Shh!! Salah seorang penonton mengisyaratkan agar seluruh yang memenuhi teater itu diam. Seorang penari cantik muncul dengan baju adat tradisional bewarna merah dan biru bermotif bunga. Rambut hitamnya digulung tinggi memamerkan leher jenjangnya yang seputih rembulan. Selendang panjang yang ia kenakan semakin menambah kecantikan dirinya. Penari itu mulai melakukan gerakan tarian dengan lembut dan anggun ditambah iringan gamelan yang ditabuh oleh para wiyaga. Para penonton duduk tenang menyaksikan penampilan penari itu.
Tabuhan gamelan sudah sampai di pertengahan. Hingga akhirnya, tanpa sengaja rambut palsu penari itu tidak sengaja terlempar ke arah penonton. Sontak, salah satu penonton yang terkena lemparan itu berteriak histeris, dan melompat – lompat layaknya orang hilang akal. Penari itu terdiam dan menutup mulutnya.
“Dia tak punya rambut!!!” teriak salah satu penonton. Mereka kemudian berlari berdesakan menuju pintu keluar. Sementara itu, penari itu berlari ke kamar mandi dan menangis sejadi – jadinya. Ia benar – benar putus asa dan melanjutkan menangis.
“Hey! Apa yang kau lakukan di sini?” Seseorang seperti membisiki penari itu. Ia mengangkat kepalanya dan nampak pria tampan berpakaian layaknya seorang penari Remo berada di depannya. “Hey!”
“Pergilah!” kata penari itu.
“Kemari! Ikutlah denganku!” ajak penari pria.
“Pergilah! Aku tidak ingin ikut denganmu.” Penari itu menghiraukan penari pria. Ia terdiam sebentar. Tiba – tiba, ia mengulurkan tangannya ke penari itu. Ia bertanya, “apa?”
“Aku membutuhkan rekan wa-“
“Aku bilang pergilah! Biarkan aku sendiri. Apa kau tidak melihat aku sedang bersedih? Karirku sudah hancur. Andai saja wanita bodoh itu tidak mengacaukan hidupku, mungkin aku seperti yang lain saat ini.”
“Ay-“
“Pergilah! Carilah rekan yang lain! Aku tidak ingin mengacaukan penampilanmu!!”
Penari pria memasang raut wajah cemberut. Ia kemudian keluar dari kamar mandi itu. Penari itu akhirnya merasa tenang dan melanjutkan kesedihannya. Tak lama, penari pria kembali dan melemparkan kertas yang ia tulis ke arah penari itu.
“Semoga kau senang!!” Penari pria terlihat marah. Itu sudah terlihat dari wajahnya yang penuh dengan keringat dan emosi. Penari itu mengecek kertas dari penari pria yang bertuliskan, ‘maaf karena telah meninggalkanmu. Aku lebih memilih adikmu daripada dirimu. Mari kita buat janji! Sebagai bentuk permintaan maaf, mari kita tampil bersama setelah 2 tahun pernikahanku bersama adikmu. Calon adik iparmu, Aditya Rana Wijaya Sudiantoro.’
-----
Di minggu pagi yang cerah, seorang wanita cantik berkulit sawo matang dan berpakaian anggun bersiap dengan tas ranselnya. Ia turun ke bawah menuju ruang makan untuk mengambil camilan sembari mencangklongkan tas ransel birunya. Hidangan sarapan sudah di atas meja. Heran. Dia tidak memasak kali ini. Tetapi, ayam, sup wortel, telur goreng, dan berbagai variasi makanan yang lain itu ada di atas meja.
“Ey? Siapa yang memasak ini?” tanyanya. Ia mengambil sendok yang ada di dekatnya dan mencicipi kuah sup itu. “Hmm… Enak.”
“Jelaslah, enak!” seorang pria yang tiba – tiba muncul di belakang wanita itu.
Ia menoleh ke belakang dan berkata, “ahh! Hai, Adit sayang! K-kau yang memasak semua ini?”
“Tentu saja!! Istriku yang tercinta… Karnika,” ucap Adit dengan menundukkan kepalanya.
“Ahh! Bisa saja, kau… Aku tidak sempat makan. Jadi, aku akan membawa makanan ini. Teman – temanku sudah menunggu.” Karnika bergegas mengambil kotak makan di rak dapur, mengambil sendok, mengambil makanan di atas meja, dan menaruhnya ke kotak makan itu dengan tergesa – gesa.
“Yang benar saja… Ini Minggu! Bisakah kita sekali ini menikmati akhir pekan kita?” tanya Adit. Karnika mengabaikannya. “Hey!” Ia masih tidak mempedulikannya. “Nika!”
