Aurora, atau biasa dipanggil Ara, merupakan seorang primadona di sekolahnya. Kulitnya yang putih mulus, tubuh mungil, dengan wajah bak seorang putri kerajaan. Membuatnya selalu menjadi pusat perhatian di sekolahnya. Tak ada yang bisa menolak untuk tidak menyukainya.
Hampir semua siswa di sekolahnya pernah menyatakan cinta kepada Ara. Namun tak ada satu pun yang diterima oleh Ara, karena Ara menganggap mereka menyukainya hanya karena kecantikannya.
Sampai suatu hari datanglah murid baru di sekolah Ara. Seorang laki-laki yang mampu membuat Ara terpesona. Membuat Ara jatuh cinta untuk pertama kalinya.
"Haii.." sapa Ara mensejajarkan langkah nya dengan langkah laki-laki tersebut.
Laki-laki tersebut tak membalas sapaan Ara, hanya melirik sekilas Ara yang terus mengikuti langkah nya.
"Murid baru ya.. Kenalin aku Aurora, panggil aja Ara!" ucap Ara sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
Laki-laki itu melihat sekeliling, tampak semua mata siswa yang ada di sana menatapnya tidak suka. Ia pun hanya menatap tangan Ara, lalu kembali melangkahkan kakinya. Ara yang merasa di cuekin pun tak menyerah, ia kembali mengikuti laki-laki tersebut.
"Nama kamu siapa?? Eric? Bukan-bukan.. Eric itu kekasihnya Ariel.." gumam Ara menjawab pertanyaannya sendiri.
"Ah.. Aku tau! Karena nama aku Aurora, nama kamu pasti Phillip kan??" tebak Ara antusias.
Laki-laki itu berhenti, menatap aneh pada Ara. Laki-laki itupun tampak menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa bahwa Ara adalah orang yang aneh.
Ara terus mengikuti laki-laki tersebut. Membuat mereka berdua menjadi pusat perhatian semua murid yang ada di sana. Laki-laki itu pun menjadi risih karena terus mendapat tatapan aneh dari meraka semua.
"Bisa nggak sih, nggak usah ngikutin gue?!!" bentak laki-laki itu kepada Ara. Sontak Ara langsung berhenti karena terkejut.
Sedangkan para siswa yang ada di sana langsung melotot tajam pada laki-laki tersebut karena telah berani membentak Ara kesayangan mereka.
Namun bukannya takut, Ara malah dengan beraninya menjawab laki-laki tersebut. "Enggak sebelum kamu kasih tau nama kamu!" ucap Ara dengan beraninya.
"Huffttt!!" laki-laki tersebut menghembuskan napasnya kasar.
"Leon. Puas?! Udah sana pergi lo!!" ujar laki-laki bernama Leon tersebut mengusir Ara.
Senyum Ara mengembang. Membuat para siswa di sana yang tadinya marah pada Leon langsung melting dibuatnya.
"Hm! Puas bangett!! Oke,, bye Leon!!" Ara langsung berlari meninggalkan Leon dengan senyuman yang tak luntur dari wajah cantiknya.
Leon yang melihat itu pun hanya bisa menahan rasa kesalnya saja. Ia pun melanjutkan langkahnya menuju ke kelasnya meskipun dirinya selalu menjadi pusat perhatian karena tadi Ara mengikutinya.
.
.
Enam bulan sudah Leon bersekolah di sekolah barunya. Dan selama itulah dia selalu dikejar-kejar oleh Ara. Ara yang sifatnya ceria binti bar-bar, dengan tanpa malunya menyatakan cintanya pada Leon di depan semua siswa.
Leon tentunya menolak pengakuan Ara. Dan semenjak itulah, dia menjadi musuh semua siswa di sekolah tersebut. Hanya para siswi lah yang tidak memusuhinya. Dan ada satu orang siswa yang kini telah menjadi temannya, ia bernama Vero.
Vero adalah teman sebangku Leon. Selain itu, dia merupakan sahabat Ara sejak kecil. Hanya dialah satu-satunya siswa yang tidak memusuhi dan baik pada Leon.
Leon tau, kalau sebenarnya Vero menyukai Ara. Tampak begitu jelas saat Vero menatap Ara, dan perlakuan nya kepada Ara yang sangat lembut.
