Asyifa Yulia Citra itu namaku, dan dipanggil Syifa yang sekarang sedang berada di kelas 3 SMU, dan sedang menantikan kelulusan. Aku terbilang anak pendiam selama 3 tahun ini. Tapi aku memiliki sahabat bernama Siya yang selalu bersamaku apa pun yang terjadi.
Suatu pagi, dihari penentuan kelulusan sekolah.
"Pagi Syifa" sapa Siya
"Pagi Si" balasku sambil tersenyum.
"Uda selesai persiapanmu untuk ikut liburan besok?" Tanya Siya.
"Hem... kayak e sih" jawabku.
Kamipun pergi keruang kelas untuk mengambil ijazah kami.
Skip 1 minggu berlalu.
Hari keberangkatan liburan sekolah yang sudah ditentukan.
"Syifa" sapa seseorang padaku dari belakang dengan suara yang merdu, dan dapat kukenali suara siapa itu.
"Ka.. kak Daniel?!" jawabku terbata.
kak Daniel tak menjawab dia hanya senyum. Dia adalah kakak kelas yang selama ini menyukaiku, tapi aku tak pernah sekalipun menjawab cintanya.
"Syifaaaaa!" triak Siya sambil berlari kearahku, dan langsung menabrakku.
Bruk...!
"Aduh Si... kenapa lari-lari sih" pekikku yang ditabrak tubuh Siya.
"Hahahaaaaa..."tawa Siya sambil memelukku.
"Ayooooo.. semuanya naik kedalam bis!" triak pak Handoko salah satu guru kami yang memandu liburan ini.
Skip perjalanan menuju tempat tujuan ke puncak, yang diisi dengan nyanyian teman-temanku selama perjalanan.
Di sebuah Villa mewah yang sangat besar kami semuanya berhenti dan akan menginap.
"Waaaaa... kamarnya besar sekali, dan keren 1 kamar cuma diisi 2 orang aja" celoteh sahabatku itu.
"kita sekamar ya Syif" sambung Siya. aku membalasnya hanya dengan anggukkan.
"Syif siapa ya yang punya Villa ini? Pasti dia orang yang sangat kaya. liat saja uda bagus, luas, ada tamannya yang sangat indah dan kolam renang yang sangat besar" celoteh Siya sahabtku itu tanpa berhenti.
"Apa dia punya anak laki-laki ya Syif" sambungnya lagi, yang membuat aku mengerutkan kening.
"Emang kenapa kalau punya anak laki-laki?" tanyaku bingung.
"Kau ini begok apa bodoh sih! Tentu saja aku akan menikahinya" geramnya sambil merebahkan tubuhnya ditempat tidur.
"Kalau ternyata anaknya tua gimana? Kamu masih mau menikahinya?” tanyaku.
"Hwahahahaaaa..." tawanya terbahak-bahak mengisi seluruh ruangan kamar tidur kami.
Tok tok tok...
Ada seseorang yang mengetuk pintu kamar kami. Siya bangit dari tempat tidur dan membukakan pintu, setelah itu dia kembali dan bilang kalau disuruh kumpul semua karena mau ada pembahasan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di Villa ini.
Dalam aula yang sangat luas dan megah semua siswa dan guru berkumpul bersama.
"Dengarkan semuanya. Kalian sudah dapat teman sekamar kalian semua?" Tanya pak Handoko pada kami semua.
"Sudah pak." teriak kami semua serempak.
"Villa ini milik keluarga Daniel, kakak kelas kalian. Kalian boleh melakukan semua yang kalian mau tapi tolong dijaga kebersihannya dan jangan bikin onar, apa kalian semua sudah paham?" Sambung bu Yuni.
"Sudah bu" triak kami semua kompak lagi.
Bu yuni adalah wali kelasku dan Siya. Orangnya sangat baik dan lembut.
Semua teman-temanku pun mulai berkasak-kusuk mengenai Villa ini. Mereka gak menyangka kalau ternyata Villa ini milik keluarga kak Daniel orang yang selama ini kami kenal sangat baik. Ketua osis yang keren, tampan, jago olahraga dan atlit renang sekolah kami.
