Aku melihat dengan miris kondisi sepatu sekolah yang kupakai saat ini. Sepatu ini menyebabkan jalanku sudah seperti orang pincang, terseret di salah satu yang menimbulkan suara kasar dari bagian bawahnya karena gesekan yang ditimbulkan, antara sepatu dan tanah yang kulewati.
Aku tak sabar, kulepaskan sepatuku, kutenteng di tangan kiriku. Aku tak peduli dengan cuaca panas yang membuat kakiku terasa terbakar. Aku hanya bisa lari sekuat tenaga untuk cepat sampai ke rumah.
"Mamak, lihatlah sepatuku sudah robek begini," kupakai lagi sepatu yang barusan aku tenteng, menunjukkannya pada Mamak yang sedang menjahit pakaian di teras rumah kecilku.
Aku memelas pada Mamak, supaya mau membelikanku sepatu baru.
"Sini coba Mamak lihat," kata Mamak dengan tangan melambai, menyuruhku untuk lebih mendekat. "Besok kamu pakai dulu, hari sabtu Mamak belikan di pasar" katanya lagi setelah melihat sepatu yang sudah kulepas dari kakiku.
Sepatu itu memang sudah tidak layak pakai, selain warnanya yang sudah berubah dari hitam menjadi abu abu, juga ujung depannya yang rusak dan bolong di ujung depan. Membuat jempol kakiku masuk angin saat musim hujan, mengotori kaos kaki pembungkus kakiku saat terik, bahkan menjadi jalan untuk kerikil kecil masuk dan terkadang melukai kakiku.
Sepatu yang sudah tidak muda itu diperbaiki oleh Mamak untuk kupakai, besok masih Jumat dan Mamak berjanji membelikan yang baru di hari Sabtu. Aku bersyukur akhirnya Mamak memiliki uang yang cukup kali ini. Sudah beberapa kali aku merengek untuk mendapatkan sepatu baru. Tapi Mamak hanya bisa memperbaikinya, menjahit manual dengan kedua tangannya.
"Huft.. Baiklah, hari ini hari terakhir kau bersamaku!" Aku mengatai sepatuku dengan telunjuk yang kuarahkan padanya.
Aku berjalan ke sekolah dengan santai. Berangkat pukul 06.00 WIB. Masih ada waktu satu jam.
"Hai El," sapaku pada teman bermainku itu.
Elli, aku biasanya memanggilnya dengan sebutan El saja. Dia adalah anak petani kaya di desaku, namanya Pak Bahar. Eli sekarang duduk di bangku kelas lima sama sepertiku tapi di sekolah yang berbeda. Dia sekolah di SD yang lebih bagus dariku, wajar saja. Tapi Elli sangat sederhana, tak pernah memilah-milah mau berteman dengan siapapun selama itu baik, termasuk berteman denganku.
Aku sedikit mempercepat langkahku agar bisa sejajar dengan Elli, "Lo udah berangkat jam segini El?" tanyaku padanya. Elli hanya menjawabnya dengan mengangguk dan tersenyum.
Sepanjang jalan aku tak berbicara apapun dengan Elli selain kalimat tanya pembuka tadi. Elli memang pendiam, tapi ramah dengan para pekerja bapaknya.
Oh iya. Kita lupa berkenalan ya. Hehehe
Singkatnya, Aku Bono, merupakan anak tunggal dari Bapak dan Mamakku. Aku hidup dengan sangat sederhana. Seperti yang kalian tahu, untuk mengganti sepatuku saja aku harus sabar menunggu Mamak memiliki cukup uang dahulu. Namun aku sangat menikmati hidupku. Menjadi seseorang yang ceria meski memiliki banyak sekali kekurangan.
"Aku lanjut ya El, sampai jumpa nanti" kataku sambil melihat Elli yang berbelok masuk ke gerbang sekolahnya. Lagi-lagi dia hanya mengangguk dan tersenyum. Anak itu benar benar cuek.
"Oy bon. Ayo ikut main!" seru Dedi seraya menendang bola ke arah Hari.
Aku menggeleng, tak mungkin aku berlarian dan menendang bola dengan sepatuku ini, bisa-bisa nanti aku pulang nyeker lagi, batinku setengah kesal.