----------
"Leon!! Nih aku bawain bekal buat kamu!!" seru Ara memasuki kelas Leon. Sontak semua siswa di dalam kelas langsung berbinar melihat kedatangan Ara. Namun kebahagiaan mereka semua seketika luntur saat melihat Ara menghampiri Leon. Mereka hanya bisa menatap iri pada Leon.
"Ra, kok gue nggak dibawain sih?! Jahat banget lo, Ra! Huhu!" ujar Vero pura-pura sedih.
"Gue aja nggak dikasih, Ver!" curhat Bella, sahabat Ara dan Vero, yang senantiasa menemani Ara.
"Kalian kan udah makan!! Nih Leon, jangan lupa di makan ya.." ujar Ara meletakkan kotak bekal tersebut di meja Leon.
Leon menatap kotak bekal tersebut. Ia pun mengambilnya, dan langsung memberikannya pada Vero.
"Eh? Buat gue??" tanya Vero menerima kotak bekal tersebut.
"Kok dikasih ke Vero sih?!" protes Ara pada Leon.
"Gue udah makan!" balas Leon dan langsung melenggang pergi.
Wajah ceria Ara seketika luntur. Bella yang melihatnya pun langsung memeluk Ara.
"Nih, Ra, gue balikin.." ucap Vero menyodorkan kotak bekal tadi.
"Buat Vero aja, kalo enggak di buang aja nggak papa. Toh, Leon juga nggak mau makan itu.." balas Ara yang tampak putus asa.
"Lo jangan sedih dong, Ra. Inget! Lo itu nggak boleh sedih! Kalo lo sedih entar lo jadi banyak pikiran, entar sakit lo bisa tambah parah lagi!" ujar Bella mengingatkan.
"Bener kata Bella, Ra.. Lo nggak kasian apa sama Mama Papa lo?" timpal Vero setuju.
Ara hanya bisa tersenyum. Ia bersyukur bisa memiliki sahabat yang selalu ada untuknya.
.
.
Tiga hari telah berlalu, Leon tak melihat Ara, Vero, maupun Bella. Mereka bertiga tidak masuk ke sekolah tanpa Leon tau penyebabnya.
Entah mengapa Leon merasa ada yang hilang. Hari-harinya begitu terasa sepi tanpa kehadiran dan gangguan dari Ara.
'Apa iya gue suka sama Ara??' pikir Leon. Dengan cepat ia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Nggak mungkin!" gumam Leon.
Sehari kemudian, Leon melihat Vero sudah berangkat sekolah. Ia pun langsung berlari menghampiri nya.
"Lo kemarin tiga hari kemana aja?? Nggak izin lagi!" seru Leon merangkul pundak Vero.
Vero menatap tangan Leon yang ada di pundaknya. Dengan kasar, ia menyingkirkan tangan Leon tersebut. Vero pun langsung pergi meninggalkan Leon yang masih kebingungan dengan perubahan sikap Vero.
Saat di dalam kelas pun, Leon melihat Vero yang sedang duduk termenung. Ia memutuskan untuk menghampiri Vero.
"Lo kenapa sih?! Tiba-tiba sikap lo berubah gini?! Oo.. Apa jangan-jangan lo sebenarnya juga nggak suka sama gue, karena Ara ngejar-ngejar gue?? Gue kira sikap lo beda sama yang lain! Tapi ternyata kalian semua itu sama aja!" sindir Leon pada Vero.
"Cuma gara-gara cewek, kalian sampai musuhin gue! Gara-gara Ara-" ucapan Leon terhenti kala sebuah pukulan langsung mendarat di pipinya.
Bughh!!
Seketika Leon jatuh tersungkur. Ia langsung menatap Vero sinis.
"Jangan pernah lo berani nyalahin Ara! Sekali lagi gue denger lo nyalahin ataupun ngejelekin Ara, gue nggak bakal tinggal diam!" seru Vero berapi-api.
"Ternyata gue salah udah nganggep lo beda sama yang lain! Nyatanya kalian semua itu sama aja!!" seru Leon dan kembali berdiri. Menatap semua siswa yang hanya menonton mereka berdua.
"Dasar! Sialann!! Sh*ttt!!" umpat Leon dengan suara lantang.
Kelas saat ini sudah dikerumuni oleh siswa-siswa dari berbagai kelas. Sangat gaduh dan ricuh. Tiba-tiba Bella datang dengan berlari.
