"Sebenarnya, dia anak yang baik. Hanya saja, dia salah pergaulan."
"Dia sebenarnya orang yang baik, tapi karena kekasihnya dia jadi seperti itu."
Aku sangat sering mendengar perkataan-perkataan yang mirip seperti itu. Perkataan yang menganggap semua orang itu baik dan situasi yang mengubahnya menjadi lebih baik atau lebih buruk.
Menurutku, semua orang itu baik. Semua itu tergantung dari sudut pandang siapa kita melihat.
Mungkin aku akan menceritakan sebuah kejadian yang mungkin menggambarkan apa yang aku maksud.
Kejadian ini merupakan pengalaman seorang siswa yang cukup populer. Yang artinya, kehidupan sekolahnya tidak akan ada yang namanya perundungan. Dia juga sama sekali tidak merasa pernah mengalaminya.
Hanya saja, ada orang yang menganggap sebaliknya dan malah membuat hidupnya menjadi berantakan.
Pernah suatu hari, sang siswa kebetulan pulang terlambat dan masih berada di dalam kelasnya. Padahal, waktu telah menunjukkan pukul 7 malam karena dia terlalu larut dalam mengerjakan tugas yang di berikan oleh guru bahasa nya.
Dia tau seharusnya dia tidak berada di sekolah ketika malam. Sudah ada 2 kasus orang yang mati karena di bunuh di sekolahnya dan mayat mereka tidak ada yang utuh.
Siswa itu dengan tergesa-gesa, memasukkan buku dan peralatan tulis ke dalam tasnya. Bergegas keluar dari kelasnya.
Lorong sekolah tidak gelap karena lampunya selalu di hidupkan setelah sekolah berakhir oleh para guru dan siswa siswi yang piket.
Dia cukup was-was karena khawatir akan mendengar suara langkah kaki selain dirinya. Karena, satpam sekolah merupakan salah satu korban pembunuhan itu.
Dia tidak tau bagaimana rupa mayat dari satpam yang selalu menegur posisi topinya di hari senin. Tapi dari yang dia dengar, ada banyak sayatan di tubuh satpam itu dan tangan kanannya sudah tidak berbentuk.
Tim forensik tidak menemukan sidik jari di mayat satpam ataupun DNA pelaku. Dan sudah dipastikan korban mati karena kehilangan banyak darah.
Syukurlah dia berhasil keluar dari sekolah dan tidak mendengar suara langkah kaki atau suara lainnya.
Jarak sekolah ke rumahnya tidak terlalu jauh tapi cukup jauh jika berjalan kaki. Hari ini dia tidak membawa sepeda karena rantainya rusak.
Meskipun begitu, dia tidak menurunkan kewaspadaannya sama sekali. Sekarang juga belum terlalu larut, jadi jika ada sesuatu dia bisa mendapatkan bantuan tepat waktu.
Di dalam perjalanannya, dia bertemu dengan seseorang gadis yang sering dia liat di perpustakaan. Rambutnya yang dikuncir dua dan kulitnya yang putih pucat membuat sang siswa sulit melupakan wajah gadis itu. Seingatnya, gadis itu berusia 2 tahun lebih muda dari dirinya.
Gadis itu tersenyum manis padanya dengan kedua pipi tembam yang sedikit kemerahan. Siswa itu pun membalas senyumannya dengan ramah juga.
Gadis itu memberikan beberapa potong brownies yang baru di belinya di toko roti. Sang siswa tentu menerimanya karena dia juga agak lapar karena terlambat makan malam.
Sang gadis tersenyum makin lebar karena pemberiannya di terima oleh orang yang sangat dia sukai.
Tentu saja siswa itu tidak pulang ke rumahnya malam itu.
****
Siswa itu terbangun di sebuah ruangan dalam keadaan terikat di kursi. Dia merasa tidak asing dengan ruangan ini. Benar, ini gudang yang ada di sekolahnya.
Dia melihat ke sekeliling ruangan untuk membiasakan matanya melihat dalam gelap. Dia terkejut karena ada 2 orang temannya berada di hadapannya dalam keadaan terikat dengan posisi yang berbeda-beda. Memang kurang jelas, tapi dia bisa melihat jika teman-temannya menangis tanpa suara.
Kemudian terdengarlah suara langkah kaki dari arah pintu masuk.
Dia adalah gadis yang memberikannya brownies tadi. Sang siswa hampir tidak mengenalinya karena penampilannya agak berbeda dengan yang tadi. Jika tadi rambutnya di kuncir, sekarang rambutnya tergerai. Tapi tidak terlihat berantakan sama sekali.
Sang siswa bertanya pada sang gadis kenapa mereka di kurung di sini. Sang gadis menjawab bahwa kedua temannya itu merundung sang siswa.
Sang siswa bingung kenapa gadis ini menuduh teman-temannya sebagai pelaku perundungan dan sang siswa adalah korban mereka. Dia sama sekali tidak merasa pernah di rundung oleh teman-temannya atau orang lain.
Sang gadis pun berjalan ke arah temannya yang diikat di lemari. Temannya itu merupakan gadis yang ceria dan hangat. Tapi sekarang dia menangis dalam keadaan terikat dan mulutnya ditutup menggunakan kain.
