"Astaghfirullah ini anak belum bangun juga." ucap wanita paruh baya itu berjalan menuju kasur yang di tiduri putrinya itu.
"Zahra bangun!" tegas Atira membangunkan Zahra yang masih terlelap dalam tidurnya itu dengan malas Zahra membuka kedua bola matanya.
"Ada apa Bu?" tanya Zahra polos ia menarik selimutnya berniat untuk melanjutkan tidurnya namun dengan cepat Atira menahan selimutnya.
"Mau bangun jam berapa kamu ini udah jam 7 Zahra." ucap Atira menunjuk jam yang ada di kamar putrinya bola mata Zahra pun mengikuti arah telunjuk yang di tunjuk ibunya itu.
"What jam 7?" teriak Zahra langsung berlari menuju kamar mandi Atira yang melihat tingkah anaknya itu hanya menggelengkan kepalanya.
"Sampai kapan kamu seperti ini Zahra." gumam Atira yang sudah cukup geram akan sifat Zahra.
Tak butuh waktu lama melakukan ritual mandi Zahra langsunh berpamitan pada orang tuanya.
"Ayah Bu Zahra pamit berangkat sekolah." ucap Zahra menyodorkan tangannya untuk salam.
"Kamu gak sarapan dulu Zahra?" tanya Dedy yang tak lain ayah dari gadis ini.
"Enggak yah Zahra udah terlambat Zahra harus pergi ke sekolah." jawab Zahra.
"Ya sudah kamu hati hati jalan ya."
"Jangan lupa sarapan di sekolah." sambung Atira.
"Oke." sahut Zahra.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam." jawab kedua orang tua nya.
Setelah mamakan waktu 25 menit akhirnya Zahra sampai di sekolah.
"Huh.. hampir aja Zahra telat." gumam Zahra.
"Zahra!" teriak Aliya dari kelas dan berjalan menuju sahabatnya.
Aliya adalah sahabat Zahra sejak kecil dia mempunyai sifat yang selalu hal kecil masuk ke hati atau lebih tepatnya mudah terbawa perasaan. Namun di balik itu Aliya selalu ada buat Zahra di setiap duka maupun suka.
"Iya kenapa Aliya?" tanya Zahra.
"Nggak papa sih aku cuma mau nanya kamu kapan berubah nya hampir setiap hari loh kamu hampir telat masuk sekolah." sahut Aliya yang diam diam geram sama sifat sahabatnya itu dengan datar Zahra hanya menjawab "nggak tau." dan meninggalkan Aliya.
"Dasar itu anak main tinggal tinggal aja emang gue sampah apa." gerutu Aliya kesal.
Bel masuk pun berbunyi dan semua siswa siswi masuk ke kelas masing masing untuk memulai pelajaran.
"Ucapkan salam." teriak Ketua Murid di kelas Zahra siswa siswi yang mendengarnya pun langsung mengucapkan salam pada pak Rayn.
"Wa'alaikum salam, silahkan kalian kumpulkan tugas nya yang Minggu kemarin bapak perintahkan" titah Rayn yang merupakan guru Sejarah di sekolah itu.
"Oke pak." jawab semua siswa siswi termasuk Zahra.
"Oke terima kasih telah mengumpulkan bapak ada sedikit urusan Alika kamu tolong bawakan buku ini ke loker bapak ya." pinta Rayn.
"Iya pak." jawab Alika dia adalah ketua Murid di kelas itu.
Suasana di kelas kini menjadi ramai karena tidak ada yang mengawasi di dalam kelas itu kecuali Allah hehe.
"Aliya antar aku yuk ke toilet." pinta Zahra pada sahabatnya itu biar bagaimana pun Zahra merupakan seorang gadis penakut dan sangat takut dengan kegelapan. Aliya sebenarnya malas untuk keluar dia sedang asyik membaca tapi karna melihat wajah Zahra yang memohon dengan mata berbinar binar akhirnya luluh.
"Yaudah ayok." sahut sahabatnya itu.
"Makasih Aliya sahabatku." ucap Zahra memeluk tubuh Alya.
"Apaan sih Zahra orang cuma nganter doang ya nggak papa kali." ujar Aliya melepaskan pelukan Zahra karna dia merasa geli.
Zahra dan Alya berjalan menuju pintu keluar kelas karna pintu tertutup, Zahra pun mendorong pintu nya dan tak sengaja "Jdak." pintu itu mengenai dahi Alika dengan kencang yang mau masuk ke kelas.
"Aww." rintih Alika kesakitan.
"Alika sorry Zahra gak sengaja." Zahra berharap masalah ini selesai dengan dia meminta maaf.
