Mendung tanpo udan (Mendung tanpa hujan)
Ketemu lan kelangan (Perjumpaan dan kehilangan)
Kabeh kui sing diarani perjalanan (Semua itu disebut perjalanan)
Awak dewe tau duwe bayangan (Kita pernah punya impian)
Besok yen wes wayah omah-omahan (Kelak jika telah berumah tangga)
Aku moco koran sarungan (Aku membaca koran)
Kowe belonjo dasteran (Engkau belanja pakai daster)
Nanging saiki wes dadi kenangan (Namun kini tinggal kenangan)
Aku karo koe wes pisahan (Kau dan aku telah berpisah)
Aku kiri kowe kanan, wes bedo dalan (Aku ke kiri, kau ke kanan, jalan kita berbeda)
"Mas, matikan lagunya! Aku tidak suka dengan lagu dangdut," teriak wanita berusia 22 tahun yang terlihat tengah menatap tajam suaminya yang saat ini terlihat tengah duduk santai di kursi depan rumah sambil menikmati kopi buatannya.
Pria dengan kulit sawo matang dan wajah manis yang saat ini tengah memakai sarung tersebut, bernama Hadi Rudyatmo. Ia menatap wanita bernama Ajeng Ning Tyas yang sudah lima bulan ini dinikahinya.
"Sampean ki nyapo to, Dik. Isuk-isuk kok wes nesu. Opo jatah mbengi kurang? (Kamu kenapa, Sayang. Pagi-pagi sudah marah. Apa yang semalam kurang?)"
Ajeng sudah menampilkan wajah masam saat mendengar ejekan dari suaminya. Suara dari lagu Jawa yang terdengar barusan adalah lagu kesukaan dari mantan kekasihnya yang dulu selalu menyanyikan lagu itu untuknya. Namun, hubungannya kandas saat orang tuanya tidak merestui dengan alasan pria yang sangat dicintainya itu tidak mempunyai pekerjaan tetap.
Akhirnya ia dijodohkan dengan pria yang tak lain adalah putera dari sahabat ayahnya yang bekerja sebagai karyawan di pabrik rokok Gudang Garam yang sangat terkenal di Kediri dan menjadi salah satu penyumbang pajak terbesar di Indonesia. Perjalanan hidupnya dimulai setelah menikah dengan pria yang tidak dicintai dan mengubah seluruh kehidupannya.
Tentu saja melakukan hal yang sama sekali tidak sesuai dengan hati, membuatnya tersiksa batin. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti perintah dari kedua orang tuanya. Bahkan kata-kata dari ibunya selalu terngiang di telinganya.
'Urip bebojoan iku ora mangan cinta, nduk. Kabeh sembarangane nggawe duit. Emange awakmu warek mangan cinta? Akeh sing pegatan goro-goro faktor ekonomi. (Hidup berumah tangga itu tidak makan cinta, putriku. Semua butuh uang. Memangnya kamu kenyang hanya makan cinta. Banyak yang bercerai karena faktor ekonomi).'
Ajeng mendekati sosok pria dengan tubuh atletis itu dan tak lupa tangannya sudah mendarat di pinggang kokoh tersebut. "Yang semalam saja sudah membuat tubuhku remuk redam."
Hadi hanya terkekeh dan langsung mengarahkan tangannya untuk merengkuh pinggang ramping sang istri. "Sekarang saja bilang remuk redam, tetapi semalam tidak berhenti mendesah."
"Iissh ... apaan sih!" Ajeng merasa sangat malu saat sang suami selalu berbicara vulgar padanya dan membahas hal-hal yang dianggapnya tabu untuk dibicarakan. "Dasar mesum."
Ajeng bangkit dari posisinya dan mematikan lagu dari Deny Caknan feat Ndarboy Genk. "Aku tidak suka lagu ini. Jadi, jangan pernah mendengarnya lagi."
Hal sepele yang sama sekali tidak dimengerti oleh Hadi saat melihat kemarahan dari sang istri, membuatnya merasa sangat curiga. Seandainya istrinya bukan orang Jawa, mungkin ia masih bisa memaklumi saat wanita yang sangat dicintainya itu bilang tidak menyukai lagu dangdut dengan lirik bahasa daerah.