“Besok adalah pertunjukan, aku tidak ingin mengecewakan diriku, temanku yang lain, keluargaku, dan suamiku yang tercinta.”
“Nika, ayolah!”
“Ok, sudah. Aku akan kembali sore… Mungkin malam juga.”
“Nika, tunggu!!”
“Dah, sayang! Aku cinta kamu!” Pintu tertutup. Adit tak sempat ingin mengatakan sesuatu. Ia menghela nafas dan kembali ke kamarnya.
Karnika keluar dari rumahnya. Tanpa disadari, ia berpapasan dengan saudarinya yang keji, arogan, pemarah, dan sombong di depan terasnya. Mereka berdua terlihat sangat mirip. Namun, Kartika berkulit lebih putih daripada Karnika.
“Halo… Kar!” sapanya dengan rambut hitam yang kusut.
“Eummm… Halo… Kartika. R-ramb-…”
“Tutup mulutmu!”
“O-ok… A-apa yang kau lakukan di teras rumahku?” tanya Karnika.
“Tak ada… Aku tidak sengaja berjalan melewati depan rumahmu dan tersadar… Dimana suamimu?”
Pupil mata Karnika bergerak kesana kemari seakan ingin berbohong. Ia ingin menjawab pertanyaan dari saudarinya namun, ia gugup. “D-dia… Eummm… Sedang beker-… Ahh! Dia sedang pergi bersama temannya… Ya.”
Kartika curiga dengan ucapan gagap Karnika. “Penipu! Aku akan masuk sendiri!” ucapnya dengan berbisik. “ADIT!!! ADITYA RANA WIJAYA SUDIANTORO!!! KELUAR KAU!!!” teriaknya dengan kencang hingga para tetangga keluar dari rumahnya.
“Tika! Tika!” panggil Ambarwani.
“Jangan panggil aku dengan nama bodoh itu!” Kartika berbalik, menghadap Karnika, mengacungkan jari telunjuknya, dan berhenti persis di depan pintu. Adit membuka pintu dan terkejut.
“Ada apa ini? Mengapa kalian berteriak – teriak?” tanyanya.
“Ohh! Hai, Adit!”
“Rupanya kau, kakak ipar. Ada apa?”
“Ada apa? Hhh… Beraninya kau!” Kartika menyodorkan pisau ke arahnya.
“Adit!!” ucap Karnika yang ketakukan. Adit hanya diam terpaku.
Kartika mendekatkan wajahnya ke telinga Adit dan membisikkan, “sudah 2 tahun, sekarang mari tepati permintaan maafmu!”
“Tika!! Tolong, hentikan!!” rengek Karnika. Ia terduduk dan menangis.
“Ughhh… Diamlah, Kar! Jangan membuat drama di depan tetanggamu!” ujar Kartika. “Adit!” Pisau tajam itu menyentuh leher Adit. Karnika menangis sejadi – jadinya.
“Oke… Aku akan menepati janjinya,” kata Adit. Kartika tersenyum jahat, menurunkan pisaunya, dan meletakkan ke dalam sakunya. Karnika terus – terusan menangis.
"Ayolah, Karnika!! Pria bodohmu aman, kau bisa melanjutkan latihan dengan teman – teman jorokmu itu! Aku pergi dulu, dah!!” Kartika berjalan santai pergi meninggalkan mereka berdua.
“Kau tak apa, sayang?” tanya Karnika.
"Tak apa, kau bisa pergi latihan!”
"Baiklah, jaga dirimu! Jika kau butuh bantuanku, telpon saja aku!”
“Siap!”
“Aku pergi dulu, dah!”
-----
Hari pertunjukkan. Karnika mengenakan pakaian serta selendang penari yang baru dari Adit. Ia sangatlah cantik bak bunga mawar baru mekar dengan riasannya. Meskipun sudah sempurna, dirinya merasa ada yang kurang. Ia mulai mencari lipstiknya.
“Dimana lipstikku?” tanyanya. Ia mengobrak – abrik semua peralatan yang ada di meja rias dan tasnya, namun tetap tidak menemukannya. Karnika menuju ke kamar mandi dan mencari di wastafel. Dia menemukannya. Baru saja akan beranjak dari kamar mandi, ia berpapasan dengan Kartika. Karnika terkejut dengan pakaian penari Kartika.
“Oh, hai, Kar! Atau aku menyebutnya Nika?”
“A-apa yang kau lakukan dengan pakaian itu?” tanya Karnika dengan mata membesar. “Bukankah kau seharusnya pergi berjualan makanan jalanan?”
