Alya adalah gadis desa Yang datang ke kota besar karna ingin mengadu nasibnya. dia gadis Yang sangat baik dan pandai, tapi karna ekonomi keluarganya dia tidak bisa lanjut sekolah. Di Jakarta ini dia bekerja sebagai pegawai di sebuah hotel berbintang Yang sangat besar. Suatu hari disuatu malam dengan hujan Yang sangat lebat dia bekerja lembur untuk menggantikan temannya yang lagi sakit, tapi nasib buruk terjadi padanya, dia diseret kesebuah kamar yang sangat besar, karna lampu kamar itu mati jadi dia tidak bisa melihat apa pun. Teriakanya, permohonannya, pngampunannya tak dihiraukan. Pemudah itu telah merenggut mahkota terindah pada dirinya, dia bagai singa kelaparan yang mengoyak mangsanya tanpa ampun. Setelah kejadian itu hidupnya terpuruk, ayahnya meninggal, ibunya sakit-sakitan, Dia diusir dari rumah oleh bibiknya. Akankah nasibnya berubah?
"Hemmm.. hem hemmmmm la laaaa lalalaaaaaa" Alya
"Wah wah wah suaramu merdu sekali Al" Suli
"Kau bisa saja Sul" Alya
Suli teman 1kosku Yang sama2 dari desa. karna kami berangkat ke Jakarta ini barengan dan dia adalah teman sekaligus sahabatku dari kecil. Kami senasib, sama2 tak bisa lanjut sekolah.
Di sebuah hotel berbintang
"Selamat pagi tuan apa ada Yang bisa saya bantu?" Alya
"Tidak2 tolong siapkan kamar seperti biasanya saja" Tamu
"Klo boleh saya tau tuan dari mana dan memesan untuk siapa? Maaf karna saya baru jadi belum tau Yang anda maksud tuan" Alya
"Hmmm. Begitu" Tamu
Kuliat tamu ini berfikir sangat keras, aku diam menunggunya dan tiba2 mbak Ambar dateng dan langsung menyapa tamu tadi. Aku langsung memberikan kunci pada tamu tadi.
"Sebenarnya dia siapa mbak?" Alya
"Hihihiii... kau baru 3th disini jadi wajar jika kau g tau siapa dia" Ambar
"Emng dia siapa mbak. orang penting?" Alya
"Dia asisten pemilik hotel ini" Ambar
"Ooo... ya ampun tampan sekali ya mbak" Alya
"Baru asisten kau terkejut. klo bosnya kau akan lebih terkejut lagi. Hahaha" Ambar
Mbak ambar adalah pegawe Resepsionis hotel ini juga tapi dia uda bekerja selam 12th disini jadi wajar kalo dia tau banyak hal.
"Ya Allah uda dateng musim penghujan aja" Suli
"Iya. deras sekali" Alya
"Al kamu g capek habis ini balik lagi untuk jagain piketnya Wati?" Suli
"Hmm. capek seh. tapi g papa kan piket malam g begitu banyak kerjaan" Alya
Tin tiiiin...
"Wah. itu kayaknya taksi online kita yuk brangkat" Suli
"Hem" Alya
Tiba di hotel
"Sul aku kebelakang ya gabung sama teman2nya Wati" Alya
"Iya hati-hati besok pulang bareng lagi ya" Suli
"Iya. kau ini aneh2 aja. kayak aku mau kemana" Alya
"G papa aku hanya merasa khawatir aja. Hujannya g biasa" Suli
"Kau benar seperti mau ada apa apa. aku juga merasakan kayak mau ada sesuatu" Alya
"Tapi semoga semua baik-baik aja ya. amin" sambung Alya
"Amin. uda pergi sama nanti dtunggu sama Yang laen" Suli
Dibagian belakang Hotel tempat cleaning seevis
"Assalamu'alaimum. selamat malam" Alya
"Wa'alaikumsalam. kamu yang gantikan Wati Al" Rina
"Iya mbak. tadi siang Wati telpon katanya dia lagi sakit trs minta tolong sama aku" Alya
"Yasudah kamu ganti baju dulu" Rina
Semua orang sudah mengenalku karna aku kadang suka jagain piket teman yang g bisa,dengan bayaran 100 sampai 200 sesuai dengan piket apa yang aku jagain dan waktu jaganya. Bagiku lumayan bisa jadi tambahan tabunganku.
