Riko pemain basket terkenal di sekolah go internasional. Ia tampan, tinggi 170cm, badan berotot seperti atlet macho. Hidungnya bangir dan warna kulitnya kuning langsat. Dan ia keturunan blesteran Pakistan-Padang. Wow!
Riko idaman semua wanita, kecuali aku. Iiuh! Aku Arumi teman satu kelas dengannya. Riko adalah laki-laki pendiam dan tak banyak gaya. Anehnya, semua wanita mengidolakan dirinya.
Semakin Riko cuek semakin banyak gadis-gadis mengejarnya.
"Riko aku padamu!" teriak Renata. Dia gadis tersadis di sekolah ini. Sayang Riko tak menanggapinya.
"Riko! Pilih aku jadi pendamping mu!"
"Riko please, kita jadian!"
Ish, ish. Begitu tergila-gilanya kah, mereka.
Ah, itu dulu lima tahun yang lalu. Kalian tahu? Riko menikah denganku! Semua wanita yang mengidolakannya terkejut dan bahkan ada yang gantung diri di pohon cabe! Sadis bukan?
Si laki-laki dingin itu? Ia dia dingin seperti salju. Anehnya aku suka. Kok, bisa menikah denganku?
Yap! Aku dan Riko dijebak di suatu ruangan karena ulah kakak tiriku. Akhirnya dipaksa nikah.
"Buatkan aku segelas kopi," ucapnya datar. Ia menatap layar komputer.
"Ini." Aku meletakkan di atas meja kerjanya.
"Hem." Riko tanpa menoleh sedikitpun.
"Cuma itu?" tanyaku.
"Lalu?" Riko balik tanya. Alis tebalnya terangkat sebelah.
"T--terima kasih, kek. Apa kek." Aku sengaja memanyunkan bibir merahku.
Riko berdiri mendekatiku selangkah demi selangkah.
"Kau mau apa," ucap Riko.
"A--aku---,"
Dia melumat bibirku. Oh my God!
Aku menjadi dingin seperti es. Apakah dingin darinya menular ke tubuhku?
Tamat