*Tahun 2069*
"Jadi nenek dulu dibully?" Tanya Adrian.
Seorang wanita tua itu menunduk sambil bercerita tentang masa lalunya di SMA yang selalu di bully.
Tak terasa air mata mengalir di pipi sang cucu yang tampan itu. Walau ia dikenal lelaki yang tangguh tapi jika mengenai perihal neneknya Ia akan sangat rapuh.
"Andai aku bisa menolong nenek waktu itu." Ucap Adrian lagi sambil mengusap air matanya terus mengalir itu.
"Udahlah cu, itu hanya masa lalu." Jawab nenek Lulu.
Satu minggu kemudian___
Di tepi danau, Adrian menatap air bening yang tenang di hadapannya menunggu pancingan berharap segera bergerak dan mendapatkan ikan yang besar.
Tak lama kemudian, tali pancing itu bergerak dengan cepat. Tangan Adrian pun tak kalah cepat untuk memutar gulungannya namun, tarikan ikan itu sangatlah kuat.
"Ikannya besar ni sepertinya." Girang Adrian yang masih menarik.
Tangannya sekuat tenaga mencoba untuk mendapatkan ikan itu. Tapi..
Burr....
Adrian terjatuh ke kolam itu berenang bersama ikan yang mau ditangkapnya tadi.
*Di dalam air danau*
"Apa aku tenggelam?" Batin Adrian.
"Oh.. tidak.."
Napas Adrian terhenti membuat matanya perlahan menutup diri bahkan kesadarannya pun sudah mengambang tak tau dimana.
Gelap.. Matanya tertutup..
*Tahun 2021*
Di tepi danau sekolah seorang gadis duduk dengan baju yang dilumuri tepung dan juga telur busuk. Ia menangis dalam kesendiriannya sambil menatap air yang tenang di hadapannya.
"Hidupku nampak setenang air danau ini, namun kenyataannya di dalamnya aku terjerat oleh arus yang tak terlihat." Ucap gadis yang bernama Lulu itu.
Kedua mata milik Adrian tiba-tiba terbuka dan juga kesadarannya kembali.
Burr...
"Huft.."
Keluar seorang pria tampan dari danau yang ada di depan Lulu.
"Tolong.."
Mata Lulu terbelalak dan kaget mendapati seseorang yang tiba-tiba keluar dari danau itu.
"Tolong.." Ucap Adrian dengan kepala yang keluar masuk dari air.
"Astaga."
Lulu pun menolong pria yang hampir tenggelam itu.
Dengan pakaian yang kuyup Adrian duduk bersama Lulu di kursi depan danau.
"Makasih ya."
Lulu yang sedikit melirik Adrian hanya menganggukkan kepala kemudian berlalu dari pandangan Adrian.
Adrian memperhatikan keadaan sekitar dengan mata yang nanar. Ada keanehan dengan lokasinya.
"Aku harus pulang." Ucapnya.
Di sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Adrian menganga sendiri memperhatikan jalanan yang berbeda dengan biasanya.
Tiba di depan rumah, Adrian lebih menganga lagi kenapa rumahnya seperti beda warna dengan yang kemarin.
Ceklek.. bunyi pintu terbuka.
Nampak buah surat di atas meja tamu, Adrian penasaran apa isi dari surat itu.
"Nenek pergi ke luar kota selama satu bulan, kamu baik-baik di rumah.." Isi surat.
Adrian tidak memperhatikan nama tandatangan dibawahnya yang bertuliskan Siti bukan Lulu.
Keesokan harinya, Adrian dengan santai mengambil pakaian sekolahnya dan pergi ke sekolah lamanya.
Di depan sekolah tulisan spanduk tertulis tahun ajaran 2021, mata Adrian membelalak seakan tak percaya.
Ia pun menanyakan ke orang yang sedang berjalan untuk masuk ke gerbang sekolah secara spontan.
"I..itu benaran tahun 2021?" Tanya Adrian tak percaya.
"Iya.." Jawab perempuan di sampingnya.
"Hah?"
"Kenapa aku bisa balik ke masa lalu?" Batin Adrian.
Di ruang kelas__
"Hari ini kita kedatangan murid baru, silahkan perkenalkan diri." Ucap guru yang tengah berdiri di samping Adrian.