"Engga deh Ded, lo main aja sama yang lainnya." Jawabku berlalu ke arah kelas.
Aku hanya bisa melihat teman-temanku yang tengah asik bermain bola dari balik jendela berdebu kelas. Melihat Dedi yang berkali-kali membobol gawang yang dijaga Aldo. Mengopernya kembali ke teman lain kemudian kembali diumpankan kepada Dedi. Menyenangkan sekali, namun aku tidak bisa berkontribusi kali ini. Terpaksa menelan liurku sendirian.
Bu Ana memberikan salam, menandakan bahwa jam pelajaran hari ini selesai. Masing-masing bersalaman dengannya, dimulai dari deret bangku yang paling anteng menurutnya. Dan aku menjadi deret yang terakhir dipanggil. Aku selalu mengoceh seperti biasa karena terakhir dipanggil, berpura-pura mengumpat dan menggoda bu Ana yang umurnya masih 20 tahun. Tapi sudah bersedia mengabdi menjadi guru di sekolah.
"Haishh kenapa ada Mang Sutris sih," kubulatkan tekatku, memegang erat-erat tas sekolahku yang bertipe selempang itu. Aku siap untuk lari. Sejauh mungkin menghindari Mang Sutris yang dari ujung sudah memandangku dengan tatapan yang entahlah aku tak tahu pasti. Aku berlari seperti dikejar orang gila. Eh emang mang sutris itu orang gila. Entah apa yang membuat jiwanya terganggu, tapi dia selalu mengejar anak-anak sekolah yang dilihatnya. Kalau biasanya anak-anak akan menggoda bahkan mengejek orang gila, tak berlaku buat mang sutris, dialah yang terlebih dahulu berniat untuk menerkam kami. Hingga bukan aku saja, yang lain juga lari terbirit-birit karenanya.
Aku berhenti, nafasku terengah-engah setelah lari maraton dari kejaran Mang Sutris. "Emang bener - bener gila Mang Sutris" umpatku memegangi dadaku yang berdetak dengan kencang.
"Emang Mang Sutris gila kan?" kata anak yang ada di belakangku.
"Hehehe.. kamu bener juga El, kan emang Mang Sutris gila ya." Aku memukul kepalaku yang bodoh ini.
Tak sangka kalau pulang sekolah aku bertemu dengan Ella lagi. Tumben amat Ella rela mengeluarkan suara mutiaranya itu, biasanya juga cuek-cuek aja. Tapi baguslah, setidaknya ada kemajuan. Dia cantik, tapi karena cuek bebeknya, jarang ada yang berteman dengannya.
Kukejar Ella yang sudah berada di depanku beberapa langkah, "Kok lo ngga lari sih waktu ada Mang Sutris?" tanyaku penasaran. Ella berhenti dan menatapku "kan kalian yang dikejar, bukan aku," jawabnya singkat.
Aku mengusap rambut kepalaku, "benar juga yang dikatakan Ella, ngapain gue ikut lari ya. Kan Mang Sutris ngejar yang lari doang."
Ella pergi ke warung Bi Anah. Entah apa yang akan dibelinya, aku memutuskan untuk berjalan sendiri lagi. Tidak mungkin aku mengikuti Ella dengan saku sekolah yang hanya berisi angin saja.
"Aduh.. gara-gara lari tadi nih pasti", keluhku melihat sepatuku yang sobek lagi. Aku melepaskan keduanya di pinggir jalan dan meninggalkannya. Sepatu itu sudah tidak mampu lagi membungkus kakiku, toh besok Mamak juga akan membelikanku yang baru. Dan sekarang, aku pulang dengan kaki telanjang.
"Kenapa kau pulang nyeker Bon? Mana sepatumu?" tanya Mamak agak sedikit marah-marah padaku. "Sudah terbelah jadi tiga mak. Udah nggamau dia sama kakiku," cengirku membalas pertanyaan Mamak.
Aku beranjak masuk, melepas tas dan seragamku. Mengisi perut dengan masakan Mamak di ruangan yang ada tv cembung dan menaikkan satu kakiku. "Mak, Boni mau main dulu yaa mak. Jangan marah," sengaja aku berkata seperti itu sebelum Mamak memarahiku yang hobi main ini. Pastilah Mamak akan geleng-geleng kepala melihat tingkahku ini, dan aku selalu suka menggodanya.
