Suara rintik hujan membasahi tanah terdengar merdu. Rasa dingin di udara menambah berat beban di kelopak mata. Terbalut selimut, Jeon Ha Eun menyusut di atas kasur dengan ponsel di tangannya. Walaupun ia mengantuk, tapi ia tidak bisa lepas dari ponselnya.
Hari ini adalah hari Minggu. Ditambah suasana yang mendukung, Ha Eun tidak ingin melewatkan kesempatan untuk membaca novel kesayangannya di hari libur yang berharga ini.
Setidaknya ia harus mengisi energi sebelum kembali bekerja di depan komputer yang penuh dengan data.
"Ha Eun? Bantu mama sebentar!"
Suara ibunya terdengar dari luar kamar. Ha Eun menghela napas. Ia beranjak dari tempat tidur dengan berat, kemudian keluar menuju tempat ibunya berada. "Kenapa ma?"
Sesampainya di dapur, Ha Eun melihat berbagai tempat makan sedang dimasukkan ibunya ke dalam tas belanja. "Pergi ke asrama Wonwoo dan berikan ini kepadanya. Jika kakakmu tidak ada, berikan saja kepada Mingyu atau anak-anak lainnya."
Anak-anak lainnya tentu saja mengacu pada anggota SVT. Ha Eun tidak masalah berbicara dengan mereka. Namun bukan itu masalahnya.
"Di luar hujan, ma." Ha Eun mencoba membujuk ibunya supaya tidak menyuruh untuk pergi, ia sudah berencana untuk malas-malasan hari ini. Ia melihat adik lelakinya yang baru saja keluar dari kamar dengan penampilan berantakan, sepertinya ia baru bangun. "Dia aja yang pergi, ya?"
"Aku tidak akan pergi kemana pun hari ini," pria itu melirik Ha Eun dengan malas, ia keluar untuk mengambil air minum. Kemudian kembali ke kamarnya untuk melanjutkan tidur.
Ha Eun menatap Bo Hyuk sinis.
"Jangan ganggu Bo Hyuk, dia baru datang kemarin." Ibunya memberikan tas itu kepada Ha Eun, "Ambil saja payung milik Papa, jangan hujan-hujanan."
Ha Eun sedikit merengut menerima tas belanja itu, tapi ia pasrah. Memasukkan ponsel ke dalam saku dan menarik tudung hoodie biru miliknya, ia pergi menuju pintu. "Aku pergi."
"Hati-hati di jalan."
Ha Eun keluar dari rumah dengan payung di tangan kanan dan tas berisi kotak makanan di tangan kiri.
Angin dingin bertiup menerpanya, namun baju hangat itu menahan serangan angin dan membuat tubuh Ha Eun tetap hangat.
Gadis itu memasuki kawasan jalan raya. Ia melihat pemandangan sekitar yang tidak terlalu ramai dengan pejalan kaki. Tentu saja, siapa yang mau keluar di cuaca seperti ini? Kecuali Ha Eun tentunya.
Ha Eun menunggu di halte bus sendirian. Ia memakai earphone dan mendengarkan musik untuk membunuh rasa bosan selagi menunggu. Tapi matanya selalu melirik ke kiri untuk memastikan kedatangan bus.
Tak lama kemudian, bus datang. Ia ingin melihat nomor bus tersebut tetapi ia malah kaget karena teringat suatu hal.
"Aaa! Jinjja! Kenapa aku lupa bawa kacamata?!"
Pantas saja keadaan sekitar terlihat kabur. Ia pikir hal itu terjadi karena hujan. Tapi ternyata dia tidak memakai kacamata maupun lensa kontak.
"Hahh... Menyebalkan." Ha Eun membuka kamera ponsel dan mencari tau nomor bus dengan itu. Untungnya itu adalah bus yang menuju daerah asrama Wonwoo berada. Jadi ia tidak perlu menunggu lebih lama.
Menutup payung dan memasukkannya ke dalam tas, gadis itu melangkah memasuki bus yang sudah berhenti di depan halte.
Setelah membayar, Ha Eun duduk di kursi dekat jendela. Ia masih merutuki fakta bahwa ia tidak menggunakan kacamata. Gadis itu masih kesal, tapi ia tidak mau kembali ke rumah yang cukup jauh dari halte bus. Dan Bo Hyuk pun tidak akan mau mengantarkan kacamatanya.
"Menyebalkan. Benar-benar menyebalkan."
***
Sesampainya di halte kawasan asrama SVT, hujan tidak selebat sebelumnya. Ha Eun memutuskan untuk tidak memakai payungnya lagi dan berjalan santai di trotoar menuju asrama SVT.
