Aku selalu bermimpi memiliki keluargaku sendiri. Tak apa walau hanya berdua dengan ayah, ibu, kakak ataupun adik. Meskipun di panti ini sudah selayaknya keluargaku sendiri, entahlah aku ingin memiliki seseorang saja yang memiliki ikatan darah denganku. Bagaimanapun darah lebih kental dari pada air.
Aku terbangun pagi ini berkat suara ketukan aneh tak beraturan berasal dari jendela kamarku. Rasa takut campur penasaran mendorongku untuk menengok sekilas apa yang ada di balik jendela. Berhati-hati aku mendorong daun jendela lalu menemukan seutas tali dengan sepucuk amplop yang terkait di bawahnya. Suara ketukan itu berasal dari amplop ini yang tertiup angin.
Aku memotong talinya dan mengambil amplop tersebut. Di sana tertulis sebuah nama, namaku. Tetapi sedikit berbeda. Namaku Olivya, hanya Olivya. Tetapi di sana tertulis Olivya Azkiya Putri Prakasa. Namanya terdengar tidak asing di telingaku. Di dalamnya aku menemukan 3 buah foto dan sepucuk surat.
Foto pertama dan kedua adalah fotoku ketika di sekolah dan di panti asuhan. Ini foto diambil baru kemarin. Lalu pada foto terakhir berdiri dua bocah laki-laki dan perempuan yang saling bergandengan tangan. Wajah mereka terlihat mirip, sepertinya mereka adalah anak kembar. Mereka menggunakan aksesoris yang sama persis juga. Lantas mengingatkanku pada suatu hal.
Belum sempat aku membuka suratnya, seseorang mengetuk pintu kamarku. Ibu panti memintaku untuk membantunya menyiapkan sarapan untuk adik-adikku. Aku segera menyimpan foto-foto tersebut dan segera bergegas menyusul.
Saat berangkat sekolah Neo sepertinya mulai menyadari aku dengan pikiranku yang mengambang jauh. Dia menyentuhkan punggung tangannya ke dahiku. Aku sedikit terkejut lalu menepis tangannya pelan.
“Neo, nanti pulang sekolah mampir ke Cafe yang di pojokan jalan itu ya ya ya ya...” Aku terus menatapnya sambil menggoyang-goyangkan lengannya.
Akhirnya dia pun mengangguk pasrah. Aku tau dia tidak akan bisa menolak permintaanku tanpa banyak bertanya. Tapi aku yakin dia nanti juga akan ikut bahagia, karena akhirnya aku akan mengenal kembali keluargaku.
Rasanya hari ini aku ingin berjalan dengan cepat. Sedikit tidak peduli dengan pelajaran yang sedang berlangsung, aku terus memandangi foto ketiga dari amplop tadi pagi sambil memegang erat kalungku yang berbentuk burung falcon.
Setelah guru pelajaran terakhir mengucapkan salam, aku langsung berlari ke kelas Neo. Neo adalah teman baikku, kami saling kenal sejak aku pertama kali menginjakkan kakiku di panti asuhan. Kami tumbuh bersama di panti.
Saat aku datang, aku meliat Neo sedang memandang kesal kejauhan, seperti ada seseorang di sana. Aku akhirnya menemukan Chi pada pandangan kesal itu. Banyak orang yang mengatakan jika Chi adalah aku versi laki-laki, hingga banyak dari mereka yang mulai menjodoh-jodohkan kami berdua. Benar, Neo menyukaiku dan aku pun juga merasakan hal yang sama. Kami memilih untuk tetap seperti ini, mengingat kami tinggal di satu panti yang sama. Tidak ingin ada hal buruk terjadi.
Sesampainya di Cafe aku menunjukkan surat yang aku dapat tadi pagi. Di sana tertuliskan “Pergilah ke Cafe sepulang sekolah, kakak akan datang untukmu.” Aku juga menunjukkan ketiga foto yang aku dapat bersama surat ini.
