Kemunculan bulan purnama di bulan desember, untuk pertama kalinya kuncup mawar hitam mekar setelah ratusan tahun tumbuh. Istana Defrote yang telah lama tertutup kini kembali membuka gerbangnya.
Sang pemimpin yang selama ini beristirahat kini pun telah bangun untuk mengisi kursi kekuasaan yang telah lama kosong. Para bawahan bangkit dengan semangat yang berapi-api.
Abillia terbangun.
Semerbak wangi tercium.
Sulur-sulur yang tampak hidup tidak beraturan di setiap dinding Defrote berguguran, menyisakan mawar hitam yang merak indah tertimpa cahaya bulan.
Saatnya bagi mereka yang telah lama tertidur untuk kembali bangun, menikmati mentari yang telah lama tak menyinari.
Akan tetapi ini malam yang dingin tanpa kesiapan. Malam dimana salju turun dengan lebatnya.
Abillia tidak sanggup.
Mata menunjukan iris emas itu kembali tertutup. Bibir merah yang sudah lama kehilangan warnanya terbuka lebar dan memuntahkan gumpalan darah hitam.
Dia terlalu lemah, tubuhnya terlalu lelah. Seorang ibunda ratu yang energinya terkuras nyaris membuat jiwanya lepas.
Mawar hitam telah mekar, artinya hidupnya dipertaruhkan.
Keberuntungan kali ini tidak berpihak pada dirinya. Abillia sepertinya akan berakhir dengan durasi kehidupan singkat yang bahkan tak mencapai setengah jam waktu.
Pada saat-saat terakhir nafasnya, seseorang dengan iris merah menyala malah menautkan bibir mereka. Abillia merasa sesak yang menekannya saat bangun perlahan berkurang hingga, kelopak itu pada akhirnya sanggup untuk kembali menampakkan iris emasnya.
Sosok yang memberikan nafas pada Abillia pun menghilang, meninggalkan jendela terbuka tertiup angin.
Abillia jatuh tertidur, mawar mendayu seakan menghantarkan lagu mengantar tidur untuknya. Aroma seorang Abillia kembali memenuhi seluruh istana.
Abillia, sang ratu,
Akankah ada hari esok untuk Abillia?