"Kenapa kau pergi meninggalkanku?"
Rosiana Dewi atau yang kerap disapa Rosa, gadis polos berusia 18 tahun sedang duduk bangku taman yang sepi dan gelap bertemankan rintik hujan yang membasahi seluruh tubuhnya.
"Hiks... Kenapa kau pergi saat aku membutuhkanmu? Kenapa?!"
Gadis itu menangis keras tatkala mengingat sahabat yang telah lama ia kenal pergi meninggalkan dunia ini untuk selamanya.
"Kenapa kau tidak mengajakku meninggalkan dunia ini juga?! Mengapa?!"
Sedih, duka, dan kesal ia rasakan bercampur di dalam hatinya. Dadanya sesak. Tubuhnya dingin. Matanya sembab.
Sreet...
Sebuah payung tiba-tiba menutupi tubuh mungilnya itu dari hujan.
"Siapa kau?" Rosa mendongak melihat seorang pemuda yang berada di depannya itu.
"Bertha tak akan suka kau menyiksa dirimu seperti ini," jawab pemuda itu tanpa menatap Rosa sedikit pun.
"Pergilah. Bertha sudah tidak lagi disini. Jangan mengungkitnya lagi."
"Kalau aku tidak mau pergi?" ucap pria itu dengan nada menantang.
Angkuh dan sombong. Itulah kata yang terlintas dalam benak Rosa saat melihat dan mendengar pemuda itu.
"Apa hubunganmu dengan Bertha? Dan lagi kenapa kau peduli denganku?"
"Aku adalah setengah dari hidup wanita yang kau sebut-sebut sebagai sahabatmu itu."
Rosa terdiam.
Perlahan-lahan pria itu merangkul tubuh Rosa dan menuntunnya kembali ke kontrakannya.
"Terimakasih." Rosa membungkukkan badannya 90° saat pemuda itu mengantarnya sampai ke depan pintu.
"Jangan sungkan, ini merupakan perintah dari sahabat jelekmu itu."
Rosa hanya mengangguk dan berusaha tersenyum, namun senyumannya terlalu palsu.
"Sudah, jangan paksakan senyumanmu. Besok pagi kau harus masuk kuliah. Jaga kesehatanmu"
Tanpa berlama-lama, pemuda tadi meninggalkan Rosa yang masih bingung dengan identitasnya.
Seminggu sudah berlalu semenjak hari itu. Rosa berusaha bangkit dan memulai hidupnya kembali.
"Hai Rosa."
Rosa ingat jelas suara ini. Suara yang ramah dan akrab namun menyisakan luka yang begitu dalam.
"Apa yang ingin kalian lakukan?"
"Oh ayolah. Kita hanya mau berteman denganmu saja. Tidak ada hal lain koq."
"CUKUP! APA KAU BELUM CUKUP MENYAKITIKU, BELINDA?!"
Ya itu adalah Belinda atau yang akrab dipanggil Linda. Teman masa kecil Rosa. Namun sekarang menjadi musuhnya.
"Cih... Menyakitimu? Bukannya kau duluan yang menyakitiku?"
Ingin sekali Rosa meremas wajah centil Linda, namun apa daya. Ia ingat akan perkataan Bertha, "Jangan pernah dendam kepada siapapun."
"Aku tidak ada urusan dengan kalian jadi aku permisi" Rosa hendak pergi meninggalkan sekelompok wanita pengganggu itu.
"Eits... Mau kemana?" Linda menarik rambut panjang Rosa sehingga membuat sang empunya kesakitan.
"Lepaskan!"
Tidak takut dengan gertakannya, Linda semakin kuat menarik rambut panjang Rosa.
"Ahhh,"
Plak...
"Suaramu seperti seorang pelacur," tak hanya menampar dan memaki Rosa, Linda dan teman-temannya juga ingin mempermalukannya.
"Pelacur? Heh... Dia terlalu bagus untuk sebutan itu,"
"Bagaimana kalau kita..." saling melirik, Rosa merasakan akan ada hal buruk yang segera datang.
"CUKUP!"