Aku mengerjapkan mataku, menguceknya berkali-kali saat melihat kotak berwarna cokelat disampingku tidur. Aku membulatkan mata, menyeret kotak tersebut ke arahku dekat dan membukanya. Benar saja, ini adalah sepatu baru yang Mamak janjikan kemarin.
Kuusap sepatu itu, kulihat lamat-lamat dibawah sinar matahari yang masuk dari jendela seperti menerka uang, palsu ataukah asli. Setelah itu kumasukkan ke kakiku, dari kaki kanan kemudian melanjutkannya ke kaki kiri. Pas dan cocok, aku begitu sumringah hari ini.
Aku berlari menuju Mamak yang ada di dapur tanpa mempedulikan liur yang belum kuusap akibat mimpuku. "Mamak... makasih sepatunya, Bono suka" kataku mengeluarkan kepala di balik pintu dapur. Mamak menganggu tersenyum melihatku yang bahagia ini.
"Mak, Bapak dimana?" tanyaku sambil mengambil nasi yang ada di bakul kayu dapur rumah.
"Bapakmu kerja di sawahnya Pak Bahar, habis ini anterin makan bapakmu ya Bon," jawab Mamak yang masih mengulek aneka macam bumbu.
Dengan posisi siap selayaknya TNI di depan pinpinannya. Kumakan Nasi yang dilengkapi sambal dan teri sebagai lauknya yang barusan kuambil, dengan lahap tanpa menyisakan sebutir nasipun.
"Wah.. Kita ketemu lagi ya El, mau nganter makan ke Bapakmu ya?" Tanyaku yang melihatnya membawa rantang dan sebotol air minum di tangannya. Dan lagi-lagi dia hanya mengangguk. Padahal kemarin sudah mau berbicara.
Tanpa persetujuan dari Ella, aku berjalan sejajar dengannya. Tujuan kita sama, sama-sama mau memberikan makanan di tempat yang sama.
Bapakku memang sering bekerja di sawah bapaknya Ella Pak Bahar, ya walaupun sekedar membantu jika beliau membutuhkan bantuan untuk mengelola sawahnya yang panjang dan lebar sangat itu.
"El, main ke sungai iyu yuk," ajakku setelah memberikan makanan ke Bapak. Sungai itu sangat jernih airnya, aku sudah terbiasa untuk disana. Sekedar menghilangkan penat ataupun mencari ikan.
Kuseret tangan Ella dengan paksa, karena gadis itu tak akan menjawab. Aku berburuk sangka bahwa dia akan menolak. Maka dari itu, aku saja yang memaksanya. Biar Ella sedikit bisa lebih terbuka, bermain dengan seumurannya dengan bahagia. Bukan diam saja seperti tak ada gairah untuk hidup.
Tanganku mengobrak-abrik memainkan aliran air dengan tertawa sumringah, merasakan kesegaran airnya. Sesekali wajah cantik lugu Ella kuciprat dengan air hingga dia memerjapkan mata dan mengusapnya dengan lengan bajunya.
"Boni!!" Ella melototiku. Dia membalasku dengan hal yang sama hingga kami malah saling membalas, perang serang air.
Aku menyeburkan badanku ke sungai, tanggung juka kan, udah basah akibat perang air dengan Ella.
"El sini, ayok cepat!" aku berenang, menyuruh Ella merasakannya segarnya air juga.
"Engga Bon, aku disini aja" jawabnya.
Ella menunggu dan hanya melihatku, duduk di sebuah batu besar.
Badanku sudah kedinginan, aku naik ke permukaan dan mengajak Ella pulang. "Berrrr..." kudekap tubuhku yang badah dengan kedua tanganku.
"Boni, Aku ada sesuatu... " kata Ella menggantung.
"Iya El, kenapa?" jawabku yang masih memeluk badanku.
"Ngga jadi deh Bon" Kami berpisah di persimpangan dekat rumah Ella.
Aku meneruskan langkahku dengan cepat agar bisa segera mengganti pakaianku.
Hari Senin. Pagi ini langit tak secerah biasanya, ada sedikit kegundahan berwarna abu-abu yang melandanya. Sepertinya akan hujan lagi, padahal tanah masih becek akibat hujan tadi malam. "Huft" dengusku kasar.
