Dihari itu dia mengajak ku kesebuah tempat, tempat yang sama sekali tidak pernah ku tahu. Namun tempat itu begitu indah dan membuat ku takjub. Dia tersenyum puas saat melihat ku terus tersenyum menatap hamparan danau yang begitu tenang. Lalu, tanpa ku duga ia berlutut dihadapan ku dengan sebuah cincin yang ia pegang ditangannya. Saat itu aku merasa sangat bahagia, secara tidak langsung dia melamar ku, meskipun bukan didepan semua orang seperti di film-film yang biasanya aku tonton.
Kemudian aku mengangguk kan kepala ku tanpa ragu, dia berteriak senang hingga memeluk ku. Danau itu seolah menjadi saksi bagaimana caranya melamar ku. Bahkan saat mengingatnya saja sudah mampu membuat ku tersenyum.
Setelah kejadian itu, hubungan kami masih baik-baik saja bahkan terkesan lebih harmonis dari sebelumnya. Dia juga lebih posesif dari sebelumnya, namun sifat posesifnya itu sama sekali tidak menggangguku. Seolah aku merasa bahwa dia benar-benar takut kehilangan diriku. Tapi ternyata justru dia lah yang menghilang tanpa kabar, bahkan aku sendiri tidak tahu kemana perginya.
Tidak usah ditanyakan bagaimana sakitnya perasaanku saat itu, aku bahkan sempat depresi hingga hanya mengurung diri didalam kamar. Aku juga kerap kali melukai diri, bagiku melukai diri adalah seni untuk menenangkan. Orang tuaku? Hhh mereka terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing tanpa mempedulikan ku.
Satu bulan menghilangnya dia, satu bulan itu juga aku tidak pernah merasa tenang. Bahkan tak jarang aku berpikiran yang tidak-tidak. Sekuat tenaga aku menepis pikiran negatif yang bersarang di kepalaku, tapi rasanya tetap saja rasa itu seolah menghantuiku dan nyata adanya.
Kenapa semesta memberikan ku luka lagi disaat aku percaya bahwa cinta itu bahagia? Tuhan, aku ini hanya jiwa yang rapuh, untuk berjalan saja tertatih-tatih. Lalu kenapa kau berikan luka sedalam ini? Luka kemarin saja belum sepenuhnya sembuh, lalu kini aku harus mengobati luka baru lagi?
Namun, tepat dihari ulang tahunku, dia datang bersama seorang perempuan. Hatiku berdenyut nyeri kala melihat nya tersenyum hangat ke arah perempuan yang ia gandeng. Aku menepis pikiran buruk ku dan mencoba berpikir positif jika perempuan itu sepupunya. Tapi lagi-lagi kenyataan pahit yang aku terima, dia menghampiriku dan mengenalkan perempuan yang ia bawa itu adalah tunangannya. Lalu aku ini di anggap nya apa?
Aku hanya bisa tersenyum simpul menahan nyeri yang terus menghantam dadaku, tanpa terasa air mataku sudah mengalir deras membasahi pipiku. Tidak ingin terlihat lemah, aku pun berlari menuju toilet, kemudian menumpah-ruahkan tangis ku disana. Sungguh ini benar-benar sakit, aku tidak bisa mendeskripsikan bagaimana rasanya. Tapi jika bisa, aku lebih baik memilih mati dibandingkan harus menerima rasa sakit yang saat ini menjalar ke seluruh tubuhku.
Cukup lama aku menangis, hingga akhirnya aku memutuskan keluar. Aku tahu saat ini para tamu undangan pasti sudah menungguku untuk acara potong kue. Dengan senyum yang ku paksakan, aku berjalan menuju kerumanan tamu undangan, yang notabene nya adalah teman kuliah ku sendiri.
Mereka bersorak ria saat melihatku kembali. Aku melirik ke arah kerumanan untuk mencari sosok orang yang selalu aku rindukan satu bulan terakhir ini. Namun lagi-lagi aku merasa sakit saat melihatnya dengan mesra menyuapi perempuan itu. Aku berusaha mengalihkan perasaanku dengan segera memotong kue beberapa bagian, kemudian memberikan potongan kue itu kepada teman-teman ku.
Harusnya kue itu untuknya, tapi kurasa dia tidak akan mau menerimanya. Akhirnya potongan kue pertama aku berikan untuk sahabatku. Dia bahkan sesekali melihat ke arahku, namun dengan cepat aku mengarahkan pandangan ku ke arah lain.
Entah apa yang dia maksud, datang dengan perempuan yang ia sebut sebagai tunangan. Apa dia sama sekali tidak memikirkan bagaimana perasaan ku? Ah sudahlah, aku ini sangat menjijikkan, tidak seperti perempuan yang ia bawa. Perempuan itu bahkan terlihat sangat cantik dan begitu elegan, lalu apalah daya dengan diriku? Caranya dan caraku berpakaian saja sudah berbeda. Dia memakai dres selutut dengan tangan nya yang mengekspos bagian bahunya, sedang aku? Aku hanya memakai celana jeans ketat, tanktop dan kemeja kotak-kotak yang aku biarkan kancing nya terbuka.