“Oh!? Kau tidak tahu? Aku telah berhenti. Sekarang, aku akan aktif sebagai pengajar penari tradisional. Mungkin, kita bisa berkolaborasi. Ngomong – ngomong, aku juga peserta di sini, dan akan menari bersama rekanku.”
“Oh?! Eumm… Bukankah kau berjanji saat SMA tidak ingin menari tradisional lagi?”
“Aku menarik janji bodoh itu. Sekarang, aku sudah percaya diri dengan penampilanku.”
“Oh, wow?! Ok, semoga kau sukses dan tak ada kecelakaan lagi.” Karnika berjalan tak menghiraukan Kartika.
“Dasar, wanita pembuat masalah,” gerutu Kartika.
“Karnika Dwi Kusuma Sudiantoro!” panggil salah satu kru acara.
“Di sini!”
“Giliranmu! Ke panggung sekarang!”
“Ok.” Karnika menutup matanya dan berdoa. Dengan perasaan gugup, ia berjalan ke samping panggung.
Tirai teater terbuka, Karnika berpose layaknya seekor Burung Cendrawasih. Karnika mulai melakukan gerakan tarian dengan lembut dan anggun ditambah iringan musik gamelan. Para penonton duduk tenang menyaksikan hingga akhir penampilan Karnika.
Beberapa menit berlalu, Karnika merampungkan penampilannya dan kembali ke samping panggung. Ia berpapasan kembali dengan Kartika. Kali ini, ia membawa rekannya yang membuat dirinya terkejut.
“Semoga kau suk-… Adit?! Apa yang kau lakukan di sini?!” tanyanya.
“Maaf, sayang.”
“Apa maksudmu?! Jelaskan!”
“Kartika Eka Kusuma Donowiharjo dan Aditya Rana Wijaya Sudiantoro! Gilirian kalian!” panggil salah satu kru itu lagi. “Tunggu… Kartika?! Kau kah itu?”
“Siap, kru Debora!” ucap Kartika. “Mari kita lakukan, Adit!”
“Kau kenal dengan dia?” tanya salah satu peserta.
“Ya… Mungkin,” jawab kru yang bernama Debora.
Karnika merasa gelisah. Ia melihat semua peserta saling berbisik satu sama lain ke arah mereka berdua.
Tirai teater kembali terbuka, Kartika dan Adit berjalan seperti dua pasangan penari mesra. Mereka berpose bak dua merak yang akan bercinta. Kartika dan Adit mulai melakukan gerakan tarian dengan lembut dan anggun ditambah iringan musik gamelan. Para penonton duduk tenang menyaksikan penampilan mereka.
Tabuhan gamelan sudah sampai di pertengahan. Salah satu penonton tiba – tiba menyadari sesuatu. Ia mencoba untuk melemparkan bekas minuman yang ia minum dan itu berhasil mengenai rambut Kartika. Rambutnya tiba – tiba terlempar ke depan diikuti dengan dirinya yang ikut terjatuh. Sontak, para penonton berdiri dan terkejut. Karnika yang ada di samping panggung berlari ke arah mereka dan membantu Kartika berdiri.
“Lepaskan! Aku tak butuh bantuanmu!!” tolak Kartika.
“Lihat!! Wanita botak kembali!!” teriak salah satu penonton.
“Pergilah! Wanita kotor!! Huuu!!!” Semua orang mengungkapkan ekspresi kesalnya dengan sorakan tak suka.
“Tunggu, siapa dia? Mengapa kau melempari dia?” Dan, m-mengapa para penonton membencinya?... Sepertinya,” tanya salah satu penonton kepada penonton pelempar bekas minuman.
“Dia Kartika, kakak dari penari Burung Cendrawasih. Mereka berdua sangat berbeda, dan dia botak dan selalu mengenakan rambut palsu.”
“Lalu?”
“Penonton tidak suka karena, dia selalu membuat masalah di mana – mana. Bahkan, saat ia berjualan makanan jalanan. Aku benci dia.”
“Setidaknya kau tidak harus membenci kebotakannya.”
“Masa bodoh. Aku benci dia.”
“UGGGHHH!! DASAR KALIAN SEMUA!!! BODOH!!! AAAAKKKHHHH!!!” teriak Kartika dengan kencang.
“Tika!”
“APA KAU?! APA YANG KAU INGINKAN?! KAU SENANG?! SUDAH MEMBUATKU TIDAK BERDAYA?! HAH?!”
“Tika! Tika! Kendalikan emosimu!”
