"Aku sudah bosan dengan ocehan kalian. Kau kira aku tidak bisa membalas? Hm.. lucu sekali!" Ucapku yang sudah marah.
***
Hai, namaku Raka. Aku masih duduk dikelas 2 SMP. Aku orang yang pendiam dan jarang bergaul dengan orang sekitar. Aku lebih memilih menyendiri di sekolah.
Bukan berarti aku tidak punya teman. Aku punya teman tapi gak banyak dan mereka juga beda kelas dengan ku. Jadi kami jarang bertemu saat jam pelajaran.
Apakah dikelas mu gak ada teman? Pertanyaan bagus. Ada teman tapi lebih banyak orang yang buruk bagiku.
Setiap hari aku harus selalu bersabar dan menahan emosi dalam diriku. Setiap hari selalu ada saja yang hinaan dan ocehan dari mulut hewan di kelas. Tidak semua orang begitu pada ku, tapi 2 orang yang selalu setia memberikan ocehan yang tak bosan-bosannya.
Aku yang berbadan kecil, pendiam, jarang bergaul, dan suka sendiri. Membuat mereka leluasa menghinaku.
"Hai.. cebol, si anak pendek hahaha." Ucap salah satu di depan pintu kelas.
Itu sudah terbiasa aku dengar dari mulut mereka. Aku diam bukan berarti tak bisa membalas. Tapi aku harus bersabar dan tidak membuat masalah.
Sampai suatu hari dan pagi yang menurut lebih cerah dari pagi yang kemarin. Aku berjalan menuju kelas seperti biasanya.
Saat masuk kelas aku tidak menyangka, 2 orang ini. Kita sebut saja mereka Goreng dan Gerong.
"Wah.. si Cebol udah datang," ucap Goreng.
"Si pendek aja atau si gak bisa ngomong, hahaha." Lanjut si Gerong.
Entah kenapa emosiku pagi ini sudah teruji. Aku selalu menahan emosi yang begitu dalam. Seakan-akan aku sudah ingin memukul orang. Tapi aku takut jika aku memukul, maka akan kena masalah.
Aku tetap tidak peduli dan menuju ke kursi ku. Sampai sebuah kata terucap dari mulut mereka membuat aku lepas kendali.
"Sok.. sabar banget. Orang tua pasti lebih buruk, makanya anaknya juga sama. Hahahaha...." Ucap Goreng.
Hm.. aku sudah bosan. Marah yang aku pendam membuat aku tidak bisa bersabar setelah kalimat itu terucap.
Tas yang aku melayang ke arah mereka. Aku berlari menuju mereka. Sebuah tangan mungilku sudah membatu. Pukul menuju mulut salah satu mereka. Tendang dan pukul aku lepaskan. Aku tidak bisa mengontrol diri lagi. Emosiku terlepas, seakan-akan aku sudah diselimuti marah di seluruh tubuh ku.
Bpuk!
Aku kira mereka lebih kuat dari yang aku bayangkan dari ocehan mereka. Ternyata aku terlalu memandang tinggi mereka. Sampah adalah kata yang cocok untuk mereka.
Mereka sudah tergeletak dibawah. Dendam ku masih tetap walau sudah terkuras.
Aku memang mereka dengan tatapan marah yang masih menyala.
"Aku sudah bosan. Kau kira aku tidak bisa membalas? Lucu sekali. Hm.. kalian terlalu lemah, hanya bisa menghina yang lebih kecil dari kalian. Kalian terlalu lebih buruk dari orang yang kalian hina. Pantas sekali kalian tidak berani dengan yang lain. Cuma berani dengan ku saja, tapi kalian tidak menyangka bukan? Hm...." Ucapku yang masih panas.
Sungguh lucu, mereka diam seperti mulut mereka tertutup lakban. Situasi masih sepi, karena aku datang pagi sekali dan tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini.
Setelah kejadian itu aku belajar menjadi lebih sabar, mereka tetap diam. Tidak ada lagi ocehan yang seperti kemarin. Aku tidak peduli dengan mereka.
Aku hanya fokus untuk belajar ke sekolah.
And.
Kadang sabar membuat kita menahan emosi. Tapi bila emosi terlepas, kita tidak bisa mengontrol dan di sana kita tidak bisa berpikir panjang lagi. Jadi kita harus tetap bersabar walau itu sedikit susah. Tapi bila kau bisa bersabar, maka kau akan mudah menghadapi hal seperti ini. Tapi jangan jadi lemah, tetap berjuang dan jadilah kuat tanpa harus menunjukkan taring mu. Semangat dan semoga harimu menyenangkan.
Kasih like dan Komentar ya
😁