"Sebenarnya kenapa dengan lagu itu, Sayang? Lagu ini bahkan sangat viral dan sering dijadikan video tik tok oleh anak zaman now. Apa kamu mempunyai kenangan dengan lagu itu?"
Awalnya Ajeng tidak ingin menceritakan tentang asal-usul dari lagu yang membuatnya mengingat mantan kekasihnya, tetapi karena tidak ingin menyembunyikan apapun, akhirnya ia memilih jujur. Ia kembali duduk di sebelah suaminya yang saat ini tengah menatapnya dengan intens.
"Sebenarnya ...." Ajeng tidak melanjutkan perkataannya karena tiba-tiba merasa perutnya seperti diaduk-aduk. Refleks ia bangkit berdiri dari kursi dengan tangan membekap mulutnya dan berlari ke arah kamar mandi.
Merasa khawatir dengan keadaan sang istri, Hadi langsung berlari mengikuti wanita yang terlihat sudah muntah-muntah di kamar mandi. Dengan sesekali memijat tengkuk istrinya. "Sayang, sepertinya yang diinginkan ibu dan bapak akan terkabul. Bukankah ini tanda-tanda wanita hamil?"
Ajeng yang baru saja mengeluarkan semua isi perutnya, berkumur-kumur untuk membersihkan sisa muntahannya. Ia memang bulan ini belum datang bulan dan merasa kebingungan saat memikirkan dirinya hamil.
"Bagaimana mungkin aku hamil? Padahal aku setiap hari minum pil KB tanpa sepengetahuan suamiku karena masih ingin menunda memiliki anak sebelum merasa yakin dengan dia. Aku takut, tidak bisa mencintai sepenuhnya karena masih belum bisa melupakan mantan kekasihku. Hubungan kami bahkan bukan hitungan jari, waktu lima tahun bukanlah hal yang mudah untuk melupakannya. Apalagi kata-katanya masih terngiang di telingaku hingga saat ini.
'Tak tunggu rondomu (Aku tunggu jandamu).'
Hadi bisa melihat wajah pucat Ajeng dan kini tengah terlihat sedang melamun. Tanpa membuang waktu, ia sudah meraup tubuh ramping itu ke atas lengannya. "Kamu tidak boleh kecapekan, Sayang. Kita periksa ke dokter, mumpung aku sedang libur."
Perlakuan sangat manis dan lembut dari sang suami yang dengan hati-hati menurunkannya di atas ranjang, membuat perasaan Ajeng sedikit goyah. Selama ini, ia terpaksa menjadi sosok istri yang baik agar orang tuanya tidak malu. Namun, sikap pria yang berstatus sebagai suaminya itu selalu membuatnya seperti seorang ratu dan juga menuruti apapun yang diinginkannya.
Mulai dari memberikan semua gaji padanya dan tidak pernah menanyakan uangnya dibelikan apa saja dan selalu berkata sangat lembut tanpa sekalipun mengucapkan kalimat kasar saat dirinya marah-marah seperti barusan masalah lagu dangdut. Karena suaminya adalah pria yang sangat humoris dan supel pada semua orang, sekaligus hangat yang membuatnya selalu merasa nyaman.
Ajeng yang saat ini tengah berbaring di atas ranjang karena merasa pusing dan lemas, memegang punggung tangan dengan buku-buku kuat itu.
"Mas, sepertinya sangat bahagia aku hamil. Padahal ini belum tentu juga hamil, mungkin aku hanya masuk angin."
Hadi mengusap lembut punggung tangan wanita cantik yang sebenarnya sudah sejak remaja dicintainya. "Tentu saja aku sangat bahagia Sayang. Aku sangat mencintaimu dan kebahagiaan pernikahan kita akan semakin lengkap setelah memiliki anak hasil dari buah cinta kita."
"Memangnya, Mas mencintaiku? Bukankah kita menikah karena perjodohan?" tanya Ajeng yang masih belum mempercayai perkataan Hadi.
