Ditaman dekat taman kanak-kanak, seperti biasanya selalu ramai oleh anak bermain. Di pinggir taman ada seorang anak perempuan duduk dipasiran sambil memainkannya sendirian. Saat itu rombongan anak lain masuk tiga anak laki-laki dan dua anak perempuan kembar. Dari gerbang pendek taman mereka masuk, melihat anak perempuan dengan baju berwarna merah muda duduk bermain pasir sendirian, mereka mendekatinya. saat sudah dekat dengan anak perempuan berbaju pink sedang bermain pasir, mereka menunjuk satu sama lain, Siapa yang akan mengajak bicara duluan. Akhirnya, anak laki-laki yang tidak begitu tinggi dari teman laki-lakinya yang lain, dengan memakai celana jeans pendek dengan baju bermotif kotak-kotak berwarna merah mengajukan dirinya untuk menyapa anak perempuan dihadapannya. Semua setuju.
"em,, Hai" Merasa suaranya pelan saat menyapa membuat anak laki-laki itu mau mengulanginya lagi. Namun baru saja dia membuka mulutnya mau menyapanya dengan benar, anak perempuan berbaju merah muda itu pun menengok, mendongakkan kepalanya melihat siapa yang menyapanya tadi. Ternyata dia mendengarnya.
"ah, Hai" anak laki-laki menyapa menatap matanya. Mata yang bulat, dan hitam pekat.
anak perempuan itu memandang sesaat anak laki -laki yang menyapanya, baru menyapa bya.
" Hai" sambil sedikit menganggukkan kepala.
"kita boleh main bareng? " tanya anak laki-laki sambil menunjuk teman-teman dibelakangnya.
"iya, boleh" jawab anak perempuan yang imut itu.
Anak laki-laki lainnya tidak bisa luput melihat anak perempuan didepannya. Anak yang imut dengan rambut terurai panjang dengan rapih nya. Menggunakan baju dewa anak berwarna merah muda dengan rok setinggi lutut, anak yang putih, dan pipinya yang gembul dan terlihat sedikit merah, membuatnya terlihat sangat imut.
"Hai nama aku Nina! " dua ank kembar maju langsung menyaut tangan ajak perempuan yang imut itu
"Kalo nama aku Mina! " menyaut tangan yang belum dilepas dari tangan kembarannya.
"kalo nama aku Doni" satu anak laki-laki maju mau ikut menyaut tangannya juga.
Tapi semua terkejut ketika secara sadar anak perempuan itu tidak mau di sentuh tangannya oleh anak laki-laki yang mau menyaliminya itu dan secara refleks dia menebas tangan anak itu.
Mereka yang melihat itu langsung terdiam begitu juga Doni yang mengajaknya berjabat tangan.
"ih kok kamu mukul tangan Doni, sih? " tanya Nina si kembaran Mina. Anak laki laki yang mengajak bicara duluan tadi memperhatikan mereka.
"Maaf, ya. Kita tidak perlu saliman bisakan? " ucap anak perempuan yang imut itu sambil memegang tangan kanannya yang mau diajak bersalaman sama anak bernama Doni tadi.
"kenapa? Apa tangan aku kotor? "
"Ah, enggak. Tapi, maaf ya tadi udah mukul tangan kamu"
"ih, kamu ini mau diajak kenalan kok gitu? padahalkan dia mau kenalan juga mau temenan, " ucap Mina
"iya, iya kan dia mau temenan sama kamu? masa mya kamu tolak? " ucap Nina sambil menaruh tangannya dipinggang
Mata Doni yang terus menatap anak perempuan imut itu dengan lekat. Membuat dia agak sedikit terganggu.
"emm, kenalin nama aku Yuly. Salam kenal" ucap Yuly memperkenalkan diri ditengah-tengah hampir adanya pertengkaran itu. Dengan sopan Yuly memperkenalkan diri sambil menaruh tangan kanannya di dada dan sedikit meanggukan kepalanya, memperkenalkan diri.
