Seberapa jauh engkau sudah melangkah? kemana tujuanmu? Apakah bisa diri ini mengikutimu? Atau hanya bisa membiarkanmu pergi menuju arah yang bahkan tidak terdapat kejelasan. Langkah dan niatmu sudah terlihat sedari lama. Meskipun engkau tidak mengatakannya secara terang-terangan, tetap saja bisa diketahui.
Bulan dan hari sudah berganti, tepat ditanah luas yang penuh akan rerumputan. Dirimu berdiri membelakangi sambil melipat tangan.
Diam dalam hembusan angin yang membuat rambutmu tergerai. Pikiranmu sudah sangat jelas dari posisi itu. Segan untuk mendekat sebenarnya, tetapi melihatmu diam dalam waktu cukup lama tentu tidak bisa dibiarkan juga. Mendekat dan memegang sebelah bahu, lalu mengajak untuk hengkang dari tempat yang sepi ini.
Saling memandang dengan tatapan empat mata. Wajahmu sudah terbasahi dengan linangan air mata yang ternyata sudah keluar sejak dari tadi. Spontan tangan ini bergerak untuk menghapus bekas kesedihanmu. Lalu mengajak berbicara dengan harap engkau menjelaskan semuanya secara rinci.
Hatimu begitu rentan dan membuat jiwamu sulit dalam menahannya. Akhirnya semuanya terungkap kala itu. Cerita yang engkau bagikan turut membuat diri ini kasihan dan serasa ingin memelukmu dalam dekapan. Tetapi tidak bisa dilakukan, sebab masih terpikir posisi antara kita berdua.
Tidak disangka, apa yang diniatkan sebelumnya malah kamu lakukan terhadapku. Dirimu memeluk dengan erat, diselingi suara isak tangis yang sangat menyedihkan. Coba membalas dengan mengelus rambut kepalamu yang lembut itu.
Hanya sebentar dan setelah itu berhenti melakukannya.
"Kenapa berhenti? Teruslah mengelus."
Ternyata kamu menyukai gerakan yang biasa dilakukan dalam merespon situasi sedih. Lalu tangan ini kembali mengelus rambutmu.
Setelah merasa sedikit membaik, kamu seketika mengajakku untuk berbicara akan sesuatu. Kamu meminta masukan dariku agar bisa kamu terapkan nantinya. Kuberikan apa yang dirimu minta serta tak lupa menyuruhmu untuk kembali tersenyum sesegera mungkin.
Beberapa waktu kemudian, dihari yang cerah.
Kita berdua berjalan seirama di sebuah jalan setapak. Memandang sekeliling sambil bicara ragam topik. Tidak terasa langkah kita berdua sudah cukup jauh, hingga tiba disebuah puncak bukit. Pemandangan tampak begitu indah dari posisi ini. Melirik dan melihatmu tersenyum, membuatku senang karena engkau sudah melakukan apa yang aku inginkan. Tak berapa lama kemudian, kamu menoleh sampai membuat diri ini tersentak. Apa yang kamu lakukan itu telah membuat detakan jantung terasa berpacu cepat dalam beberapa saat. Dan disaat itu pula terdengar kata-kata yang tidak pernah didengar sebelumnya.
Dirimu mengucapkan sesuatu. Kata-kata itu telah disampaikan padaku. Tetapi sulit dipercaya sesungguhnya. Ingin mendengarkannya sekali lagi seolah memastikan apakah kamu serius dengan itu.
"Katakan sekali lagi."
Ucapan itu keluar secara langsung tanpa disadari. Kemudian dikatakannya kembali.
Ternyata itu adalah benar. Menoleh dan memandang wajahnya. Hal ini sulit terbaca, namun masih ada pengharapan yang mengitari, yaitu sebuah keseriusan.
"Apakah kamu serius?"
"Benar. Aku serius dengan ini. Kamu tidak mempercayainya?"
Jawabnya atas pertanyaan sebelumnya.
Tangannya seketika menggenggam dan itu bukan satu, melainkan dua tangan sekaligus.
Apa yang dilakukannya itu telah menyampaikan keseriusan bagiku. Kemudian menyampaikan apa yang telah dirasakannya.
Selesai bercerita, diri ini membalas genggaman tangan yang telah kamu lakukan itu. Tepat berada diatas tanganmu, aku mengatakannya.
"Aku juga mencintaimu."
Sekarang sudah tahu, bahwa saat ini kita telah saling mencintai. Dan apa yang telah dibayangkan sebelumnya, kini menjadi sebuah kenyataan.
Setelah memperhatikan jauhnya engkau melangkah, akhirnya dirimu mau menoleh ke arah belakang. Orang dibelakang itu adalah aku sendiri. Sumber dukungan, tempat berbagi kisah, hingga karakter yang menemanimu selama ini. Sekarang kita berdua saling menatap dan melempar senyum terbaik masing-masing. Pada adegan akhir, kita tutup dengan pelukan hangat disertai romantisasi didalamnya.
-----SELESAI-----