Di sebuah Desa Konoha hiduplah seorang wanita bertubuh gemuk, bermuka dua. Dia seorang ibu yang ringan tangan membantu saudaranya. Saking ringan tangan, bantuan yang ia berikan pada saudaranya diungkit-ungkit agar orang melihat kebaikkannya.
Kita panggil saja, ini dia orangnya ... Bu ... Tejo!
Dia satu perguruan dengan Mukidi si Kumis Sembilan!
Bu Tejo tipe emak-emak kaum rebahan di rumah. Aneh, seperti paranormal dia bisa tahu gosip terkini maupun lama. Padahal, dia di rumah dan jarang keluar.
Selain suka rebahan, ia juga suka kepanasan. Lihat Bu Dedeh beli lemari baru panas juga, megap-megap gitu. Enaknya dibolak-balik biar panasnya merata.
"Huh, lemari aja pamer. Nanti aku juga beli model gitu!" celetuk Bu Tejo.
Ada yang panas tapi, bukan api.
"Kapan mau beli, Bu?" tanya Mbak Ses.
"Nanti. Nunggu punya rumah yang gede. Terus, nunggu lemari Bu Dedeh sudah jelek!" sahutnya meletup-letup.
Mbak Ses dan Bu Asih mencoba menyalakan kompor agar apinya semakin berkobar.
"Kenapa nggak sekarang saja, Bu?" timpal Bu Asih. Sambil mengupil ria. Diputar, dijilat, dicelupin!
"Nunggu keluaran terbaru dong! Pastinya, punya kalian ketinggalan jaman. Hahaha!"
*****
Bu Tejo tak sengaja melihat Bu Marta di teras rumahnya. Ia kedatangan kurir pengantar barang yang dipesan.
Dihampirinya Bu Asih yang sedang menyapu halaman. Bu Tejo mencari teman untuk bergosip.
"Kok, beraninya ya, belanja online terus. Apa nggak takut barangnya kena corona, nular baru tahu rasa!" cebik Bu Tejo. Bibir manyun-manyun terlihat seksi. Sambil mencolek lengan Bu Asih.
"Biarkan saja, Bu. Kan, punya duit." Bu Asih sambil asik menyapu.
Bu Tejo balik badan bubar jalan. Kakinya ia hentak-hentak sebal. Wkwkwk
Bu Tejo sebenarnya ratu belanja online, entah kenapa kalau ada tetangga belanja online ia merasa tersaingi.
Suatu hari ...
Bu Marta memakai baju keluaran terbaru, dan melintas di depan kumpulan emak-emak gaul.
"Eh, kelihatannya, baju baru nih." Bu Ses berkomentar.
Dijawab dengan anggukan dan senyuman oleh Bu Marta.
"Kalau aku sih, malas. Beli sesuatu itu yang penting-penting aja!" ujar Bu Tejo.
"Loh, ibu kalau mau beli tinggal buka aplikasi. Bagus-bagus lho, bajunya," bujuk Bu Asih sekaligus mengompori.
"Nanti saja, nggak ada tempatnya buah naruh. Lihat saja, besok bajuku baru-baru."
*****
Bu Tejo terlihat sempurna dengan baju baru yang menempel di tubuh bohay semelohay. Pagi hijau, siang oren, malam pink. Tinggal ucap, langsung ganti.
Rambut dikibaskan, bak rambut dragon ball.
"Baju baru nih," ujar Bu Asih.
"Iya, dong."
Lenggokkan badannya meliuk-liuk seperti cacing belum divaksin.
Seminggu kemudian ....
Tok! Tok! Tok!
"Bu Tejo!" panggil seseorang dari luar.
Bu Tejo tengah asik menonton acara kesayangan di TV. Matanya hampir terlepas.
"Bu Tejo!" lagi, teriakan terdengar sedikit keras.
Bu Tejo enggan bangun ia tak mau melewatkan satu adegan sedikitpun. Ipin dan Upin lah, acara kesayangannya. Tak pandang umur, buktinya Bu Tejo suka.
Tok! Tok! Tok!
"Bu!" ucap seseorang geram.
Bu Tejo merasa terganggu dan terpaksa membuka pintunya.
Ceklek!
"Eh, Bu Ratna. Ada apa, Bu?" tanya Bu Tejo.
Bu Ratna kaget dengan pertanyaan Bu Tejo.
"Bagaimana, Bu? Sudah ada, apa belum? Janjinya dua hari, ini saya sengaja datang seminggu. Kok, nggak bayar-bayar?"
Jdar!