"Gak nyangka ya Syif, ternyata Villa ini milik keluarganya kak Daniel" kata Siya sambil rebahan dikasur.
"Iya" sahutku yang ikut merebahkan tubuh disamping Siya.
"Haaah...!" Siya mengeluh dan menghela nafas dalam.
"Kenapa kok bernafas panjang?" tanyaku memiringkan wajahku menatapnya.
"Kau ini Syif, apa gak ngerti. kalo kak Daniel berarti aku gak akan bisa menikahinya" tuturnya dengan suara kecil.
"Kenapa kok gak bisa menikahinya? Dia cakep dan juga baik" kataku kembali menatap langit-langit kamar itu.
"Terus kenapa kamu gak bisa menerima cintanya kalau uda tau dia baik dan cakep" jawab Siya yang membuatku bungkam.
"...." aku diam tak bisa menjawab pertanyaannya.
Iya selama ini aku tak pernah menjawab atau menerima cintanya. Bahkan seluruh sekolah tau kalau kak Daniel menyukaiku. Karena dihari kelulusannya dia menyatakan cintanya padaku didepan semua orang dan para guru.
Hening tak ada suara baik aku ataupun Siya. kami saling terdiam dan tenggelam dalam lamunan kami masing-masing. Entah apa yang sedang dipikirkan Siya saat ini. Tapi yang sedang kupikirkan adalah aku tak bisa menerima cintanya kak Daniel karena aku takut, aku hanya orang biasa dan putri pedagang asongan, gak mungkin sama kak Daniel yang populer disekolah dan selalu terlihat mewah semua barang-barangnya. Dan ternyata benar, dia anak orang kaya yang tak mungkin bisa kugapai.
Tok tok tok
"Syifa" suara yang terdengar dari balik pintu memanggil namaku.
"Iya" jawab Siya sambil beranjak membukakan pintu.
"Boleh aku pinjem Syifa nya sebentar Siya?" suara yang tak asing kudengar, iya itu suara kak Daniel.
"Syifa ada kak Daniel tuh. keluar gih" kata Siya menyuruhku. Aku pun beranjak dan keluar menemui kak Daniel.
"Ikut aku sebentar yuk" ajaknya padaku.
"Mau kemana kita kak?" tanyaku sambil mengikuti langkah kak Daniel dari belakang, namun kak Daniel tak menjawab dan dia hanya tersenyum sekilas padaku.
"Hem.. ternyata mau ke taman belakang toh" pikirku dalam hati.
Kami berada di sebuah taman yang sangat luas dan kami duduk di tepi danau yang tak kalah luas juga, kami berdua bagai sepasang kekasih yang sedang duduk di tepi danau dengan mesrah. Suasana hening bikin aku jadi canggung, “aku harus ngomong apa ya?” pikirku dalam hati. Tapi karena gugup aku pun mengedarkan pandangan keseluruh permukaan danau. “Wao indah sekali, pandangan sinar bulan yang terpantul kedalam air danau, kayak bulan yang berada di langit terjatuh ke dasar kolam,” tanpa sadar aku tersenyum menikmati pemandangan itu.
"Senyummu sangat indah Syifa, aku suka melihatmu selalu tersenyum seperti itu" suara kak Daniel memecah lamunanku.
"..." aku terdiam tak menjawab.
"Syifa, aku masih sangat mencintaimu" sambung kak Daniel lagi.
"Aku... " kalimatku terputus dan tak bisa kuteruskan karena aku tak tau harus menjawab apa.
"Kak! Apa yang mau kakak lakukan?!" triakku terkejut saat kulihan kak Daniel melepas bajunya dan masuk kedalam danau.
"Kenapa Syifa? Kamu lupa kalau aku atlit renang" jawabnya sambil berenang dengan gaya terlentang.
"Tapi ini sudah malam kak, dan bahaya renang dimalam hari kak. Ini suda tengah malam, suda hampir jam 12 malam" teriakku dan menatap dengan penuh khawatir pada kak Daniel.