"Namaku Adrian, mohon bantuannya." Ucap Adrian.
"Tampan sekali murid baru itu."
"Ya ampun semoga dia jomblo."
"Aku mau jadi pacarnya."
Itulah ucapan dari perempuan-perempuan yang ada di kelas IPA.1.
"Kamu silahkan duduk di sebelah Lulu." Perintah guru sambil menunjuk ke arah Lulu.
Semua murid perempuan menatap iri pada Lulu. Dan Adrian pun duduk di sebelah Lulu.
"Hei kita bertemu lagi." Sapa Adrian yang tersenyum bahagia karena bertemu dengan penyelamat hidupnya walau beda zaman.
Perempuan yang ada di sampingnya hanya tersenyum sambil mengangguk saja.
Kring.. kring.. kring.. Bel istirahat berbunyi.
"Em hei nama kamu Lulu kan?" Tanya Adrian
"Iya." Jawab Lulu kemudian bangkit dari duduk dan..
"Heh! Lulu, jangan sok kecantikan kamu. Mentang-mentang duduk satu bangku dengan Adrian kamu gak boleh ambil dia, dia milikku. Ayo ikut kita." Tarik Mia seorang murid populer di sekolah ini.
Lulu yang hanya ikut saja karena tangannya di tarik oleh Mia. Seretan demi seretan itu berakhir di toilet wanita.
"Semua keluar." Teriak Mia menyuruh seorang yang ada di toilet keluar.
Tanpa bersuara semua murid perempuan yang ada di toilet seketika keluar.
"Heh! belum puas kamu dekati kak Angga, kini si tampan murid baru itu juga mau kamu dekati?" Jambak Mia pada rambut panjang milik Lulu.
"Teman-teman." Teriak Mia lagi.
Dua temannya itu sudah tau apa yang harus mereka lakukan.
"Nih." Satu ember air bekas pel mengguyuri tubuh Lulu dari ujung rambut hingga ujung kaki air pel yang kotor itu mengalir dengan deras.
Kedua teman Mia yang tengah menuangkan air itu tertawa puas melihat keadaan Lulu sekarang.
"Udah, ayo kita pergi." Mia dan dua temannya berlalu dari pandangan Lulu.
"Kenapa rundungan ini tak ada hentinya? apa salahku pada kehidupan ini?" Batin Lulu.
Ia berjalan menuju loker untuk mengambil pakaian, namun saat membuka loker tak ada satu pun pakaian di sana.
Hiks.. hiks.. hiks..
"Kamu kenapa?" Terdengar suara berat yang bertanya pada Lulu.
Dia tak lain adalah Adrian. Lulu hanya menatap Adrian dengan wajah datar dan pakaian yang basah kuyup.
Adrian mengernyitkan wajahnya.
"Kenapa baju Lulu basah gini, airnya kotor pasti? karena bajunya terlihat kecoklatan. Apakah dia dibully? Aku harus selidiki ini."
Dengan cepat Adrian membuka lokernya dan beruntungnya sepasang pakaian olahraga terletak di lokernya.
"Nih, kamu pakai ini dulu." Adrian menyodorkan baju olahraga itu.
Lulu mau tak mau harus menerima kebaikan dari Adrian, karena dia tak mau jatuh sakit hanya karena baju basah.
"Makasih, besok aku pasti kembalikan." Ucap Lulu kemudian berbalik meninggalkan Adrian.
Tangan Adrian mengepal dan mengacungkannya sambil berkata. "Yes."
Tercuat senyum yang memuaskan di wajah Adrian saat ini.
Besoknya__
Istirahat tiba__
"Ini baju olahraga mu, makasih ya!" Lulu mengembalikan baju milik Adrian lalu berjalan menuju luar kelas.
"Lu.." Panggilan Adrian terhenti dan Dia hanya berjalan mengikuti Lulu dari belakang.
Lulu berjalan di taman dengan tenang, namun air mukanya tiba-tiba berubah drastis saat ketiga nenek sihir yang iri akan kecantikannya datang menghampirinya.
"Heh! sudah ku bilang, jangan berani-berani dekati babang Adrian."
"Ini akibatnya kalau tidak nurut." Ucap Mia sambil memegang gunting dan langsung memotong rambut panjang Lulu.