Namun, ia merasakan seseorang sedang mengikutinya. Ia pikir itu hanyalah perasaannya saja, tetapi pria itu berlari kecil mengikuti setiap langkahnya. Apabila ia berbelok ke kiri, pria itu ikut berbelok ke kiri. Terus seperti itu sampai Ha Eun merasa yakin bahwa ia diikuti.
Pria itu memakai setelan training berwarna hitam dengan sepatu berwarna putih. Ia terlihat lebih tinggi dari dirinya. Namun karena dia tidak membawa kacamata, Ha Eun tidak bisa memastikan wajah pria itu.
Gadis itu kembali melirik ke belakang, ia tersentak ketika melihat pria itu berada lebih dekat dari sebelumnya.
Lantas, ia hendak berlari.
Namun pria itu lebih cepat menahan tangannya.
Ha Eun memberontak untuk melepaskan tangannya. Tapi sayang, tenaga pria itu lebih besar darinya.
Tiba-tiba tubuhnya ditarik mendekat oleh pria itu dan mata yang familiar telah berada sangat dekat di depan matanya.
Pupil mata Ha Eun melebar ketika menatap mata yang familiar di depan wajahnya. Walaupun wajahnya tertutup masker, gadis itu mengenali siapa pria itu dari matanya. "Kim... Mingyu?"
Mingyu mengamati wajah Ha Eun dari dekat, pria itu menghela napas. "Apa sekarang kamu mengenaliku?"
Pria itu mengetahui bahwa Ha Eun memiliki masalah mata yang mirip dengan Wonwoo. Walau tidak seberat Wonwoo, tetap saja gadis itu kesulitan untuk melihat benda jarak jauh. Oleh karena itu, Mingyu mendekatkan wajahnya ke Ha Eun supaya gadis itu mengenali bahwa Mingyu lah yang mengikutinya sejak tadi.
Tangan besar pria itu memasuki tudung hoodie Ha Eun kemudian mengambil earphone yang terpasang di telinganya. "Pantas saja kamu tetap diam, aku sampai teriak-teriak memanggil namamu. Tapi kamu malah mencoba kabur."
Mingyu menegapkan tubuhnya sehingga wajah Ha Eun tidak lagi berdekatan dengannya.
Gadis itu telah sadar dari rasa terkejutnya. Ia menampar punggung Mingyu berkali-kali. "Kamu membuatku takut, dasar Kim Mingyu!"
Bukannya marah, Mingyu memberikan senyuman lebar seraya mencubit pipi Ha Eun gemas. "Iya iya, mianhae."
Ha Eun menatap Mingyu seraya menghela napas. Kakinya lemas sehingga ia berjongkok. "Aku benar-benar sangat takut, tidak ada orang di sekitar dan aku tidak bisa melihat dengan jelas."
Walaupun Ha Eun berbisik pelan, Mingyu bisa mendengar ucapan Ha Eun.
"Naiklah ke punggungku," ucapan Mingyu membuat Ha Eun mendongak. Tanpa ragu gadis itu mengalungkan lengannya di leher Mingyu dan membiarkan tubuhnya terangkat.
Ia teringat ketika SVT belum melakukan debut, Mingyu juga menggendongnya seperti ini.
Kaki Ha Eun terkilir saat mencari keberadaan Wonwoo di dalam gedung perusahaan, kebetulan saat itu ia bertemu dengan Mingyu dan pria itu membantunya. Sejak saat itu, mereka semakin dekat. Apalagi mereka memiliki umur yang sama sehingga saling memukul dan mencubit tidak lagi segan di antara mereka.
"Apa kamu akan pergi ke asrama kami?"
"Iya, mama menyuruhku membawa beberapa makanan untuk kalian."
Ha Eun menunjukkan tas yang sejak tadi dibawanya.
"Baunya terasa enak, aku jadi lapar." Karena tas itu berada dekat dengannya, Mingyu bisa mencium aroma masakan khas ibu Wonwoo. "Apa kamu sudah makan?"
"Belum, sampai di sana masakkan sesuatu untukku kau mengerti? Anggap saja aku akan memaafkanmu setelah memakannya."
"Baiklah baiklah, aku akan memasak."
***
"Aku pulang."
"Oh, Mingyu. Sudah pulang? Eh? Ha Eun? Kamu kenapa?" Seseorang dengan suara rendah terdengar menyambut kedatangan mereka. Ha Eun tidak bisa melihat dengan jelas wajah pria itu, tapi ia yakin dia adalah kakaknya, Wonwoo.
"Salahkan Mingyu membuatku terkejut, Oppa." Rengek Ha Eun masih belum memaafkan Mingyu.
Wonwoo masih belum memahami situasi, tapi ia menyuruh Mingyu menurunkan Ha Eun terlebih dahulu di atas sofa. Sementara ia mengambil air putih di dapur.