"Kaaak.. cepat naik!" teriakku memanggilnya. Namun dia tak menghiraukanku, terus berenang mengitari danau yang luas.
"Syifaaaaa... aku mencintaimu! Sangat mencintaimu" teriaknya dari tengah danau dan berada dalam pantulan sinar bulan.
"..." aku selalu terdiam tiap kali mendengar kalimat itu.
Tiba-tiba kulihat kak Daniel seperti sedang bermain dengan air, kedua tangannya melambai-lambai didalam air, dan dia muncul tenggelam seperti sedang menari. Lama aku menatapnya sampai akhirnya dia tenggelam dan tak muncul lagi di permukaan.
"Kak. uda dech jangan bercanda" teriakku.
Karena dulu dia juga seperti itu tapi ternyata dia hanya bercanda saat melihat aku panik.
"Kaaaakkk.!" panggilku lagi. Tapi dia tak juga kunjung keluar. Tanpa sadar aku berlari kesisi lain danau kuteriaki nama kak Daniel berulang kali sampai suaraku serak, dan tanpa sadar air mataku berderai dan pikiranku kacau. Aku pun berlari mencari bantuan, dalam pikiranku pasti dia mengalami kram kaki karena berenang ditengah malam atau terjadi sesuatu padanya. Sudah tak terhitung berapa kali aku terjatuh dan tertabrak kursi, meja bahkan pintu dan dinding, saat sampai di Villa karena berlari dengan panik dan pikiran yang campur aduk. Ku rasakan ada yang mengalir hangat di pelipisku, pandanganku mulai menggelap. “Jangan, jangan jatuh dulu karena kak Daniel masih menunggu bantuan,” aku menyemangati diri. Aku menaiki tangga untuk memanggail siapa pun guru yang kulihat nanti, tapi entak kenapa pandanganku semakin gelap dan tubuhku berat.
Brak.! Prang.! hanya itu yang kudengar, tubuhku sakit semua seperti terbanting dari tempat yang tinggi, dan menghantam beberapa benda padat yang keras. “Kak Daniel, maafkan aku kak” kalimat yang kuingat terakhir kali sebelum aku menutup mataku dan kehilangan kesadaranku.
Aku terbangun di sebuah ruangan yang serbah putih, kulirik tangan kiriku terpasang infus, tangan kananku di Ibu jari terpasang seperti penjepit, ada tempelan di dadaku 3 stiker beberapa lagi yang ada kabelnya entah terhubung kemana, dan seperti ada benda asing yang masuk ke tenggorokanku, selang atau pipa. "Benda apa yang terpasang dalam tubuhku ini sebenarnya, apa yang terjadi dan dimana ini. Kak Daniel? bagaimana dengan kak Daniel, apakah dia selamat.” Pikiran dan batinku terus bertanya-tanya tentangnya.
Tit titiiit titiiiiit...
Benda diatas kepalaku berbunyi sangat nyaring dan beberapa orang dengan pakaian serba putih memasuki ruanganku. Mereka memeriksa kadaanku dan mulai melepas satu persatu benda yang menempel pada tubuhku yang disisakan hanya infus saja.
"Non Syifa, bisa mendengar saya? kalo bisa mendengar tolong kedipkan mata non" salah satu orang berbaju putih itu pada ku, dan aku membalas dengan kedipan sesuai dengan instruksinya.
"Syukurlah. Dokter kurasa dia bisa mendengar kita. Tinggal melatih motorik kasarnya aja" lapornya pada seseorang yang agak tua.
"Baguslah, hubungi orang tuanya" jawab orang yang agak tua itu. Dan hal itu membuatku semakin tak mengerti.
"Non Syifa, non Syifa sekarang lagi di rumah sakit. Sebaiknya istirahat dulu karena non Syifa baru saja sadar dari koma. Kami akan memindahkan non Syifa ke ruang perawatan nanti" bilangnya padaku.
“Oh, ternyata aku lagi di Rumah sakit ya. Pasti kak Daniel juga lagi di sini, kan.” pikirku dalam hati.