"Eh Lo sengaja ya." bentak Alika yang sontak membuat semua siswa mengalihkan pandangannya pada Zahra,Alya,dan Alika.
Zahra yang tidak terima di bentak dia pun kembali membentak Alika.
"Eh gua kan udah bilang gua gak sengaja gua gak tau kalo ada Lo di belakang pintu ini." tegas Zahra.
"Zahra." lirih Aliya memegang tangan Zahra karena dia tau Zahra kalo udah marah pasti ujung ujung nya ke kantor meskipun dia gak salah.
"Eh Lo biasa aja dong jangan sewot gitu." bentak Alika tak terima dengan pengadaan Zahra.
"Lo.. Lo yang mulai duluan gua udah baik baik minta maaf juga." timpal Zahra menunjuk pada wajah Alika. Alika semakin tidak terima mendapat perlakuan dari Zahra yang menunjuk nunjuknya.
"Plaak" satu tamparan mendarat di pipi chubby Zahra.
Pak Rayn yang melihat kejadian tersebut langsung berlari dan memisahkan Zahra dari Alika.
"Ada apa ini?" tanya Rayn. Pada semua siswa namun tak ada satu pun jawaban.
"Zahra jelaskan pada bapak kenapa kamu bisa di tampar sama Alika?" tanya Rayn.
serius Zahra tidak menjawab apapun dia pergi lari meninggalkan kelas dengan air mata yang terbendung di susul oleh sahabatnya Aliya.
"Alika setelah istirahat nanti kamu masuk ke ruangan saya." tegas Rayn pada Alika.
Alika tak menjawab dia hanya mengangguk pertanda setuju.
Sementara itu Zahra pergi ke taman sekolah yang kini sepi karna siswa lain masih dalam pembelajaran dia menumpahkan emosi nya dengan berteriak.
"Aaaaa..!" teriak Zahra yang di iringi tangisan.
"Zahra." panggil Aliya yang berada di belakang nya membuat Zahra membalikan badannya.
"Aliya." dengan sigap Zahra memeluk Aliya dia menangis sejadi jadinya.
"Zahra kamu sabar ya aku tau kamu kuat aku juga kaget saat Alika menampar kamu Zahra." sahut Aliya berusaha untuk menenangkan.
"Zahra gak salah Al Zahra juga gak tau kalo di belakang pintu itu ada Alika hiks..hiks." ucap Zahra senggukan.
"Kamu tenang aja kalo kamu di panggil untuk di hukum aku siap jadi saksi dan menceritakan yang sebenarnya." jelas Aliya.
"Makasih Aliya kamu selalu ada buat Zahra." Setelah Zahra tenang Aliya mengajak Zahra kembali ke kelas.
Setelah 8 jam berada di sekolah kini suara bel pertanda jam pelajaran berakhir. Aliya mengajak Zahra untuk pulang bersamanya Aliya takut terjadi apa apa dengan sahabatnya itu.
"Zahra pulang bareng aku ya aku khawatir sama kamu ra." ajak Aliya khawatir akan sahabatnya itu namun ke khawatiran nya tidak di anggap Zahra dan Zahra pun menolaknya.
"Maaf Aliya Zahra bukannya gak mau tapi Zahra lagi pengen sendiri. Zahra tau kamu khawatir sama Zahra tapi in shaa Allah, Zahra baik baik kamu juga baik baik pulangnya." tolak Zahra dengan lembut sebenarnya ia masih terbayangkan akan kejadian tadi yang membuatnya sedih karna untuk pertama kalinya Zahra merasakan tamparan.
"Yaah ya sudah nggak papa kalo itu memang membuatmu menjadi lebih tenang oh iya nanti kamu pulang naik apa?" tanya Aliya lagi dia benar benar takut terjadi sesuatu dengan Zahra karena sejak kejadian tadi Zahra hanya diam dan murung.
"Gampang itu mah nanti tinggal naik taxi aja." sahut Zahra dengan senyum manisnya.
Zahra dan Aliya sampai di ambang pintu gerbang, Alya pun berpamitan karna taxi yang dia pesan datang lebih dulu dari taxi Zahra.
"Zahra aku duluan ya kamu hati hati jangan ngelamun terus nanti kesambet loh." ucap Aliya berpamitan yang di akhiri tawa ringan.
"Iya Zahra ngerti lagian siapa juga yang ngelamun." protes Zahra berbohong.
"Dikira aku gak ada mata apa aku liat dari tadi kamu murung mulu tau." timpal Aliya.
"Enggak.. ya sudah sana pulang." celetuk Zahra.
"Oh jadi aku di usir."