Anak perempuan yang imut itu melihatnya dengan sedikit tarikan dibibirnya, tersenyum.
"Iya, kenalin nama aku Aisyah" sambil me anggukkan kepalanya menghadap Yuly sambil menggenggam tangannya sendiri.
Perkenalan merekapun dimulai.
Sejak saat itu, meski Aisyah kurang disukai oleh teman Yuly yang lainnya. Namun, Yuly tetap bermain bersama Aisyah. Mereka selau janjian datang ke taman untuk main bersama. Terkadang tanpa sengaja, tanpa janjian dulu mereka bertemu di taman atau didepan taman kanak-kanak. Yuly juga Terkadang memberanikan diri datang kerumah Aisyah mengajaknya bermain, sambil meminta izin pada ibu atau ayah Aisyah jika mau mengajaknya.
Selama mereka berteman semasa kecil ini. Yuly tidak pernah menyentuh Aisyah. Sejak tahu Aisyah tidak mau disentuh laki-laki, saat mau berkenalan dengan temannya bernama Doni waktu itu. Di perosotan taman, Aisyah yang duduk diatas dan sedangkan Yuly duduk diujung bawah perosotan mereka memandang kearah yang sama, Aisyah bertanya.
"Yuly, kamu gak ingin bertanya sesuatu? "
"ada, sebenarnya ada yang mau aku tanya in"
"eh, beneran ada? "
"loh, aku kira kamu bisa baca pikiran aku,"
"nggak.. aku gak bisa. Karena dari tadi diem aja jadi aku tanya begitu"
"Oh. Tapi aku beneran ada pertanyaan"
Aisyah melihat punggung Yuly dari atas, bertanya-tanya
"kenapa kamu gak mau dipegang cowok? "
tanya Yuly memandang langit biru dengan gumpalan awan putih melayang.
"oh, itu. Kata Ayah dan Ibu, antara Laki-laki dan Perempuan yang bukan muhrimnya tidak boleh bersentuhan"
Yuly menengok kebelakang. Melihat Aisyah yang duduk diatasnya.
"Kenapa? "
"Kurang tau.. katanya gak boleh" menatap balik Yuly dibawahnya
"Kenapa ya? nanti sampai rumah aku tanya ayah deh"
"hem" angguk Aisyah.
Sesampainya dirumah Yuly. Yuly mengucapkan salam saat melangkah masuk kedalam rumah. Yuly memasuki ruangan ayahnya. Tidak ada siapa-siapa disana hanya kursi empuk dengan meja dengan tumpukan buku diatasnya dan beberapa pulpen berdiri di tabung penyimpanan alat tulis, dengan Rak-rak buku besar terdapat buku berjejer rapih mengikuti ukurannya. ukuran ruangan yang cukup besar. Bahkan lebih besar dibandingkan kamar penulis cerita ini(( ͡°❥ ͡°))
Diruangan itu tidak ada siapapun. Lalu Yuly melanjutkannya. Mencari kekamar dengan pintu yang lebih besar dibanding tubuhnya. Mengetuk pintu beberapa kali, lalu muncullah wanita cantik berambut pendek dengan baju bermotif bunga dengan lengan pendeknya dan Celana lepis putih, membuka pintu melihat kebawah.
"Ada apa sayang? " Wanita cantik itu berlutut bertanya pada Yuly.
"Ayah ada? " menatap mata ibunya
"Ayah? Ayah baru saja pergi sebelum kamu pulang. Ada apa? " Tanya ibu pada Yuly menatap Yuly dengan lembut namun tetap ada bertanya-tanya dimatanya.
"Ah, begitu.. kalau begitu aku tunggu Ayah pulang saja. Yasudah terimakasih ya, bu. Yuly mau kekamar dulu" lalu menjijit mencium pipi ibunya.
Ibunya lalu tersenyum, melihat Yuly pergi menuju kamarnya, lalu masuk lagi kedalam kamar.
Esoknya... Yuly bertemu ayahnya di meja makan. Meja makan berbentuk lingkaran, langsung saja dia mempertanyakan apa yang ingin dia tanyakan kepada ayahnya.