"Ver! Vero!!" teriak Bella memanggil Vero. Napasnya masih ngos-ngosan, wajahnya tampak panik.
"Kenapa??" tanya Vero pada Bella yang tampak panik itu.
"Ara! Ara kritiss!!" ucapnya dengan air mata yang sudah menggenang.
Deggg...
Mendengar penuturan Bella seketika semua siswa terdiam. Antara percaya dan tidak percaya. Ara yang mereka sangat sayangi kritiss?? Tapi kenapa??
"Mak-maksud lo apa Bel? Kemarin Ara udah baik-baik aja kok! Lo jangan becanda gitu Bel!!" ujar Vero dengan mata memerah, menggenggam kedua lengan Bella dengan kuat.
Air mata Bella menetes. "Gue.. gue nggak becanda Ver! Tante barusan nelpon gue, katanya Ara.. Ara masuk UGD.." lirih Bella dengan suara bergetar.
"Ara kenapa!? UGD? Maksud kalian apa?? Hah?!!" bentak Leon mencengkeram kerah baju Vero.
"Apa peduli lo?? Lo nggak suka kan sama Ara? Lo sendiri yang udah nolak Ara.. Nyakitin perasaannya tiap hari! Nyia-nyia in kebaikan Ara!! Apa peduli lo, hah?!!" bentak Vero tak kalah.
Leon terdiam. Benar yang dikatakan Vero. Ia telah menyia-nyiakan Ara. Bahkan menyakiti hati Ara setiap hari.
"Vero! Cukup! Bukan ini yang Ara mau! Lo tau sendiri, Leon itu sumber kebahagiaan Ara! Sekarang, ayo kita ke rumah sakit! Kita jenguk Ara!! Ara pasti nunggu kita!" ujar Bella dengan air mata yang sudah mengalir.
Bella pun langsung menarik tangan Vero. Mereka berdua kini di depan gerbang, menunggu taxi lewat.
"Naik!" titah Leon kepada Bella dan Vero agar naik ke mobilnya. Bella pun langsung mendorong Vero agar mau masuk. Mobil pun melaju dengan kecepatan penuh.
.
.
Tak lama, mereka bertiga pun sampai di rumah sakit tempat Ara dirawat. Mereka bertiga segera berlari menuju ke ruang UGD. Dari kejauhan, tampak orang tua Ara tengah duduk di bangku tunggu.
Bertepatan saat mereka sampai di depan UGD, ruang UGD terbuka. Seorang dokter keluar dari ruangan tersebut. Dokter tersebut menghampiri kedua orang tua Ara.
"Maafkan kami, Pak, Bu. Kami telah berusaha semampu kami, namun Tuhan telah berkehendak lain.. Putri anda tidak bisa kami selamatkan.." ujar Dokter tersebut.
"Araa!!!" teriak Mama Ara histeris.
"A-Ara.." lirih Bella dengan suara bergetar. Air mata langsung terbebas dari pelupuk matanya. Kedua kaki Vero langsung lemas, membuatnya seketika jatuh terduduk.
Sedangkan Leon tampak terdiam. Tatapan nya tampak kosong. Ia masih berusaha untuk mencerna semua ucapan dokter tadi.
Ruang UGD kembali terbuka. Tampak beberapa perawat mendorong sebuah brankar dengan seseorang tertutup kain putih terbaring di atas brankar tersebut.
Leon langsung menghentikan para perawat tersebut. Dengan tangan gemetar, ia pun membuka kain putih itu. Tampak seorang gadis yang sudah tak memiliki rambut di kepalanya terbaring pucat di atas brankar tersebut.
Seketika kaki Leon terasa lemas. Tak percaya, jika selama ini ia telah menyakiti gadis yang tengah memperjuangkan kehidupannya.
Tanpa ia sadari, sebulir air menetes dari sudut matanya.
.
.
.
Proses pemakaman telah berakhir. Pelayat pun mulai meniggalkan rumah duka. Tersisa Leon, Vero, dan Bella. Mereka bertiga diperbolehkan untuk masuk ke dalam kamar mendiang Ara.
Vero dan Bella duduk di sudut kamar, masih memeluk sebuah foto. Foto dirinya dan Bella saat bersama dengan Ara. Sahabat yang sangat mereka sayangi, kini hanya tinggal kenangan saja.
