Ada sebuah pasangan yang yang sudah lama menikah tetapi belum mempunyai keturunan. Nama kedua orang itu adalah Haris dan Ria. Sudah banyak pengobatan yang dilakukan. Akhirnya mereka memeriksakan diri mereka ke dokter. Ternyata dari salah satu pasangan tersebut ada yang mandul yaitu sang suami.
“Maaf ya sayang, kita gak punya keturunan.” Kata Haris dengan lesu.
“Gak apa apa mas, kita kan bisa mengadopsi anak dan mungki saja nanti ada keajaiban dari Allah.” Ucap sang istri, Haris mengecup kening istrinya sambil memeluk istrinya dengan erat.
Sehabis dari rumah sakit, mereka langsung menuju ke panti asuhan yang bernama Citra Kasih. Disana terlihat banyak anak yang sedang bermain. Haris memarkirkan mobilnya di halaman. Panti asuhan itu besar dan berwarna putih. Taman bermain yang luas, taman yang indah dan halaman yang luas. Udara yang sejuk mengitari panti itu.
Begitu pasangan itu keluar dari mobil langsung disambut oleh anak-anak yang mengeruni mereka. Rata-rata usia mereka sekitar 4-5 tahunan. Kebahagiaan seperti itu kapan lagi dirasakan oleh mereka. Haris dan Ria mengelus kepala anak yang berkumpul disana.
“Om sama Tante mau main gak sama kita?” Tanya salah satu anak kecil yang berada di panti asuhan itu.
“Boleh.” jawab pasangan itu secara bersamaan.
Tiba tiba terdengar suara seorang perempuan yang memanggil anak-anak itu. Ternyata itu adalah ibu panti. Haris dan istrinya kenal dengan Ibu panti itu dan mereka sama-sama tersenyum untuk sekedar sapaan secara tak langsung.
“Anak-anak, kesini!” Perintah ibu panti dengan suara lembut khasnya dan tersenyum kepada pasangan itu.
Kemudian anak-anak itu berlarian ke arah Ibu panti, dan Haris beserta istrinya mengikuti anak anak itu. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan, seperti pasangan baru saja. Tapi begitulah seharusnya para suami istri yang harus menjaga keharmonisan, kepercayaan, dan keromantisan satu sama lainnya.
“Pak Haris, Bu Ria, apa kabar?” Tanya Ibu panti yang berniat basa basi dengan Haris dan istrinya.
“Alhamdulillah baik Bu, kabar ibu sendiri?” Jawab Ria yang menanggapi pertanyaan Ibu panti dengan sopan.
“Alhamdulillah baik, silahkan masuk Pak, Bu.” Jawab ibu panti yang mempersilahkan mereka berdua untuk masuk kedalam panti dan dijawa anggukan oleh Haris dan Ria.
Kemudian Ibu panti memerintahkan anak anak untuk bermain kembali dengan berhati hati. Mereka bertiga masuk ke sebuah ruangan yang agak luas dan disana terdapat beberapa foto anak anak panti dan Ibu panti. Mereka duduk di kursi dan membicarakan tentang soal mengadopsi anak.
“Anak yang mau bapak dan ibu adopsi sekitar umur berapa?” Tanya ibu panti kepada mereka berdua.
“Yang sekitar umur 4 tahun?” jawab Haris sambil menoleh ke arah istrinya dan disambut dengan senyuman yang hangat.
“Sebentar, saya carikan data anak usia 4 tahun-an.” Kata ibu panti sambil mencari data anak di loker meja.
“Ini data anak usia 4 tahunan!” Kata ibu panti sambil menyerahkan data yang dikemas dengan map berwarna biru dongker itu.
Haris dan istrinya menerima map itu dan melihat data anak yang ada didalam data tersebut, anak-anak yang berada dalam data terlihat tampan dan cantik itu pikir mereka. Anak anak yang ada disini begitu terawat dengan baik. Bahkan sampai ada yang menjadi pengusaha sukses yang dirawat disini, dan sekarang menjadi penyumbang terbesar di panti ini.
Setelah melihat data itu, Haris dan Ria tertarik untuk merawat dan mengadopsi anak bernama Yuna. Anak yang pendiam dan sedikit anti sosial. Bisa dibilang dia cukup cerdas dan sudah banyak mendapatkan mendali tetapi sayang dia tidak memiliki teman. Maka dari itu Haris dan istrinya ingin merawat Yuna.
Yuna dirawat di panti asuhan itu sejak dia bayi umur 2 bulan. Dia di temukan didepan panti dan pada saat hujan. Dan sejak itu dia tak pernah tau siapa orang tuanya. Dan tak pernah peduli dengan sekitarnya, dia selalu menjadi anak yang tertutup.
Hari itu juga Yuna tinggal di rumah mereka dan menjadi salah satu keluarga pasangan tersebut. Saat diperjalanan mereka bercerita banyak hal yang membuat mereka menjadi semakin dekat. Haris dan Ria menanyai semua hal kepada anak itu. Walaupun dijawab singkat tapi setidaknya dia mau menjawab. Setelah perjalanan yang penuh dengan kebahagiaan mereka sampai di rumah pasangan itu.
“Ayo turun nak, kita udah sampai dirumah.” kata Ria sambil menggandeng tangan Yuna.
“Ini rumah Yuna yang sekarang ya?” tanya Yuna kepada sang ibu.
"Iya." jawab sang ibu sambil melempar senyum.
Dia terlihat senang dan tersenyum itulah pertama kalinya Yuna tersenyum dan yang melihatnya adalah orang tua angkatnya. Anak tersebut termasuk jenius. Dia tau bahwa dia hanya anak angkat tetapi dia tetap senang karena dia memiliki sebuah keluarga yang menganggapnya ada.
Waktu berjalan cepat, kini Yuna yang tadinya dibawa ke rumah umur 4 tahun dan sekarang umurnya sudah genap 21 tahun. Dia bekerja di sebuah perusahaan dan sudah lulus mengampusnya. Dia memiliki adik perempuan yang selalu cerewet menurutnya. Adiknya tersebut bernama Vina, dia berusia 17 tahun masih SMA.
Dia tak menyangka jika ia tak bertemu dengan Ayah Haris dan Mama Ria apa yang terjadi padanya. Mungkin jika mereka tidak mengadopsi Yuna, dia akan terjerumus ke dalam kegelapan dan kesedihan terus-menerus. Yuna bersyukur bisa menjadi salah satu anggota keluarga itu.