Nama gue Kiara, gue gak suka makanan manis, gue gak suka lelaki yang terlalu manja atau suka ngegoda perempuan, gue hobi main bola, basket, voli, dll, dan gue juga benci pake rok. Ibu gue pengusaha sedangkan ayah gue pemilik caffe.
Disekolah gue selalu males malesan, tapi gue juga pinter, dalam bidang olahraga atau mata pelajaran yang lainnya. Gue anak tertomboy yang ada disekolah, dan tentu saja 3 temanku juga tomboy. Gue suka tidur sebelum jam pelajaran, dan akan dibangunin temen gue pas guru masuk.
Oh, iya gue hampir lupa ngenalin nama teman gue, nama temen gue Isabella, Rita, dan Dela.
Segitu aja perkenalan gue dan balik lagi ke cerita.
.
.
.
.
Pada pagi hari yang cerah, gue terbangun dengan decakan dari mulut gue, karena gue males ke sekolah, itulah sebabnya gue suka males malesan di sekolah. "Kiara, cepetan bangun, ibu nanti telat berengkat kerja", ya itu ibu gue. Gue yang ngedenger itu langsung gercep dong nyiapin baju gue dan mandi dan siap siap kesekolah.
Setelah gue siap siap dan dianter ke sekolah, gue langsung nyamperin sahabat gue yang udah dateng deluan.
"woy Kiara, sini deh", kata temen gue yang namanya Isabella.
Gue yang ngedenger panggilan itupun langsung dong nyamperin temen temen gue.
"kenapa" kata gue ke si Issabela.
"ada anak baru" kata si Rita.
"terus hubungan sama gue apa?" tanya gue yang mulai males.
" OMG Kiara, dia itu ganteng banget tau" kata ketiga temen gue yang agak menjerit itu.
"terus?" kata gue yang masih males.
"lo harusnya seneng dong Kir, mungkin dia itu tipe lo" kata si Dela.
"mana mungkin, yaudah ke kelas" kata gue yang mulai bosen itu.
"kuy" kata ketiga temen gue berbarengan.
.
.
.
.
Pas istirahat, kayak biasa gue sama temen temen gue duduk di meja kantin. Pas gue duduk datenglah si anak baru itu( si anak baru ini gak sekelas), nanya nanya tentang lingkungan sekolah.
"ngapain lo nanya sama kita? kan orang banyak disana" kata gue yang udah males bet dengerin tanya menanya itu.
"itu sepupu gue Kir, namanya Tristan" kata si Isabella.
"oh" kata gue yang cuma nge oh in aja
Akhirnya si Isabella nunjukin lingkungan sekolah, dan tentu saja gue sama yang lainnya ikut.
.
.
.
.
Sampe rumah, gue seperti biasa main handphone dan rebahan sampe tidur. Sampe hari hari berikutnya, hari gue berjalan seperti bias, tapi gue herannya si Tristan makin hari makin berubah, dari yang malu malu ke berani banget. Gue yang bingung nanya dong ke Isabella.
"Bel, seppupu lo napa dah, setiap hari ke hari makin berubah aja" kata gue yang dah agak gak nyaman, karena gue juga kayak di kuntit sama tu Tristan.
"ga tau dah tapi kayaknya dia suka sama lo deh, karena kayak aneh aja gitu" kata Isabella tenang tenang aja.
"idih, mana mau gue sama dia" kata gue yang agak jijik it,"lagipula gue kan gak pernah mencintai seseorang" kata gue menambahkan.
.
.
.
.
Hingga pada suatu hari, si Tristan beneran nembak gue dong, gue yang saat itu belom mau cairin hati gue pun jijik banget dong, terus gue jawab aja begini:
"heh, asal lo tau ya, gue tu males pacaran sama lo, jijik tau gak sih. pergi lo dari hadepan gue, awas aja gue liat lo" kata gue yang murka.
.
.
.
.
Hingga pada suatu hari, gue ngedenger si Tristan udah pindah sekolah, dan gue ngedenger gosip kalau itu salah gue.
"gue salah apa coba? gue kan cuman nolak doang" kata gue yang mulai males ngedengerin gosip dari anak lain.
"Kir, kalo lo suka sama dia juga lo bilang aja" kata Dela yang berusaha ngibur gue.
"hellow, gue suka sama dia? amit amit" gue mulai ngerasa jijik lagi.
"Kir, lo bakal tau lo cinta sama dia kalau lo dah ngerasa kesepian" kata Isabella agak sedih, karena gak rela si Tristan pergi.
"iya iya iya" kata gue mulai gak mood
Pelajaran pun mulai seperti biasa, dan berakhir seperti biasa juga.
.
.
.
.
Sampai dirumah, gue merasa baik baik saja, tapi saat malam, gue mulai gelisah, entah kenapa.
Pada pagi hari pun gue juga gitu, berhari hari gue merasa begin entah kenapa, sampe gue lulus pun gue masih ngerasa gelisah, sering nangis nangis, dan gak jelas gitu.
.
.
.
.
Sampai gue kuliah dan sudah S3. Gue pagi itu ketemu sama pria persis Tristan pas gue masih sekolah dulu, sepupu si Isabella. Btw sekarang gue gak satu kampus lagi sama 3 temen sekolah gue itu, dan gak tau kenapa gue sekarang sudah gak beku lagi hatinya, ntah kenapa.
Balik lagi ke cerita, itu cuman lewat aja kan. Dan seperti biasa juga gue dan temen temen gue di kampus memulai dang meng akhiri kelas seperti hari hari yang lain, tapi rasa gelisah gue yang dulu ntah kenapa udah ilang melihat pria yang mirip Tristan itu.
Sampai gue S4 kan, gue masih suka liat pria itu, tapi gue gak tau namanya. Hingga hari lulus gue tiba dan gue dan teman yang lain bersenang senang. Hingga pada saat gue mau pulang, pria itu manggil gue.
"hey"
"gue"kata gue dengan bingung.
"iya elo, ikut gue yok" kata dia yang ramah banget itu.
"okey" kata gue yang masih setengah bingung itu.
Pria itupun menarikku ke tempat yang indah dan sepi.
"indah ya pemandangan di sini menyejukkan mata" kata gue yang masih takjub itu.
"iya" kata pria itu dari belakang gue.
Tiba tiba gue ngedenger pria itu bilang
"will you marry me?"
gue yang setengah terharu itu pun menjawab
"ya, dengan senang hati".
Akhirnya gue dan dia pun menghabiskan hari di sana sambil berbincang.
"nama lo siapa?" kata gue penasaran.
"Tristan" kata dia yang masih tersenyum." kalo nama lo?" tanyanya balik
"gue......." kata gue yang agak syok.
"kenapa" kata Tristan lembut.
"gue Kiara, yang pernah nolak lo disekolah dulu, yang nyebabiin lo pindah sekolah, maaf" kata gue yang mau nangis karena syok dan teringat saat masa sekolah dulu.
"dunia ini memang sempit ya, kita bahkan dipertemukan lagi" kata Tristan lembut dan masih tersenyum.
"lo......... enggak marah sama kejadian dulu?" kata gue yang agak mau nangis, karena gue terharu.
"yang dulu biarlah berlalu, mari kita berubah mulai sekarang" kata Tristan yang masih lembut itu.
"maaf"kata gue yang mulai menangis itu.
" jangan menangis" kata Tristan yang mg muai khawatir dan mulai menghapus air mata gue.
"mau berciuman?" tambahnya.
"hmm" kata mengangguk.
Akhirnya hari itu diakhiri oleh ciuman kami.