Sang gadis bercerita bahwa temannya itu pernah menegur meja sang siswa yang tidak tertata rapi dengan nada sedikit bercanda. Tapi oleh sang gadis dianggap sebagai sebuah ejekan terhadap sang siswa.
Sang gadis menekan pisau yang dia pegang ke mulut teman sang siswa.
"Lebih baik di robek atau di jahit?" Tanya sang gadis dan itu membuat teman sang siswa menangis sejadi-jadinya. Sang gadis menarik lagi pisaunya dan pergi ke arah temannya yang lain.
Teman kedua sang siswa terikat dalam keadaan terlentang dan di bawah tubuhnya terdapat sebuah pemanas.
Pemanas itu dihidupkan oleh sang gadis dan temannya merasa kepanasan. Sang gadis pun tertawa kecil dan meminta sang siswa untuk tertawa bersamanya.
Gadis itu bercerita bahwa temannya yang ini pernah menertawakan sang siswa ketika dihukum berjemur di lapangan.
Sang siswa makin tidak mengerti terhadap pandangan sang gadis.
Itu termasuk perundungan? Itu hanya candaan antar teman! Bagaimana mungkin sang siswa menganggap sikap kedua temannya itu dikatakan sebagai perundungan? Teman-temannya melihat sang siswa dengan pandangan tidak bermaksud untuk merundung dirinya.
Sang siswa bertanya kenapa sang gadis melakukan hal yang begitu jauh seperti ini. Dan sang gadis mengaku bahwa dia menyukai sang siswa karena mereka mirip.
Bahkan, 2 pembunuhan baru-baru ini merupakan ulahnya. Yang pertama sang satpam, dia selalu menegur posisi topi sang siswa setiap hari senin. Walaupun kebanyakan hanyalah candaan.
Yang kedua, guru IPA sang siswa. Gurunya itu tidak pernah memberikan sang siswa izin ke kamar mandi dan menatap sang siswa dengan sinis. Mayat guru itu ditemukan dalam keadaan tubuh bagian pinggang ke bawah utuh, tapi bagian perut ke atas banyak sayatan yang dalam, mulutnya dijahit, dan salah satu bola matanya hilang.
Sang gadis merupakan korban perundungan karena dia memiliki kepribadian ganda dan selalu dianggap aneh.
Tapi sang siswa sama sekali tidak membenarkan perbuatan sang gadis dan dia memarahinya. Sang gadis tidak percaya jika sang siswa sama sekali tidak membutuhkan bantuannya.
Sang gadis menjatuhkan pisaunya dan pergi dari sana sambil menangis dalam diam.
Sang siswa berusaha untuk berdiri diatas kursi karena hanya tangannya yang diikat ke belakang. Untungnya berhasil dan dia langsung mengambil pisau dan memotong tali yang mengikat teman-temannya.
****
Mungkin kalian sering mendengar cerita di atas. Aku tau ada hal yang agak berbeda karena aku sudah lupa bagaimana detail ceritanya, tapi aku ingat inti dari ceritanya.
Di cerita itu, terlihat jelas bahwa sang gadis sangat menyukai sang siswa atau dia hanya terobsesi dengan orang yang bernasib sama dengannya dan melakukan segala cara agar orang itu tidak berakhir menyedihkan seperti dirinya.
Jika kita liat dari sisi kebanyakan orang, kita akan menganggap sang gadis merupakan korban perundungan yang menjadi psikopat. Dan hal-hal yang dia lakukan bukan perbuatan baik sama sekali.
Jika kita melihat dari sisi sang gadis, kita akan berpikir itu adalah hal baik. Karena kita menyingkirkan hal buruk untuk sang siswa.
Dan jika kita melihat dari sisi yang lebih netral, sang gadis berusaha melakukan hal baik untuk orang-orang yang bernasib sama dengannya. Hanya saja dengan cara yang tidak akan dipikirkan oleh orang lain.
"Pada dasarnya semua orang itu baik." Contoh lain, seorang ayah mati karena bekerja terlalu keras. Bagi anak yang di tinggalkannya, ayahnya merupakan orang jahat yang hanya mementingkan pekerjaan daripada menghabiskan waktu dengan sang anak.
Bagi orang lain, sang ayah telah berjuang mati-matian selama ini. Dan merasa anaknya sama sekali tidak tau rasa terimakasih bila anaknya berpikir seperti itu.
Bagi sang ayah, dia melakukan hal baik karena telah menafkahi keluarganya dengan baik sampai akhir hayatnya. Tapi dia berbuat jahat pada tubuhnya untuk terus bekerja.
Setiap pandangan itu penting. Kesalahpahaman pun bisa terjadi karena hanya melihat dari satu sisi pandangan.
"Pada dasarnya semua orang itu baik." Ungkapan itu memang benar. Semuanya tergantung dari sudut pandang mana kita melihat. Kita harus memahami suatu kejadian dengan menggunakan semua sudut pandang agar semuanya terasa jelas.
Aku tau ini bukan cerita yang menarik atau menegangkan. Tapi aku harap, kalian tidak pernah terjebak dalam kesalahpahaman yang tidak kunjung selesai hanya karena salah satu dari kalian tidak mendengarkan penjelasan. Setiap sudut pandang itu penting.
Sampai babai.