“SEMUA INI SALAHMU!! JIKA SAJA KAU TIDAK MEMBUKA ITU!! SEMUA AKAN BERJALAN NORMAL!!” Semua penonton yang awalnya bersorak tak suka, terdiam kaku.
“Tika! Tolong!”
“Dengar, kakak ipar! Jika kau memang bersalah karena berani telah membuka buku harianku dulu, seharusnya kau terima kesalahanmu.”
“Diam, pria tak tahu diri! Kau tak tahu apa yang sebenarnya terjadi!” kata Kartika.
“Hei, wanita botak!! Pergilah dari sini!! Kau tidak pantas menari di sini!!”
“DIAM!! DI-AM!!! Mengapa?! Mengapa semua orang… Akhhh!!!” Kartika berlari dan menangis di samping panggung. Karnika dan Adit ikut berlari mengejar Kartika. Tirai teater kembali tertutup. “Karirku hancur! Aku hancur! Semua kebahagiaanku hilang! Tidak ada yang mempercayaiku sekarang!” ucapnya dengan menangis.
“Aku mempercayaimu, Tika,” ujar Karnika.
“Tidak! Kau tidak!” kata Kartika. “Se-semua ini adalah… Adalah salahmu.”
“Kakak ipar! Janganlah bersikap agresif! Aku juga sudah memaafkanmu tentang kejadian itu.”
“Aku tidak peduli dengan permintaan maaf mu. Aku hanya ingin dia mengatakan yang sebenarnya!” tunjuk Kartika ke Karnika. Pertengkaran yang terjadi membuat mereka menjadi sorotan bagi para kru dan para peserta.
“Ada apa?” tanya salah satu peserta.
“Sebuah pertengkaran,” ucap salah satu kru.
“Sayang?” tanya Adit.
Karnika terdiam. Lalu, ia berkata dengan terbata – bata ke Kartika, “aku tahu… A-akulah yang membuka buku harian milik A-Adit saat kita masih SD. A-aku sangatlah takut kepadanya dan… S-seharusnya aku… Aku jujur kepadanya, tidak menuduhmu, dan kecelakaan yang menimpa rambutmu saat kau berlari ke halaman belakang itu tidak akan terjadi.” Mata Kartika terbuka lebar dan berkaca – kaca.
“Benarkah? Sayang?” tanya Adit. Karnika menghela nafasnya, dan berjalan ke arah Kartika.
“Tolong! Maafkan aku. Jika ini belum terlambat.” Mata Karnika ikut berkaca – kaca.
“A-aku hanya ingin kau meminta maaf, Karnika… Hanya itu… Tak lebih dan tak kurang. D-dan, aku bahagia mendengarnya,” kata Kartika terisak. Karnika terkejut dan meneteskan air matanya.
“Sayang, mengapa kau?...”
“Maafkan aku, sayang. A-aku tidak ingin kau marah kepadaku saat itu karena aku sudah mencintaimu saat itu, Adit.”
“Kau tahu, sayang. Aku sangat menyukai wanita yang jujur. Namun…”
“Aku tahu kau akan menceraikanku, karena kau tak menyukai wanita yang jujur, Adit. Aku ingat dengan janji kita saat menikah,” sela Karnika. Ia tertunduk malu.
Adit menghiraukannya. Ia berkata, “namun, Tuhan sudah menuliskan jodoh kita berdua. Karena kau telah jujur kepada kakakmu, Karnika…” Adit terdiam, lalu menghampiri Karnika dan memeluknya.
“Benarkah, Adit?”
“Aku mencintaimu.”
“Aku mencintaimu juga.”
Debora, menghampiri Kartika yang sedang menangis. Ia berkata, “aku sangat bangga denganmu, Tika. Aku mengenalmu sudah lama dengan sifat keji, arogan, pemarah, dan sombong. Bahkan, aku melihat kejadian kau tersandung jatuh dan rambutmu mengenai kobaran api saat ayahmu membakar sampah. Kali ini aku tersadar, di dalam sifat iblismu, kau masih memiliki sifat malaikat. Tak peduli, berapa banyak. Tapi, aku sangat bangga denganmu.”
“Aku tahu, teman SD-ku. Aku sangat berharap dengan momen ini, dan sekarang terwujud.”
“Kakak ipar! M-maafkan aku juga karena telah menyalahkanmu.” Adit tersenyum malu. Karnika menghampiri dan memeluk Kartika, diikuti oleh Adit. Kartika tersenyum seindah embun pagi yang menyegarkan untuk pertama kalinya setelah kecelakaan yang menimpanya. Dia merasa kebahagiaannya kembali setelah sekian lama dan juga merasakan kenyamanan yang ia terima dari salah keluarganya yang tersisa.