"Hentikan Mia." Teriak Adrian dari belakang yang langsung berlari menghampiri mereka.
Mia mendengar teriakan itu tapi masih dengan memotong rambut Lulu hingga terpotong semua lalu dia pun berlari.
"Ayo teman-teman." Mereka bertiga berlari.
"Huh, sialan! Berani sekali mereka melakukan ini padamu." Gerutu Adrian dengan suara tersengal-sengal.
"Astaga rambutmu? kamu baik-baik aja?" Tanya Adrian.
Hiks.. hiks.. hiks.. Lulu sudah tak tahan dengan kesedihannya kini mengekspresikan apa yang tengah ia rasakan.
Adrian pun kebingungan apa yang harus ia lakukan.
"Yaudah kamu tunggu sini bentar ya."
Tak lama kemudian, Adrian kembali ke taman. Lulu sudah tak berdiri di tempat tadi dan..
"Oh ternyata dia di dekat danau itu." Mata Adrian menangkap Lulu yang duduk diam di tepi danau.
"Sini aku rapihkan rambutmu." Ucap Adrian sambil tersenyum dan duduk di samping Lulu.
Srek.. srek.. srek.. Suara gunting yang sangat tajam tengah menggunting sesuatu. Itu adalah bunyi gunting yang di gunakan oleh Adrian.
"Nah sekarang sudah rapih."
"Kalau kamu diam terus diginiin, mereka gak akan jera. Kamu harus lapor ke guru." Ucap Adrian dengan tersenyum.
"Aku udah lapor tapi kata guru kalau gak ada bukti itu tidak berguna."
Adrian menaruh telunjuknya di dagunya sambil berfikir.
"Tidak ada bukti ya? yaudah berarti kita harus cari bukti."
"Gimana caranya?" Tanya Lulu yang menoleh menatap wajah Adrian.
"Besok kamu seperti biasa saja, aku akan mengumpulkan buktinya.
Dua hari setelahnya__
Pulang sekolah, Lulu menggantikan jadwal piket Mia. Namun Mia dan kedua temannya menunggu di luar untuk merundung kembali Lulu.
Beberapa menit kemudian Lulu keluar dari kelas karena telah menyelesaikan tugasnya.
Ia menuruni anak tangga untuk segera pulang ke rumah.
Mia dan temannya tersenyum licik yang sudah berdiri di tengah-tengah anak tangga.
Lulu yang hanya terus menuruni anak tangga biasa saja karena ia sudah menuruti permintaan Mia.
Namun..
Bug..
Mia mendorong Lulu yang tengah turun itu.
"Aw..." Teriak Lulu yang sudah jatuh di tangga.
Untungnya Lulu jatuhnya tak terlalu tinggi.
Hahaha gelak tawa ketiga nenek sihir itu menggema di sekitar tangga itu.
"Aduh Lulu-Lulu makanya jangan sok kecantikan, enakkan kita dorong, dan juga rambutnya kita potong jadi pendek gitu. Hahaha." Teriak Mia.
Hari telah berganti, Lulu tetap sekolah meski dalam keadaan kakinya terkilir. Ia berjalan menuju kelasnya dan di bantu dengan Adrian.
"Kamu tenang, setelah aku antar kamu ke kelas. Aku akan tunjukan ke guru semua perbuatan Mia ke kamu."
"Maaf ya aku gak bisa nolongin kamu kemarin, karena aku gak mengira mereka akan mendorongmu." Ucap Adrian lagi.
Setelah mengantar Lulu,Adrian pergi ke ruang guru.
"Apa-apaan? Murid macam apa dia ini?" Teriak guru wali kelasnya setelah melihat berbagai video kejahatan yang di lakukan oleh Mia.
"Ayo kita ke ruang kepala sekolah, ini tak bisa dibiarkan." Teriaknya lagi lalu berjalan menuju ruang guru.
Bapak kepala sekolah yang merupakan Ayahnya Mia tertampar malu dengan tindakan anaknya.
"Aku telah gagal mendidik anak saya, maafkan saya bu. Seperti saya harus undur diri dari sekolah ini dan Mia..
Ucapnya terpotong yang masih sambil memegang ponsel milik Adrian. Ponsel itu berisikan video Mia yang mengambil uang Lulu, menjambak rambutnya, mengguyurinya dengan air bekas pel dan yang paling akhir ada video ia menjatuhkan Lulu dari tangga serta pengakuannya yang memotong rambut Lulu.
