Sudah menjadi tradisi ketika menjelang lebaran, muda-mudi ataupun tua. Membuat petasan untuk meramaikan suasana lebaran.
Pagi menjelang siang hiruk-pikuk membuat petasan, menyediakan bahan-bahan yang dibutuhkan.
"Bar! Bikin yang banyak petasannya. Nanti, kita lempar ke sumur tua, belakang rumah Mbok Kanti," ujar Yasin kepada Sobari yang tengah asik mengumpulkan bahan.
"Jangan, Kang! Kan, nggak boleh. Itu angker lho!" cegah Ari mengingatkan. Ia paling muda diantara teman-teman yang lain.
"Alaaah! Kamu penakut amat, Ri. Sumur gitu doang. Kamu nggak usah ikut melempar petasan!" ucap Sobari ketus.
*********
Petasan sudah selesai dan siap diledakkan Sobari dan Yasin.
Anak-anak berbondong-bondong mengikuti Yasin dan Sobari. Ari pun tak mau ketinggalan.
Tidak ada yang melarang dalam aksi pembakaran petasan ke dalam sumur tua. Hanya disaksikan anak-anak kecil dan remaja tanggung.
Petasan dinyalakan Sobari dan dilemparkan ke sumur tua.
Plung ....
Jduar ...!
"Hore!" Tepuk tangan dan sorak gembira begitu meriah.
Nampak kepulan asap membumbung tinggi ke udara.
"Udah, Kang. Pindah aja, yuk!" Ari mencegah perbuatan Sobari.
"Nanti, Ri. Dua kali lagi biar pas," sambil menyalakan petasan kedua.
"Kamu lihat aja, dari jauh kalau takut," ujar Yasin menimpali.
Ari bergeser karena merasa takut, menjauhi keduanya.
Plung ....
Jduar ...!
"Hore! Lagi, lagi, lagi!" seru penonton nyaring.
Kini petasan ketiga yang dinyalakan Sobari. Korek dinyalakan kemudian tempelkan di ujung sumbu petasan. Kemudian ....
Dilemparkan! Tapi sayang, ada kejadian ganjil. Petasan yang hendak dilemparkan ke sumur tiba-tiba nempel tidak mau terlepas. Seperti ada lem yang nempel erat di tangan Sobari.
Sobari berusaha keras agar petasan jatuh. Penonton pun menyaksikan, dan merasa heran.
Sobari panik, Yasin mundur beberapa langkah. Ia heran dan takut.
Ketegangan semakin mencekam pasalnya hitungan detik petasan akan meledak. Sobari mengibaskan tangannya. Dan ....
Duar ...!
"Mamaaaaaaak!" teriak Sobari nyaring memekakkan telinga, begitu pilu menyayat hati.
Telapak tangan kanannya hancur seketika. Darah mengalir, daging tangannya terkoyak bagai serat kain yang rapuh.
Sobari jatuh pingsan, sementara itu Yasin lemas dan terduduk. Semua penonton berhamburan mendekati keduanya.
Dan Ari? Menangis tergugu ketakutan.