"Kamu mau makan apa?" tanya Mingyu setelah Ha Eun duduk dengan nyaman. Ia mengambil tas yang berisi makanan itu di tangannya.
"Jjapageti?" jawab Ha Eun ragu-ragu.
"Of course why not? Aku ke dapur dulu."
Meninggalkan Ha Eun di sofa dan Wonwoo yang baru saja datang membawa segelas air putih, Mingyu menuju dapur untuk memasak.
Wonwoo memberikan adiknya segelas air. "Nih, minum dulu."
"Gomawo."
"Jadi, kamu kenapa?"
Ha Eun menghabiskan segelas air kemudian menceritakan detail kejadian yang ia alami.
"Sekarang sudah lebih baik?" tanya Wonwoo setelah mendengarkan seluruh cerita adiknya. Gadis itu pun mengangguk karena kondisinya memang sudah lebih tenang.
Wonwoo melirik ke arah dapur yang sudah dipenuhi suara peralatan memasak. "Mingyu sedang memasak, ya? Aku juga lapar."
Mendengar ucapan kakaknya, Ha Eun langsung memegang tangan Wonwoo untuk mencegahnya pergi. "Itu untukku, Oppa makan pesan antar saja. Makan nya jangan lupa di kamar, Oppa mengerti?"
Ha Eun memberikan senyuman paling manis sekaligus menakutkan karena tatapannya yang tajam.
"A-a... baiklah. Haha, aku mengerti." Wonwoo beranjak untuk bangun, ia memberikan senyum mengejek. "Aku tidak akan menggangu kalian pacaran dan diam di dalam kamar, apa kau puas?"
"Heheh, Wonwoo Oppa memang terbaik." Ha Eun menunjukkan kedua jempolnya pada Wonwoo.
Pria itu mengacak rambut adiknya gemas, "Lain kali selalu membawa kacamata. Berjanjilah padaku." Jari kelingking Wonwoo terulur di hadapan Ha Eun.
Gadis itu mengangguk dan menautkan jari kelingkingnya pada kakaknya. "Janji."
***
"Mingyu, sudah matang belum?"
Ha Eun mengintip dari pintu dapur. Dari tempat Mingyu berdiri, hanya kepala gadis itu saja yang terlihat. "Mau lihat?"
Penasaran, Ha Eun berjalan mendekati Mingyu. Pria itu membuka tutup panci dan memperlihatkan sup yang dibuat oleh ibu Ha Eun sedang dipanaskan. "Woah, daebak." Mata Ha Eun melirik ke wajan berisi makanan yang mulai matang. "Woah, ini tinggal di balik kan?"
Mingyu terkekeh melihat mata berbinar yang dipancarkan Ha Eun. Sama seperti sikap Wonwoo yang tidak pernah berubah sejak mereka pertama kali bertemu, Ha Eun juga masih tetap sama. Gadis itu selalu bersemangat di depan makanan.
Secara alami, Mingyu menggenggam tangan kiri Ha Eun kemudian memasukkannya ke dalam saku celana.
Gadis itu tersentak kaget kemudian mendongak menatap wajah tampan itu. "Ya! Kim Mingyu, kamu jangan cari-cari kesempatan. Lepaskan tanganmu itu. Kamu kan sedang memasak apa kau mengerti?"
"Kenapa? Kenapa? Kenapa? Terserah aku, aku akan melakukan apapun. Lihat," Mingyu sukses membalikkan telur dadar dengan tangan kanan masih menggenggam tangan Ha Eun, "aku bisa memasak sambil memegang tanganmu, kan?"
Mingyu mendekatkan wajahnya ke wajah Ha Eun yang mulai memerah. Gadis itu memalingkan wajahnya ke arah lain. Jantungnya berdegup kencang, dalam hati berteriak betapa kerennya seorang Kim Mingyu.
Tidak heran dia adalah visual dari SVT. Ha Eun yang sudah lama menjadi pacar Mingyu saja masih merasakan debaran di setiap tingkahnya.
"K-kalau begitu teruskan," suara Ha Eun sangat kecil karena dia merasa malu. Mingyu tidak membiarkan kesempatan ini begitu saja.
"Apanya yang diteruskan? Hm?" Senyuman jahil tercetak di wajah pria itu. Sayangnya, Ha Eun tidak melihatnya dan pipinya terasa semakin hangat.
"I-itu, memasak..." Ha Eun mengecilkan suaranya, "sambil memegang tanganku."
"Memasak sambil apa???" Mingyu terlihat menikmati melihat Ha Eun yang tersipu malu. Tapi gadis itu mulai kesal.
"SAMBIL MEMEGANG TANGANKU, KAU PUAS?!!"
Satu lagi hari yang damai di asrama SVT.
TAMAT