" wati mana.!" Ratna
Ini dia Yang bikin aku g suka. Ratna orang Yang sangat benci denganku, entah kenapa. padalan Yang laen baik padaku. Dia datang dari kampung yang sama dengan ku. Tapi dia masuk kerja di hotel ini lebih dulu dan dia di bagian pengawasan.
"Maaf Wati sakit dan aku Yang menggantikannya" Alya
"Ooo. baiklah kau datang ke kamar no H6699 dilantai paling atas" Ratna
"Baik" Alya
Lantai paling atas adalah kamar-kamar bosi alias orang-orang penting atau kaya raya.
Ting pintu lif terbuka. Aku datang dengan membawah peralatan kebersihan lengkap.
"Dor.!" Aldi
"Aaarrhg.!" Alya
"Hahaha... kamu Yang datang" Aldi
"Duh. jangan bikin orang jantungan dech" Alya
"Al. eh. dobel Al" Yogi
"Uda selese gi?" Aldi
"Uda uda. hei kamu pasti disuruh Ratna Ya" Yogi
Aku hanya menganggukkan kepala
"Hmmm.. kecentilan sih. dia barusan dimarahi pelanggan dan diusir dari kamarnya" Yogi
"Eh. kenapa?" Alya
"Entah. yauda selamat bekerja. ayuk" Yogi
"Kami turun dulu ya Al. atau mau aku temeni" Aldi
"Hihihi.. g usa terima kasih" Alya
"Yauda. diruang istirahat paling ujung ada pak Sumar. kalo ada apa apa datang aja padanya ya" sambung Aldi
Aku mengangguk
"Waduh. karna ngobrol aku jadi lupa kamar Yang dimaksud Ratna tadi nomor berapa ya?"
Aku berjalan pelan dilorong sambil melihat satu persatu nomor kamar dan akhirnya ketemu. Setelah menyelesaikan pekerjaan Yang diinginkan pelanggan ini, aku mendapat tips.
Kuliat diruang istirahat ada pak Ruslan dan pak Sumar Yang lagi bersantai.
Atap Hotel Hujan tinggal gerimis. aku sangat suka saat hujan mulai tinggal gerimis saja. Aku bertedu dan mulai menyenandungkan lagu. Lagu ini diajarkan oleh ibu dan nenekku saat kami pulang dari kebun dalam suasana hujan gerimis waktu aku masih kecil. Tiba-tiba bulu kuduku berdiri aku merinding, aku bergegas turun tapi saat sampai dilorong tiba-tiba petir menyambar dengan dahsyatnya dan seketika lampu langsung mati.
Belum selese aku menetralkan keterkejutku uda ada Yang menarik tanganku kesebuah ruangan.
Brak. bruk
"Aduh. sakit apa ini, kursi, sofa sakit sekali" Alya
"Ya Allah kenapa gelap sekali aku tak bisa melihat apa pun disini" sambungku
"Aargh" bruk. praaaang
"Eh. Tuan tuan anda dimana? anda sakit apa yang terjadi? Tuaan?!" Alya
Aku mencari sambil meraba-raba dilantai, karna aku yakin orang yang menarikku tadi sedang sakit dan butuh bantuan. Aku bisa mendengar erangannya dan suara nafasnya Yang berat.
Setelah beberapa saat akhirnya aku menemukannya. ada orang yang tergeletak dinlantai. Tubuhnya panas, napasnya semakin berat dan dia semakin mengerang.
"Tuan tunggu sebentar aku akan memanggil bantuan" Alya
"Aku uda g tahan lagi" Mr. X
"Eh. apa?" Alya
"Sial. aku g sanggup lagi" Mr. X
"Aduh. tunggu tuan apa Yang terjadi?" Alya
"Aaargghh" Mr. X
"Tuan jangan lakukan ini. tuan aku mohon jangaaaaann..." Alya
"Tidaaaakk ku mohoooon!" Alya
Aku tak tau apa Yang terjadi. tangisanku dan teriakanku memohon tak dihiraukan. dia seperti singa Yang sedang kelaparan, tubuhku dicabik-cabiknya.
Sesampai dikos aku mandi sampai berapa Lama aku tak tau. dan saat aku menyadari sesuatu aku bergegas kluar untuk melihat kalender.
"Aaaarrggh. sial masa subur" Alya
Aku melemas dan bersimpuh dilantai ditepi tempat tidurku, meringkuk sambil memegangi lututku. Tubuhku menggigil dan mataku terasa panas karna menangis.