Setelah 1minggh aku tersadar, akhirnya aku bisa pulang ke rumah. Orang tuaku begitu perhatian padaku, mereka menceritakan padaku bahwa aku telah koma selam 1 tahun lamanya. Betapa terkejutnya aku mendengar pernyataan orang tuaku.
“1 tahun?! Lalu bagaimana dengan kak Damiel?” tanyaku dalam hati. “Pantas mereka menyambutku dengan mengucapkan selamat datang kembali Syifa, ternyata aku habis bangkit dari mati suri.” gumamku lagi dalam hati dan menatap kedua orang tuaku lagi.
Di dalam kamar tidurku, aku yang sedang tiduran terus berfikir tentang kak Daniel hingga tanpa sadar air mataku mengalir.
"Syifa, astaga sahabatku, aku sangat merindukanmu, selamat datang kembali dan jangan pergi lagi ya." seru Siya yang datang menjenguk aku. Dia memelukku sangat erat sambil menangis. Aku hanya bisa membalas pelukannya. Entak kenapa suaraku tak bisa keluar meski aku uda dinyatakan sembuh dan normal. Ya, aku emang uda bisa berjalan dan berlari, semua bisa aku lakukan, hanya saja suaraku tak bisa keluar, walau uda ku paksakan untuk teriak, semuanya seolah berhenti ditenghorokan saja.
Aku memandang Siya dengan penuh tanya dan dia mengerti apa yang ingin ku tau sebenarnya. Akhirnya Siya cerita semua yang sebenarnya ingin kudengar tentang kak Daniel. Termasuk biaya perawatanku selama setahun koma di Rumah Sakit ditanggung keluarga kak Daniel selaku pemilik Rumah Sakit tempatku dirawat.
"Kak, maafkan aku. Kakak bisa memaafkan aku kan? Mungkin terlambat untuk kumenyadari dan menerima tapi aku sebenarnya tidak hanya mencintai kakak tapi aku sangat menyayangi kakak" penjelasanku pada angin yang mungkin bisa menyampaikan pesanku pada kak Daniel yang berada jauh dariku.
Sambil berdiri ditepi kolam aku memandangi pemandangan malam yang sama dengan waktu malam itu, walau ditempat yang berbeda dan bukan di sebuah danau, melainkan kolam renang. Aku melepas bajuku dan menyisakan baju renangku. Aku terjun ke dalam kolam renang dengan waktu yang sama pada malam itu, aku ingin merasakan seperti apa dinginnya air yang kak Daniel rasakan waktu itu. Aku mengitari kolam 3 kali dan air mataku menyatu dengan air kolam.
"Kak Daniel, mungkin kita tak ditakdirkan bersama sekarang, walau ada penyesalan dalam hatiku, tapi aku bahagia mengenal kakak meski hanya sebentar. Kak kini aku uda bisa menguasai berbagai gaya berenang, aku juga uda mulai mengikuti berbagai olimpiade renang seperti yang kakak dulu inginkan. Mungkin hilangnya suaraku adalah hukuman untukku, tapi aku bahagia dengan semua yang aku miliki sekarang."
"Kita tak bisa hanya menetap dan tenggelam dalam masa lalu, kita harus bangkit dan menuju masa depan yang menanti kita kedepannya. Apapun yang terjadi semoga kakak bahagia, aku juga akan terus berusaha menjadi yang terbaik. Andai 4 tahun lalu aku bisa berenang, mungkin aku bisa menyelamatkan kakak. Tapi itu memang sudah suratan. Aku sekarang akan menjadi Syifa yang baru, yang kuat dan tangguh."
“Kak, Syifa mencintaimu dan sangat menyayangimu.”
Aku menatap langit malam yang penuh dengan bintang malam ini, dan aku membayangkan kalau kak Daniel sedang melihat dan mengawasi ku dari atas sana.
Selama 4 tahun terakhir ini aku telah menggantikan kak Daniel dalam merawat orang tuanya, dan aku telah menjadi anak angkat keluarga kak Daniel. Dan aku juga melanjutkan cita-cita kak Daniel yang ingin menjadi atlit renang profesional.