Aku pernah begitu yakin bahwa patah hati adalah sesuatu yang di lebih lebih kan.
Sampai dimana aku bertemu dengan mu.
Dan keyakinanku di patah kan dengan patah hati ku sendiri,siapa sangka rasa nya begini sakit bagai diiris tipis tipis dan sangat pahit ,bahkan lebih pahit dari empedu.
Namun bukan kah kita belajar banyak dari sebuah pertemuaan yang singkat? Setidak nya aku belajar dari sebuah pertemuaan kita jika setiap pertemuaan pasti ada perpisahaan yang akan terjadi.
Serta kesedihan akan memerlukan kebebasan itu untuk bersuara bahwa cinta tak sepenuh nya biasa saja.
Bahwa kita tak bisa memilih kita akan jatuh hati kepada siapa,pada orang asing yang sama sekali tidak kita kenal atau pada seseorang yang selama ini begitu dekat dengan kita ,atau kepada seseorang yang sudah dimikiki.
Maka aku juga tak dapat memilih untuk jatuh hati kepada mu,tak ada yang perlu di sesali,selain mungkin jika harusnya aku aku mengiya kan permintaan mu untuk sebuah ciuman singkat untuk terakhir kali nya malam itu.atau paling tidak aku membiarkan mu memeluk ku.
Tapi siapa sangka jija itu kan terjadi perpisahan kita akan menjadi luka yang sakit dan sakit yang sangat dalam serta levih lama.
Seperti kata mu thita sakit dan sembuh punya waktu nya masing masing ,kita hanya tahu bagaimana cara merawat luka,sebab aku tak pernah tahu bagai mana cara nya.Kurasa aku cukup bersyukur karnah jatuh ku tak sampai remuk,bahwa ada yang menangkap ku saat aku mulai hampir menyentuh titik terbawah.
Ibu mengajari ku untukpercaya pada sang pencipta dan doa doa baik, dan aku percaya jika kita telah memilih jalan yang baik dan karna nya juga kita akan baik baik saja meski bahagia merupakan perasaan lain yang jauh lebih rumit dari sebuah kesedihan yang kau ciptakaan
.....
thita lanjut kan lah hidup mu dengan segala yang baik di sisi mu.
Biarkan kumulai catatan catatan tentang mu dengan kalimat pebutup . *Sejak saat itu kita tak pernah lagi bertemu*