Setelah tahu jawabannya.. Yuly sepulang sekolah langsung menuju rumah Yuly.
"Bu guru, Bu guru! Kenapa Aisyah tidak masuk sekolah? " tanya Yuly saat kasih dikelas jam pelajaran selesai.
"Oh, Yuly belum tau ya? " buguru berlutut.
Yuly menganggukkan kepalanya.
"Orang tua Aisyah kemarin datang ke sekolah.. Aisyah dan keluarganya harus pindah hari ini"
Yuly terkejut. Baru kemarin dia bermain dengan Aisyah. Aisyah tidak bilang apapun kepadanya tentang hal ini.
"Pindah kemana Bu? "
"ibu belum tau.. "
setelah mendengar penjelasan dari gurunya, Yuly langsung berlari mengambil tas sekolahnya, lalu pergi dengan berlari lebih cepat menuju rumah Aisyah.
Dalam fikiran Yuly hanya pindah rumah atau pindah tempat tinggal?!
Terus saja Yuly berlari menyusuri jalanan yang berlalu lalang kendaraan lewat. Tidak lagi peduli Yuly. Saat mau lari berbelok masuk gang rumah Aisyah Yuly hampir saja bertabrakan dengan laki-laki yang lebih besar darinya mengendarai sepeda.
"Hei! Hati-hati dong! "
Yuly sudah tidak lagi menggubris nya.
tidak jauh dari rumah Aisyah. Yuly sudah kelihatan mobil truk dan mobil ayah Aisyah sudah didepan. Mobil truk sudah dipenuhi perabotan rumah.
Dan terdapat Aisyah sudah menggunakan Ransel di pundaknya hendak naik kedalam mobil pribadi milik ayahnya.
"AISYAH!! " Teriak Yuly berlari jauh lebih cepat.
tepat didekat Aisyah, Yuly berhenti berlari. Menarik ujung rambut Aisyah sambil memandang matanya, dengan nafas yang berderu, ngos-ngosan.
Aisyah menengok langsung matanya menuju Yuly yang memanggilnya. Menatap balik Yuly yang berada tepat disampingnya sedang menarik ujung rambutnya.
"Yuly?? " Ucap Aisyah menghentikan langkahnya.
"Aisyah gak bilang mau pergi, " masih dengan nafas yang berderu
"Kenapa kemarin tidak bilang pada Yuly? " masih tetap menggenggam ujung rambut Aisyah.
"Apa Yuly kemarin ada salah?? Kenapa tidak bilang? Yuly penasaran kenpa Aisyah tidak masuk ke sekolah. Yuly kaget pas tau kata Ibu guru Aisyah hendak pindah! "
"Maaf Yuly Aku juga tau semalam... Ibu bilang ke Aisyah semalam.. kalau kami mau pindah hari ini" Aisyah melirik kearah lain lalu memandang takut Yuly. Takut Yuly kecewa karena dia tidak cepat memberitahukannya semalam. Tapi saat Aisyah melihat mata Yuly, mata Yuly berkaca -kaca hendak menangis.
Ibu dan ayah Aisyah yang melihat mereka berdua, membuat Ibu Aisyah turun dari mobil mendekati Aisyah dan Yuly.
"Yuly.. maaf ya, Aisyah harus ikut kami pindah karena pekerjaan Ayah Aisyah. Meskipun kalian berpisah kalian kan tatap teman. Nanti.. kalau bertemu lagi saling sapa ya. Nah, Aisyah ayo masuk, nanti kita ketinggalan kapal" Ibu Aisyah langsung menyentuh punggung Aisyah, menyuruhnya masuk kedalam mobil, menutup pintunya. Lalu Ibu Aisyah juga masuk kedalam mobil duduk dikursi depan.
"Aisyah! kasih tau kalau sudah sampai, ya! " Yuly melambaikan tangannya sambil berteriak saat mobil Aisyah perlahan meninggalkannya sendirian di depan rumah yang sekarang kosong tanpa penghuni.