa mendengar suara gaduh yang sudah diakibatkan oleh diriku. Aku juga masih bisa merasakan beberapa orang yang membopongku.
Aku terbangun. Tubuhku merasa nyaman karena sedang terbaring di atas kasur. Kepalaku masih sedikit terasa sakit. Aku lihat kanan-kiri. Hanya aku seorang diri di sini. Aku coba untuk menyadari sesuatu. Aku sedang ada di UKS. Aku masih takut. Aku pun mendudukkan diriku di atas kasur. Lalu, aku memeluk tubuhku. Aku masih harus berjaga dan waspada. Badanku masih bergetar. Aku tidak bisa mengatasi ketakutan terbesarku ini. Tak lama kemudian, seseorang datang ke ruang UKS. Ia langsung menghampiriku ketika melihat aku sudah siuman. Aku yang masih menundukkan wajahku sempat tidak menghiraukannya.
“Nak? Ada apa denganmu, Nak? Ibu khawatir sekali.” Aku langsung mengangkat wajahku untuk mengecek siapa yang berbicara kepadaku.
“Ahh! Ibu!” aku memeluknya. Setelah sekian lama, akhirnya aku dapat bertemu dengannya lagi. Ia yang melahirkan, menyusui, menjagaku, serta menyayangiku. Aku langsung memeluknya. Memeluknya dengan sangat kuat.
“Nak? Kamu kenapa, Nak? Pelukanmu terlalu kuat, Nak.” Aku langsung melepas pelukanku. Lalu, aku memandang wajahnya. Entah mengapa, mataku merabun. Tak lama kemudian, aku melihat guru. Bukan ibu. Aku melihat kanan-kiri. Aku mencari sosok ibu yang tadi menghampiriku. Aku terus membolak-balikkan tubuh dan kepalaku untuk terus mencarinya. Aku mencarinya seperti orang gila. Tiba-tiba, kedua tangan guru itu menahan pundakku agar aku menghadapnya. Mau tidak mau, wajahku melihat wajah guru tersebut. Air mengalir di wajahnya. Apakah aku sekasihan itu? Sampai – sampai guru ini meneteskan air matanya?
“Jangan seperti ini, Nak! Sadarlah!” Hatiku tergerak. Hidungku memerah. Air yang sudah terisi di kantung mata tumpah. Tumpah di pipiku. Air terus tumpah tidak mau berhenti. Guru pun memelukku. Ia seperti curiga akan apa yang terjadi padaku. aku pun membalas pelukannya. Lalu, aku menangis dengan puas di pundaknya. Sampai pada akhirnya, air mataku telah habis, aku melepas pelukan. Guru itu membantuku untuk turun dari kasur UKS. Lalu, aku berjalan dibantu olehnya. Ia menyarankanku untuk pulang ke rumah. Rumah tua yang sudah bertahun – tahun ditinggali oleh nenekku selama hidupnya.
Aku pun pulang. Sebenarnya jarak sekolah dan rumah tidak jauh, sehingga aku bisa berjalan kaki. Selama perjalanan aku tetap seperti biasanya. Menundukkan kepalaku. Tiba-tiba salah satu pemilik rumah di sepanjang gang arah ke rumah menyiramku dengan air. Sebenarnya tidak sengaja. Tapi aku jadi teringat dengannya lagi. Sosok itu. Sosok yang selalu menyakitiku dengan segala cara. Selain memukul, ia pernah menyiramku dengan air panas, sehingga tubuhku melepuh. Kepalaku pusing kembali.
“Maaf ya, Nak! Aku tidak sengaja!” Tubuhku bergetar lagi. Tanganku memegang kepalaku dengan refleks untuk melindungi kepalaku. Semakin lama, aku mempercepat langkahku. Tiba-tiba ada motor lewat dan hampir menabrakku, tetapi aku malah terjatuh. Pikiranku sudah tidak terarah lagi. Berjalan saja sudah tidak fokus. Aku pun memaksa otakku untuk mengatur tubuhku untuk tetap melanjutkan perjalanan. Perlahan-lahan kakiku menegak menopang tubuhku. Selangkah demi selangkah akhirnya aku melanjutkan perjalanan pulang. 15 menit kemudian, aku sampai di rumah.
“Mba? Udah maem belum?” tanya nenek yang sudah berada di depan pintu rumah setelah membuka pintu untukku.