Sedangkan Leon, ia menemukan sebuah album foto. Ia pun membuka album tersebut. Tampak foto-foto Ara bersama Vero dan Bella. Dalam foto-foto tersebut, tampak Ara sudah tak memiliki rambut. Namun itu tak membuatnya sedih, ia masih tersenyum bahagia dalam foto tersebut.
Tatapannya beralih pada sebuah buku di atas rak. Ia pun mengambil buku tersebut. Tampak seperti sebuah buku harian. Perlahan-lahan ia membuka buku tersebut. Membaca satu-persatu kisah yang ditulis oleh Ara.
Air mata kembali menetes saat ia membaca isi hati Ara.
................
**Ara nggak nyangka bakal jadi primadona sekolah,, bahkan disanjung dan dicintai oleh seluruh pangeran di sekolah.. Apa kalo mereka tau kepala Ara tak bermahkota, mereka akan tetap menyanjung Ara?? Ara harap suatu saat nanti, akan datang Pangeran Phillip yang mampu mencintai Aurora dengan setulus hati..**
**Hari ini adalah hari terindah dalam hidup Ara... Setelah sekian lama, Ara akhirnya bertemu dengan Pangeran Phillip,, Ara harap dia memang lah Pangeran Phillip, yang akan menerima Ara, meskipun nanti dia telah tau penyakit yang ada dalam tubuh Ara..**
**Selama ini Ara selalu menolak perasaan orang lain,, dan sekarang Ara kena imbasnya.. Ternyata begini rasanya ditolak.. Sakit sih, tapi seorang Aurora nggak bakalan nyerah! Ara bakal perjuangin cinta Ara.. untuk Pangeran Phillip**
**Ara emang udah berkali-kali nolak pemberian orang.. Dan sekarang Ara baru tau, ternyata sakit rasanya saat pemberian kita ditolak oleh orang yang kita sayangi..**
**Kali ini Ara nggak bakalan maksain perasaan Ara,, Ara sadar, Ara bukan orang yang sempurna dan tepat untuk Pangeran Phillip.. Karena kalo Ara tetap perjuangin cinta Ara, Ara takut, Ara nggak akan ikhlas buat pergi ninggalin Pangeran.. Ara nggak mau membangkang pada Yang Maha Kuasa.. Jadi maaf, Pangeran Phillip,,**
**Mungkin ini akan jadi yang terakhir Ara tulis di buku ini.. Leukimia Limfoblastik,, setelah tiga tahun menyerang Ara dan merampas mahkota Ara, Ara akui akhirnya kamu menang.. Ara tau hidup Ara udah nggak lama lagi,, tapi Ara nggak menyesal dan nggak akan menyalahkan Tuhan.. Ara bersyukur bisa hidup dengan kebahagiaan yang telah Tuhan berikan ke Ara. Orang tua yang sayang sama Ara, teman-teman yang cinta sama Ara,, sahabat yang selalu ada buat Ara, dan.. cinta yang Ara rasain, meskipun harus bertepuk sebelah tangan.. Ara nggak akan menyalahkan siapapun, karena memang nggak ada yang perlu disalahkan,,
Untuk Pangeran Phillip, terimakasih karena telah hadir dalam kehidupan Aurora... Aurora harap Pangeran bisa bahagia dengan siapapun itu,.. Dan Ara harap, akan selalu ada Ara di hati Pangeran, meskipun itu hanya setitik kenangan..**
.............
Air mata membasahi wajah Leon. Merasa bersalah, sekaligus menyesal. "Maaf.. Maafin gue karena nolak perasaan lo.. Gue nyesel udah bohongin perasaan gue sendiri.. Gue sayang sama lo.." lirih Leon mulai terisak.
"Rasanya, baru kemarin lo ngisi kehidupan gue.. Tapi kenapa di saat gue sadar sama perasaan gue, lo malah pergi ninggalin gue.." lirih Leon di tengah isakannya. Bayangan Ara kembali hadir di pikirannya. Saat pertama kali mereka bertemu.. Saat Ara menyatakan perasaannya,, Saat Ara memberikan perhatiannya.. Semua kembali melayang-layang di pikiran Leon.
**The End**
(Haloo readerss... Jangan lupa untuk like dan komen yahh... Ayo dukung author supaya author tambah semangat untuk berkarya dan jadi lebih baik lagii🥰🥰)
Love You...