Bagai disambar gerobak cendol di sore hari.
Vangke ini orang, nggak bisa lihat aku senang barang sebentar saja, batin Bu Tejo menggerutu.
"A--anu, belum ada, Bu. Suami saya belum gajihan sawit." Senyum manis buatan terukir di wajah Bu Tejo.
"Loh, kok, nggak menepati janjinya, Bu? Saya butuh sekarang. Bilang nggak ada, tapi ibu borong belanjaan terus!" ketus Bu Ratna sengit.
Dug! Dug! Dug!
Jantung Bu Tejo hampir keluar dari tempatnya, itu jantung bingung mau diparkir di mana.
"Besok deh, Bu. Saya ke rumah ibu, ya."
Rayuan maut Bu Tejo terkenal ampuh di Desa Konoha. Banyak yang berguru dengannya, termasuk Mukidi si Kumis Sembilan, si Mansyur Manusia Pasir.
Bu Ratna pergi dengan rasa kecewa yang dalam. Tadinya, berharap dapat duit buat beli jengkol.
****
Desa Konoha sedang berkabung. Salah satu warganya ada yang meninggal. Warga berbondong-bondong untuk melayat.
Bu Tejo memiliki sifat angkuh dan sombong. Merasa dirinya bisa berdiri di atas kaki sendiri.
"Bu Tejo, nggak melayat?" tanya Bu Asih ketika melintas.
"Ehm, nanti saja deh, sama suami," sahutnya di teras rumah.
"Sekarang saja, bareng kita-kita."
Mau tak mau, Bu Tejo menyetujui ajakan ibu-ibu lainnya.
Pernah suatu hari ada pesta pernikahan, tetangga membantu siempunya hajat. Bu Tejo tak tampak batang hidungnya yang besar.
"Nggak bantu-bantu, Bu? Di tempat, Bu Sasuke?" tanya Bu Ratih.
"Alah, tak perlu. Kita ini orang kaya, nggak perlu deh, repot-repot bantu!" ucapnya sombong.
Hah, kaya? Kok, ngutang terus! Batin Bu Ratih.
*****
"Bu Tejo! Keluar kamu!"
Siapa gerangan yang marah-marah?
Dor! Dor! Dor!
"Bu Tejo!"
Busyet dah, gedor pintu nggak tanggung-tanggung.
Pintu dibuka Bu Tejo penasaran suara siapa melebihi harimau mengamuk.
"Ya, ada apa, Mbak?" tanya Bu Tejo santai. Ia membuka pintu dan melihat tamu yang mengamuk itu, " Eh, Bu RT." Senyum terpaksa.
"Ada apa, ada apa. Ngomong apa kamu sama Bu Galih? Fitnah sana-kemari," kata Bu RT. Bu RT usianya di atas Bu Tejo.
"Loh, saya memfitnah apa, Bu?"
Bu Tejo maju selangkah ia tatap lawan bicaranya dengan sangar.
"Ada apa, ribut-ribut?" sela Pak Tejo. Rupanya ia menyusul sang istri ke depan.
"Ini lho, Mas. Bu RT datang marah-marah nggak jelas,"
"Marah-marah nggak jelas katamu? Kamu bilang sama Bu Galih. Kalau suamiku menyukaimu! Dan kamu bilang aku banyak hutang sana-sini, enak sekali bacotmu!" geram Bu RT.
Andai Bu RT memiliki ilmu kekuatan pasti dia akan menyerang dengan jurus seribu bayangan.
Pak Tejo memalingkan wajahnya ke arah Bu Tejo.
"Apa benar yang kamu bilang, Bu?" tanya pria berkumis sepuluh itu.
"S--siapa yang bilang? Pede sekali Bu RT. Nggak benar itu, Mas!" kilah Bu Tejo.
Adu mulut yang menggegerkan Desa Konoha itu disaksikan warga di sekitar yang mendengar keributan Bu Tejo dan Bu RT.
Suasana makin panas sepanas jalan aspal yang masih meleleh. Ditambah Bu Tejo tak mau mengakui ucapannya tempo hari pada Bu Galih.
Ah, Bu Tejo senangnya mencari perkara.
"Sebaiknya, Ibu pergi dari sini. Ibu jangan sembarangan menuduh kalau tidak ada bukti,"
Pak Tejo membela istrinya. Tak ada seorangpun yang bisa menyakiti Bu Tejo. Assek!
Bu RT mengalah ia malu dilihat orang.
Bu RT pergi ia mengalah kepada warganya. Biar alam yang akan menghukum Bu Tejo.