"Al.. Alya. Alya!" Suli
"Hemm" Alya
"Kau tidak apa-apa Al?" Suli
"Suli" Alya
"Kau membuatku takut. aku mencari kamu tadi. katanya kamu g ada dan mungkin kamu pulang. Hp mu ku telpon juga g bisa" Suli
"Hp.?" Alya (Ah. iya hp ku tertinggal)
"Iya" Suli
"Kenapa Al? Ada apa?" sambung Suli
"Dan ini apa? kenapa tubuhmu penuh dengan tanda merah-merah begini? dan lututmu juga memar. Ada apa Al? ceritalah pada ku. kenapa tubuhmu penuh dengan luka begini?" Suli menimpaliku banyak pertanyaan
Seketika tangisku pun pecah, saat kuliat tubuhku sendiri Yang hanya ku balut dengan handuk. Aku tumpahkan semua rasa sakitku pada Suli dan ku ceritakan kejadian semalam Yang menimpahku. Suli menangis sambil memelukku. Orang-orang kecil seperti kami bisa apa? Mau lapor juga harus punya banyak uang, harus ada saksi dan bukti. Semua rasa pahit ku telan mentah-mentah. Andai aku tak pergi ke atap dan bersenandung dibawah hujan mungkin ini tak akan terjadi pada ku.
Aku takut untuk kembali bekerja. melihat hotel itu saja membuatku takut dan mengingat kejadian malam itu. Aku mengundurkan diri dan ku titipkan Surat pengunduran diriku pada Suli. Aku kembali ke kampung halamanku dan meminta tolong pada Suli untuk tidak menceritakan apa Yang ku alami dan untuk merahasiakan tentang diriku. Karna aku takut jika orang itu akan mencari dan menuntutku.
Sesampai dirumah aku memilih jujur dan menceritakan semua Yang aku alami kepada orang tuaku. Mereka menangis karna mereka sadar kami orang kecil tak akan bisa berbuat apa-apa klo kejadian seperti itu menimpah kami.
Setelah 1bulan aku tak mens dan itu membuatku semakin cemas. Ibu membawahku periksa ke bidan dan aku dinyatakn Hamil 6mingg. Ayahku syok dan mengalami serangan jantung Yang akhirnya meninggal.
"Keluar.! dasar tidak tau malu. Sapa Yang menghamilimu?! gugurkan anak itu. gara-gara kamu anak jalang kakakku jadi meninggal, dasar kau pembunuh.!" teriak dan makian Bibiku padaku dan ibuku
"Maafkan aku bi. tolong biarkan aku tinggal dirumah ini, ibuku sedang sakit. aku harus pergi kemana?" Alya
"Aku g peduli kau mau pergi kemana. cepat keluar dari rumah ini. atau kau gugurin bayi berdosa itu" bibikku
"Jangan Bi. tolong jangan bunuh bayiku, dia tidak bersalah" Alya
"Baik. klo kau tak mau gugurkan dan ingin tetep tinggal di rumah ini maka kau hatus menikah dengan Dadang" bibikku
"Jangan aku tak akan setuju anakku menjadi istri ke3 orang itu" Ibuku
"Kau masih pilih-pilih dengan putrimu Yang Bunting entah dengan siap hah!" bibikku
Tak terasa 6th telah ku lewati dengan susah payan. Sekarang aku bersama IBU dan ke2 anakku tinggal di sebuah rumah kecil dengan 2 kamar. Dan setiap bulan aku membayar ke orangtuanya Suli. Karna beliaulah Yang menolong kami dulu dan melunasi sisa pembayar rumah kami, jadi kami tinggal mencicilnya kebeliau. Ayah Suli meninggal dan ibunya menikah dengan duda kaya, karna ibunya tau ceritaku dari Suli dan perlakuan Bibiku yang kasar dan mengusirku Yang sedang hamil. Bliau menolongku dan membawa aku dan ibuku ke Surabaya. Memberiku pekerjaan dirumah kenalan suaminya sampai kadaanku membaik seperti saat ini. Aku sangat bersyukur dan berterima kasih pada orang tua Suli.