"Mia akan di D.O dari sekolah ini." Sambung Pak kepala sekolah.
Tidak hanya sampai disitu, video kelakuan Mia dan teman-temannya menyebar dengan cepat di situs web sekolah. Semua orang menatap Mia dengan jijik karena kelakuannya.
Satu sekolah kini tau akan perbuatan jahat Mia dan kawan-kawan.
Nama mereka tertempel di mading pemberitahuan jikalau mereka bertiga di D.O dari sekolah.
Di bawah pohon yang rindang di tepi danau, Lulu dan Adrian menatap air yang tenang itu dengan bahagia.
"Makasih ya Adrian, kamu sudah membantuku." Gumam nya sambil tersenyum.
Adrian menoleh ke arah Lulu dan merasa bahagia bisa menatap senyum menawan Lulu kini mengembang dengan indah.
Deg!
"Kenapa aku jadi gugup gini." Batin Lulu dan juga Adrian.
Keduanya sama-sama kembali mengalihkan pandangan ke arah danau dengan perasaan yang bahagia sekaligus nyaman.
Tiba-tiba di kepala Adrian terbayang akan foto yang diperlihatkan neneknya. Ada yang aneh dengan foto itu. Kenapa? kenapa foto itu?
Adrian menoleh ke arah Lulu dan..
"Lulu.." Panggil Adrian.
Lulu menghadapkan wajahnya ke arah Adrian.
"Ya.." Jawab Lulu sambil tersenyum tunduk malu.
"Perasaan apa ini? kok nyaman sekali tiap aku berada di dekatnya?" Batin Lulu.
Kepala Adrian menjadi sakit saat mengingat foto masa muda neneknya. Wajahnya sangat mirip dengan Lulu dan nama mereka juga sama.
"Astaga Nenek.! Teriak Adrian yang tanpa sadar mengeluarkan buliran bening dari ujung pelupuk matanya.
Lulu yang bingung saat mendengar kata nenek, Ia menatap Adrian sangat ambigu apalagi air matanya mengalir tiba-tiba. Lulu pun berusaha menyeka air mata yang terus mengalir di wajah tampan Adrian cucunya yang tidak diketahui olehnya.
"Apa ini? bagaimana mungkin aku menyukai nenekku sendiri." Batin Adrian.
"Nenek." Ucap Adrian lagi dan menyentuh wajah Lulu dengan tangannya.
Lalu...
Swing..
Tangan Adrian perlahan hilang dan begitu juga dengan tubuhnya yang perlahan-lahan hilang bersama dengan tiupan angin.
Lulu yang ter sontak kaget dengan kejadian ini panik dan histeris.
"Adrian.." Teriak Lulu yang tak sadar pipinya sudah diguyur dengan air mata yang begitu deras.
*Tahun 2069*
Adrian tiba-tiba duduk di tepi danau memegang pancingnya.
"Hah? Aku kembali? Nenek." Teriak Adrian lalu pulang ke rumah.
"Nenek.." Teriak Adrian sambil membukakan pintu rumah.
Nenek Lulu yang sedang asik menonton televisi ter sontak kaget mendengar teriakan cucunya.
Adrian menderaikan air matanya dengan sadar karena neneknya masih ada di dunia ini. Kemudian dia pun memeluk erat sang nenek.
"Kenapa dengan cucu nenek?"
Adrian hanya kesal dengan dirinya sendiri bagaimana bisa ia memiliki perasaan dengan neneknya di masa lalu.
"Nek? nenek dulu pernah di bully kan? terus ada yang nolongin nenek gak?" Tanya Adrian antusias.
Nenek Lulu tersenyum dan menceritakan kalau dahulu ada seorang pria tampan yang membantunya untuk membalas perbuatan Mia si nenek sihir itu. Namun sayang pria itu menghilang keluh nenek Lulu.
Kisah yang diceritakan nenek sangat sama persis dengan apa yang dialami oleh Adrian.
"Nek.."
Peluk Adrian dengan eratnya.
*Tahun 2021*
Lulu berdiri sendirian di tepi danau menatap kepergian Adrian tanpa tau dia adalah cucunya.