"Enggak bukanya ngusir itu sopir nya udah nungguin kamu Ayla." jelas Zahra sedikit menjelaskan pada sahabatnya itu yang suka di masukan ke hati meskipun hanya candaan.
"Oh iya aku lupa audah aku pamit Assalamualaikum" pamit Aliya di akhiri dengan salam dan tak lupa di jawab oleh Zahra "Wa'alaikumussalam."
Setelah beberapa menit Taxi yang di kendarai Aliya melaju tibalah Taxi pesanan Zahra. Tanpa berfikir panjang Zahra masuk ke dalam mobil yang ada di depannya.
"Deg!" Zahra kaget bukan main ternyata di dalam taxi itu ada seorang pria yang berparas tampan berpenampilan islami yang tak lain adalah memakai peci hitam sarung hitam batik dan baju Koko putih. Zahra membelakangi pria itu ia berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya untuk mengatur mimik wajahnya karena Zahra penasaran siapa pria itu dia langsung saja membalikan badan serta bertanya.
"Maaf anda siapa ya?" tanya Zahra yang tidak mengetahui bahwa taxi yang ia duduki bukanlah taxi yang dia pesan.
"Maaf anti tolong menjauhkan diri dari saya kita bukan mahram dan tutuplah aurat mu" sahut Syauqi datar dan tidak melihat wajah Zahra untuk menjaga pandangannya.
Syauqi adalah pria tampan anak dari pasangan Bu Nyai dan Kiyai Abdullah dia baru selesai menyelesaikan tugas kuliahnya di Yaman. Syauqi terlahir dari keluarga yang faham akan ilmu agama karena itulah dia kuliah di Yaman untuk lebih mendalami agama Islam. Sifatnya yang datar tapi shaleh, penyayang, bertanggung jawab, menjaga pandangan nya, cerdas,sedikit cuek, dan tidak lupa Syauqi pria yang setia. Selain ilmu agama yang tinggi Syauqi juga mempunyai suara yang sangat merdu apabila membaca Al Qur'an atau sholawat maupun adzan.
"Anti anti nama saya itu Zahra bukan anti" sungut Zahra yang tidak mengerti arti kata anti maklum lah dia gadis yang lebih mengutamakan pendidikan sosial di bandingkan agama.
"Keluarlah dari mobil ini saya tidak ingin berlama lama duduk dengan wanita yang bukan mahram saya." tegas Syauqi dengan datar hatinya saat ini merasa risih berdekatan dengan wanita yang membuka aurat dan bukan mahramnya.
"Enak aja ini itu taxi pesanan saya!" sungutnya tidak terima di usir dari taxi itu tanpa berlama lama Zahra langsung menanyakan nya pada sopir yang ada di depan. Sementara Syauqi hanya beristighfar kalimat itu tak henti hentinya ia ucapkan di bibirnya.
"Pak ini pesanan atas nama Azahra kan?" tanyanya.
"Maaf mbak taxi ini pesanan atas nama Muhammad Syauqi dan sekarang saya sedang mengantar tuan ganteng ini." jelas sopir itu yang membuat Zahra malu benar benar malu
"Lagian neng main masuk aja, ini mobilnya mogok di depan neng nggak tau kenapa." sambung nya.
"Maksud bapak saya pembawa sial gitu?" cetus Zahra.
"Bukan gitu neng." jawab sopir itu.
"Sudah sudah kenapa kalian jadi berantem." potong Syauqi yang sudah tidak tahan mendengar perdebatan Zahra dengan sopir taxi itu.
Syauqi pun membayar sopir itu dan keluar dari mobil taxi berniat mencari taxi lain.
"Ya sudah Zahra minta maaf ya pak Zahra pikir ini taxi pesanan Zahra." ucap Zahra meminta maaf pada sopir nya dia mengakui kesalahannya dan keluar dari mobil itu. Zahra celingukan mencari dimana keberadaan pria tadi.
"Loh kok ngilang sih." gumam Zahra. "tadinya mau minta maaf ah tapi ya sudahlah orang nya juga udah nggak ada." lanjut gumamnya.
Tiba tiba ada satu taxi berhenti di depan Zahra kaca mobilnya terbuka dan sopir itu melontarkan pertanyaan.
"Apa benar ini dengan Azahra?"tanyanya yang langsung di angguki Zahra. " Silahkan masuk dek." sambung sopir nya
"Iya pak." Zahra pun masuk ke mobil taxi itu sepanjang perjalanan Zahra hanya melamun dan bertanya tanya kenapa pria tadi memanggilnya dengan sebutan anti.
"Dasar pria aneh." gumamnya.
Bersambung...
Next atau udah sampai sini?