"Ibu. hentikan. kenapa ibu selalu mengotori wajahku.!" Alisya Alya
"Hei hei lihat anak kurang ajar ini"
"Aaah.. bukan begitu. tapi ibu bikin aku capek, kenapa ibu selalu menciumku seperti itu. Ibu seakan ingin menelanku" Alisya
"Benar. ibu juga nakal karna selalu mencium bibirku" Aldriyan
"Hei... ibu coba lihat bocah-bocah ini" Alya
"Hahahaha... benar sekali" ibuku
"Aaaahh.! aku tidak mauuuuu ibu sama nenek nakal" Alisya dan Aldriyan
Hahahahaaa... aku sungguh bahagia. Sekarang rasanya tak ada Yang ku inginkan lagi, semua komplit. Apalagi anak-anakku mereka sangat lucu dan pintar. Mereka juga sangat dewasa untuk anak seumuran mereka, mereka sangat tampan dan juga cantik. Rambut hitam legam, bola mata hitam Yang sangat tajam, hidung mancung, bibir tipis, sungguh sangat menggemaskan rasanya ingin kuntelan lagi mereka. Mereka juga sangat cepat belajar, hehee bibit unggul. Sapa Yang ditiru mereka apa ayah merak. mungkin ayah mereka juga setampan dan secantik mereka. hihiihiii
"Ibu Alya....!" Bram
"Ya Allah... kenapa kalian belum mandi hah?" Alya
"Syukurlah kau sudah datang Alyah. aku tak sanggup menangani boca-boca nakal ini" Majikan perempuanku (ibu bianka) dan aku memanggilnya nyonya
"Mama g asyik" Brayen
"Aduh anak ini. kau urus mereka ya Alaya, aku pergi dulu sudah terlambat" nyonya
"Baik nyonya" Alya
Aku bekerja sebagai pengasuh anak majikanku. mereka 1th dibawah anak-anakku dan mereka juga kembar (Bram dan Brayen). Kadang saat bekerja aku juga membawah anak-anakku seperti saat ini. Mereka selalu bermain bersama berlari kesana kemari, kadang aku perhatikan mereka seperti saudara ada kemiripan diantara mereka. Aku tak pernah tau suami majikanku ini, selama aku bekerja disini selama 4th tak sekalipun kulihat wajahnya bahkan fotonya pun tak ada Yang terpasang di rumah ini. Kalo kata Bik Sumi pembantu Yang sudah Lama disini Tuan pulang seminggu sekali dan hari itu aku libur kerja, karna itu waktu untuk keluarga saja.
Suatu hari entah apa kesalahan Yang ku perbuat, tiba-tiba aku dipanggil ke ruang kerja nyonya.
"Alya kau bekerja disini uda Lama ya" nyonya
"Iya nyonya. sekitar 4th" Alya
"Apa aku boleh Tanya padamu?" Nyonya
"Katakan nyonya" Alya
"Putra putrimu Alisya dan Aldriyan berapa usia mereka sekarang?" Nyonya
"5th nyonya" Alya
"Hmmm. baiklah kau boleh keluar sekarang" nyonya
Aku tak tau kenapa aku merasa takut. Kenapa Nyonya menanyakan tentang anak-anakku.
"Ibu apa aku nyari kerja lagi saja ya?" Alya
"Kenapa Al?" ibu
"Entalah. aku tadi dipanggil nyonya dan ditanya tentang anak-anakku" alya
"Memangnya kenapa?" ibu
"Aku tidak tau bu. aku tak pernah melihat suami nyonya. di rumahnya juga tak ada fotonya" alya
"Kalo ibu terserah kau saja Alya" ibu
Ku liat anak-anakku bermain didepan kami. Ruang tamu ini dihiasi sama tawa mereka berdua.
"Loh. kok sepi bik?" alya
"Eh. Alya iya bibik lupa kasik tau kamu klo nyonya pergi ke Jakarta tadi padi sama anak2nya" bik sumi
"Ada apa bik, kok tumben?" alya
"Entalah. bibik juga g tau. kayaknya Tuan lg sakit disana" bik sumi
"Ooo.. yauda sini Alya bantuin bik, apa Yang belum dikerjakan" alya
"G ada si Al. cuma ini mau jemur aja" bik sumi
"Ya sudah biar Alya Yang jemur" alya
"Ya sudah. kalo gitu bibik ngepel dalem ya" bik sumi
"Iya" alya
"Kok cepet masih siang uda pulang Al?" ibu
"Iya bu. nyonya pergi ke Jakarta sama anak-anaknya. katanya suaminya lagi sakit" alya
"Ibu Alisya boleh makan es crem g? Karna dari kemaren belum makan es crem" alisya
"Ayan juga ya bu? Ayan juga belum makan es crem" aldriyan
(Hem. anak-anakku ini menggemaskan sekali)
"Baiklah. makan satu satu ya" alya
"Iyaaaa" triaknya kompak
Brrrrtt brrrrttt
"Halo nyonya" alya
"Alya besok kau dateng ke rumah pagi-pagi ya" nyonya
"Iya nyonya" alya
Tuuutt
Setelah seminggu pergi tiba-tiba memanggilku pagi-pagi kira-kira ada apa ya? kok perasaanku jadi g enak.