Aku mengambil tas plastik berwarna hitam dari dapur setelah mandi, kubungkus sepatuku dan kumasukkan ke dalam tas bersama 2 buah buku tulis pelajaranku hari ini.
Aku tidak ingin sepatu baruku jadi kotor karena terkena tanah yang sudah seperti lumpur di luar sana. Oleh sebab itu, aku memutuskan untuk berangkat sekolah menggunakan sendal jepit swall** dahulu dan baru akan kupakai nanti saat sudah di sekolah.
Ternyata saat pulang sekolah langit kembali hujan. Terhitung aku menunggu sudah mau satu jam. Kawan-kawanku yang lain ada yang sudah pulang dijemput oleh orang tuanya, yang lainnya lagi masih menunggu sepertiku, berharap hujan akan segera reda.
"Bon. Kau bawa payung kenapa ngga pulang?" Aldo melirik ke arahku sembari menelengkupkan kedua tanggannya di depan.
Kulihat payung lilat berwarna merahku, kepalanya muncul dari salah satu sisi saku tas sehingga Aldo bisa melihatnya. "Masih deras Do, pasti nanti juga basah walaupun sudah pake payung. Aku menunggu sedikit terang lagi," jawabku panjang lebar. Sebenarnya aku tak khawatir dengan hal itu, yang kukhawatirkan adalah sepatu baruku yang baru pertama kali ini kupakai. Nanti kalau basah terkena hujan pasti akan gampang mengelupas, pikirku cetek. Aldo hanya mengangguk keheranan.
Hujan menetes tak sederas tadi, aku kembali melepaskan sepatuku dan menggantinya dengan sendal. Melakukan hal yang sama seperti yang tadi pagi kulakukan. Kawan-kawanku melihatku dengan tatapan agak sedikit aneh, ahh aku tidak peduli dengan tatapan mereka. Kuterabas hujan ini.
Ini memang musim penghujan. Tak heran jika tiba-tiba mendung dan hujan. Itu merupakan hal yang wajar. Namun kali ini, aku sedikit membencinya.
Seperti yang terjadi hari minggu ini. Aku bermain di lapangan desa bersama yang lainnya. Namun lagi-lagi langit mendung, mengingatkanku dengan sepatu yang aku jemur di depan rumah. Mana Mamak dan Bapakku sedang tidak dirumah, mereka hari ini bekerja di sawah Pak Bahar, Bapak Ella.
Aku berlari menuju rumah dengan sekuat tenaga agar tidak didahului oleh rintik air hujan. Kupegang sepatuku yang masih basah, karena memang baru sekitar dua jam yang lalu aku menyucinya. Aku berpikir sejenak. "Ahaaa.." ide itu muncul tiba-tiba di kepalaku.
Aku berlari ke belakang rumah, mengambil sapu lidi yang sudah tidak panjang itu karena sudah tua sehingga banyak yang patah. Aku berlari kembali ke dapur untuk mengambil cabai merah, bawang merah dan bawah putih yang biasa Mamak gunakan untuk memasak.
Kususun dengan menusuk cabai merah, bawang merah dan bawang putih di ujung sapu lidi. Lalu kuarahkan terbalik menghadao langin.
Aku tak tahu cara itu akan berhasil atau tidak. Aku mengikuti cerita nenekku, bahwa biasanya jika akan terjadi hujan dan para petani sedang mengeringkan hasil panennya, mereka akan melakukan hal tersebut.
Percobaan pertama ternyata gagal, langit masih mendung, malah semakin terlihat hitam. Tak kehabisan akal, aku berlari ke arah Mamak menjemur pakaianku. Kuambil dengan kasar celana dalamku yang menggantung di tali kawat buatan Bapak untuk kami menjemur cucian. Kemudian kulemparkan celana dalam itu di genting rumahku.
Aku kembali menatap langit. Tidak ada perubahan sama sekali. Sekarang malah buliran air hujan mulai jatuh, pelan-pelan namun semakin banyak.
Tak ada waktu berpikir, aku segera mengambil sepatuku dan memasukkannya ke dalam rumah.
Hujan kali ini menyebalkan, membuatku berubah seperti pawang hujan yang tidak mengharapkan turunnya saat ini.