Suara berat dan menggelegar membuat Linda dan teman-temannya takut. Segera mereka melepaskan Rosa.
"Pemuda itu lagi," ucap Rosa dalam hati.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN?! APA KALIAN MAU BAPAK HUKUM?!"
"I... Ini bukan seperti yang bapak lihat. I... Ini cuma candaan sesama teman... Ya... Ya kan Rosa?" Linda menatap tajam Rosa karena takut ia akan melaporkan semuanya kepada pemuda itu.
"BUBAR!"
Linda dan teman-temannya meninggalkan Rosa bersama pemuda itu sendirian.
"Terimakasih."
"Bangunlah." Pemuda itu mengulurkan tangannya untuk membantu Rosa berdiri.
"Sekali lagi terimakasih." Rosa hendak berbalik namun tertahan.
"Tunggu, apa kau tidak mau tau siapa aku?" tanya pemuda itu sembari memegang tangan Rosa agar tidak pergi.
"Tidak." Rosa menunduk, takut dan bingung.
"Haish... Sepertinya aku menakutimu,"
"Namaku Bertho, kau pasti sering mendengar namaku."
Rosa mendongak menatap wajah pemuda yang mengaku Bertho itu.
Tunggu... Siapa itu Bertho?
"Kau... Kau benar-benar Bertho? Sau... Saudara kembar Bertha?!
"Benar ini aku, Berthonio Saputra, saudara kembar Berthania Saputri, sahabat karibmu."
"Oh my god! Pantas saja wajahmu sangat mirip dengannya hehehe." tersenyum kikuk adalah cara yang bagus untuk menutupi rasa malu.
"Mau ku antar pulang?"
"Ah tidak usah. Terimakasih. Aku bisa berjalan kaki," tolak Rosa ramah karena ia tidak ingin membebani siapapun lagi sekarang.
"Baiklah."
"Oh ya ngomong-ngomong, keempat gadis tadi... Apa mereka yang..."
"Ya betul itu mereka," jawab Rosa dengan penuh dendam.
"Cantik-cantik tapi hatinya busuk. Semoga saudariku tersayang bisa memaafkan mereka di surga," senyum kecut pun sedikit tampak pada wajah Bertho. Ia sangat menyayangkan kepergian saudari kembarnya itu.
Tak mau melihat orang lain sedih, Rosa pun menanyakan sebuah pertanyaan basa-basi,
"Apa yang kau lakukan disini? Apa kau kuliah juga?"
"Oh benar aku kuliah disini. Tapi juga menyambi mengajar."
"Wah... Kau sibuk ya. Jadi asisten dosen bukanlah suatu yang mudah lho."
"Hahaha iya. Tapi kalau sudah terbiasa ya bukan suatu masalah sih hahaha."
Dan dari situlah mereka berdua mulai akrab.
Enam bulan berlalu, kini hubungan Rosa dan Bertho sudah menuju ketingkat lanjutan. Setalah mengenal cukup lama, mereka berdua pun memutuskan untuk bersahabat.
Sebenarnya Bertho menyimpan sedikit rasa untuk Rosa, namun ia kubur dalam-dalam karena takut hubungan bisa rusak nantinya.
Rosa juga sebaliknya. Ia hanya takut ditinggalkan untuk kesekian kalinya. Karena mantan-mantan Rosa yang dulu, mereka tukang selingkuh.
"Oh ya mau kemana kita hari ini?" tanya Rosa dengan girangnya saat menghampiri Bertho yang sedang duduk di bangku taman belakang kampus.
"Tidak kemana-mana. Hanya duduk dirumah sambil membaca buku-buku sejarah."
"Oh ayolah kutu buku. Singkirkan sejenak pekerjaanmu."
"Baiklah terserah kau saja." Bertho menutup bukunya dan memasukannya ke dalam tas gendongnya.
"Nah begitu dong. Mau nonton film? Aku sudah beli dua tiket untukmu dan untukku."
"Baiklah ayo. Sudah lama aku tidak pergi ke bioskop."
Bertho pun mengambil sepeda motornya dan mereka berdua berangkat ke gedung bioskop.