"Selamat pagi nyonya" alya
"Langsung ke ruang kerja Al" nyonya
Aku melangka mengikuti nyonya ke ruang krjanya, g biasanya nyonya memasang wajah Yang serius dan suara yang tegas begitu
"Langsung aja Al. duduklah" nyonya
"Iya nyonya" alya
"Alya. kau bekerja padu uda sangat Lama. aku belum begitu tau tentang dirimu secara mendetail. Aku mengenalmu dari teman suamiku. Aku senang denganmu karna kamu merawat anak-anakku dengan sangat telaten dan lembut, mereka juga sangat menyukaimu" nyonya
"...." alya
"Alya aku ingin tau sapa suami dan ayah dari anak-anakmu" nyonya
"Deg. maaf nyonya" alya
"Alya apa suamimu masi dihup, dimana dia sekarang?" nyonya
"Maaf nyonya" alya
"Alya. aku tak ingin mendengar kata maafmu. melaikan jawaban" nyonya
Apa ini, kenapa nyonya tiba-tiba menanyakan tentang ayah anakku. Aku harus jawab apa? Aku g mungkin cerita tentang kejadian malam itu, tidak mungkin.
Air mataku mulai menggenang karna teringat kejadian malam itu. Tiba-tiba nyonya menyodorkan selembar tofo.
"Aldryan" gumamku. Dan ternyata nyonya mendengar gumamanku
"Bukan.!" nyonya
"Ya?" alya
"Dia adalah suamiku saat kecil Yang usianya seusia putramu 5th" nyonya
(Deg. tidak mungkin, itu tidak mungkin) Aku bangkit dan lari meninggalkan rumah nyonya sebelum nyonya menyelesaikan kalimatnya. Kepalaku pusing perasaan yang campur aduk. Sakit, sesak, benci, marah semua ku rasakan jadi satu didadaku. Seperti ada petir Yang menyambarku saat itu juga. Jadi orang malam itu adalah suami nyonya, orang Yang telah membuat hidupku jadi berantakan. Aku g mau kebahagiaan Yang kurasakan saat ini hancur lagi, aku g mau kehilangan anak-anakku. Alam seolah menyertai nasib burukku, hujan turun dengan sangat derasnya,mengguyur tubuhku dan air mataku menyatu dengan hujan. Tubuhku gemetar, kakiku tak sangup menopang dan aku trsungkur ditrotoar, aku menangis sejadi jadinya, dadaku rasanya trcabik-cabik.
Setelah sampai dirumah aku menceritakan pada ibuku, kami menangis bersama. (kenapa nasibku selalu terpuruk begini? apa Salah dan dosaku ya Rabb).
"Ibuuu.. " alisya
Anak-anakku terbangun dari tidur mereka karna tangisku. Mereka memelukku dan mencium seluruh wajahku dan berkata tak akan meninggalkan aku. Tangisku semakin pecah dan memeluk mereka dengan erat.
Aku menghubungi Suli Yang sudah menikah dan menetap di Jakarta. Dia masih tetap bekerja di hotel itu. Dia menyarankan aku untuk datang dan tinggal di rumah kakak iparnya Yang tidak ditempati. Untuk menghindari kalo-kalo nanti keluarga nyonya menuntut dan mengambil anak-anakku.
"Suli terima kasih banyak" aku memeluk temanku itu dengan erat karna dia selalu ada untuk aku selam ini
"Terima kasih ya nak Suli" ibu
"Sama-sama bu. tidak usah sungkan tempatilah rumah ini karna g ada Yang nempati" suli
"Aku membayarnya aja Sul. g enak sama suamimu. Aku akan mengontraknya" alya
"Tenang aja, suamiku uda tau ceritamu dan dia g keberatan kamu tinggal disini" suli
Aku uda 1th tinggal di Jakarta di rumah ipar Suli dan bekerja di supermarket deket sama rumah itu. kira-kira jalan kaki sekitar 15menit.