Hadi bisa mengerti dengan pertanyaan dari Ajeng karena mengetahui bahwa istrinya itu dahulu telah menjalin hubungan dengan seorang pria. Namun, ia sama sekali tidak pernah menyerah dan melamar langsung pada ayah Ajeng untuk menyampaikan niat baiknya. Ia mengatakan sangat mencintai Ajeng saat pertama kali diajak ayahnya bertamu ketika SMA dulu. Pada masa itu, Ajeng masih duduk di bangku SMP.
"Aku bahkan sudah mencintaimu sebelum kamu berhubungan dengan pria yang membuatmu patah hati itu. Maafkan aku, Istriku."
Ajeng yang sama sekali tidak mengerti dengan kalimat ambigu dari sang suami, mengerutkan kening. "Apa maksudmu, Mas?"
"Aku mencintaimu semenjak kamu masih duduk di bangku SMP dan memang berniat menjadikanmu istriku tanpa memperdulikan bahwa kamu sudah menjalin kasih dengan pria itu. Jadi, aku menggunakan kekayaanku demi bisa membuatmu menjadi istriku."
Jantung Ajeng kini berdetak sangat kencang begitu mendengar kejujuran dari pria yang berstatus sebagai suaminya tersebut. Kenyataan yang selama ini tidak pernah ada di pikirannya sama sekali, bahwa pria di hadapannya itu telah mempermainkan hidupnya.
"A-apa? Jadi ...." Ajeng tidak bisa melanjutkan perkataannya karena dipotong oleh pria yang sudah berlutut di sebelahnya.
"Aku sangat mencintaimu, Ajeng Ning Tyas. Lupakan mantan kekasihmu dan cintai aku. Hiduplah bersamaku selamanya dan menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Kamu adalah wanita yang diciptakan Tuhan sebagai tulang rusukku. Bukan pria yang hanya menjadi masa lalu itu. Terimalah kenyataan dan jangan menoleh ke belakang lagi. Masa lalu biarlah berlalu dan hanya akan menjadi sebagian kenangan yang berlalu. Karena masa depan jauh lebih penting dari segalanya."
Tanpa bisa ditahannya, kini bulir bening air mata sudah lolos dari bola mata Ajeng. Ia bangkit dari posisinya yang tadinya berbaring dan langsung menghambur ke arah pria yang merupakan kekasih halalnya.
"Maafkan aku, Mas. Karena memikirkan pria lain saat berstatus sebagai istrimu. Aku memang dulu sangat mencintai kekasihku, tetapi hari ini aku menyadari bahwa kekasih halalku adalah jodoh terbaik yang dikirimkan Tuhan. Aku sangat mencintaimu, kekasih halalku."
Sudut bibir Hadi melengkung ke atas dan tangannya kini sudah memeluk erat tubuh ramping itu. Aroma khas shampoo beraroma strawberry dari rambut basah sang istri seolah aroma terapi yang semakin melengkapi kebahagiaannya.
"Subhanallah, walhamdulillah. Akhirnya semua doa-doaku di sepertiga malam, dikabulkan oleh Allah SWT. Selama ini, aku memintamu langsung kepada sang pencipta dan sekarang aku harus bersyukur dengan cara menyantuni anak-anak yatim di sekitar sini. Sekalian meminta doa pada mereka untuk mendoakan janin yang ada di dalam kandunganmu ini."
Ajeng Ning Tyas sudah tidak bisa lagi berbicara apa-apa karena merasa sangat terharu mendengar kebaikan dari suaminya yang menurutnya adalah pria sempurna yang dikirimkan oleh Tuhan untuknya.
"Terima kasih, Tuhan. Engkau ternyata memiliki rencana yang indah untukku dengan membuatku mengeluarkan air mata kebahagiaan setelah sebelumnya merasakan kesedihan. Perjodohan yang awalnya terpaksa ini hanyalah sebuah jembatan untukku memulai kebahagiaan. Aku kini menjadi salah satu wanita beruntung yang sangat berbahagia."
END ...