Setelah menonton film,
"Ck.. Kenapa kau memilih genre yang menjijikkan seperti tadi." Bertho berdecak kesal. Ia menyesal menonton film dengan sahabat barunya itu.
"Oh ayolah tuan kutu buku anti romantis. Itu hanya sebuah film. Kau tidak ada phobia terhadap film romantis kan?"
"Phobia film? Apa itu? Aku baru dengar."
"Lupakan saja. Ayo kita beli makan. Aku sudan lapar." Rosa menarik Bertho untuk mengikutinya menuju sebuah kedai makan tak jauh dari gedung bioskop.
"Kedai Steak mantap Pak Jamal"
"Apa kita akan makan disini?" Bertho ragu untuk masuk ke dalam kedai itu. Pasalnya tempat yang Rosa pilih sangat sederhana dan sepi pembeli.
"Jangan menilai sesuatu dari penampilan luarnya saja." Rosa menarik Bertho untuk masuk.
"Pak pesan dua porsi biasanya ya."
"Oh siap neng. Silahkan ditunggu," ucap ramah Pak Jamal, pemilik kedai steak ini.
"Dulu aku dan Bertha sering kemari setiap akhir pekan... Hah... Sudah lama sekali ya hehe." Senyum bahagia terulas di wajah Rosa tatkala ia mengingat saat-saat ia dan Bertha berada di kedai ini dulu.
"Tunggu... Kenapa kau tersenyum?" Bertho merasa aneh, biasanya setiap Rosa menyebutkan nama Bertha, ia akan menjadi sendu.
"Iya," ucap Rosa sambil memberikan senyuman terbaiknya.
"Syukurlah... Sekarang kau sudah mengikhlaskannya."
"Iya. Pelan-pelan aku mulai bisa menerima kepergiannya."
"Makanan datang," ucap Pak Jamal sembari menyajikan dua porsi beef steak yang Rosa pesan.
"Terimakasih pak." Rosa tersenyum kepada pemilik kedai itu.
"Sama-sama neng Rosa. Oh ya neng ini siapa ya? Pacarnya ya?"
"Oh bukan pak. Ini kembarannya Bertha, Bertho."
Bertho tersenyum ke arah pemilik kedai.
"Oalah tak kira pacar e. Ya udah neng monggo dilanjut makannya." Pak Jamal pun pergi meninggalkan mereka.
"Hei..."
"Hmm?"
"Apa kau tidak ada niatan untuk... Em..." Bertho ragu-ragu mengatakan isi pikirannya saat ini.
"Apa? Join kelas sejarah?"
"Bukan... Aish lupakan saja kita makan dulu." Bertho memang selalu begitu. Tidak pernah menyelesaikan kata-katanya , membuat Rosa penasaran.
Setelah selesai makan,
"Um... Apa yang mau kau katakan tadi?" tanya Rosa.
"Tidak jadi."
"Oh ayolah katakan saja. Jangan buat aku semakin penasaran." Rosa menatap Bertho penasaran.
"Baiklah, tapi jangan menyesal." Bertho menghela nafas panjang sebelum mengatakan sesuatu mungkin akan ia sesali nanti.
"Katakan saja."
"Kamu mau gak jadi pacarku?"
Shock, kaget, senang, takut, bingung semuanya bercampur aduk di dalam pikiran Rosa setelah mendengar perkataan Bertho.
"Ka... Kamu yakin?"
"Aku yakin! Aku juga janji bakal lindungin kamu. Aku gak pengen kejadian Bertha terulang lagi," ucap Bertho tegas sambil memegang tangan Rosa.
Namun Rosa hanya diam dan bingung harus menjawab apa.
"Tidak perlu buru-buru. Pikirkan saja saranku ini. Aku tidak suka hubungan yang terpaksa."
Memang Bertho yang paling mengerti Rosa.
Rosa hanya tersenyum.
"Beri aku waktu... Aku masih belum bisa membuka hati lagi." ucap Rosa tersenyum sambil memegang satu tangan Bertho.
"Baiklah. Ayo pulang." Keduanya saling tersenyum dan memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing.
- TAMAT -