Brrrrtt brrrtt
"Alya kau dirumah?" suli
"Aku baru mau pulang. kenapa Sul?" alya
"Kau dimana sekarang.!" Mr. X
"Deg...??" (su... suara cowok. siapa dia?) alya
"Jangan membuatku nunggu cepat katakan kau dima?!" Triaknya
Tuuuuuttt. Aku mematikan sambungan telpon dan berlari pulang.
"Ibuuuu.!" alya
"Alya kenapa? kenapa panik begitu. ada apa nak?" ibu
"Dia... dia menemukan kita" alya
"Siapa?" ibu
"Suami nyonya ibu.. suami nyonya menemukan kita" Tangisku pecah seketika
Aku memeluk erat anak-anakku yang tertidur, aku g mau memberikan mereka
"Alya kasian mereka nak? apa Yang kau lakukan. biarkan mereka tidur" ibu
"Aku g mau kehilangan mereka ibu. aku g mau" alya
"Ibuuuu... " tangan kecil putraku mengusap air mataku
"Aku g akan meninggalkan ibu" suara mungil putriku.
Tangisku semakin pacah mendengar mereka.
Dok dok dok
Tubuhku gemetar mendengar ketukan pintu rumah.
"Om siapa?" alisya
"Deg. Alisya!" aku menarik tangan anakku dan mendekapnya
Kuliat ada cowok Yang berdiri diambang pintu dengan perawakan Yang sangat bagus. Tampan, gagah, sepertinya dia orang kaya. Dia menatapku dengan tatapan Yang sangat tajam.
"Apa dia anakku." kalimat pertama setelah dia duduk dikursi rumahku
"Bu.. bukan dia putriku" tubuhku gemetar sambil berdiri menggendong putriku.
Ibu dan putraku tidak dirumah, karna sedang sekolah, sedang putriku hari ini demam itu sebabnya dia tidak sekolah. Putriku akan sakit jika melihat aku panik dan ketakutan.
"Jangan marahi ibuku" alisya
"hem hem. kau sangat menyayangi ibu mu?" Mr. X
"Tentu. dia malaikatku" alisya
"Hahaha... gadis Yang cantik" Mr. X
"Apa Yang akan kau lakukan jika aku memarahi ibumu?" sambung Mr. X
"Aku akan pekul Om. Aku g mau berteman sama Om" alisya
"Ahhahaha... baiklah, aku tak akan memarahi ibumu. tapi kau harus berteman denganku" Mr. X
"Baik" jawab putriku sambil mengangguk riang
Setelah kejadian itu tak ada kabar lagi dan orang itu tak muncul lagi 1bulan... 2bulan... 3bulan, dan sepertinya uda aman. Aku juga uda mendengar penjelasan dari Suli mengenai cowok Yang menyaut telponya waktu itu. Tegasnya itu adalah bosnya dan Yang sedang mencari orang dan sepertinya Salah orang, aku merasa lega mendengar penjelasannya.
Saat berangkat kerja aku merasa ada Yang mengikutiku dan benar saja, ada beberapa orang dengan tubuh besar menghadangku.
"Si.... si... siapa kalian.?!" alya
"Nyonya" pengawal
"Mau apa kalian. aku tidak mau lepaskan. toloooong to...hemp" alya
Di dalam mobil aku menatap mereka satu satu (siapa mereka sebenarnya dan mau apa mereka sama aku? siapa Yang menyuru mereka?)
(nyonya?)
(mereka memanggilku nyonya)
"Kita sudah sampai nyonya" pengawal
(Sampai. sampai mana?)
"Tuan" sapa mereka pada seseorang sambil menundukkan kepala
(deg. pria ini? bukankah dia Yang waktu itu kerumah?)
"Kalian membuatnya basah kuyup" Mr. X
"Maaf tuan. nyonya berontak, jadi kami terpaksa memaksanya" pengawal
"Hem. kalian boleh pergi" Mr. X
"Dan kau ikut denganku" Mr. x
"Maaf saya tidak ada kepentingan dengan anda" alya
Saat aku mau pergi dia menarik tanganku dan menyeretku paksa. Semua orang melihat tapi tak satupun Yang mau menolongku.
