Aira berdiri di depan stasiun sejak satu jam yang lalu. Dia menunggu kedatangan kekasihnya Surya dari luar kota.
Aira dan Surya sudah menjalin hubungan selama lima tahun. Hari ini Surya datang untuk melamar Aira pada orang tuanya.
Meskipun Surya bekerja di luar kota tapi kedua orang tua nya tinggal di kota yang sama dengan Aira.
"Sudah satu jam, apa terjadi sesuatu?" gumam Aira sambil berjalan mondar-mandir karena panik.
Sesekali dia menghubungi nomer Surya tapi entah kenapa nomer nya tidak aktif.
Aira kembali duduk dan berusaha untuk tetap berfikir yang baik-baik saja.
Dua jam kemudian ponselnya kembali berdering. Aira melihat nama pemanggil dan langsung mengangkatnya.
"Iya Bu!" jawab Aira
Ternyata ibunya yang menelpon Aira.
"Sudah sore nak, Surya belum sampai?" tanya ibunya di seberang sana.
"Belum Bu!" jawab Aira lemah.
"Sudah nak, sebaiknya kamu pulang saja. Nanti kalau sudah sampai dia pasti ke rumah kan!" kata ibunya.
"Em, Aira tunggu satu jam lagi ya Bu!" jawabnya kemudian menutup panggilan telepon.
Mata Aira masih terus tertuju ke arah pintu keluar, dia sudah biasa menunggu kedatangan Surya seperti ini selama dua tahun sejak Surya bekerja di luar kota.
Dan Surya memang selalu meminta Aira menunggunya di stasiun saat dia pulang. Surya mengatakan bahwa dia ingin orang yang pertama dia lihat saat pulang ke kampung halamannya ini adalah Aira.
Hari semakin larut, penjaga stasiun yang kasihan melihat Aira pun menghampirinya dan memberikannya sebotol air mineral.
"Nak, masih menunggu orang?" tanya seorang pria separuh baya dengan senyuman.
Aira mengangguk.
"Iya, kereta dari Jakarta harusnya sudah tiba kan pak?" tanya Aira.
"Sudah semua nak, terakhir tiba dua jam yang lalu. Dan untuk hari ini kereta itu yang terakhir!" jawab si penjaga stasiun.
Aira menghela nafas panjang dan memutuskan untuk pergi dari stasiun. Dia berjalan dengan malas ke arah tukang ojek di luar stasiun.
"Bang, ke jalan Kedondong tapi muter ya lewat pasar Besar!' ucap Aira pada tukang ojek yang sudah bersiap menyalakan mesin motornya.
"Neng kenapa muter?" tanya si tukang ojek.
"Gak papa bang, nanti di tambahin ongkosnya!" jawab Aira.
Aira sengaja memutar jalan agar melewati rumah Surya.
Aira dan tukang ojek nya sudah sampai di depan rumah Surya, Aira meminta agar si tukang ojek berhenti sejenak.
Aira turun dari motor dan melihat kondisi rumah Surya yang sepi. Padahal anggota keluarga Surya itu banyak. Ada ayah, ibu, kedua kakaknya lalu kedua kakak iparnya belum lagi keponakannya yang berjumlah lima orang.
Karena penasaran Aira pun turun meminta si tukang ojek menunggu.
Tok tok tok
"Ya non?" ucap si asisten rumah tangga Keluarga Surya.
"Bi, sepi banget. Pada kemana?" tanya Aira sambil celingak-celinguk mengintip ke arah dalam rumah.
"Itu non, pada ke Jakarta. Mas Surya Kecelakaan! Sekarang sedang kritis di rumah sakit." jelas si asisten rumah tangga.
Jeger!
Aira sangat syock, dia memegangi dadanya dan air matanya pun sudah mengalir deras.
"Di rumah sakit mana bi!" tanya Aira panik.
"Di RS Sejahtera.."
Belum selesai si asisten mengucapkan kalimatnya, Aira sudah berlari ke arah tukang ojek dan memintanya untuk pergi ke tempat mobil Travel.
Aira menaiki mobil yang akan segera menuju ke Jakarta. Dia terus menangis sepanjang jalan. Seorang ibu penumpang lain yang melihatnya pun merasa kasihan dan memberikan nya tissue.
Sekitar Hampir Tiga jam Aira sampai di Jakarta. Dia kembali menaiki sebuah taksi untuk sampai di rumah sakit Sejahtera.
Setibanya di rumah sakit dia berlari menuju ke bagian informasi dan menanyakan pasien yang bernama Surya Kurniawan.
Setelah tahu dimana kamar Surya, Aira berhenti melangkah. Dia menghirup udara dalam-dalam, dia mengusap wajahnya dan membenarkan penampilannya yang berantakan.
Ceklek!
Ketika Aira membuka pintu semua mata tertuju padanya. Mata Aira mengintip kearah tempat tidur pasien yang tertutup oleh dua orang wanita, Ibu dan kakak pertama Surya.
"Aira" ucap Rosna kakak kedua Surya yang berada dekat pintu.
"Suruh dia pergi kak!" ucap seorang yang suaranya sangat Aira kenali.
Rosna berusaha meminta Aira keluar, tapi Aira menolak dan malah mendekati Surya.
Ketika Aira berada di hadapan Surya, Surya malah membuang wajahnya tak mau melihat Aira.
"Pergi kamu dari sini!" usir Surya.
Ibu Surya menangis dan Aira makin bingung. Aira melihat Surya dari ujung kepala sampai...
Aira menutup mulutnya.
"Surya.." lirih Aira.
"Aku sudah tidak sempurna Aira, pergilah!" seru Surya dengan suara yang bergetar.
Ayah dan ibu Surya juga tidak bisa bicara apa-apa. Seharusnya hari ini adalah acara lamaran mereka tapi musibah ini terjadi, Surya Kecelakaan dan tertabrak mobil saat akan pergi ke stasiun.
Tanpa ragu Aira memeluk erat Surya, meski awalnya Surya menolak tapi karena Aira tidak mau melepas kan Surya, dia pun hanya diam.
"Aku mencintaimu Surya, aku mencintaimu Selamanya. Ingat janji kita itu kan! Seperti apa dan bagaimana keadaan mu tidak akan pernah mengubahnya!" ucap Aira membelai lembut wajah Surya.
Ayah dan ibu Surya tersenyum lega, karena calon menantunya itu ternyata mau menerima putranya apa adanya Surya saat ini.