Sudahlah, aku mencoba menguatkan diri dan sesekali tersenyum ke arah nya. Agar dia tahu bahwa aku sama sekali tidak keberatan atau merasa sakit saat dirinya bersama perempuan lain.
Dia menghampiriku dan membawa ku pergi dari kerumanan. Katanya ia hanya ingin berbicara hal penting dengan ku, setelah mendapat izin dari perempuan yang ia sebut sebagai tunangan.
Aku dan dia saling menatap cukup lama, hingga akhirnya dia mulai berbicara. Awalnya dia meminta maaf padaku, lalu kemudian dia mengatakan bahwa ia tidak bisa melanjutkan pertunangan kami. Aku tidak memberikan reaksi apa-apa, kecuali hanya tersenyum.
Perlahan aku melepas cincin yang ia sematkan dulu dijari manisku. Ia menerima cincin yang aku berikan, kemudian berlalu pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun. Hhh dia benar-benar berubah dari dia yang aku kenal dulu, tapi yasudah lah! Itu hak nya. Dan sekarang aku juga tidak mempunyai ikatan apa-apa lagi terhadapnya, kecuali sebagai seorang mantan.
Sungguh menyedihkan, hubungan yang dibangun dua tahun lamanya harus kandas hanya karna alasan yang tidak jelas. Protes? Sungguh itu bukan diriku. Logika saja, untuk apa aku protes dan marah-marah? Sedang dia saja sudah mendorong jauh tubuh ku ke jurang yang paling dasar.
Beberapa hari setelah pesta ulang tahun ku, dia mengadakan pertunangan nya di daerah Bali. Mengundangku? Hhh tidak, dia tidak akan sebaik itu. Tapi ternyata karma itu nyata adanya, disaat dia akan menyematkan cincin itu dijari manis tunangannya, tiba-tiba seorang laki-laki berteriak lantang dan memberi tahukan bahwa perempuan itu adalah tunangannya.
Laki-laki itu menarik paksa tangan perempuan itu, hingga mau tidak mau perempuan itu mengikuti langkah nya pergi. Bahagia? Tidak aku tidak sejahat itu, aku bisa memahami dan mengerti bagaimana perasaannya. Tapi aku juga tidak sebaik yang terlihat, aku pergi dari pesta pertunangan nya dengan hati yang begitu puas. Setidaknya dia juga merasakan apa yang aku rasakan.
Tak pernah kusangka hubungan yang dulunya terjalin romantis dan harmonis harus berakhir dengan alasan yang tidak jelas. Sebenarnya apa yang kau cari dari ku? Aku hanyalah seorang gadis yang berharap bahagia setelah dilukai dan dikhianati berkali-kali. Lalu kau datang dan meyakinkan ku bahwa cinta tak selalu berakhir luka, namun kenyataan nya sama saja. Cinta yang kau janjikan sebuah bahagia itu hanya pemanis kata, rasa cinta dan sayang yang selalu kau agungkan itu juga bohong.
Cinta, aku sudah tidak mau lagi berurusan dengan kata itu. Kata yang sukses membuat ku mati rasa hingga aku menutup diri ke siapapun juga. Kau yang kemarin menjadi sumber bahagiaku, tapi sekarang kau juga yang menjadi alasan luka-luka ku. Terlalu dalam luka yang kau berikan, hingga aku tak berani menatap kedepan dan menata kembali kepingan hatiku.
•••
Note : Pada dasarnya cinta dan bodoh itu beda tipis, seseorang akan melakukan apa saja untuk orang yang di cintai nya, bahkan tidak peduli jika nyawa sekalipun yang menjadi taruhannya. Jika mencintai hendak nya ada takaran, tidak kurang dan tidak lebih. Agar jika cinta itu tidak terbalas kamu tidak merasakan yang nama nya sakit berkepanjangan. Ibarat nya hati yang kamu punya adalah kayu, cinta yang kamu punya adalah bahan bakar, dan dia adalah api. Api itu yang membakar hatimu, menjadikan menggebu-gebu, jika bahan bakar yang kamu berikan pada api itu tidak berlebihan, maka hatimu tidak akan kebakaran dan menjadi arang hitam.
Jadilah biasa, tak kurung dan tak lebih dalam memberi. Keseimbangan dalam kehidupan, dengan mencintai secara sedang. Kesesuaian dalam kehidupan, dengan memberi dan diberi, menanam dan menuai.
•••
LIKE DAN DUKUNGAN KALIAN SEMUA SANGAT BERHARGA BAGI AUTHOR WKWK.