Aku bercerita begitu semangat, tetapi tanggapan Neo tidak seperti bayanganku. Dia terlihat sedikit terkejut, jengkel, dan seperti tidak suka. Padahal dulu dia adalah orang yang paling bersemangat berjanji akan membantuku menemukan keluargaku.
Seseorang datang, duduk di hadapanku dan Neo, dia adalah Chi. Kenapa dia harus datang pada saat yang kurang tepat. Ini adalah kesempatan yang baik untuk menemukan keluargaku tetapi mood Neo sepertinya tidak baik. Ku mohon jangan hancurkan hariku.
Neo menatap sinis Chi tanpa sepatah katapun. Tiba-tiba Chi mengeluarkan sesuatu dari dalam bajunya. Sebuah kalung yang sedang ia kenakan, sama persis dengan kalung yang juga sedang aku kenakan, burung falcon. Ternyata selama ini kemiripan kami bukanlah sebuah kebetulan. Chi dan aku adalah saudara kembar.
Aku beralih memandang Neo dengan wajah terkejut, tetapi Neo tidak. Dia malah semakin terlihat kesal. Apa apaan ini. Apa dia sebenarnya sudah tau jika Chi adalah keluargaku. Neo beralih memandangku terdiam, perlahan mencoba menyentuh tanganku, tetapi aku menghindar. Rasanya seperti di permainkan oleh seseorang yang sangat kalian sayangi.
Chi mengeluarkan sebuah foto keluarga dengan ayah, ibu, dan kedua putra putri kembarnya. Itu adalah aku dan Chi. “Hanya foto ini dan beberapa barang lain yang tidak bisa aku bawa sekarang yang bisa aku selamatkan dari rumah lama kita.”
“Dimana? Aku ingin kesana.” Aku menjawab begitu antusias.
“Lusa rumah itu akan dirobohkan. Pagi tadi seseorang membeli rumah itu dari pelelangan dengan harga yang tidak wajar hanya untuk dirobohkan.” Chi mengatakannya seperti diarahkan kepada Neo. “Aku sudah berniat membelinya tetapi menunggumu terlebih dahulu agar aku bisa mengatasnamakannya dengan namamu adikku, Olivya Azkiya Putri Prakasa.”
Sekarang aku ingat, nama Chi adalah Sachita Azkiya Putra Prakasa. Chi memberikan sebuah akta lahir atas namaku dan namanya. Neo segera menyingkirkannya. “Ini terdengar menggelikan bukan. Ayo pulang.” Neo menggandeng tanganku untuk pulang kembali ke panti, tetapi aku menolak dengan keras. Aku tidak mengerti apa yang ada di dalam pikiran Neo sekarang ini.
“Neo, dia keluargaku!”
“Jika dia memang keluargamu, mengapa dia baru datang sekarang? Kalian satu sekolah selama ini.”
Chi melepaskan genggaman Neo dari tanganku. “Menurutmu apa yang membuatku tidak bisa memberi tahu Liv jika aku adalah kakaknya?” Chi mulai menantang. Mereka sepertinya sudah siap membuat pertarungan baru. Biasanya aku akan berusaha melerai, tapi tidak kali ini. Aku ingin tahu siapa aku sebenarnya, apa saja yang telah aku lewatkan selama ini.
“Tak perlu kau ikutkan Liv ke dalam dunia gelapmu itu. Biarkan dia hidup damai.”
Kali ini Neo dengan cepat membawaku pergi, tetapi aku masih bisa mendengar sebuah kalimat dari Chi, “Bagaimanapun juga, Liv tetap keluarga Prakasa. Cepat atau lambat dia akan meneruskan apa yang memang seharusnya keluarga Prakasa teruskan.”
Aku tidak berani menghentikan Neo. Dia terlihat benar-benar marah, aku takut. Sesampainya di panti aku mencoba bertanya pelan. “Neo, sebelum ini kamu tau Chi adalah kakakku?”