"Kau ingat tempat ini?" Mr. X
"..." tubuhku sudah bergetar ketakutan
Dengan satu jentikan jari lampu koridor itu pun langsung padam
"Aarrrgh!" alya
"Masuk" Mr. X
"Apa Yang ingin tuan lakukan?" alya
"Sama seperti Yang kulakukan 7th lalu" Mr. X
"deg. tidak tuan akan dituntut banyak orang Yang melihat tindakan tuan tadi" alya
"Aku sudah tidak sabar dan aku tidak tahan" Mr. X
Bruk... Sraaakk...
"Tidaaaak.!" tangisku pun pecah
"Katakan. apa dia anakku?" Mr. X
"Bukan" alya
"Baik" Mr. X
Dia semakin brutal, dia merobek semua bajuku. Kejadian malam itu pun kembali terlintas. Hatiku terasa seperti disayat
"Tolong jangan lakukan tuan... maafkanlah aku" alya
"Ku mohon lepaskan aku" alya
"Aku g mau merusak rumah tangga tuan dan nyonya" alya
"Tolong biarkan aku hidup dengan anak-anakku, hanya mereka kekuatanku untuk bertahan hidup" alya
Aku meracau dalam kesakitanku, dan tak tau apa lagi Yang terjadi.
Saat aku membuka mata suasana uda terang.
"Kau sudah sadar" Mr. X
"Tu... tuan" alya
"Bersihkan tubuhmu dan ganti bajumu" Mr. X
Karna takut aku pun patuh dengan semua perintahnya.
"Kalian sudah datang" nyonya
"Nyonya?" alya
"Ibu.... " Brayen
"Ibu alya... " Bram
Bruk
"Aku sangat merindukan ibu Alya" Brayen
"Hem. kenapa ibu Alya g pernah datang kerumah lagi" Bram
"Tapi mulai sekarang kita akan bersama" Bram
"Iya mama bilang kita akan bersama selamanya" Brayen
"Yeeeeee....aku senang akan tinggal bersama ibu Alya selamanya" triak kedua bocah itu
"Hoh sudah datang rupanya" Mr. X2
(deg. apa ini? dua orang Yang sama. wajah dan penampilan sama persis)
"Waktu itu aku belum selese bicara tapi kau sudah lari pergi" nyonya
"Dia Exel Prawira suamiku dan dia Alex Prawira adik iparku" nyonya
"Kau pergi, terus bersembunyi karna takut merusak rumah tangga kami?" exel
Aku tak menjawab hanya mengangguk
"Jangan pergi lagi, aku akan menikahimu“ alex
"Duduklah dulu Alya" nyonya
"Anak-anakmu butuh seorang ayah" sambungnya
"Anak-anak? maksud kakak ipar?" alex
"Hehe. .kau belum lihat waktu kerumahnya?" nyonya
"Aku bertemu dengan putriku" alex
"Oh. si comel, jadi kau belum liat Yang perkasah?" nyonya
"....?" alya
"Apa maksudmu sayang?" exel
"Maksud kakak ipar aku.. " alex
"Ya y. Kakak Ayan sama kak Alisya" celoteh 2 bocah Yang ada dipangkuanku
"Kalian mengenalnya?" Alex
"Kami selalu bermain di rumah Surabaya" Brayen
"Alya" exel
"Eh. iya tuan" alya
"Kau jangan Salah paham. orang Yang bersamamu 7th lalu bukan aku, tapi Alex adikku" Exel
"Aku akan menikahimu sekarang juga. karna aku g sabar ingin bertemu anak-anakku" alex
"Maaf..?" alya
"Aku baru melihat putriku. aku belum melihat putraku" alex
Uda 1bulan aku tinggal bersama keluarga lecilku. Aku, putra-putriku dan ibuku. Aku g tau bagaimana dengan perasaanku tapi yang jelas aku masih takut dengan suamiku. Dia sangat menyayangi kami, Alex suamiku selalu bersikap lembut padaku. Hp yg kutinggal dulu masih disimpan, dia bilang putus asah mencariku karna ingin bertanggung jawab. Tapi semangatnya muncul lagi saat dia mendengar ke2 ponakannya menyanyikan nyanyian hujan yg q ajarkan. Dia mengingat nyanyian itu saat dia mengikutiku dari atap hotel.
Takdir apa pun Yang terjadi, masalah apa pun Yang dihadapi. Intinya semua hanya butuh kesabaran dan ketulusan kita untuk menerima dan menjalaninya, karna semua sudah tercantum pada suratan takdir kita.