Ananta adalah sahabat terbaik sekaligus seseorang yang kukagumi bertahun-tahun lamanya. Hari ini dia mengajakku bertemu di sebuah taman di dekat perumahan kami.
"Lily, sudah lamanya?"
"Enggak, cuman 1 jam 21 menit. Heheh...."
"Maaf ya," ucapnya singkat.
Entah apa yang terjadi padanya beberapa hari terakhir ini. Dia seakan menghindariku. Dia tak lagi menatap mataku ketika berbicara, dia juga sering kali menolak untuk pergi sekolah bersama. Mungkin karena dia sibuk.
"Jadi, kenapa kamu ngajak aku ke taman?"
"Hum, kita sahabatan udah lamakan, Ly?"
"Heem, terus?"
"Ya, kenapa perasaan itu ada?"
"maksudnya?"
Dia diam dan itu membuat jantungku berdebar kencang, ah mungkinkah dia akan menyatakan persaannya? kuharap, iya. Jujur saja aku telah menyukainya sejak lama. Sejak dia masih suka bermain kelereng di kebun pak Somad dan juga bermain layangan di lapang Sukajadi. Sungguh jika benar, penantianku tidak sia-sia. Aku tersenyum membayangkannya. Kutundukan kepala untuk sekedar menyembunyikan ekspresiku.
"Kenapa harus aku?"
"Hah?"
"Aku tahu dari diary hitam kamu yang jatuh waktu itu?"
"kamu baca? aku 'kan udah bilang, jangan baca!"
"Bukunya terbuka."
Aku gak tahu harus gimana. Rahasiaku, harapanku. Malu, aku sungguh malu.
"Terus kamu mau apa? Sekarang udah tahu 'kan. aku gak bisa ngatur perasaanku, An. Aku gak bisa!" kataku sambil menatapnya. Nasi sudah menjadi bubur, tinggal buang saja.
"Maaf, jauhi aku Ly, Diyana gak suka."
"Di ... yana?"
"Aku udah jadian kemarin. Thanks buat semuanya."
Tanpa pamit dia pergi, pergi tanpa berbalik atau sekedar melihatku yang hancur. Apa artinya persahabatan ini. Setidaknya kalau dia mau aku pergi gak usah kayak gini. Cukup bilang udah punya pacar. aku juga bakal mundur. apa ini artinya ditolak sebelum berjuang? atau perjuanganku memang bukan seleranya. Yang pasti aku sadar, Diyana cantik, baik dan populer. Tidak sepertiku, yang ditinggal setelah membantu dia mengerjakan banyak tugas.
"Awas tugas matematika gak aku kasih nyontek lagi!" meski kutahu Diyana lebih pintar.