“Belum, Mbah.” Lalu, nenek merangkulku untuk masuk. Aku menaruh tasku dan sepatuku. Setelah itu, aku mengganti baju dan langsung makan siang. Selesai makan, aku masuk ke dalam kamar dan tidur untuk melupakan apa yang terjadi tadi siang.
Aku terbangun. Waktu menunjukkan pukul tujuh malam kurang sepuluh menit. Aku terkejut. Sebentar lagi, ayah akan pulang. Nenek pasti sedang tertidur. Apa yang harus kulakukan? Aku harus bagaimana? Aku takut kembali. Ketakutan terbesarku ini akan datang dan tidak ada yang bisa menolongku. Tidak mungkin nenek. Ia sudah tua. Tidak mungkin baginya menghentikan hal ini. Tubuhku kembali bergetar. Kepalaku pusing kembali. Pikiranku sudah frustasi, penuh dengan rasa sakit yang akan kurasakan sebentar lagi.
Tiba-tiba pintu terbuka dengan kasar. Lagi-lagi sosok itu datang. Ia bukan membawa kayu, tetapi botol kaca alkohol. Bau minuman keras menyengat hidungku kembali bersamaan dengan bau rokok yang membuatku sesak nafas. Ia mengayunkan tangannya yang memegang botol tersebut kembali untuk memukulku. Aku terus mundur dan mundur dengan tubuh bergetar. Kakiku tidak sengaja menginjak sesuatu sehingga aku terjatuh. Aku tetap terus menjauhkan diriku darinya sampai pada akhirnya aku berada di pojok kamar. Kini aku tidak bisa menghindarinya lagi. aku sudah berada di jalan buntu.
Seringainya yang suka meledekku lemah terlihat jelas di wajahnya. Tangan satunya memegang tangan kiriku dengan kasar. Lalu, tangan yang lain memegang botol itu diayunkannya untuk memukulku. Saat botol tersebut hendak menghantam kepalaku, aku berteriak. Aku merasakan sakit yang amat sangat. Sakit itu terasa di pikiran dan jiwaku.
Nenek yang sedang tertidur, terbangun terkejut. Langkahnya yang terburu-buru terdengar olehku. Ia langsung memelukku yang sedang meringkuk dengan tangan memeluk kepala. Aku yang melihat wajahnya membalas pelukannya. Aku menangis terisak-isak. Suaraku sudah habis. Aku hanya bisa terisak-isak. Cadangan air mata pun sudah habis terbuang. Mataku benar-benar bengkak.
“NAK! AYAHMU UDAH GAK ADA! KENAPA KAMU MASIH INGAT DIA?! IA SUDAH MENINGGALKAMU SEMINGGU YANG LALU DARI DUNIA INI! KAU HARUS MELUPAKANNYA! SADARKANLAH DIRIMU, NAK!!” Nenek pun menangis. Tangisannya membuatku ingin menangis lagi. Aku depresi berat. Aku sadar. Ternyata benar apa yang dikatakan orang-orang. Aku mengalami trauma berat. Trauma yang sangat amat berat. Aku selalu mengingat ayahku yang sudah menyiksaku dari kecil. Itulah kunci mengapa aku bisa seperti ini. Bayangannya selalu menghantuiku setiap hari. Setiap pukul 10 pagi dan tujuh sore. Tepat jadwal pulangnya ke rumah. Jiwaku hancur oleh bayangannya.
“Nak? Mbah cuma ingin yang terbaik untuk kamu! Kamu harus diobati. Mbah tidak sanggup melihat kamu selalu begini. Mbah kira kamu akan melupakan orang sadis itu..” jelas nenek padaku sambil terisak-isak. Aku pun mengangguk. Nenek membantu membaringkanku di atas kasur. Ia juga menemani aku agar aku dapat tidur dengan tenang. Aku pun tertidur dengan nyaman karena aku merasa dilindungi. Sewaktu tidur pun aku masih mengingatnya di mimpi burukku. Aku hanya berharap bayangannya menghilang dari hidupku.
karya ini karyaku yg sudah lama tersimpan di file penyimpanan. Rasanya sayang untuk tidak dibagikan dengan kalian :) semoga kalian suka! terima kasih yang sudah membaca!
🔴MENTAL ILLNES ALERT!!!🔴