Dia menunduk. “Iya aku tau.” Melihat aku terkejut, dia langsung berusaha meneruskan kalimatnya lagi. “Jangan pergi Liv, kumohon. Kehidupannya belum tentu baik untukmu Liv. Dia hidup suram. Itu bukanlah rumor, tetapi benar keadaannya”
“Kau juga tau dimana orang tuaku?”
“Mereka sudah tidak ada Liv.” Ia menunduk semakin dalam sambil memegang kedua lenganku.
Yang aku pahami sekarang adalah aku masih memiliki keluarga dan dia adalah Chi. Hal yang selama ini aku dambakan, terasa begitu dekat.
Malam ini, untuk kesekian kalinya aku mengusap kalungku. Sambil membawa tas berisi pakaian dan barang-barangku yang tak seberapa, aku keluar dari panti menuju sebuah kolong jembatan terbesar di kota ini. Sesampainya disana sudah ada 3 mobil SUV yang menungguku
Setelahnya aku sampai di panti tadi dan berbicara sebentar dengan Neo, Chi memberikanku pesan pilihan untuk tetap hidup damai seperti apa yang Neo katakan, atau hidup menyenangkan dengan Chi. Seperti yang terlihat sekarang apa yang aku pilih. Aku memilih hidup dengan keluargaku sendiri.
Chi keluar dari salah satu mobil yang ada di hadapanku. Menjulurkan tangan untukku datang kearahnya. baru saja berjalan dua langkah, seseorang menggenggam erat pergelangan tangan kiriku. Aku menoleh dan menemukan Neo disana. “Liv, kumohon, tetaplah disini.”
“Neo maafkan aku, impianku sudah di depan mata. Kumohon lepaskan aku.”
Belum sempat Neo memohon kembali, sebuah tembakan yang entah dari mana asalnya muncul dan mengenai mobil milik Chi. Mulai turun beberapa orang sambil membawa senjata api masing-masing berusaha melindungi Chi. Chi berteriak sambil memegang pistol, “Liv, kita tidak punya waktu selamanya.”
Aku segera melepaskan genggaman tangan Neo dan berlari ke arah Chi dan masuk ke dalam mobilnya. Mobil tersebut langsung tancap gas tetapi mobil yang lain masih berada di tempatnya. Aku melihat ke belakang, ingin tahu apakah Neo masih baik-baik saja.
“Tak apa, kedua mobil itu akan menyelesaikannya.”
Selama perjalanan Chi banyak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Penembak itu diduga sebagai lawan bandar Chi di pasar gelap. Benar saja, rumor mengenai Chi adalah seorang bandar pasar gelap yang sedang bersembunyi menjalankan tugas. Dan tugasnya adalah mendapatkan aku, adiknya.
Yang membuatku terkejut bukanlah mengenai Chi, tetapi kenyataan bahwa lawan bandar Chi adalah Neo. Neo lah yang membeli rumah lama keluarga kami dari pelelangan dengan tawaran 8 kali lipat dari tawaran awal.
Chi bercerita bagaimana orang tua kami meninggal dalam kecelakaan yang juga berkaitan dengan pekerjaan ini. Lalu bagaimana kami terpisah hingga aku berada di panti sendiri dan dia bersama dengan tangan kanan orang tua kami. Tidak lupa juga bagaimana dia akhirnya bisa menemukanku.
Telfon Chi berdering, seseorang di seberang sana memberikan informasi mengenai keadaan di bawah jembatan tadi. Seorang berhasil menembak kaki Neo, karena dia adalah dalang di balik serangan pertama tembakan tersebut dan terus berkelanjutan. Tetapi setelahnya ada seseorang lain yang menyelamatkan Neo hingga menghilang.
Chi menangkup kedua pipiku. “Musuhku sekarang musuhmu, karena kita adalah keluarga.” Aku tersenyum dan mengangguk mendengarnya.
Chi mengecup keningku, "Aku menyayangimu burung falcon kecilku." Mulai sekarang akan aku lakukan apapun untuk keluargaku.