"Mau apa ke sini, Bang?" tanya Ayu. Ia membuka pintu hanya separuh dan tak membiarkan pria itu masuk.
"Abang ingin menjumpai mu, Dik. Abang ingin melihat anak kita," sahut Nendra--suaminya dengan memelas.
"Apakah, Abang membawa uang? Di sini tak ada yang gratis!" Ayu menatap pria-nya nyalang.
"Maaf, Abang hanya punya 300 ribu, Dik." Diulurkan uang receh itu pada Ayu.
"Cih, cuma segini?" Uang pemberian Nendra ditepis dengan kasar.
Brak!
Ayu wanita cantik yang ia nikahi satu tahun lalu dan memiliki bayi berusia tujuh bulan telah hilang di balik pintu.Tiada hari Ayu merengek uang dan uang!
Suatu hari Ayu dengan memaksa agar Nendra menceraikannya.
"Bang ceraikan, aku sekarang juga!" pinta Ayu.
Tak ada angin dan hujan permintaan Ayu menyambar jantung Nendra.
Nendra tak percaya dengan ucapan Ayu, "Apa katamu, Dik? Cerai?"
"Iya, masih kurang jelas?!"
"Tidak! Sampai kapanpun, tak mau menceraikan mu. Sekalipun Abang mati,"
"Aku minta cerai, Bang. Sekarang!" Dilemparkan secarik kertas itu ke wajah Nendra.
"Abang tidak mau." Nendra tahu kertas apa itu.
Ayu dengan kasar mengambil kertas di lantai. "Tanda tangani, aku tak mau tahu! Jika Abang tak mau tanda tangan. Jangan harap lihat anakmu lagi,"
Kertas pernyataan cerai. Dengan enggan Nendra menandatangani surat itu. Kemudian ia serahkan dengan tangan bergetar dan wajah menunduk lesu.
"Abang boleh pergi sekarang!" usir Ayu.
Langkah gontai Nendra menarik kedua kakinya dengan lemas. Ia tak ingin beranjak dari sana. Tapi dengan tega Ayu mengusirnya dan bahkan kini mereka baru saja bercerai sepihak.
"Ayu. Abang tak ridho bercerai denganmu." Nendra membatin.
Perpisahannya dengan Ayu membuat hatinya terkoyak dan terpukul. Apalagi ia pun terpisah dengan anak pertama mereka yang masih kecil. Nendra meremas dadanya ada yang sakit tak terhingga di dalam sana.
*
*
*
Mata enggan memejam ia pun menghibur diri berbaur dengan sahabatnya di ruang tamu menonton acara TV sepak bola.
Malam pukul dua dini hari tiba-tiba Nendra sesak nafas dan segera dilarikan ke RS oleh kedua temanya. Tak sampai tujuan Nendra menghembuskan nafas terakhir.
Keluarga terpukul atas meninggalnya Nendra. Setelah dikafani, Ayu menggendong anaknya untuk menciumkan ke wajah pucat Nendra untuk terakhir kali.
Setelah dicium, Qadarullah! Jenazah mengeluarkan air mata yang mengalir di pipi sebelah kanan. Semua yang menyaksikan ikut menangis pilu.
Tak ada yang tahu bahwa mereka sudah berpisah. Hanya Ayu dan ibunya saja yang tahu karena ini sebagaian dari rencana mereka.
Nendra tak ingin berpisah dengan istrinya. Tapi maut lah yang memisahkannya hingga benar-benar terpisah antara dunianya dan dunia alam baka.
Tanah kubur belum kering Ayu melangsungkan akad dengan mantan kekasihnya dulu. Sungguh ironis wanita laknat itu.
Selesai